Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Anak-anak suka asal


__ADS_3

Kesejukan angin malam menyentuh kulit halus Nancy, ketika berada dalam dekapan Aditya yang masih memeluk erat tubuh ramping istrinya. Ketenangan ketika menghabiskan malam di salah satu guest house milik keluarga almarhum suami Sindi di salah satu kota kecil di Netherland.


Giethoorn, kota kecil yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan sehari-hari, memberikan kenyamanan bagi beberapa pasangan muda yang tengah menghabiskan malam, bersama pasangan halal mereka selama sesi liburan.


Keindahan bunga-bunga guest house yang berada diatas air, menambah suasana romantis sepanjang perjalanan kisah cinta Aditya dan Nancy.


Nancy bertanya, dengan tangan halusnya mengusap lembut perut sispack Aditya yang masih belum mengenakan baju kaosnya, "Mas masuk kerja kapan? Neng tinggal di sini dulu ya? Di sini enak, adem, enggak berisik."


Permintaan Nancy, membuat Aditya langsung mengerenyitkan keningnya, kemudian berkata, "Enggak agh. Mas enggak mau jauh-jauh dari Neng. Karena pulang dari sini, kita akan mengadakan perjalanan dinas. Yang pasti akan selalu membawa Neng juga Abdi. Komandan Sudirman sedang mempersiapkan semua legalitas Mas, untuk di daftarkan di militer gabungan internasional. Jadi Mas akan ikut kemana saja, untuk karir dan masa depan keluarga kecil kita!"


Mendengar penuturan suaminya, Nancy langsung duduk dan menoleh kearah Aditya, dengan tatapan mata penuh kebahagiaan. "Mas serius? Kita bakal jalan-jalan, dan hmm ... Neng mau banget. Yang penting kita selalu sama-sama. Mas janji akan selalu menjaga komitmen untuk kita selalu bersama, janji yah!?"


Aditya menganggukkan kepalanya, ia mengusap lembut punggung istrinya, "Yang penting Neng selalu bersama Mas. Sampai kapanpun, hingga maut memisahkan kita. Mas mau kita mulai semua dari awal, menjadi lebih baik kedepannya."


Nancy mengangguk setuju, seketika mata indah itu kembali berkaca-kaca, perasaannya merasa bahwa cinta yang benar-benar ia pupuk sejak dulu, akan berbalas ...


"Mas janji enggak akan ada E-v-i lagi? Enggak akan ada anak dia, dan enggak akan pernah ada tipu-tipu uang pribadi lagi? Mas janji sama Neng. Karena Neng memaafkan hanya untuk kali ini saja. Selanjutnya Neng tidak akan pernah membuang-buang waktu memikirkan permasalahan yang sama lagi, seperti beberapa waktu lalu!"


Aditya memilih duduk dihadapan Nancy, menangkup kedua pipi istrinya, mengecup lembut bibir basah nan mungil itu dengan sepenuh hati ...


"Sampai kapanpun tidak akan pernah ada dia lagi, anak ataupun keluarganya. Bagi Mas, kamu wanita hebat, baik, kaya, penyayang, cantik bahkan sangat menyenangkan. Mas akan berterimakasih pada Bapak, karena telah menikahkan dengan wanita sesempurna, Neng. Kali ini Mas mau membuktikan, bahwa kita akan selalu bersama," jelasnya.


Tanpa menunggu lama, Nancy langsung memeluk erat tubuh kekar Aditya Atmaja dengan deraian air mata bahagia.


"Makasih ya Mas. Makasih sudah mau menerima Neng jadi wanita terbaik untuk kamu. Yang penting kita besarin Abdi sama-sama, dan jangan bohong lagi. Kalau Mas bohong, Neng pergi lagi ke sini, dan enggak pernah pulang ke Bandung kayak Sindi. Biar ketemu sama bule, kayaknya lebih enak punya suami bule, daripada Indo yang enggak punya perasaan."


Kedua alis Adit menyatu, langsung membulatkan kedua bola matanya, menatap geram wajah cantik sang istri yang masih dalam genggamannya.


"Apa? Mau cari bule? Enak banget, enggak akan Mas bolehin. Mas akan buktikan, kalau semua sudah berubah, dan tidak akan pernah kembali lagi dengan wanita itu!"

__ADS_1


Nancy menganggukkan kepalanya, mendekatkan wajah cantik itu hanya untuk kembali menikmati keindahan malam bersama cinta pertama dan terakhirnya.


Sentuhan lembut yang Nancy berikan, mampu meluluh lantakkan kerasnya hati ibarat batu karang, dengan perasaan cinta yang penuh kehangatan dan kasih sayang.


Cinta, cinta yang tulus dari seorang istri, akan mengalahkan segalanya untuk mendapatkan satu kebahagiaan tersendiri bagi seorang suami seperti Aditya Atmaja.


