Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Gisel ...


__ADS_3

Semua mata tertuju pada Aditya dan Evi, sambil menoleh kearah Nancy yang tampak tenang tanpa ada sedikitpun perasaan cemburu ataupun marah.


Kali ini Nancy ingin melihat keseriusan Aditya dalam mempertahankan rumah tangga mereka, dari cemoohan kerabat dekatnya, hingga terjadi berita simpang siur yang sangat memekakkan gendang telinga wanita cantik itu.


Emi mengusap lembut punggung Nancy, karena dapat merasakan apa yang dirasakan seorang istri atas kejujuran seorang suami yang pernah menikahi wanita lain selain Nancy.


Saat pikiran orang-orang menyangka, bahwa Aditya akan menggandeng tangan Evi, seketika suara bariton pria kaku itu semakin terdengar ...


"Ya, wanita ini istri saya! Tapi itu dua minggu yang lalu, dan saya Aditya Atmaja telah menceraikan Evi Sunardi talak tiga!"


Sontak pernyataan Aditya, membuat Evi malu dan memerah marah dengan dada bergemuruh bahkan terasa sangat sesak. Bagaimana mungkin, pria yang sejak dulu menyanjungnya, kini benar-benar mencampakkan nya seperti sampah dihadapan para pengunjung club' yang dihadiri oleh beberapa angkatan militer gabungan.


"Mas!" geram Evi menantang berang.


Aditya tersenyum lirih dengan tangan bergetar menggenggam mikrofon, melanjutkan ucapannya, "Lima tahun yang lalu, kau memang benar pernah mengisi hari-hari saya sebagai kekasih. Tapi tiga tahun saya melaksanakan pendidikan militer di Yordania, kau mengkhianati dengan menikahi Bambang sahabat saya! Akhirnya, keluarga menikahkan saya dengan wanita cantik, terhormat, dan sangat berbeda dari kau, satu tahun yang lalu, dan saya mengacuhkan nya karena kau, Evi! Saya pikir kau merupakan wanita baik, janda yang bisa menghargai diri dan anak kau sendiri, tapi saya salah. Semua orang berkata kepada saya, bahwa karir saya akan hancur jika mengingat kau! Benar, semua yang mereka katakan itu benar adanya. Karir saya hancur saat ini, tidak naik pangkat kolonel, karena kebodohan saya. Saya menyadari semua kesalahan yang telah saya lakukan, dan kita sudah berakhir Evi Sunardi!" tegasnya tanpa perasaan bersalah.


Mata Aditya teralihkan pada wanita yang sangat cantik juga elegan, berbalut mini dress berwarna putih tanpa lengan, dengan leher tertutup, rambut coklat kriwil tergerai indah, dengan sepatu sport berwarna senada, memberikan pujian kepada Nancy Sugondo.


Sony mengalihkan pandangannya kearah Nancy yang tidak pernah ia ketahui bahwa wanita cantik itu merupakan sepupu dari pemilik club' malam tersebut, hanya bisa tersenyum bahagia bergumam dalam hati, "Wowh, ini akan menjadi sejarah bagi mereka berdua!"


Dengan mata berkaca-kaca, Aditya berdiri tegap mengarahkan pandangan dan tangannya, menunduk hormat dihadapan Nancy.


"Wanita ini yang sejak dulu hingga kini mencintai saya dalam diam. NAN-CY SU-GON-DO, dan telah melahirkan anak pertama kami, sehingga kami harus kehilangan anak kedua kami yang masih berusia delapan minggu kala itu. Hanya ada Aldo, dan pria bule ini!" tunjuk Aditya pada Bethrand, kemudian melanjutkan ucapannya.


"Pria bule yang pernah saya anggap akan merebut hati seorang Nancy. Kami bertengkar, bahkan saling memaki satu sama lain, karena kesalahan saya ..."


Aditya mengalihkan pandangannya ke langit-langit, menahan diri agar tidak menangis.


"Maafkan Mas, Neng! Hanya kalimat ini yang selalu Mas ucapkan sama kamu. Sampai hari inipun kamu tidak pernah memberikan maaf itu, karena kesalahan Mas sama kamu, Neng!"


Nancy hanya bisa tersenyum kikuk, karena merasa malu atas permintaannya yang ternyata sangat mengejutkan bagi para pengunjung, termasuk Evi.

__ADS_1


Evi yang tidak terima dengan perlakuan Aditya yang sengaja membuat dirinya malu, langsung menyela pembicaraan Aditya ...


"Tapi aku hamil anak mu, Mas Aditya Atmaja! Aku hamil, dan kamu tidak bisa menceraikan aku!" teriaknya lantang.


Membuat mata pengunjung, kembali mengarah pada Evi. Dan menoleh kearah Nancy, untuk meyakinkan apa yang mereka lihat, dan dengar malam ini.


Nancy sama sekali tidak peduli, dengan ucapan wanita laknat itu. Baginya kali ini Aditya telah melakukan hal yang ia inginkan ...


Sementara Aditya membalikkan badannya, menantang mata Evi sambil tertawa kecil.


"Ooogh ya! Jika kau memang benar hamil, bisa jelaskan dimana kita melakukannya? Di hotel mana? Atau di kebun teh mana hmm? Saya yakin, jika kau hamil, bukan anak saya. Karena saya yang menyaksikan kau tidur di kebun teh Keluarga Sugondo, tanpa memikirkan malu kala itu!"


