
Panas sore sangatlah terik, hawa panas yang semakin lama semakin terasa, membuat dua insan yang masih berada didalam mobil menahan amarah dengan memilih diam. Nancy membiarkan suaminya untuk mengendarai kendaraan, tanpa mau peduli umpatan Aditya sejak tadi.
Aditya kembali menoleh kearah Nancy, memperhatikan wajah cantik sang istri yang tampak menggemaskan jika sedang cemberut ...
"Neng ... Kita bisa bicara baik-baik enggak? Mas kan ..."
Aditya memilih diam saat istrinya mulai menyela pembicaraan yang sedari tadi hanya menjawab terus.
"Mas kan sudah menceraikan jallang itu? Begitu hmm? Mas tahu enggak, betapa sakitnya hati Neng? Melihat, mendengar omongan orang-orang! Malu tahu, malu! Untung Abdi masih kecil, Mas! Kalau sudah besar bagaimana? Dia pasti akan berhenti sekolah, karena mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari teman-temannya! Mikir enggak sih, sampai kesana?"
"Ya ... Kan Abdi masih kecil Neng. Belum ngerti!" belanya untuk diri sendiri.
PLAAK ...!
PLAAK ...!
Nancy memukul keras bahu suami yang membuatnya semakin geram mendengar pembelaan diri Aditya, yang tidak pernah memikirkan perasaannya sebagai istri.
"Jadi Mas sama sekali enggak mikirin perasaan Neng? Perasaan orang tua? Perasaan rekan-rekan bisnis Neng! Baru kali ini Neng ketemu sama laki-laki yang enggak punya perasaan! Turun sana! Turun!!!!" sesalnya menggeram, mencubit, bahkan meremas kuat lengan Aditya.
Aditya hanya menahan rasa sakit yang di torehkan oleh Nancy, karena sejujurnya tidak berasa apa-apa di kulit kencangnya. Perlahan dia menyalakan lampu sen, memarkirkan mobil mereka dipinggir jalan, membiarkan Nancy melampiaskan segala amarah.
Kini Aditya hanya bisa pasrah saat Nancy mengigit kuat lengannya yang sudah terluka kecil karena ulah sang istri.
__ADS_1
"Grrrrthh ... Rasain! Biar memar-memar, dan tidak ada lagi orang yang peduli sama kamu!" geram Nancy kembali meremas kuat lengan suaminya.
Seketika Aditya meringis, menahan rasa sakit karena gigitan Nancy yang membekas bahkan membuat lengannya terluka.
Aditya seketika merangkul tubuh istrinya, membiarkan Nancy menepuk-nepuk dada bidangnya dengan sangat keras.
"Luapkan amarah Neng! Mas rela kali ini. Mas sayang sama Neng. Mas enggak mau pisah dari Neng sampai kapanpun!" usapnya pada punggung Nancy yang masih meronta menangis sejadi-jadinya.
"Mas jahat! Mas Adit jahat sama Neng! Mas enggak pernah membalas cinta, Neng! Apa salah Neng sama Mas? Kita sudah menikah, punya anak, tapi Mas malah buat ulah. Neng capek mesti berjuang sendiri untuk merebut hati suami. Suami yang enggak pernah mencintai Neng, dia lebih mencintai orang lain daripada istri sendiri. Bahkan tega menikahi wanita itu!" tangisnya terisak-isak.
Aditya menghela nafas panjang, mengusap lembut kepalanya. Dia merasakan perbedaan saat memeluk Nancy, sejujurnya diri sendirilah yang menolak perasaan itu datang. Sehingga ia ingin mengetahui sekuat apa cinta Nancy padanya, membuat pikirannya semakin berkecamuk jika teringat akan Evi yang ternyata wanita buruk yang pernah ia kenal.
Perlahan Aditya mengatur nafasnya, mengecup lembut kepala Nancy yang masih ada dalam dekapannya, "Jujur Mas sayang sama Neng. Mas merasa bangga karena dicintai wanita terhormat, secantik Neng. Seminggu Mas di rumah orang tua, hanya di perlakukan kasar oleh Bapak. Mas enggak tahu bisa membahagiakan Neng atau tidak saat ini. Sejujurnya, Mas sama sekali tidak pernah menyentuh Evi, Neng. Mas belum melakukan apapun sama dia. Mas hanya mengontrakkan rumah, dan ternyata enggak enak punya istri dua. Mas sudah minta maaf di kesatuan. Bapak kita berdua yang menyaksikan semuanya. Mas enggak mau kita berpisah cuma gara-gara ini. Mas pikir dengan mudah untuk meraih maaf kamu. Ternyata sampai saat ini, kamu masih belum bisa sepenuhnya melupakan kesalahan Mas. Mas harus bagaimana, buat menebus semua kesalahan Mas hmm? Mas bingung Neng! Mas bingung kamu diamkan selama seminggu bahkan kamu seenaknya ketemu dengan bule somplak itu. Apa kamu enggak menghargai pernikahan kita?"
