
Malam di kota kembang yang penuh dengan kehangatan dan cinta, dua insan yang telah resmi menjadi pasangan suami istri itu, akhirnya datang ke kediaman Jali untuk menjadi saksi ikatan suci Sean dan Jumaida yang telah dipersatukan dalam pernikahan resmi.
Tampak wajah sumringah di wajah dua insan yang tengah berbahagia itu walau dadakan, membuat Luqman berasumsi bahwa Jumaida telah menjalin hubungan serius dengan Sean sebelum mengakhiri hubungan mereka.
Aditya mendengus dingin kepada Luqman, ketika mendengar penuturan sahabatnya itu, "Kok lo egois banget sih? Orang dia baru kenalan pas acara resepsi kita! Terus kalau dia punya hubungan sama Sean pas lagi menjalin hubungan sama lo, kenapa emang? Lo boleh ngegoda Sindi, terus Jumaida enggak boleh tergoda sama Sean?"
Luqman mendengus, ia melebarkan pupilnya, karena enggan melihat Sean mengusap-usap lembut punggung wanita yang telah sah menjadi istrinya, dan langsung nempel kayak perangko karena tidak ingin jauh dari anak juragan kambing tersebut.
"Gue bukan cemburu, Dit. Tapi masak sih dalam satu malam langsung nikah. Pasti ada pendekatan sebelumnya, kan?"
Aditya yang mendengar penuturan Luqman itu hanya mengejek sahabatnya itu, dan berlalu meninggalkan pria hitam manis tersebut, mendekati sang istri yang memanggilnya dari kejauhan, hanya untuk memberikan makanan khas betawi pada sang suami.
Perlahan Aditya menggoda puncak hidung Nancy, "Apaan sih, Neng. Mas mau kamu suapin boleh enggak?"
Nancy menganggukkan kepalanya, dia memotong kecil kerak telor, serta mengolesi dengan saos sambal yang sangat menyegarkan bagi wanita tengah mengandung sepertinya.
Tanpa melihat kearah sendok pemberian istrinya, Aditya melahap makanan itu, kemudian mengangakan mulutnya karena kepedasan.
Aditya mengipas-ngipas mulutnya, karena sesungguhnya ia tidak menyukai pedas sejak dulu, "I-i-ini apaan, Neng? Kok pedes banget!"
Nancy tertawa terbahak-bahak, melihat wajah sang suami yang tampak kelabakan setelah mendapatkan makanan yang ternyata dibalur saos super pedas oleh sang istri. "Maaf atuh. Lagian mangap aja. Makanya, kalau dikasih apa-apa itu harus dilihat dulu, nih!" Ia memberikan satu botol air mineral dingin agar meredakan rasa panas di mulut suaminya, kemudian mengusap-usap lembut punggung suami tercinta.
Sindi yang menyaksikan kemesraan dua insan suami istri berlari kecil mendekati Luqman, dan sedikit berbisik hanya untuk sekedar mengatakan bahwa ia merindukan pria hitam manis tersebut, membuat sang suami hanya merangkul mesra bahu sang istri.
__ADS_1
"Kita pulang ke rumah Mama, ya. Lagian sejak menikah kita belum nginap di rumah Mama. Enggak tega juga mendengar Mama hanya bicara lewat telepon. Lagian anak-anak masih disana," titahnya mengusap lembut punggung Sindi.
Sindi mengangguk setuju, "Mungkin lusa aku kembali dulu ke Netherland. Aku mau mengurus semua berkas anak-anak ku. Kalau kamu bisa cuti, ikut saja, jadi kita bisa bulan madu di sana. Lagian cuma empat hari, dan kita tidak bisa terlalu lama di sana. Karena anak-anak aku tinggal, kata Juno mereka tidak mau kembali. Jadi aku berniat menyekolahkan mereka di Penabur saja. Sama seperti kita dulu," jelasnya.
Luqman hanya mengembangkan senyum termanisnya, sambil berbisik pelan, "Aku enggak bisa cuti sayang. Karena Aditya mau berangkat ke Yordania. Jadi mungkin aku akan mengikuti semua pendidikan selama dua minggu. Jadi kamu berangkat saja. Kamu hati-hati, yah." Kecupnya pada kepala Sindi.
Perlahan Sindi mencubit kecil pipi sang suami, sambil berkata, "Belum berangkat lhoo aku. Kalau sudah berangkat baru bilang hati-hati!" tukasnya.
Kedua-nya tertawa terbahak-bahak, karena mereka saling menggoda, membuat para tamu menatap kearah mereka.
"Duh, kayaknya pengantin baru semua temen nya Teh Ijum. Pada mesra begini. Jadi pengen nikah dan ngerasain indahnya hidup bersama penuh tawa," sindir salah satu gadis muda yang diketahui Luqman, wanita itu bernama Ayu temannya anaknya Dida sang mantan komandan lama.