Pernyataan Aditya membuat semua mata pengunjung membelalak nyalang kearah Evi, dan bersorak mengejek kearahnya.


"Uuu ... Buat malu saja kau pelakor!" teriak salah satu pria asing yang menggunakan baju kaos berwarna hitam.


Evi tidak mampu berkata-kata, sesungguhnya kali ini dia tidak tahu harus berlindung kepada siapa, wajah judes itu hanya bisa menundukkan wajahnya, dan membalikkan badan untuk meminta perlindungan pada Komandan Dida yang masih ternganga lebar mendengar penuturan Aditya.


Emi dan Prisil hanya bisa menutup mulut dengan kedua tangannya, karena tidak menyangka bahwa Aditya akan menjawab kehamilan Evi dengan pernyataan yang sangat memalukan bahkan mengejutkan.


Aditya hanya tersenyum tipis, kembali menegaskan pada Evi, "Evi Sunardi, sekali lagi saya tegaskan, bahwa kita sudah bercerai talak tiga!"


Aditya kembali menoleh kearah Sony juga Aldo, dan menegaskan dihadapan Evi, memenuhi persyaratan Nancy kembali berkata dengan lantangnya ...


"Dihadapan semua orang, sepupu, rekan bisnis istri saya, rekan team kesatuan saya, dengan rasa hormat mengakui bahwa saya Aditya Atmaja, menyatakan bahwa wanita itulah yang telah berhasil merebut hati saya. Hati seorang mayor yang keras kepala ini," tunjuk Aditya pada Nancy yang masih berdiri.


Terdengar suara tepuk tangan yang sangat mendukung Aditya untuk menjemput Nancy dihadapan Evi.


"Jemput dong, Pak mayor! Cium, ucapkan rasa cinta mu!" teriak Luqman keras.


Aditya menoleh kearah Luqman yang nyata menjauh karena kasus memalukan yang menimpa nya akhir-akhir ini. Membuat dia semakin yakin, untuk membawa Nancy berdiri di tengah-tengah lantai dansa bersama.

__ADS_1


Perlahan Aditya menoleh kearah jam yang melingkar dipergelangan tangannya menunjukkan pukul 00.00 waktu Indonesia bagian barat, ia mendekati Nancy sambil bersimpuh bertekuk lutut dihadapan wanita yang telah menjadi istrinya satu tahun lalu.


"Neng ... Mas mencintai kamu, Mas sayang sama kamu! Semua syarat yang kamu minta sudah Mas lakukan. Please ... Jangan pernah tinggalkan Mas lagi. Cukup dua bulan kita berpisah, berjauhan, bahkan tidak sangat enak jauh dari, Neng. Mas mohon maaf, kembalilah. Demi Abdi, demi rumah tangga kita. Neng sudah berhasil menjadi istri yang sabar, baik, setia hingga saat ini. Kembalikan Nancy, Mas yang dulu. Nancy yang lembut dan penurut, bahkan sangat sayang sama, Mas. Mas kangen sama pernikahan yang sempurna. Neng sudah berhasil merebut hati suami Neng ini ..." ucapnya dengan suara bergetar hebat, sambil berdiri tegap dihadapan Nancy.


Nancy yang sudah tidak kuasa menahan air matanya, akhirnya luluh lantak dihadapan semua orang, termasuk Evi yang semakin berteriak keras memanggil nama Aditya Atmaja.


"Ini enggak mungkin Aditya! Ini tidak mungkin!" teriak Evi.


Namun Nancy berhambur memeluk erat tubuh kekar suami tercinta yang sudah berdiri dihadapannya, membuat Adit langsung mendekap erat tubuh ramping istrinya dengan perasaan lega ...


"Maafkan Mas, Neng!" ucap Adit dengan mata berkaca-kaca.


Nancy hanya menarik nafas dalam-dalam, dadanya bergemuruh seketika, bahkan semakin bahagia mendengar pengakuan cinta seorang Aditya dihadapan semua orang.


Jumaida mengusap sudut matanya, menjadi saksi cinta sahabatnya yang ternyata berbalas dengan sangat indah ...


"Brengsek! Kok gue jadi terharu! Pengen nikah juga, tapi sama siapa!" umpatnya menoleh kearah Luqman dan Ali secara bergantian.


Namun kedua pria itu tak mengacuhkannya, karena merasa kecewa, Luqman merangkul bahu Ali sambil berkata ...


"Yah ... Rujuk, enggak ada harapan gue buat merebut anak semata wayang Sugondo! Adit-Adit, beruntung sekali hidup kamu. Neng Nancy yang cantik ... Aa terpaksa jadi pengagum rahasia kamu saja!" tawanya.


"Mimpi jangan ketinggian, setan!" ejek Ali.


Mereka tertawa terbahak-bahak, masih melihat kearah Gisel dan Sony yang menghampiri kedua pasangan suami istri itu, untuk bernyanyi dan berpesta bersama.


Gisel langsung merangkul pundak pasangan suami istri melantunkan sebuah lagu, tanpa menghiraukan Evi yang tidak bisa berbuat apa-apa, karena ditahan oleh Gibran.


Pengunjung bernyanyi bersama, yang dituntun oleh Gisel ...


... Walaupun kau bukan titisan dewa ... Ku akan percaya ... Kau mampu terbang bawa diri ku, tanpa takut dan ragu ...

__ADS_1


__ADS_2