"Auuugh ..." ringisnya.
Nancy mendorong tubuh sang suami, agar Aditya melepaskan dekapannya. Menatap lekat iris mata suami yang sangat menyejukkan relung jiwa seorang istri.
Sejujurnya Nancy tak kuasa menahan rasa rindunya pada sosok sang suami. Namun kali ini ia harus mempertahankan harga diri untuk menutupi semua rasa cinta yang ada dalam hati.
"Kenapa sih Mas egois banget? Kan sudah Neng bilang, kalau yang Neng urus itu kasus busuk kamu? Kenapa Mas enggak pernah sadar? Seolah-olah Neng bertemu sama mereka itu sudah di rencanakan. Memang benar direncanakan, tapi Bapak mertua kamu yang merencanakan, SU-GON-DO! Ngerti! Begitu sayangnya keluarga Neng sama kamu! Sama masa depan kita, apalagi yang mau Mas cari di luar sana hah? Mau cari Evi? Sana pergi! Mungkin saja Evi lebih kaya, lebih cantik, lebih wow, lebih segala-galanya dari Neng! Biar Neng hidup sama Abdi berdua, sampai dia besar! Neng enggak akan menuntut apapun sama Mas, karena Mas sejak awal enggak menginginkan anak kita lahir, kan? Sampai menuduh istrinya selingkuh! Mas pikir Neng mau enak saja buka paha lebar-lebar sama orang lain! Capek tahu!" sesalnya membuang pandangannya kearah lain.
Entah kenapa kali ini sulit bagi Adit untuk menaklukkan hati Nancy, yang ternyata benar-benar terluka oleh sikapnya.
__ADS_1
Aditya mengambil jemari tangan istrinya yang terasa sangat halus, "Mas minta maaf Neng ..." kecupnya lembut.
Nancy tersenyum tipis, menarik tangannya dari genggaman Aditya, "Hmm ... Mudahnya minta maaf. Mungkin di kesatuan Mas meminta maaf, masalah selesai! Tapi sama Neng, jangan berharap karena kali ini Nancy Sugondo sudah mengibarkan bendera putih agar kita berpisah!"
Aditya menggelengkan kepalanya, dia hanya bisa menahan amarahnya, menggeram bahkan memukul-mukul jok kemudi yang ia duduki berkali-kali.
"Mau sampai kapan Mas bilang! Mas tidak akan menceraikan Neng! Mas cinta sama Neng! Mas sayang sama Neng! Mas enggak pernah mau kehilangan Neng lagi! Cukup kita bertengkar, kali ini Mas mengalah, Mas minta maaf! Mas benar-benar jatuh cinta, Neng membuat Mas semakin kayak orang gila, seminggu kamu diamkan, membuat Mas menjadi serba salah! Tapi sama sekali kamu tidak pernah menghargai perasaan Mas!" teriaknya berapi-api, membuat Nancy ternganga mendengar kejujuran seorang Aditya Atmaja.
Nancy menyentuh dadanya, ada perasaan bahagia, namun kali ini dia tidak ingin tertipu oleh pria yang tampak histeris meluapkan perasaannya ...
Seketika suasana kembali hening, Aditya masih mengalihkan pandangannya kearah lain, rahang tegasnya mengeras, bahkan wajah tampan itu tampak semakin merah padam karena menahan rasa malu telah jujur pada istri sendiri.
Nancy menggigit bibir bawahnya, tak ingin percaya begitu saja dengan kejujuran Aditya, "Terus kenapa marah-marah melihat Neng sama dua bule itu? Cemburu!"
Spontan Aditya Atmaja menjawab, "Iyalah! Neng itu istri Mas! Istri paling sempurna yang dikasih Tuhan buat Mas! Mas memang bodoh, Mas salah, tolong kasih tahu, apa yang bisa Mas lakukan buat membuktikan semua yang ada dalam hati Mas sama Neng! Apa yang harus Mas lakukan Neng! Jawab!!"
Nancy hanya tersenyum, memperbaiki posisi duduknya, tak ingin melihat wajah Aditya yang telah jujur walau dengan cara meledak-ledak ...
Sambil tersenyum sumringah, Nancy berkata tanpa menoleh, "Tunjukkin dong di depan Evi dan semua orang, kalau hati Mas telah berhasil direbut Neng!"
Aditya yang mendengar ucapan Nancy, kembali menoleh kearah istrinya, "Apa!?"
"Ya ... Katakan pada Evi dan semua orang di batalion bahkan seluruh dunia, bahwa Mas mencintai Neng! Itu syaratnya, baru Neng percaya!"
__ADS_1