
Mendengar pengakuan Nancy telah menikah, membuat Sean menyandarkan tubuhnya di dinding ruangan yang seakan-akan terasa panas walau sudah menyalakan air conditioner dengan temperatur 25 derajat.
"Ma-ma-maafkan saya Pak Aditya, saya pikir kamu merupakan saudara atau ajudan Sugondo. Karena mereka selalu di kawal para jenderal bintang untuk pengiriman peti kemas yang berisikan teh. Saya yang selalu mengeluarkan surat jalan, dan memberikan kepada Nanang atau Pak Atmaja. Sekali lagi saya mohon maaf," jelasnya menundukkan kepala, sesekali melirik kearah Nancy yang masih berdiri didepan pintu.
Aldo tertawa kecil, mendengar penuturan Sean, menepuk pundak pria muda tersebut dengan sangat akrab, "Santai saja, Sean. Kita ini sebenarnya sudah seperti keluarga. Karena kalian juga banyak membantu kami. Oya, mana surat yang akan di tandatangani Nancy, karena kita tidak bisa berlama-lama disini. Maklum kondisi kurang kondusif, karena anak mereka sedikit rewel."
Sean beranjak menuju meja kemudian duduk di sofa, menyodorkan berkas pada Nancy, yang duduk disebelah Aditya.
Entah mengapa, Aditya langsung menggenggam erat jemari tangan istrinya, sehingga membuat Sean tidak mampu untuk berkata-kata lagi.
"Mas, lepasin dulu ... Neng mau tanda tangan," bisiknya lembut.
Aditya membulatkan kedua bola matanya, "Ya udah, tanda tangan saja ..."
Nancy merengut, "Neng ini kidal, Mas. Jadi enggak bisa nulis pakai tangan kanan. Mesti kiri," geramnya.
Aditya mendelik, ia baru tahu bahwa wanita itu tidak bisa menulis dengan tangan kanan, melainkan tangan kiri. Dengan cepat Adit melepaskan tangannya, memberi ruang pada Nancy untuk menyelesaikan beberapa berkas yang ada dihadapannya.
Lebih kurang lima menit, semua berkas selesai Nancy tandatangani, dan mereka berlalu meninggalkan ruangan Sean.
Tentu saja, Sean mengantarkan Nancy juga Aditya menuju parkiran, "Senang bisa bertemu lagi dengan Neng Nancy. Semoga selanjutnya, kita bisa bertemu kembali di situasi yang berbeda yah. Hmm panggil Aa saja kalau di luar jam kantor, jangan Kakak, tapi Mas juga boleh," tawanya mengembang lebar.
"Ya, sama-sama Kak," senyum Nancy ramah, walau sesungguhnya ia ingin muntah mendengar kata Mas yang di sebutkan Sean.
Aditya tidak banyak bicara, dia hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Sean, sambil melihat respon Nancy yang tampak sangat santai, memasuki mobil milik suaminya.
__ADS_1
"Sep ... Kamu sama Aa Aldo saja! Karena saya ada urusan sama istri!" perintahnya.
"Siap Ndan!"
Asep selaku ajudan Aditya yang baru mengangguk patuh bergegas menuju mobil Aldo, sementara Adit masih membukakan pintu mobil untuk Nancy yang masih berbincang-bincang ringan dengan Sean.
Aditya sedikit mendehem, "Ehem Neng ..."
Nancy menoleh kearah pintu yang sudah terbuka, kemudian masuk kedalam mobil, tentu saja Aditya sengaja memperlakukan sangat mesra pada istrinya dihadapan Sean.
"Aduh Pak Aditya buat saya jadi pengen cepet-cepet nikah. Sungguh menakjubkan melihat kemesraannya, sampai-sampai masang safety belt saja, Mas Adit," sindirnya membuat Nancy tertawa kecil.
Aditya mendongakkan kepalanya, "Ya biar enggak diambil orang. Karena banyak yang suka sama Nancy Sugondo!" jawabnya sinis.
Nancy menaikkan kedua alisnya, hanya menggelengkan kepalanya, namun ia sangat mengetahui bagaimana Aditya tengah dilanda cemburu.
Aditya menuju stir kemudi, menyalakan dua kali klakson, dan melajukan kendaraannya meninggalkan kantor Sean, sambil melirik kearah Nancy.
"Senang, di sukai banyak orang! Bahkan senyuman kamu itu, membuat para pria mengartikan bahwa kamu suka sama mereka!" sindir Adit karena cemburu.
Nancy memangku tangannya, menoleh kearah Aditya yang masih fokus dengan stir kemudinya.
