Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Mengumbar kemesraan


__ADS_3

Tidak banyak kendala, semua rombongan Sugondo kembali berangkat bersama para buruh pabrik, membawa Luqman dan Sindi bersama mereka. Tentu saja dengan berbagai macam drama yang tersirat di wajah Aditya, merasa di tinggalkan berdua saja dengan Nancy.


Sementara putra kesayangannya, diboyong oleh kedua orang tua, tanpa ada perdebatan. Dengan langkah gontai Aditya hanya bisa tersenyum tipis, menatap enam mobil rombongan Sugondo berangkat menuju Jogja, ditambah satu mobil pariwisata khusus karyawan.


Entahlah, hanya kebahagiaan yang kini terpancar dari raut wajah kedua sahabat seperti Atmaja dan Sugondo yang semakin akrab.


Tidak banyak bicara, Atmaja tersenyum tipis melihat putra kesayangannya harus tinggal karena kondisi Nancy benar-benar hamil sembilan minggu dan mabuk berat, setelah menjalani pemeriksaan yang lebih intensif oleh Dokter Arlen.


Arlen melihat kearah Aditya yang terlihat sangat khawatir dengan kondisi Nancy, "Selamat ya, Dit. Sudah sembilan minggu. Jadi kamu jangan nakal dulu, sampai dua belas minggu ya. Perhatikan makanan dan istirahat saja. Kayaknya anak kalian yang ini sangat manja dengan Papa-nya, sangat berbeda dengan Abdi."


Aditya tersenyum lebar, kali ini feeling-nya tidak salah. Dia dapat merasakan perubahan pada sang istri yang tiba-tiba malas, dan enggan bermanja-manja seperti biasa.


"Hmm iya deh, Dok. Kira-kira ada larangan lagi?" tanyanya dengan wajah polos.


Arlen menggeleng, "Jadi kalau kalian sudah berada di Yordania, semoga kondisi Nancy mulai membaik. Jadi kamu bisa mendapatkan fasilitas disana dari dokter spesialis kandungan terbaik," titahnya agar Aditya tidak merasa khawatir, seperti saat ini.


"Ya, mudah-mudahan Dok. Tapi ... ngomong-ngomong kok tahu Aditya bakal ke Yordania, pasti Tante Siska yang cerita," tawa Aditya menyeringai kecil.


Siska menyela ucapan Aditya, "Hei kasep, satu batalion sudah tahu kalau kamu bakal pindah ke sana. Bawa keluarga lagi. Ingat ya, jangan macam-macam lagi. Fokus pada pekerjaan dan keluarga. Semoga pulang dari Yordania, karir kamu semakin melejit, dan mendapatkan posisi yang sangat baik sebelum masa pensiun. Jadi baik-baik saja kalau sayang sama istri!"


Aditya mengangguk patuh, sesekali matanya melirik kearah Nancy yang masih enggan untuk membuka matanya, karena masih merasakan pusing bahkan bumi seperti berputar-putar.


Cukup lama mereka saling bercerita, untuk menguatkan pasangan yang sudah semakin akur dan saling sayang tersebut. Memilih meninggalkan Adit setelah memberikan beberapa obat untuk menguatkan kandungan Nancy.


Dengan nafas panjang, Aditya kembali menutup pintu kamar setelah kedua tantenya berlalu, kemudian membantu sang istri agar mau meminum obat yang dianjurkan oleh Dokter Arlen.


"Neng, kamu mau makan apa? Mas buatin deh, walau enggak bisa. Tapi pasti akan Mas lakukan yang terbaik," ucapnya, membuat Nancy hanya menoleh malas kearah Aditya.


Akan tetapi Nancy mengangguk setuju, kemudian berkata dengan nada lemah, "Buatin nasi goreng saja, Mas. Kalau enggak salah ada bahannya di kulkas. Masakin aja nasi sedikit, dan bahan-bahan ada di kulkas."


Tidak banyak bicara, Aditya benar-benar melakukannya. Demi permintaan sang istri, dengan bantuan Aldo melalui video call.


Aditya : "Apalagi ni, bro! Bawang sudah, hmm bawang putih juga sudah. Terus udangnya ane apain, amis enggak?"

