
Kebahagiaan selama di Netherland jelas terpancar dari raut wajah pasangan suami istri Aditya dan Nancy. Betapa indahnya keduanya bermadu kasih, jalan-jalan bersama kerabat dekat mereka, serta menikmati keindahan, setelah menyelesaikan semua pertemuan dengan beberapa pabrik yang telah menjalin kerjasama dengan perkebunan teh milik Sugondo.
Tidak ada yang bisa di sampaikan oleh Aditya, bahwa ia sangat beruntung telah menikah dengan seorang wanita cerdas, bahkan sangat pintar dalam berbahasa asing.
Aditya memeluk erat tubuh ramping Nancy, mengecup lembut cerug leher wanita terbaik nan lembut juga cantik, dengan sedikit rayuan gombal yang menggelitik hati seorang istri.
"Mas pikir, kamu itu hanya cewek manja, yang tidak bisa melakukan apapun selain meminta pada suami. Ternyata uang kamu lebih banyak daripada yang Mas kasih. Mas sayang sama Neng, Mas cinta banget sama Neng. Jangan pernah pergi meninggalkan Mas, ya. Jangan marah-marah lagi, mana tahu pulang dari sini Neng hamil lagi!"
Perlahan Nancy menautkan kedua alisnya, ia melirik kearah tangan Aditya yang sudah sangat erat mendekapnya, seraya berkata ...
"Jangan ngegombal deh. Neng enggak suka di gombalin sama bapak-bapak beranak satu kayak Mas!"
Pernyataan Nancy membuat Aditya langsung menggigit kecil bahu sang istri, membuat wanita cantik itu menjerit manja, dan langsung membalikkan badannya.
"Aduh sakit Aditya Atmaja." Nancy membulatkan kedua bola matanya, menyambung ucapannya, "Terimakasih sudah mau jujur sama Neng, kalau Mas juga cinta sama Neng sejak dulu."
Keduanya saling berpelukan erat, di saksikan langsung oleh kedua keluarga mereka berdua, yang hanya tersenyum sumringah melihat kedua insan yang tengah di landa bunga-bunga cinta tersebut.
Aldo melirik kearah Bethrand, tersenyum bahagia, melihat pemandangan yang tak pernah mereka saksikan selama berada di kota kembang.
"Ternyata selama ini Aditya di butakan oleh mantan. Mantan yang belum jelas nasibnya. Semoga setelah ini mereka tidak pernah ada masalah lagi," celetuk Aldo dihadapan istri dan sahabatnya.
Secara bersamaan mereka mengucapkan, "Amin ... Semoga saja nambah momongan, dan kita bisa sama-sama liburan lagi membawa anak-anak suatu hari nanti."
Hanya itu yang ada dalam benak mereka untuk kebahagiaan Aditya dan Nancy. Pasangan yang tidak pernah akur, karena keegoisan yang tidak pernah berakhir hanya karena seorang mantan, membuat mereka benar-benar melihat ketulusan Aditya dari tatapan matanya terhadap Nancy.
Putri kesayangan Sugondo, yang sangat baik, serta rendah hati, membuat Aditya berpikir ulang untuk meninggalkannya.
Sementara di sudut restoran, di meja yang berbeda, Luqman tengah sibuk merayu Sindi, untuk mau kembali ke Indonesia dan menikah dengannya.
__ADS_1
Sontak Sindi menolak cincin yang ditawarkan oleh Luqman, "Enggak! Gue enggak mau menikah sama angkatan. Ntar gue di tinggal-tinggal mulu. Iya kalau lo setia, apalagi gue janda, Luqman. Pasti orang tua lo tidak mau menerima gue! Anak gue tiga. Bukan satu ataupun dua! Tiga Luqman! Tiga!!"
Luqman menundukkan kepalanya, matanya seketika berkaca-kaca, karena tidak pernah di terima baik oleh wanita yang ada di hadapannya saat ini.
"Jangan gitu dong, Sin. Gue serius sama lo, sampai kapanpun lo tetap wanita paling baik yang pernah gue kenal. Gue sanggup untuk menghadapi Mama, jika tidak mendapatkan restu, lo tahu kita akrab sejak sekolah. Please Sin! Gue serius sama lo, gue enggak peduli sama status janda lo!"
Sindi menghela nafas berat, mengalihkan pandangannya kearah lain, berkali-kali ia mengusap lembut wajah dan melirik kearah Aditya yang sesekali mencuri pandang kearah mereka.
Begitu juga Aldo, yang tampak cuek, namun merasa senang melihat keberanian Luqman meminang janda muda yang telah menutup tubuhnya dengan hijab tersebut.
"Jujur gue takut, Man. Karena gue di sini hidup sendiri, bersama anak-anak. Dan gue enggak mau mencari suami yang hanya mencintai gue, tanpa mau menyayangi anak-anak! Anak-anak gue segala-galanya. Lo tahu sendiri, gue enggak punya keluarga di Bandung. Mama dan Papa sudah lama meninggal, makanya gue berjuang di sini untuk kebahagiaan gue! Maaf Luqman, kita berteman saja. Sejujurnya, gue masih berharap setelah bertemu lagi saat ini!"
