
Mobil mewah hitam milik Bethrand terparkir di rumah sakit swasta. Bergegas pria bule itu turun dari dalam mobil, karena melihat Nancy mengeluarkan banyak darah.
Selama diperjalanan, Bethrand menghubungi Aldo sepupu Nancy, agar menyusulnya di rumah sakit yang ia sebutkan berada di daerah Pasteur.
Bergegas Aldo menunggu sepupunya, meminta pihak rumah sakit untuk segera mempersiapkan bangkar, karena posisi kediamannya tidak jauh dari rumah sakit yang dia sebut Bethrand.
Bethrand Ruselli, berusia 28 tahun memiliki anak juga istri yang terkadang stay di Swiss. Dia menjalankan bisnisnya di Indonesia, dan dikenalkan oleh Aldo pada Sugondo karena memiliki perusahaan yang berkembang di negaranya.
Perkenalannya dengan Aldo juga, dikarenakan pria bule itu sering menghabiskan waktu di club' yang ia miliki.
Nancy mengetahui status Bethrand telah menikah, dan ia juga mengenal siapa istri pria bule itu.
Prisil ... Wanita Sunda yang menjadi istri Bethrand selama enam tahun dan sudah memiliki anak perempuan yang berusia lima tahun.
Kedekatan mereka bisa dikatakan sebatas rekan bisnis. Namun kejadian di restoran kala itu, membuat Bethrand dapat melihat bahwa Nancy dan suaminya tidak baik-baik saja.
Membuat ia berencana untuk membawa Nancy ke Swiss agar bisa menjauh beberapa waktu dari Aditya, sampai pria itu benar-benar kehilangan dan menyadari bahwa istrinya lah yang selalu ada untuknya.
Akan tetapi, keadaan semakin tidak berpihak pada Nancy. Aditya masih menjalin hubungan dengan Evi, dan berakibat fatal pada kondisi kehamilan Nancy pada trimester pertama.
Aldo menghampiri Bethrand, saat pintu mobil terbuka lebar ...
"Ooogh Tuhan! Apa yang terjadi pada Nancy? Apakah dia keguguran?" pekik Aldo saat melihat kondisi Nancy masih meringis menahan sakit yang teramat sangat.
"Cepat bantu dia, aku akan mengurus suaminya!" perintahnya pada Aldo.
Aldo membantu pihak rumah sakit membawa Nancy ke bangkar, dan bergegas dibawa ke ruang unit gawat darurat, untuk segera diberi pertolongan.
Mobil berwarna silver milik Nancy terparkir di rumah sakit, tentu Bethrand telah memberi kabar kepada Sugondo, juga Atmaja, agar segera datang ke rumah sakit yang ia sebutkan.
"Hmm ... Setidaknya aku sudah mengunci akses mu untuk masuk laki-laki bodoh ...!" sesalnya dalam hati saat melihat wajah Adit bergegas turun dari mobil.
Adit yang merupakan angkatan, merasa paling hebat jika berhadapan dengan orang sipil, apalagi orang asing. Mendekati pria bule itu sambil menyunggingkan dagunya angkuh.
__ADS_1
"Mana istri ku! Terjadi sesuatu pada Nancy aku orang pertama yang akan mengembalikan ke negara asal mu!" geramnya memangku tangan.
Bethrand tertawa kecil mendengar celotehan Aditya, yang ternyata tidak mengetahui status pria bule tersebut, yang memiliki istri asli Indonesia.
"Istrimu lagi tindakan. Jadi kita bisa ngobrol di sini saja. Karena keluarga Nancy akan datang, dan mereka tidak mengizinkan kamu untuk masuk menemui putri mereka!" ucapnya dengan angkuh.
Adit menyunggingkan senyuman tipis, "Kau siapa? Aku suaminya brengsek!" tantangnya penuh amarah.
Bethrand hanya menepuk pundak Adit, "Jangan terlalu angkuh. Syukurlah kamu dicintai oleh anak orang kaya. Karena itu bisa menutupi semua kebodohan mu, juga kekurangan mu. Cukup aku yang tahu siapa dirimu. Kau memang songong sama Nancy, tapi dimata ku, kau tidak lebih dari seorang pecundang. Setelah ini, aku memberi ruang untuk mu bernafas bertemu istrimu, tapi setelah itu aku yang akan mengambil kendali," tawanya menyeringai kecil.
"Sialan kau!"
BHUUG ...!
BHUUG ...!
Aditya melayangkan dua pukulan bertubi-tubi di wajah Bethrand, membuat pria bule itu terhuyung seketika, karena tidak siap menerima pukulan mendadak dari tangan pria dingin tersebut.
"Brengsek kau!" geramnya, namun di tahan oleh Aldo.
PLAAK ...!
PLAAK ...!
