
Suasana siang itu sangat cerah, Nancy masih berada di ruang praktek Siska, menunggu dokter spesialis kandungan, untuk melakukan USG sebelum ia kembali pulang, setelah melakukan test melalui air seni.
Tangan Nancy masih menggenggam erat tiga alat test kehamilan yang sengaja diletakkan Siska di atas meja ruangannya, yang ketiganya menunjukkan garis dua berwarna pink.
Wajah cantik Nancy masih terlihat sangat shock, setelah melihat hasil testpack tersebut. Walau jauh dalam lubuk hatinya, ia merasa bahagia telah mengandung anak dari Aditya Atmaja.
Nancy mengusap lembut perut rampingnya, bergumam dalam hati, "Ini akan menjadi pengikat yang kuat bagi pernikahan ku dengan Mas Adit. Mas Adit, kita akan memiliki baby. Pasti Mas akan senang jika kembali, dan melihat anak kita telah lahir ..."
Siska mengucapkan selamat pada Nancy, berkali-kali memeluk tubuh keponakannya tersebut.
"Selamat yah? Walaupun kamu di jodohkan, tapi Mas Adit sangat senang jika melihat anaknya lahir ke dunia. Mudah-mudahan anak pertama kamu cowok, jadi bisa menjaga Mamanya selama Mas Adit meninggalkan kamu," titah Sisca memberi kekuatan pada Nancy.
Nancy menganggukkan kepalanya, wajah cantik yang masih terlihat pucat, namun tak menutupi rasa bahagia yang tersirat dari raut wajah putri kesayangan Sugondo tersebut.
Tak lama mereka berbincang-bincang, seorang dokter spesialis kandungan wanita mengetuk pintu ruangan Siska yang terbuka lebar.
Siska menyambut kedatangan Dokter Arlen yang ternyata dinas di rumah sakit tentara tak jauh dari kantor Aditya.
Arlen menyapa Nancy yang masih duduk di kursi ruangan, melihat testpack yang sudah diletakkan di atas meja. Kemudian melirik kearah Nancy yang juga menatapnya dan bertanya ... "Bagaimana Nona? Apa kamu sudah menikah?"
Nancy mengangguk, "Saya istri dari Mayor Aditya Atmaja Angkatan Darat," jelasnya.
Arlen mengangguk, dia meminta Nancy untuk segera berbaring di bangkar ruangan yang hanya berukuran lima kali lima tersebut, menyalakan alat USG yang sudah tersedia.
Perlahan Nancy menelan ludahnya. Jujur kedua telapak tangannya kini kedinginan karena perasaan yang bercampur aduk. Senang, sedih, bahkan sedikit khawatir, karena selama ia menghabiskan waktu bersama dengan Aditya tak pernah terbersit dari bibir keduanya untuk memiliki buah hati secepat ini.
__ADS_1
Nancy menoleh kearah Dokter Arlen, bertanya selayaknya wanita polos yang tidak mengerti dengan masa subur, dan proses pembuahan setelah menikah.
Tentu dengan penuh semangat Arlen menjelaskan pada Nancy, bagaimana proses pembuahan itu terjadi, agar pengantin baru tersebut dapat mengetahui dan memahaminya.
Nancy bertanya meyakinkan, "Berarti saat saya berhubungan dengan Mas Adit, sedang masa subur yah, Dok?"
"Ya! Karena di sini terlihat janin kamu sudah berusia lima minggu. Berarti, saat Pak Adit mengeluarkan cairannya, kamu tengah berada di puncak masa subur. Nanti akan saya kasih cara hitungan masa subur, dan bisa kamu praktekkan jika Pak Adit sudah kembali. Biasanya, pasca pulang perang prajurit akan lebih intens melakukan hal itu. Apalagi punya istri secantik Mba Nancy, pasti buat Pak Adit klepek-klepek kalau kembali," jelasnya panjang lebar dengan senyuman ramah.
Nancy menghela nafas panjang, setidaknya kali ini akan menjadi hal terindah yang dapat iya berikan pada suaminya, jika kembali nanti.
Arlen menoleh kearah Siska, "Kandungan keponakan kamu sehat semua, jadi kasih vitamin yang biasa saja, asam folat, dan untuk perkembangan otak janin. Selamat yah Nancy. Jika terjadi sesuatu, bisa hubungi saya melalui whatsApp. Saya ada di rumah sakit setiap hari Senin, Selasa dan Kamis. Selain itu saya berada di sini. Jadi kamu sudah bisa beristirahat, jangan terlalu capek, dan kamu bisa melakukan aktivitas seperti biasa."
Nancy duduk di bibir bangkar dengan bantuan Siska, wajahnya semakin memerah karena malu, mendengar pujian dari Dokter Arlen yang sangat baik juga tegas.