__ADS_1


Aldo yang tengah berada di restoran tertawa terbahak-bahak, melihat kamera, dengan berbagai macam kepanikan sahabatnya.


Aldo : "Lo tinggal acak-acakin telor dulu, baru masukin bawang yang udah halus sampai wangi, masukin udangnya. Nah, kalau udah lo masukin semua, tinggal lo tuangin nasinya. Minyaknya sedikit saja, ingat ... jangan berantakin ranah wanita. Bisa di omelin bini lo, ntar!"


Mendengar nasehat kecil Aldo, Aditya selaku suami siaga mencoba memberi yang terbaik untuk sang istri.


Dengan susah payah Aditya mencicipi masakan pertamanya, yang terkadang terasa manis, kemudian asin, dan akhirnya berasa seperti permen nano-nano.


Lebih kurang dua jam Aditya berkutat di dapur mini paviliun mereka, hanya untuk membahagiakan sang istri yang tengah mengandung benih cinta mereka.


"Akhirnya berhasil juga ..." Aditya tersenyum lebar, ketika matanya melihat hasil karya yang dihias sedemikian rupa bak nasi goreng buatan restoran, dengan plating yang sangat aduhai lucu dan berantakan, tapi dia tetap puas.


Dengan langkah kaki penuh percaya diri, Aditya membangunkan Nancy yang masih terlelap, untuk mencicipi masakan pertamanya.


"Nih, nasi goreng buatan Mas Adit buat Neng! Walaupun kurang enak, tapi enak kok! Tadi sudah Mas cicipi dan pakai udang," tawanya menyeringai lebar.


Nancy menatap malas kearah piring yang ada dihadapannya sambil berkata, "Dari aromanya enggak enak. Jadi Neng udah kenyang. Mas jauh-jauh sana, Neng enggak suka!"


Aditya menelan ludahnya susah payah. Keringat yang belum mengering tapi dia harus mendapatkan perlakuan yang sangat tidak mengenakkan pendengarannya.


"Enggak enak, Mas. Jangan paksa Neng. Kita keluar aja yuk. Cari makan yang enak. Aromanya aja Neng enggak suka!" sungutnya.


Entah apa yang ada dalam benak Aditya kali ini. Yang pasti ia tidak percaya bahwa istri tercinta akan mengatakan bahwa masakannya yang pertama tidak enak, sementara belum mencicipi satu sendok pun.


"Neng ngerjain Mas? Hargain dong, dua jam berdiri di dapur, hanya untuk sekedar masakin ini buat, Neng. Please sayang ... jangan buat suami mu ini jadi serba salah," sungutnya masih belum menerima ucapan sang istri.


Nancy tertawa kecil, mendengar celotehan sang suami, menghela nafas berat, meminta Aditya untuk menyuapkan kedalam mulut mungilnya.


Dengan penuh semangat 45, Aditya langsung menuruti keinginan sang istri, tapi lagi-lagi Nancy tersedak karena rasa yang bercampur aduk.


"Uhug, uhug, uhug ..." Nancy mengeluarkan semua makanan yang ada didalam mulutnya, sambil berkata, "Enggak enak sayang. Neng enggak suka, ada aroma telor yang setengah matang, dan udangnya belum masak. Neng enggak suka, jangan paksa. Mas saja yang makan yah, Neng suapin."


Mendengar pernyataan Nancy, Aditya berusaha meredam amarahnya, karena dia sudah melakukan hal terbaik sesuai arahan Aldo.

__ADS_1


"Hmm, Neng bener-bener nyebelin banget ya. Maunya apa sih? Tadi minta nasi goreng, pas dicicipi sedikit malah bilang enggak enak. Neng ngerjain, Mas? Igh ... untung lagi hamil anakku, kalau enggak igh ..." sesalnya mengusap kasar wajah nan tampan itu.


Nancy semakin tertawa, "Hmm tarok saja di situ kalau Mas enggak mau makan. Nanti Neng makan, Neng cuma mau ngerjain aja, kok!"


