
Pagi menyapa, dua insan masih terlelap di sofa ruang keluarga kediaman Atmaja. Sangking lelahnya, Aditya tidak sempat untuk membawa istrinya agar tidur di kamar yang berukuran kecil tersebut.
Tidak banyak tuntutan dari Sulastri sebagai mertua, ketika melihat dua insan anak menantunya masih saling berpelukan. Ia mengambil selimut, untuk menyelimutkan anak menantu kesayangannya, sambil mengusap lembut kepala Aditya dengan penuh kasih sayang.
"Coba dari dulu kamu seperti ini dengan Nancy, pasti tidak akan banyak masalah yang akan kalian hadapi saat ini. Ibu sangat menyayangi kamu dan istrimu, Dit ..." bisiknya lembut.
Perlahan Atmaja, menghampiri istrinya, kemudian bertanya dengan suara pelan, "Kenapa mereka tidur di sini, Bu? Bukankah kamar sudah di siapkan. Nanti apa kata Sugondo, kalau tahu anaknya tidur di sofa ketika menginap di rumah kita ..."
Sulastri meletakkan jari telunjuk di bibir, mengedipkan sebelah matanya agar Atmaja tidak menggangu kenyamanan dua insan suami istri itu.
"Biarin saja, bukan kita yang menyuruh mereka tidur di sini. Abdi sudah bangun, Pak? Jangan ditinggal cucu ku sendirian, nanti jatuh dari kasur, bisa di omelin besan ku, cepet samperin cucu ku!" gerutunya.
Bergegas Atmaja kembali ke kamarnya, melihat sang cucu telah duduk di ranjang kingsize kamarnya sambil berkata ...
"Ma-ma-mama, Pa-pa-papa," dengan menunjukkan empat gigi kecilnya dengan senyuman manis seorang baby berusia delapan bulan.
Atmaja langsung mengambil Abdi, kemudian membawanya ke kamar mandi untuk membersihkan cucu kesayangannya.
Entahlah, rejeki kedua keluarga itu semakin bertambah banyak, ketika Abdi lahir ke dunia dan tumbuh sehat dalam asuhan kedua orang tua Aditya dan Nancy secara bergantian.
__ADS_1
Tidak cukup lama, Atmaja bermain-main air bersama sang cucu, membersihkan kotoran pagi yang bercampur aduk, tanpa perasaan jijik.
Aditya yang mendengar suara tawa putra kesayangannya, langsung terjaga, sambil menoleh kearah Nancy yang masih meringkuk dalam dekapannya.
Tak ingin mengganggu ketenangan istirahat istrinya, Adit menutup bahu Nancy yang terbuka dengan selimut yang di berikan Sulastri, melirik kearah jarum jam yang berdetak.
"Agh, sudah jam 05.30. Hari ini aku ada sesi latihan dan mengunjungi kediaman Komandan Simon ..."
Aditya kembali menoleh kearah Nancy, mengecup lembut kening istrinya yang menggeliat, kemudian duduk di pinggir sofa, sambil melirik kearah kamar orangtuanya yang terbuka.
Terdengar tawa canda Atmaja dan Abdi didalam kamar, dengan penuh semangat sambil melantunkan ayat-ayat cinta kepada Tuhan dan Rasulnya.
Atmaja menggendong cucu kesayangannya, untuk membawa cucu laki-lakinya itu berolahraga pagi, agar kelak menjadi pria tangguh seperti Aditya.
"Kita jalan pagi ya, cucu eyang yang ganteng. Setelah itu, kita sarapan bubur ayam di warung depan. Biar Mama dan Papa kamu mengurus pekerjaannya, hari ini cucu eyang di sini dulu," titahnya merapikan rambut Abdi menggunakan sisir halus khusus baby.
Dengan sigap Aditya menghampiri kedua pria terhebatnya, dan langsung mengalihkan pandangannya kearah Abdi yang langsung berhambur memeluk erat tubuh sang papa.