Nancy melirik kearah Siska, kemudian bertanya, "Perlu kasih tahu sama Bapak atau Ibu juga enggak, Nte? Masih lima minggu, takut pamali ..."
Nancy mengangguk mengerti, dia menerima semua resep yang di berikan Dokter Arlen juga Siska, dan mendengarkan wejangan dari dua wanita tangguh tersebut, yang merupakan seorang istri angkatan laut.
Setelah bercerita panjang lebar, mendengar nasehat-nasehat dari kedua wanita yang sangat enjoy menikmati indahnya pernikahan yang selalu di jalani dengan jarak jauh, memberi kekuatan tersendiri bagi Nancy sebagai wanita manja menurut orang yang baru mengenalnya.
Nancy berpamitan, setelah melihat jam yang melingkar di tangan kanannya agar tidak terlalu malam tiba di kediaman keluarganya.
Siska mengantarkan keponakannya ke mobil, memeluk tubuh ramping Nancy itu berkali-kali.
"Yang kuat yah geulis, jangan lupa resepnya di ambil. Jangan lupa banyakin makan sayuran, buah-buahan, dan daging. Biar dapat anak cowok," jelasnya dengan penuh tawa canda.
__ADS_1
Nancy merasakan kebahagiaan yang luar biasa, karena dapat bertukar pikiran dengan saudara sendiri, setelah menjadi seorang istri abdi negara yang sangat berprestasi dan berperan penting, untuk mendongkrak karir suaminya.
"Hmm ... Pasti Mas Adit sangat bahagia, kalau mengetahui tentang kehamilan aku. Sehat-sehat yah nak didalam perut Mama. Setidaknya, saat Papa pulang, kamu sudah lahir ke dunia dan kita hidup menjadi keluarga kecil yang sangat bahagia ..." batinnya dengan mata berkaca-kaca, sambil mengendarai mobil maticnya.
Perasaan bahagia Nancy tak dapat ia sembunyikan dari kedua orangtuanya, yang sudah mengetahuinya kehamilan sang putri kesayangan dari Siska.
Saat mobil Nancy terparkir di teras rumah besar milik Sugondo tersebut, matanya tertuju pada sosok Bapak dan Ibunya yang berlari mendekati anak mereka.
Nancy hanya bisa menghela nafas panjang, tersenyum sumringah melihat kedua orangtuanya sudah antusias menunggu ia keluar dari mobil.
Perlahan Nancy membuka pintu mobil, dan menurunkan satu kakinya dari dalam mobil, membuat Sugondo berceloteh tentang bagaimana menjaga kehamilan, yang dialami Ningsih kala mengandung anak pertama mereka ...
"Pokoknya, mulai saat ini Neng enggak boleh pergi sendirian lagi. Bapak yang antar kemana-mana! Kalau perlu sama Mang Nanang, atau Nak Angga!" Sugondo mengalihkan pandangannya pada Ningsih yang berada di sampingnya, memberi perintah pada sang istri ...
"Bu, kasih tahu sama Sulastri ... Kalau sebentar lagi kita bakal punya cucu. Aduh, enggak sabar Bapak nyambut cucu pertama. Pasti cakep yah, Bu? Mirip Neng sama Nak Adit. Tuh kan, bener kata Bapak ... Dua insan kalau sudah halal, pasti enggak mau keluar kamar. Apalagi kalau di paviliun banyak makanan, jadi deh cucu Bapak! Terimakasih Gusti, terimakasih Neng, Bapak senang." tawanya geram, namun tidak tahu akan melampiaskan rasa bahagia yang ada di hati Sugondo saat ini.
Ningsih hanya geleng-geleng kepala, melihat tingkah suaminya, yang menginginkan cucu sejak Nancy usai menyelesaikan kuliahnya.
Nancy hanya tertawa kecil, melihat dan mendengar celotehan Sugondo, yang menghalangi putrinya yang akan melangkah masuk ke paviliunnya.
"Pak! Awas atuh, Neng mau lewat! Ngalingin saja, ntar jatuh ni anak kita!" sesal Ningsih.
Nancy tertawa mendengar celotehan sang Ibu, yang terus mencubit perut Sugondo agar tidak menghalangi jalan masuknya.
"Ya Allah Gusti, anak Bapak sudah hamil saja ... Baru tiga bulan mereka tidur, Bu! 11 bulan lagi Aditya pulang perang, buat anak lagi yah, Neng! Buat anak yang banyak, buaaanyak Neng."
__ADS_1
"Hussh Bapak, cicing atuh! Nanti cucu ku risih denger suara Eyang-nya berisik banget!"