
Hari berganti hari ... Semua kenangan bersama para buruh dan keluarga sangat berkesan bagi Nancy di saat-saat mabuk beratnya sebagai seorang istri juga Mama muda. Belum ditambah dengan rewelnya Abdi yang tidak mau melepaskan sang Mama dari dekapannya.
"Bu, Neng enggak ikut pesta deh! Biar Teh Sindi saja yang pesta, Neng enggak kuat! Rasanya pusing banget, mau tidur saja di kamar," sungutnya, merebahkan tubuh di ranjang kingsize kamar hotel tempat acara resepsi pernikahan mereka.
Salah satu perias pengantin profesional, justru tertawa kecil, melihat istri Aditya Atmaja, malah meringkuk diranjang kamar karena tidak ingin melanjutkan acara yang akan menjadi sejarah dalam rumah tangga mereka berdua.
Perlahan Aditya mendekati Nancy, yang masih merebahkan tubuhnya di ranjang, mengusap lembut kepala sang istri, mengecup lembut pipi mulus yang ogah-ogahan di dandani oleh make-up ternama Buditama.
"Kita dandan dulu sebentar, habis itu pesta pedang pora, dan kembali lagi ke kamar. Kasihan Sindi sama Luqman, kalau kita enggak datang. Namanya juga ini acara kita Neng," pujuknya lembut, sambil mengusap wajah cantik sang istri.
"Tapi Neng mual banget, Mas. Nanti kalau Neng pingsan, bagaimana? Kan kasihan sama Bapak dan Ibu."
"Iya, tapi ini hanya sebentar Neng. Setelah itu, kita langsung duduk saja di tempat lain. Yang penting kita hadiri dulu pesta pedang pora. Ini yang menjadi impian Neng dari dulu, kan?"
Nancy yang awalnya enggan untuk memandang wajah Aditya, akhirnya menoleh kearah sang suami tercinta. Perlahan tangan halus itu mengusap lembut wajah sang suami, menatap penuh cinta, "Kok Mas masih inget saja semua impian Neng? Padahal Neng sudah lupa."
Aditya tersenyum sumringah, "Ingat atuh, namanya juga impian istri tercinta. Kesayangan lagi. Yuk, kita siap-siap. Karena acara sebentar lagi sayang."
Nancy mengangguk perlahan, dibantu oleh Adit untuk kembali duduk di kursi meja rias, melanjutkan make-up yang tertunda dengan berbagai macam drama.
Tentu Ningsih dan Sulastri yang melihat betapa manjanya sang putri dengan sang suami hanya bisa tersenyum tipis, sambil berkata, "Ibu langsung ke gedung sebelah yah. Bawa Abdi, kamu jangan sampai terlambat. Sindi dan Luqman juga sudah jalan ke gedung."
Aditya langsung mengangguk mengerti, berkali-kali dia mengusap punggung sang istri yang telah di balur minyak angin, sebelum menggunakan kebaya putih sesuai permintaannya beberapa waktu lalu.
Ya, pesta besar yang diadakan Keluarga Sugondo, hanyalah untuk memperkenalkan menantunya Aditya Atmaja yang telah menjadi suami Nancy, agar tidak menjadi fitnah dan pertanyaan diluar sana oleh para kerabat dekat mereka.
.
Di suasana pesta, yang di balut dengan kemewahan yang bernuansa putih dan cream, dipadu padankan dengan bunga-bunga mawar segar sebagai simbol cinta kedua insan yang telah di satukan dalam ikatan pernikahan.
__ADS_1
Aditya dan Nancy telah menikah dua tahun lalu, kini sudah memiliki Abdi serta janin yang sudah berkembang dengan sehat di rahim wanita berparas cantik itu, yang sudah berusia sembilan minggu. Berjalan menuju pelaminan berbalut kebaya putih.
Sementara Aditya Atmaja dibalut baju dinas lengkap dengan pangkat kolonel bintang satu menghias pundaknya.
Satu kebanggaan bagi Nancy ketika memasuki area gedung, yang disambut dengan pesta pedang pora dengan pengucapan ikrar sumpah janji setia hingga akhir hayat nanti.
Begitu juga dengan Luqman dan Sindi, dua insan yang baru menikah satu minggu lalu. Dianggap sebagai janda beranak tiga, ternyata janda perawan yang kini telah dipersunting oleh sahabat berpangkat mayor.
Kedua pasangan suami istri tampak bahagia, walau perasaan Nancy sangat berbeda karena keadaannya yang enggan bersahabat.
Jumaida yang turut menghadiri acara resepsi sahabatnya, menaiki pelaminan kedua pasangan pengantin itu, dengan perasaan hati yang tidak baik-baik saja. Dia menghampiri Nancy yang masih duduk di kursi pelaminan, sambil tersenyum penuh haru ...
