Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Ma-ma-ma ... Pa-pa-pa


__ADS_3

Aditya membukakan pintu mobil untuk Nancy, kali ini dia ingin mejadikan wanita yang telah memberikannya seorang putra itu berubah menjadi lebih protective terhadap istri. Ia tidak ingin wanita sebaik Nancy mendapatkan perlakuan kasar lagi dari dirinya sebagai suami, membuat ia lebih menjaga sang pujaan hati.


Nancy tersenyum kecil saat menerima perlakuan romantis dari seorang Aditya Atmaja. Bagaimana tidak, sebelum memasuki mobil, laki-laki gagah itu mencium bibirnya dengan sangat lembut, dan menahan bagian atas pintu mobil agar kepala sang istri tidak terbentur.


"Tumben Mas ..." goda Nancy sebelum Adit menutup pintu mobil.


Aditya tak bergeming, ia hanya memasangkan safety belt, kembali mengecup kening Nancy, kemudian menutup pintu mobil dengan pelan.


Nancy tersenyum sumringah, hatinya seakan berbunga-bunga bahkan melayang terbang mendapatkan perlakuan manis seperti itu dari manusia sekaku Aditya Atmaja.


Ketiga orang yang menyaksikan kejadian tersebut, hanya ternganga lebar, ketika mereka akan menemui Aditya.


Ya ... Luqman, Ali serta Jumaida hanya berdiri terdiam dengan wajah geli menahan rasa ingin membully teman yang dulu menyatakan tidak akan pernah bisa jatuh hati pada wanita lain, selain Evi. Kini berubah menjadi lebih romantis terhadap pasangan halalnya Nancy.


"Dit!" sapa Luqman yang mendekati Aditya setelah meninggalkan ruangan Jumaida.


Aditya menoleh kearah tiga pasukan elite militer angkatan darat tersebut dengan wajah lugu, hanya menjawab sedikit singkat ...


"Hmm ..."


Luqman langsung merangkul Aditya dan memeluk sahabat sekaligus teman seperjuangannya, "Njiir ... Baru kali ini gue melihat lo kayak Romeo and Juliet dengan Nancy!" tawanya.


"Aaagh sial! Ane begini karena cuma Nancy yang sabar menghadapi ane! Dah ah, mau lanjut bulan madu!" tawanya mengejek Luqman.


"Iiighs ... Besok lo, gue kawal! Gue ikut ke kantor pusat, kebetulan gue cuma dapat kenaikan bunga saja. Yah, semoga setelah menikah mendapatkan keberuntungan kayak lo!" ucapnya dengan tersenyum lebar, dan mata mengarah pada Jumaida yang tengah berbincang dengan datu team sesama kowad.


Kedua bola mata Aditya membulat lebar, hanya bertanya, "Kok bisa? Hmm bukannya Papa dan Mama lo suruh cari dokter?"


Luqman menepis semua tuntutan kedua orangtuanya, "Ini aja, jelas masih originil. Sparepart masih bagus, kaki-kaki juga oke!" tawanya.


Aditya menepuk pundak Luqman, mengangguk setuju, "Lanjutkan, biar perang terus kalau mau adegan ranjang!" gelaknya menyeringai melirik kearah Jumaida yang tampak masih sibuk dengan rekannya.


"Ane deluan yah? Masalahnya belum pulang dari kemaren. Bisa-bisa kenak kampak pak mertua. Karena melarikan anaknya satu malam!" tawanya berlalu menuju stir kemudi.


Luqman bertanya sebelum sahabatnya berlalu, "Besok jalan jam berapa?"


"Jam 06.00, kalau enggak kebablasan!" teriaknya.


Sementara Ali tersenyum sumringah, melihat perubahan pada Aditya, kemudian merangkul dan berkata pada Luqman ...

__ADS_1


"Indahnya pacaran kalau sudah menikah! Bebas mau berduaan dimana saja ... Jadi pengen nikah ..."


"Ho oh ... Sama, nikah yuk ..."


Ali menoleh kearah Luqman, menatap wajah sahabatnya yang penuh dengan kemesuman ingin memiliki wanita disampingnya ...


Benar saja, Ali langsung bergidik karena merasa geli melihat wajah sahabatnya, langsung menampar wajah Luqman ...


PLAAK ...!


"Auugh setan! Sakit, Li! Luqman mengusap lembut wajahnya yang terasa sangat panas.


Ali tertawa terbahak-bahak, sambil berkata ... "Makanya jangan terlalu menghayati, lamar tuh Jumaida!!!" ejeknya.


Luqman menatap kearah Jumaida, benar saja, saat ini setiap menatap wanita bar-bar itu, ada perasaan yang berbeda, namun ia sulit untuk mengungkapkan perasaannya.


Sementara itu, disisi lain ... Dida dan Evi sudah berangkat menggunakan bis tiga perempat menuju kesatuan polisi militer.


Entah mengapa, Gibran merasa tidak nyaman saat melihat wajah Dida dan Evi yang duduk secara terpisah. Tangan di borgol di tiang besi jendela, membuat mereka tidak bisa saling menyapa satu sama lain.


