
Cukup lama mereka menunggu Sugondo di ruangan Abdi, hanya untuk memastikan siapa yang telah melunasi semua tagihan dirumah sakit. Walau biaya tidak begitu besar, namun jumlah nominal lima juta itu cukup besar bagi Aditya Atmaja.
Aditya mendekati Nancy, yang masih sibuk memangku Abdi untuk menidurkannya dalam dekapan.
"Neng ... Siapa lagi sih yang mau menjadi pahlawan buat kamu? Ini anak Mas, Neng! Jangan buat Mas terus menerus tidak di hargai dong didepan Ibu dan Bapak. Dulu waktu Neng keguguran, bule somplak itu yang membayarkan, sekarang Abdi dan Ibu kecelakaan begini lagi. Mas kesal, Neng!"
Nancy hanya bisa menahan diri, karena tidak ingin berdebat dihadapan Ningsih yang sejak tadi hanya mendengar, namun tidak mau ikut campur urusan anak menantunya. Ia hanya menggelengkan kepala, melirik kearah Aldo dan Emi yang ada diruangan mereka.
Nancy menggeram, saat Aditya kembali meremas lengannya, dan menggigit bahu istrinya itu untuk menahan rasa cemburunya ...
"Augh Mas ... Sakit tahu! Ahh ... Aduh, gini nih punya suami cemburuan. Jangan cemburu dong, malu sama Ibu, sama Aa Aldo juga," sungutnya mengusap lembut bahu bekas gigitan Aditya yang membekas.
Lagi-lagi Aldo hanya tertawa kecil mendengar perdebatan sepasang suami-istri tersebut, yang sangat lucu bahkan tidak bisa berbuat apa-apa selain menertawakan kebodohan Adit yang semakin posesif kepada Nancy.
Tak lama kemudian, Sugondo masuk ke ruangan Abdi, bersama Atmaja, membawa Pramudya.
Dokter spesialis anak, yang menangani Abdi sejak tadi pagi, selama bayi mungil itu masuk dalam perawatan intensif.
Pramudya, mendekati Nancy, langsung berkata dan meminta maaf, "Maaf Nancy ... Bukan maksud saya untuk mengganggu pikiran kamu. Tapi wajar saya memberikan perhatian pada Abdi, karena saya sangat senang melihat keceriaannya. Sekali lagi saya minta maaf."
Aditya yang mendengar penuturan Pramudya dihadapan istrinya, langsung berdiri tegap di samping Nancy.
"Maaf, kami bukan orang susah. Saya Papa-nya Abdi, dan lebih baik saya mengganti uang Anda. Karena saya tidak ingin ada balas budi untuk kesehatan putra kesayangan saya!" tegasnya.
Nancy mengangguk membenarkan ucapan suaminya, "Maaf dok. Kita diluar teman. Tapi bagaimanapun Abdi anak kami, tidak etis rasanya kami menerima pembayaran rumah sakit anak kami, dari uang pribadi kamu. Saya juga tahu, kamu disini sebagai dokter spesialis anak yang biasa menangani anak saya," jelasnya lembut.
__ADS_1
Pramudya menolak untuk uangnya di kembalikan, "Ti-ti-tidak apa-apa. Tidak ada balas budi di sini, karena saya ingin memberikan pelayanan terbaik buat Abdi saja. Tidak lebih!"
Aditya menggeram, bagaimanapun juga ia harus mengembalikan uang pria tampan itu, agar tidak menjadi beban untuk keluarga kecilnya.
Dengan cepat Adit mengeluarkan amplop yang berisikan sejumlah uang, sesuai dengan nominal biaya Abdi dan Ibu mertuanya, menyelipkan dengan paksa di saku jas putihnya, tanpa harus ada penolakan.
"Terima saja! Saya tidak ingin berdebat atau berlama-lama berada disini. Karena urusan saya masih banyak!" tegasnya sarkastik.
Pramudya hanya menghela nafas berat, melirik kearah Nancy, karena sesungguhnya ia ingin lebih dekat dengan wanita yang selama ini dicarinya.
Pernikahan Nancy yang tidak diketahui oleh rekan-rekan Sugondo, membuat para pria muda itu berpikir, bahwa pernikahan mereka hanya keterpaksaan dan atas dasar perjodohan semata.