"Selamat yah, Neng. Gue harap kalian berdua bahagia bersama sampai tua. Dan mungkin bulan depan gue sudah masuk dalam peroses pendidikan lagi," peluknya pada tubuh Nancy yang masih terlihat sedikit pucat.
"Hmm, makasih ya. Seminggu lagi gue juga berangkat ke Yordania, ikut Pak Adit. Jadi lo baik-baik yah? Jangan nakal," goda Nancy pada puncak hidung sahabat sekolahnya, sambil menoleh kearah Pramudya yang sudah berdiri dibelakang mereka berdua.
Pramudya yang menyukai Nancy sejak dulu, kini harus menelan pil pahit, karena menyaksikan wanita yang ia kagumi menikah dengan pria militer.
Nancy tertawa kecil, "Pak dokter bisa saja. Ni, saya kenalin sama sahabat saya. Biasanya jodoh dokter itu angkatan lho. Bukan pengangguran kayak saya."
Pramudya mengerlingkan kedua bola matanya, menatap kearah Jumaida yang tampak tenang walau sesekali melirik kepada Luqman dan Sindi.
Jumaida langsung menyela ucapan Nancy, karena tidak ingin menjalin relationship dengan siapapun juga saat ini, "Ighs ... jangan sama saya! Karena saya galak lho, bisa-bisa kamu kurus kering kalau dekat dengan saya!"
Mereka tertawa terbahak-bahak, mendengar celotehan Jumaida, yang ternyata sangat menarik perhatian Pramudya, karena lebih menyukai wanita kocak, suka tertawa, bahkan sangat menyenangkan.
Pramudya bertanya kepada Jumaida, hanya untuk sekedar meyakinkan usianya, "Oya, angkatan berapa?"
Dengan wajah malas Jumaida menjawab dengan singkat, "Seangkatan dengan Neng Nancy! Di bawah dua tahun Mas Aditya dan Aa Luqman," tawanya menyeringai kecil.
__ADS_1
Dengan penuh percaya diri, Pramudya mulai menunjukkan aksinya, walau berkali-kali mengalami penolakan dari Jumaida selama berada di pelaminan sahabat mereka berdua.
"Ighs, sana enggak lo! Gue timpukin pakai gelas ni!" sesal Jumaida ketika melihat sosok Pramudya benar-benar mengikutinya selama acara resepsi Nancy dan Aditya.
Dengan penuh semangat, dokter spesialis anak itu mengejar Jumaida karena ingin mengenal sosok gadis yang berprofesi sebagai militer tersebut. "Jangan galak-galak atuh Neng. Enggak dapetin Nancy, sahabatnya juga boleh dong," godanya mengikuti langkah kaki wanita yang mengenakan kebaya modern itu, tetapi mengangkat roknya ke atas karena tidak bisa berjalan seperti selayaknya gadis keraton.
Tidak menunggu lama, kini mereka tiba pada puncak acara yang akan melempar bunga yang berada di tangan kedua mempelai wanita tengah berbahagia tersebut.
Sindi dan Nancy berdiri di ujung pelaminan, didampingi suami tercinta, sambil mengarahkan buket bunga yang ada dalam genggaman tangan mereka ...
MC pria yang biasa mengisi acara di club' malam milik Aldo langsung memberikan pengumuman, "Baiklah para tamu, kita akan memasuki puncak acara, yaitu melempar bunga, dari tangan dua wanita cantik Mama Nancy dan juga Sindi. Diharapkan kepada para jomblowan dan jomblowati berdiri di belakang dua mempelai wanita ini, agar mendapatkan bunga untuk segera menyusul mereka ... kita hitung sama-sama ya!"
"Satu!"
"Dua!"
"Ti-ti-tiga!"
Bunga mawar berwarna putih dan merah itu, terbang melayang mencari dua insan yang berdiri di belakang Nancy dan Sindi. Betapa terkejutnya mereka, karena harus mendapatkan kejutan luar biasa dari acara yang sangat ramai pengunjung tersebut.
"Hap, gue yang dapat!" teriak salah satu pria gagah, yang berdiri di belakang Jumaida.
Sementara Jumaida tampak kaget, karena mendengar teriakkan pemuda yang ia ketahui sebagai aparat kepolisian tersebut.
"Gue juga dapat, bro!" tunjuk Jumaida pada bunga yang ada dalam genggamannya.
Sean berteriak keras, "Asyik! Gue langsung nikah sama lo, enggak perlu pacaran, atau proses pedekate. Yang penting nikah!" soraknya, tanpa menghiraukan Pramudya yang berada di samping Jumaida.
"Njir, gue deluan yang mau sama ni cewek! Enak saja lo main nyalip!" sesal Pramudya.
__ADS_1
Namun lagi-lagi Sean tersenyum sumringah, "Yang dapat buket bunga, gue sama cewek ini! Berarti dia jodoh gue!" tegasnya tanpa perasaan sungkan.