Entah keberanian dari mana, Luqman berusaha menyentuh punggung tangan wanita yang sejak dulu menjadi sahabatnya. Akan tetapi, Sindi menarik tangannya, karena tidak ingin memberikan harapan palsu pada pria yang masih berada di hadapannya itu.
"Sin, sekali lagi gue bilang. Gue serius sama lo. Gue terima lo sama ketiga anak lo! Gue tidak bisa menjanjikan pasti bahagia, tapi setidaknya gue akan berusaha menjadi Papa sambung buat anak-anak lo!"
"Jangan terburu-buru Luqman. Mungkin, gue akan ngobrol dulu sama anak-anak. Gue enggak mau anak-anak merasa tidak nyaman jika memutuskan untuk menikah lagi. Apalagi, secara usia kita seumuran, dan pekerjaan gue ada di sini. Gue belum memiliki harta yang cukup, dan tidak sekaya Nancy. Gue ini wanita mandiri, yang menanggung hidup sendiri sejak dulu!"
Mendengar penuturan Sindi, Luqman tidak ingin melanjutkan perdebatan tentang pernikahan. Baginya, wanita hebat di hadapannya itu merupakan satu orang wanita mandiri yang sangat luar biasa. Ia mengusap lembut kepalanya, tersenyum bahagia mendengar pengakuan sahabatnya tersebut.
Kembali Luqman bertanya, "Kapan gue mendapatkan keputusan dari lo?"
Sindi tertawa kecil, mendengar pertanyaan Luqman yang selalu mendesak, sejujurnya ingin sekali menjawab pertanyaan pria berpangkat mayor itu saat ini juga. Namun di tepis olehnya, karena tidak ingin kecewa jika memutuskan menikah dalam waktu dekat.
"Sabar yah. Gue ngobrol dulu, pikir dulu, tahajud dulu, meyakinkan diri dulu! Insyaallah gue akan memberikan jawaban sebelum lo balik ke Jakarta," jelasnya.
Luqman mengangguk setuju. Ia menutup kotak cincin yang di letakkan diatas meja, kembali memasukkan kedalam jaket, dan mengajak Sindi bergabung dengan sahabatnya yang tengah menikmati keindahan negeri kincir angin tersebut.
Entah berapa kali, Aditya terus menggoda sahabatnya itu. Yang memang lebih pantas menjadi pasangan suami istri, di bandingkan menjadi sahabat.
__ADS_1
Aldo yang mendengar penuturan Aditya, hanya tersenyum sambil berkata, "Kalau gue bilang sih Yes, Sin. Lebih baik lo kembali ke Bandung, dan kita bisa kumpul sama-sama lagi. Lo bawa tu, ketiga anak bule lo! Kan, bisa tinggal di perumahan kesatuan."
Sindi melirik kearah Aldo, menoleh Emi yang masih di sibukkan dengan handphone pintarnya, "Enak aja lo ngomong! Terus alasan gue apa sama keluarga almarhum Dedrick? Kan, tidak semudah itu Aldo Anggoro! Lo pikir kebiasaan di Indo akan sama dengan di sini. Anak gue tuh lahir disini, pasti akan memiliki perbedaan dalam benak mereka harus pindah ke Indo, dan punya Papa sambung yang berkulit eksotis!" tawanya.
Luqman menggeram, dia mengusap kepala wanita berhijab itu, namun cepat di elakan oleh Sindi.
"Jangan pegang-pegang! Enggak baik, belum mukhrim!" tukasnya.
Tidak ingin menunggu lama, Sindi memilih berpamitan, karena akan menjemput ketiga buah hatinya yang sudah pulang dari sekolah.
"Gue izin dulu! Anak-anak belum di jemput, takut terlambat. Nanti malam kita bertemu lagi. Oke!" Ia langsung beranjak, namun lagi-lagi Luqman menarik tangannya, karena tidak ingin berpisah begitu cepat.
Emi yang mendengar ucapan Luqman, langsung menyela permintaan pria yang memohon itu, "Kalau enggak mau jauh, temenin atuh, Bang! Jangan lupa, kenalan sama kedua anak laki-laki, dan satu cewek itu," tawanya.
Tanpa pikir panjang, Luqman mengangguk setuju, dan langsung mengikuti langkah Sindi.
"Lo kalau ikut, jangan macam-macam ya, di depan anak gue!" ancamnya.
Mereka yang menyaksikan penolakan Sindi terhadap Luqman, terus memberikan kesempatan dan semangat, agar dapat menaklukkan hati janda beranak tiga tersebut.
"Pepet terus, Man! Jangan kasih celah untuk Sindi jalan sendiri!" teriak Aditya, membuat Nancy tersenyum tipis.
"Kasih saran sama sahabat paling best, tapi Neng selalu di biarin sendiri! Ayak-ayak wae nyak!" sindirnya.
Aditya yang mendengar ucapan sang istri tercinta, langsung merangkul pundak pasangan sahnya itu, dan mencium pipi mulus itu berkali-kali.
"Mas! Lepashh ... Malu sama Bapak igh!" cubitnya pada perut sixpack Aditya.
"Biarin!"
__ADS_1