Aditya bertanya pada Atmaja, "Siapa yang mandiin Abdi, Pak?"
__ADS_1
Atmaja menjawab sambil mengusap-usap lembut kepala cucunya, "Ya Bapak atuh. Apa mungkin Abdi sekecil ini bisa mandi sendiri," tawanya.
"Hmm ... kan bisa nunggu Adit, Pak. Adit hari ini ada sesi latihan sebentar, sekalian ngelayat ke kediaman Komandan Simon. Mungkin jam 10.00, Nancy akan bertemu Sean. Untuk mengurus kasus kecelakaan beberapa waktu lalu. Jadi Adit enggak bisa menemani Neng. Mungkin Neng pergi sama Sindi," jelasnya.
Atmaja mengangguk meng'iya'kan, berfikir sejenak, "Kalau urusan kecelakaan itu, biar Bapak yang urus sama mertua kamu. Jadi kalian bisa pergi sama-sama. Lagian kamu masih cuti, kok sudah latihan. Lusa kami mau berangkat ke Jogja, kamu ikut enggak? Sekalian urus untuk acara pesta peresmian pernikahan kamu, Dit. Kemaren kata mertua kamu mau mengadakan acara di ballroom Keluarganya Emi. Jadi jangan buang-buang waktu lagi, karena semua sudah mepet ..."
Susah payah Aditya menelan ludahnya, karena memikirkan semua biaya resepsi yang akan diselenggarakan oleh Sugondo.
Aditya mendekatkan wajahnya di telinga Atmaja, hanya untuk bertanya tentang biaya nya, "Pak, resepsi itu bukan nilai yang sedikit. Mana ada uang sebanyak itu. Apalagi acaranya di gedung, bisa-bisa uang kami terkuras habis hanya untuk sekedar resepsi. Jangan buang-buang uang lah, Pak ..." sungutnya.
Atmaja menepuk bahu putra kebanggaannya, "Semua biaya sudah Bapak atur sama mertua kamu. Kami mengadakan resepsi itu untuk memberitahu bahwa anak ku yang gagah ini sudah menikah, dan menjadi menantu kesayangan Sugondo. Karena para kerabat banyak yang tidak mengetahui tentang pernikahan kalian. Jangan-jangan nanti mereka berfikir bahwa cucuku ini anak di luar nikah, padahal kalian sudah menikah. Sudahlah, jangan berfikir yang aneh-aneh. Bangunin istri kamu dan bersiap-siap. Karena kegiatan kalian sangat padat hari ini. Lagian Sindi di rumah Nancy, kasihan dia sendiri enggak ada teman. Nanti Bapak yang bawa Abdi ke rumah mertua kamu selesai sarapan," jelasnya panjang lebar.
Hanya genangan air mata, yang kini tertahan di pelupuk mata elang seorang kolonel Aditya Atmaja. Hatinya tidak henti-henti berucap syukur, atas semua karunia yang diberikan Tuhan padanya, melalui tangan orang-orang yang sangat mencintainya dengan tulus.
Aditya memeluk Atmaja dengan sangat erat, hanya untuk mengucapkan terimakasih karena telah memaksanya untuk menikahi gadis sebaik Nancy.
Wanita yang kuat, tidak pernah mengeluh, bahkan selalu mempunyai karakter tersendiri untuk melindungi dirinya dari orang-orang jahat. Sehingga begitu banyak yang ingin merebut hati seorang Nancy dari Aditya dengan berbagai macam drama.
Begitu juga sebaliknya, Aditya yang dulu tidak pernah bisa membuka hatinya untuk Nancy, kini tak ingin lepas dari wanita keras kepala yang memiliki keteguhan hati atas dasar cinta.
__ADS_1
Cinta masa remaja, yang tidak pernah hilang begitu saja, untuk merebut hati seorang pria berpangkat seperti Aditya Atmaja.