"Siapa yang senang, Mas. Kan Aa Aldo tadi udah ngomong kita enggak bisa lama. Mas kenapa sih? Apa mesti Neng pasang muka cemberut kayak kamu hmm? Neng ini banyak sekali berurusan sama polisi, bahkan pengusaha. Pasti Mas kalau ketemu para pengusaha, cemburunya mengerikan deh. Kita sudah suami istri, Mas. Tidur sama-sama, ehem tiap hari, masih cemburuan juga? Neng cinta sama Mas sejak dulu, kita sudah punya Abdi, apa mesti begini caranya?" kesalnya.
"I-i-iya, tapi Neng bisa enggak, nggak usah senyum-senyum gitu di depan para pria yang ngejar-ngejar Neng. Bahkan dia jujur pernah ngirim surat cinta sama, Neng di depan Mas! Mas enggak suka Nancy. Mulai saat ini, Neng harus di kawal, pake sopir, dan Mas enggak mau Neng pergi sendiri-sendiri!" tegasnya.
__ADS_1
Nancy hanya bisa tersenyum tipis, mendengar celotehan suaminya, yang ternyata sangat menggemaskan, jika cemburuan.
"Terserah Mas saja. Yang penting jangan cari ajudan cowok, entar cemburu buta lagi. Bagaimana kalau Jumaida, Mas kasih buat Neng. Atau yang lain deh. Kan boleh ... Jumaida cewek, kali saja dia ikut terus sama Neng, bisa ketemu jodoh," hayalannya, namun Aditya hanya bisa mengangguk setuju.
"Ternyata susah punya istri cantik, dan berasal dari keluarga terpandang ... Semua mata tertuju pada sosok Nancy Sugondo. Bagaimana caranya aku untuk selalu menemani dia ...?" gumamnya dalam hati.
Aditya memijat pelipisnya, mengambil jemari tangan istrinya, mengecup lembut, kembali bertanya, "Bagaimana Abdi, Neng?"
Nancy tertunduk sambil menjawab, "Sedih Mas. Kepala benjol, kaki memar, bahu robek karena baretan kaca kata dokter. Ternyata dokternya anak teman Bapak. Hmm pernah Neng tabrak kakinya pakai troli," tawanya, mengenang kejadian beberapa waktu lalu.
Aditya kembali menoleh kearah Nancy, "Siapa lagi tuh, Neng? Jangan buat Mas sakit hati terus dong? Karena cemburu. Kamu sengaja yah? Dokter lah, polisi lah, bule lah, besok siapa lagi hmm? Bisa mati berdiri Mas, kamu buat," rungutnya.
Nancy tertawa terbahak-bahak, lagi-lagi mendengar celotehan Aditya yang sangat menyenangkan baginya.
"Tapi pemenangnya Aditya Atmaja, yang angkuh, sombong dan enggak pernah mengetahui tentang perasaan, Neng! Ya kan!" tawanya.
Aditya mendengus dingin, memasuki parkiran mobil, saat tiba di rumah sakit. Bergegas mereka turun, tanpa menghiraukan perdebatan di dalam mobil, untuk melihat Abdi juga Ningsih.
Benar saja, saat akan memasuki kamar Abdi, bayi berusia enam bulan itu langsung berteriak memanggil, "Pa-pa-pa, Ma-ma-mama," pekiknya keras.
Aditya langsung berhambur memeluk tubuh Abdi dan membawa dalam dekapannya, "Aduh, sakit anak Papa sayang?" usapnya pada bahu yang tertutup plaster, serta beberapa luka kecil yang sangat mengiris perasaannya.
Ningsih yang ternyata hanya luka ringan menghampiri Aditya, kemudian berkata, "Maaf yah Nak Adit. Ibu tidak mendengarkan nasehat kamu tadi pagi. Karena Ibu pikir hanya masalah kecil. Karena kami memang tidak melihat kondisi mobil Nancy."
Aditya tersenyum, "Enggak apa-apa Bu. Yang penting Ibu sama Abdi selamat. Jadi kita bisa pulang sekarang? Karena Adit tidak bisa lama-lama di rumah sakit. Adit hanya ingin menjemput Abdi sama Ibu saja," jelasnya.
__ADS_1
Ningsih mengusap lembut punggung Adit, sekalian menjelaskan, "Kita tunggu Bapak dulu ya. Bapak masih berada dibagian administrasi. Menanyakan siapa yang membayar semua biaya rumah sakit! Karena semua biaya sudah di bayar, tapi enggak tahu siapa."
Adit menghela nafas berat, "Siapa lagi sih yang mau cari muka sama mertua gue ...!" rutuknya dalam hati.