Mendengar kata 'ngerjain' yang keluar dari bibir sang istri, Aditya benar-benar kesal. Tapi ia mampu memberikan yang terbaik untuk Nancy, dengan niat belajar hal-hal baru untuk membahagiakan wanita sebaik Nancy.


"Kalau enggak Neng makan, Mas ngambek. Mas enggak mau masakin lagi!" gerutunya sambil menyeka keringat yang masih mengalir.


Nancy memeluk tubuh gagah sang suami tercinta, "Neng sayang banget sama Mas. Jangan pernah tinggalkan Neng, ya? Karena anak kita bakal dua, dan kita akan menjadi orang tua. Jika mantan Mas itu keluar dari penjara, tolong berikan yang terbaik untuk Neng jika bertemu dengannya. Hanya itu pesan, Neng. Karena tidak akan pernah ada kesempatan ketiga untuk Mas dihati, Neng."


Pernyataan Nancy yang tiba-tiba seperti itu, membuat Aditya langsung bertanya, "Neng kenapa? Mas enggak pernah mengingat dia."


Wajah cantik itu hanya tersenyum tipis, meraih handphone miliknya yang terletak dinakas, kemudian meletakkan ditangan kanan Aditya.


"Coba cek, kalian tadi malam masih saling berkirim pesan! Dua kali Mas balas pesan sama perempuan itu, akhirnya Neng yang membalas pesan terakhirnya siang ini! Mas mau ajak ribut lagi? Neng sengaja enggak pergi, karena Neng tidak mau kita ribut saat acara gathering pabrik! Apa sih yang Mas harapkan dari janda itu hmm? Dia udah buat malu Mas, ngerusak rumah tangga kita, masih ngasih kabar tentang kita mau ke Yordania? Siapa dia, Aditya Atmaja!! Siapa E-v-i Sunardi? Kenapa Mas tidak pernah berubah hah? Apa enggak capek membagi pikiran kamu sama wanita sampah seperti dia! Neng kecewa sama Mas, sangat kecewa! Makan tuh Evi! Minggir!" ia berusaha untuk beranjak dari ranjang peraduannya.


Aditya yang terkejut mendengar pernyataan Nancy langsung memeluk erat tubuh sang istri, untuk menahan langkah kaki wanita itu agar tidak pergi meninggalkannya begitu saja.


"Mas minta maaf jika itu salah, tapi semua itu Mas lakukan agar dia tahu bahwa Mas sudah bahagia sama kamu. Dia selalu memberikan love jika Mas update status terbaru foto-foto kita. Mas sudah mengatakan bahwa kita bahagia, Neng. Jangan begini sayang!"


PLAK ...!


Nancy yang sejak awal menahan amarahnya, menggeram kesal karena tidak ingin sang suami menjalin komunikasi dalam bentuk apapun dengan wanita itu. Sehingga ia tidak sungkan memberikan tamparan keras kepada Aditya.


"Terlambat! Neng enggak butuh Mas lagi, pergi!! Neng jijik melihat kelakuan kamu, Aditya Atmaja!"


Aditya hanya terdiam, wajahnya memerah karena tidak menyangka bahwa sang istri memparalelkan aplikasi whatsApp miliknya ke handphone Nancy.


"Oke, tapi Mas sangat menyayangi Neng. Jangan sampai kita seperti dulu. Sumpah, Mas tidak ada perasaan apa-apa sama dia, Neng!"


Nancy menyunggingkan senyumannya, "Enggak ada perasaan? Tapi berharap tidak putus komunikasi, untuk apa hmm? Mau tanggung jawab sama janda? Silahkan cari janda lain di luar sana, tapi jangan Evi! Ngerti!"


"Neng, Mas minta maaf! Mas enggak akan menghubungi dia lagi, janji sayang!"

__ADS_1


BRAK ...!


Nancy tetap melepaskan pelukan Aditya, beranjak menuju kamar mandi, menutup pintu itu dengan sangat keras, sambil berteriak, "Silahkan hidup sama janda murahan kayak dia. Neng benar-benar cemburu! Neng marah, buat apa Mas mengumbar kemesraan kita sama dia, enggak penting Aditya Atmaja!"


__ADS_2