"Lo masuk keruang tindakan sebelah kiri sekarang. Dokter menunggu mu! Belum saatnya menyelesaikan masalah dengan kekerasan! Ingat Dit, Abdi masih butuh Nancy. Ane kecewa sama lo, sana pergi!" perintah Aldo menatap lekat Aditya dengan kesal.
Bagaimana tidak, Nancy mengalami keguguran dan membuat sepupunya itu lemah tak berdaya.
Jika di ikutkan hati keluarga besar Sugondo, ingin sekali mereka membawa Nancy pergi jauh dari kota itu. Tapi karena memikirkan kondisi kehamilan putri kesayangan Sugondo, membuat mereka harus berpikir ulang.
Sangat berbeda dengan pemikiran Sulastri yang selalu membela putranya, yang masih mengalami penyesuaian setelah kembali dari medan perang, dan tidak di benarkan oleh Atmaja, karena beliau juga merupakan pensiunan angkatan darat.
Aditya masuk keruangan untuk menemani Nancy yang akan melakukan tindakan medis, atas permintaan dokter spesialis kandungan, setelah menyetujui serta menandatangani atas tindakan yang akan dilakukan.
__ADS_1
Nancy yang masih meringis menahan sakit, setelah mendapatkan infus serta induksi untuk mengeluarkan janin, sebelum melakukan kuret, hanya memejamkan matanya saat melihat kehadiran Aditya mendekatinya.
Pemandangan yang tidak biasa itu membuat rasa penyesalan Adit semakin dalam, karena telah menyebabkan istri sakit juga kehilangan anak mereka yang ada dalam kandungan.
"Neng ..." sapanya mendekati Nancy hanya untuk menenangkan sang istri.
Nancy memilih diam tak bergeming, kali ini hatinya hancur berkeping-keping. Dia tak ingin merebut hati seorang Adit lagi, setelah menyaksikan sendiri kemesraan suaminya dengan Evi.
Adit mendekatkan wajahnya, hanya untuk mendekap wajah Nancy yang masih menangis sambil menahan rasa mulasnya.
Namun, saat Adit akan menyentuh kepala Nancy, dokter dan perawat masuk, menggunakan sarung tangan untuk melakukan tindakan.
Benar saja, ini kali pertama Adit melihat wanita mendapatkan tindakan yang seperti akan meregang nyawa. Dengan kaki melebar ditopang pada dua besi yang tersedia, diikat menggunakan kain kasa agar tetap tenang pada posisinya, kemudian di tutup bagian bawah menggunakan sehelai selimut, dan dengan cepat melakukan tindakan untuk mengeluarkan janin yang ada dalam rahim Nancy.
Sakit, hanya kata itu yang tak dapat di ungkapkan oleh Nancy pada seorang Adit saat berada didalam ruangan tersebut untuk menemaninya.
Aditya ternganga lebar, bulu kuduknya meremang seketika, menelan ludahnya berkali-kali, saat menyaksikan sendiri bagaimana Nancy menahan rasa yang entahlah saat dokter mengeluarkan janin yang tak berdosa itu.
Dokter bule wanita itu hanya bercerita ringan pada perawat, sesekali bertanya pada Aditya yang masih mengeluarkan keringat dingin.
"Lain kali, istrinya jangan dibiarkan sendiri jika hamil, Pak. Karena bisa saja terjadi sesuatu yang fatal. Lagian kandungan Bu Nancy juga tidak sehat. Karena istrinya terlalu banyak tekanan saat mengandung. Mudah-mudahan setelah ini, dapat pengganti, Pak. Tapi saran saya kasih jarak, karena anak pertama masih empat bulan kan?"
Adit menelan ludahnya, mengangguk perlahan jawaban dokter, tanpa bisa mengeluarkan suaranya.
Kembali Aditya menatap Nancy yang terus melepaskan tangannya dari genggaman sang suami, membuat rasa bersalah pria itu semakin besar.
Adit menundukkan kepalanya di bahu Nancy ... "Maafkan Mas, Neng!"
Nancy menggelengkan kepalanya, "Telat Mas, hati Neng sudah hancur, lebih baik kita hidup masing-masing saja!"
Dokter yang mendengar ucapan suami istri itu, hanya bisa saling memberi isyarat pada perawat, sambil menghela nafas panjang, memberi kode bahwa tindakan sudah selesai dilakukan.
Dokter tersenyum tipis menatap Nancy, "Bu ... Tiga jam lagi sudah boleh pulang yah? Jangan stress, nanti obatnya diantar oleh suster. Saya permisi."
__ADS_1
Perawat juga berlalu meninggalkan ruangan dingin tersebut, hanya bisa menarik nafas dalam-dalam saat berada di pintu ruangan yang sudah tertutup.
"Kasihan yah, istrinya udah kesakitan gitu, malah cuma minta maaf doang bisanya. Padahal saya cuma menjalankan perintah Pak Aldo saja, agar membolehkan suaminya menemani ... Hmm semoga mereka tetap bersatu dan memiliki momongan lagi," ucap dokter spesialis kandungan pada perawatnya.