Menurut orang-orang yang mengenal Nancy selama ini, wanita itu tidak pernah menjalin hubungan asmara dengan pria manapun, selain berteman selayaknya wanita manja, yang selalu diantar sopir jika pergi ke kampus ataupun kegiatan lainnya di luar sana.
Pramudya hanya bisa tersenyum lirih, saat Keluarga Sugondo meninggalkan ruangan rumah sakit, dan membawa Abdi bersama mereka, tentu dengan pemandangan Aditya yang menggandeng mesra tangan istrinya.
Aldo menepuk pundak Pramudya, "Terimakasih yah Pak dokter, untuk perhatiannya pada keponakan saya. Sekali lagi mohon maaf, bukan mereka menolak bantuan mu, tapi ini merupakan tanggung jawab seorang Ayah. Saya harap kamu bisa memahaminya. Oya, putri kesayangan kami, kapan kira-kira imunisasi lanjutan?"
Pramudya hanya bisa tersenyum tipis, menjawab pertanyaan Aldo dengan wajah sedikit kecewa, "Mungkin lusa sudah bisa. Saya tinggal yah! Terimakasih atas kunjungannya di rumah sakit kami ..."
Ada setitik kekecewaan di hati Pramudya. Pria yang masih senang menjomblo itu, hanya mendengus dingin melihat dari kejauhan Aditya yang merangkul mesra bahu Nancy.
"Kok bisa pria itu mendapatkan Nancy? Bukankah dia hanya seorang militer yang jarang ada untuk Nancy? Aku harus mencari cara untuk menarik perhatian wanita yang aku kagumi sejak dulu. Nancy, kenapa kamu tidak pernah membuka kesempatan untuk ku ...? Aku akan menunggu janda mu, Nancy ..." gumamnya dalam kesendirian.
.
__ADS_1
Setibanya dikediaman Keluarga Sugondo, Sulastri yang sejak tadi disibukkan dengan berbagai macam tamu dari berbagai macam manusia, karena kecelakaan yang menimpa besannya, menyambut Ningsih dan Abdi dengan penuh perasaan cemas.
Bagaimana tidak, mereka yang selama ini diketahui baik pada semua pihak, masih saja ada yang ingin mencelakai keluarga mereka.
"Bagaimana jeng? Aku khawatir saat mendengar telepon dari Angga. Kata Luqman dan Ali kalian enggak apa-apa, tapi melihat di berita televisi mobil terbalik seperti itu, rasanya mustahil kalian hanya luka-luka kecil," cerita Sulastri saat menyambut besan terbaiknya.
"Alhamdulillah tidak apa-apa jeng. Kami juga takut, karena sama sekali tidak menyangka akan terjadi seperti ini. Saya rasa terbang melayang saat mobil kehilangan kendali. Ditambah Nak Angga langsung panik. Tapi Alhamdulillah, kami selamat, dan Abdi baik-baik saja. Saya pikir Abdi meninggal, entahlah jeng ..." jelasnya dengan mata berkaca-kaca.
Aditya justru langsung bergabung dengan sahabatnya yang masih menunggu kedatangan mereka, membiarkan Nancy untuk masuk kedalam paviliun lebih dulu.
Sementara Jumaida tengah sibuk menyesiasati sekeliling kediaman warga, menggunakan motor matic miliknya, dan mencurigai satu rumah warga yang dijadikan tempat kos-kosan bebas selama ini.
Jumaida menghentikan motornya, begitu melihat sosok Aditya yang tengah berbincang-bincang dengan Ali juga Luqman, "Lapor Ndan, ternyata di belakang ada kos-kosan pria, lima blok dari belakang rumah ini. Dan saya melihat motor yang sesuai dengan plat nomor kendaraan ini," tunjuknya pada layar handphone kearah Aditya.
Aditya menoleh kearah Luqman, "Lakukan sesuatu! Kita grebek!"
"Eeeh ... Apa tidak undang pihak kepolisian saja? Lebih baik kita melihatkan mereka bekerja, daripada harus berurusan dengan hukum ..."
Aditya menyela celotehan Jumaida, "Kelamaan minta mereka, banyak basa-basinya. Malas ane! Lebih baik kita eksekusi. Asep!! Asep!!"
"Siap Ndan!"
"Ikuti mereka, tunggu saya di kesatuan, kita bereskan anak ingusan yang mau mencelakai keluarga saya!"
"SIAP LAKSANAKAN!!"
__ADS_1