Wajah Dida hanya mengkerut, dia sama sekali tidak menyangka, bahwa kedekatannya dengan Evi justru membawa petaka baginya.


Sementara dalam benak Evi, "Aku harus lepas dari sini. Lagian aku hanya simpanan Dida, saat aku kembali nanti, aku akan membalaskan dendam ku pada dua insan manusia angkuh itu ... Mas Aditya, terimalah pembalasan ku ..."


Gibran justru tengah berbalas email dengan salah satu media internasional, yang melihat wajah istri Bambang di berada yang menjadi target operasi pihak perusahaan sejak beberapa bulan lalu ...


[Benarkah dia, Evi Sunardi, Ndan? Jika benar, terimakasih atas kerjasama polisi militer selama ini sama pihak perusahaan kami, setelah mereka selesai di sidangkan, kami akan langsung melimpahkan dia ke kejaksaan. Karena dia memiliki rencana keji kala itu. Mungkin besok Celine akan bertandang ke kesatuan militer, terimakasih ...]


[Izin Pak ... Saya menunggu kehadiran dari pihak Bapak. Dengan senang hati bisa langsung meliput pencopotan jabatan Komandan Dida, kemudian melantik Aditya Atmaja ...]


[Baik Ndan. Dengan senang hati, dan kami akan mengirimkan papan bunga untuk pelantikan Kolonel Aditya]


[Siap-siap]


Gibran tersenyum sumringah, menoleh kearah Evi yang hanya memandang kearah luar, "Ternyata kamu yang selama ini di cari pihak media internasional itu! Pantas saja hidup mu seperti ini, ternyata kamu dalang pengkhianatan suamimu hingga mati di tangan prajurit negara sendiri, sungguh tragis hidup mu Nyonya ..."


.


Kedua insan tengah berbahagia itu tiba di kediaman Sugondo yang sedang bermain-main dengan cucu kesayangan Abdi.

__ADS_1


"Ci luk ba ... Ci luk ba ..."


Abdi tertawa terbahak-bahak, melihat Sugondo menghiburnya dengan penuh kasih sayang.


Sugondo yang melihat anak menantunya akan turun dari mobil, sengaja membuat wajahnya menekuk, menyiratkan tidak kesukaannya kehadiran sang menantu.


Abdi yang melihat wajah Sugondo tiba-tiba murung, ikut serta menekukkan wajah lucunya, sambil menoleh kearah Nancy juga Aditya yang berjalan kearah mereka sambil bergandengan tangan.


Nancy yang mengetahui sinetron Sogondo, hanya tersenyum tipis, mengambil tangan kanan sang Ayah, mencium punggung tangan itu dengan rasa hormat.


"Pak ... Ada Mas Adit!"


Sugondo menoleh sebentar, lalu melihat kearah Abdi yang langsung tertawa kecil melihat sang Papa langsung mengembangkan tangan untuk segera menggendong kemudian memeluknya.


"Yah ... Abdi, kamu tidak sabar ingin segera di gendong Papa mu!" sesalnya menggeram, mencubit pipi cucu kesayangannya.


Aditya tersenyum, langsung menyapa, "Pak. Hmm Aditya minta maaf. Mungkin besok pagi Adit membawa Nancy ke Jakarta, karena ada hal yang mau diselesaikan, Pak," jelasnya, mencium punggung tangan sang mertua.


"Hmm ... Susu mana, susu!?" sindirnya.


Nancy mengkerut kan keningnya, hanya bisa mengusap lembut punggung Sugondo ...


"Bapak apaan sih, orang bicara apa, yang di bahas apa. Susu Abdi kan banyak, Pak. Kemaren baru di beli sama Mang Nanang satu karton. Bapak buat sebel iigh ..." geramnya.


Aditya yang mendengar penuturan istrinya menoleh kearah Sugondo, hanya bisa menahan rasa kesalnya, dengan menelan ludah tanpa mau melawan ...


Sugondo yang melihat gelagat menantunya, berkata sambil membulatkan kedua bola matanya, "Apa! Apa! Berani melawan mertua!?"


Namun, Abdi langsung bersuara ... "Ma-ma-ma! Pa-pa-pa!"


"Aaagh Mas, Abdi bisa bicara," teriak Nancy antusias.


"Iya Neng ... Hmm, cup cup cup ..." geram Adit mencium pipi anak kesayangannya.


"Ma-ma-ma, Pa-pa-papa ..." celotehnya lagi keluar dari bibir mungil itu.


Nancy menoleh kearah Sugondo, memeluk erat tubuh sang Ayah, "Terimakasih yah Pak. Sudah mau mengajarkan Abdi memanggil Neng dan Mas Adit ..."


"Hmm ... Terpaksa siih!" ejeknya.

__ADS_1


"Bapak ..." rengek Nancy merangkul lengan Sugondo untuk segera berkumpul diruang keluarga.


__ADS_2