Tak ada lagi prahara, tidak ada lagi kata-kata benci yang keluar dari bibir seorang pria berpangkat kolonel bintang satu itu. Ia benar-benar membuka pintu hatinya, untuk seorang Nancy Sugondo, demi hidup bahagia bersama selama hingga maut memisahkan.


Kini ranjang yang beralaskan sprei putih itu bergetar hebat. Hanya untuk sekedar memberikan kebahagiaan yang hakiki untuk mencapai satu pelepasan yang selalu menjadi candu dua insan halal tersebut.


Peluh kedua-nya menyatu, membasahi tubuh yang saling berpelukan, bibir saling menaut tanpa mau melepaskan. Dessahan keduanya saling bersahutan, sehingga menggema di tiap-tiap sudut kamar yang hanya di terangi lampu tidur.


"Ahh ..." Kedua-nya mengeerang ketika mencapai satu titik pelepasan yang tampak sempurna. Membuat Nancy ambruk diatas tubuh Aditya yang langsung memeluknya.


"I love you sayang. Mas sayang banget sama kamu ..."


Nancy hanya bisa tersenyum bahagia, mengatur nafas yang masih tersengal-sengal, "I love you too, Mas ..." kecupnya lembut pada cerug leher Aditya.


Pagi menyapa, desa kecil Giethoorn menunjukkan aktivitasnya sebagai daerah yang hanya memiliki kesibukan sebagai petani perkebunan bunga yang indah. Bunga-bunga bermekaran penuh warna, seperti insan yang masih terlarut dalam perasaan hati penuh kebahagiaan.


Sangat berbeda dengan Luqman dan Sindi yang tidur di kamar terpisah, karena belum saatnya untuk tidur dalam satu kamar.


Sindi tengah mempersiapkan sarapan pagi, untuk tiga pasang sahabat sekaligus partner bisnisnya, setelah berdebat dengan Luqman yang terus memaksa untuk menikah.


"Eh kutil, lo bisa awas enggak! Jangan sampai spatula ini, gue lempar ke jidat lo, ya!" sesalnya, karena merasa di halang-halangi oleh Luqman ketika mempersiapkan roti bakar, dan salad yang dibalur mayones yang di campur kentang serta keju.


Luqman mendengus dingin, "Galak amat sih! Baru juga kita baikkan, udah mau nimpukin gue pakai spatula!"


Secepatnya Luqman menghindar agar tidak menghalangi jalan Sindi yang akan menuju ruang makan.

__ADS_1


Sindi tersenyum tipis, meminta putra pertamanya yang bernama Juno memanggil keluarga baru mereka.


"Darling, bisakah kamu memanggil aunty dan uncle? Agar kita bisa sarapan bersama-sama!"


"Oke Bun ..."


Bergegas pria berusia enam tahun itu menuju kamar Nancy, dan kedua kamar yang masih tertutup rapat tersebut.


Tidak menunggu lama, mereka keluar dari kamar, menghampiri Sindi yang masih di sibukkan dengan persiapan sarapan para tamunya.


"Morning geulis. Wih, kayaknya pada tidur nyenyak nih ..." goda Sindi, ketika melihat Nancy keluar dari kamar disusul Aditya.


Aditya memilih menghindar dari Sindi yang akan menertawakan nya, ketika melihat rambut indah Nancy tergerai dan basah.


"Lama-lama di sini, enggak bisa jalan lho, Neng geulis," tawanya mengejek Aditya.


Nancy tertawa terbahak-bahak, mendengar celotehan Sindi, hanya bisa menyeletuk di telinga wanita berhijab itu, "Dikamar enggak ada hair dryer, makanya enggak bisa nyembunyiin barang bukti. Habis tempatnya enak, indah banget. Kayaknya harus sering-sering kesini ..."


Tawa mereka pecah, namun sangat berbeda dengan Luqman, yang masih belum merasakan indahnya mahligai rumah tangga.


"Makanya nikah lo!" Aditya merangkul tubuh sahabatnya, mengajak untuk mencari sampan yang kosong, untuk berkeliling desa indah tersebut.


Prisil menghampiri Nancy, untuk memberi kabar tentang kepulangan mereka ke Jakarta ...


"Neng, besok kita penerbangan pukul 14.23. Sindi jadi ikut?"


Sindi menggelengkan kepalanya, "Hmm ... Anak-anak masih belum kasih keputusan!"


Seketika Juno menyela ucapan sang bunda, "Siapa bilang, kan kita juga libur Bun! Mery juga sudah kasih izin Bunda menik--!"

__ADS_1


Sindi langsung menutup bibir putranya, karena tidak ingin di dengar oleh Luqman.


"Jangan percaya, anak-anak suka asal kalau bicara ..."


__ADS_2