Luqman mencoba mengingat dimana terakhir bertemu dengan gadis muda tersebut, "Kamu teh temennya si, aduh ... anaknya komandan gue. Yang mau di hmm eee!" Bibirnya mengulas senyuman tipis, kemudian bertanya pada gadis belia itu, "Kamu ngapain di sini? Bukankah sudah di jemput dengan Abang kamu?"
Gadis itu mengangguk meng'iya'kan, "Ini Om, tadi diajakin temen. Makanya mampir ke rumah Teh Ijum. Kirain ada acara apaan, rupanya syukuran. Oke deh, makasih banyak yah Om. Neng permisi dulu," senyuman manisnya mengembang lebar, membuat Sindi mencubit kecil perut sispack sang suami.
Sindi hanya memalingkan wajahnya, tampak hatinya kini menahan rasa cemburu yang sangat menyebalkan terhadap Luqman, "Awas saja berani macam-macam, gue timpuk pake batu kali!"
Cukup lama mereka bersenda gurau, di kediaman Jali, dengan suguhan tradisional buatan Suminah, tibalah saatnya mereka berfoto bersama. Kemudian hanya memberikan dua buah amplop kepada Jumaida, tentu dari Nancy dan Sindi.
Tidak ada kebahagiaan yang sempurna, jika melihat seorang sahabat ikut bahagia setelah menemukan tambatan hati setelah pertemuan yang sangat singkat.
Begitu juga dengan Ali, beliau menikah dengan anak pengusaha dari Sukabumi, tapi tidak bisa dihadiri oleh para sahabatnya, dikarenakan Nancy dan Aditya harus menghabiskan waktu bersama keluarga besarnya.
__ADS_1
Tentu saja dengan pernikahan kontraversial Abdi dan Arini dalam waktu singkat, agar hubungan keluarga tetap terjalin demi menyelamatkan aset dan perusahaan keluarga Sugondo dan Anggoro.
.
Kini mereka harus meninggalkan tanah air tercinta. Demi menjalani kehidupan baru, sesuai perintah negara yang di emban oleh Aditya Atmaja sebagai prajurit dan abdi negara dari kesatuan militer.
Begitu banyak air mata yang mengalir dari Ningsih dan Sulastri, untuk melepaskan anak menantu mereka yang akan menetap di Yordania selama lima tahun, bahkan bisa saja lebih.
Nancy memeluk Ningsih dengan sangat erat, karena harus meninggalkan Abdi dengan orang tua tercinta, agar tidak terlalu repot karena kehamilan kedua-nya yang masih sangat memabukkan.
"Bu, Neng berangkat ya. Jaga Abdi, karena dia memang tumbuh di tangan Ibu dan Bapak. Neng sangat senang bisa ikut sama Mas Adit, walau sesungguhnya Neng masih belum bisa jauh dari Ibu," tangisnya pecah, membuat Sugondo berkali-kali memberi ultimatum pada Aditya.
"Yang penting, kamu di sana baik-baik. Jaga nama baik suami dan keluarga. Setia dan ikhlas dalam menghadapi apapun ujian dalam rumah tangga kalian. Ingat, sama Tuhan. Insyaallah ibu dan bapak selalu menjaga cucu kesayangan kami ini," titahnya mengusap lembut kepala sang putri yang perlahan sudah menutup auratnya.
Nancy beralih pada Sugondo, dan memeluk pria paruh baya itu dengan sangat erat. "Jangan lupa jaga kesehatan. Bapak enggak boleh capek-capek. Kalau Teh Sindi sudah kembali, suruh dia sering-sering berkunjung ke rumah. Neng sayang bapak!"
Kedua orang tua laki-laki itu hanya bisa menghela nafas mereka dalam. Karena tidak mungkin menangis dihadapan anak dan menantu mereka agar tak terlihat lemah.
"Hanya satu pesan Ibu sama kamu, Dit. Jaga Nancy buat kami. Jangan pernah kecewakan dia, karena hanya Nancy yang sudi untuk mendampingi kamu dalam susah!"
Aditya mengangguk, ia mencium puncak kepala putra kesayangannya, mencoba untuk kuat, walau sesungguhnya ia tidak kuat akan berjauhan dengan putra kesayangannya itu.
"Selamat jalan Nak Adit, selamat bertugas!"
__ADS_1
Aldo dan Emi hanya bisa tersenyum, menyaksikan sahabatnya pergi meninggalkan negara tercinta, hanya untuk menggapai impian dan cita-cita.
"Selamat bertugas besan! Kita akan bertemu di puncak kesuksesan mu!"