Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Usaha mulu!


__ADS_3

Suasana pesta masih terus berlangsung hingga dini hari. Namun lagi-lagi Evi masih belum puas melepaskan rasa sakit hati serta kecewa, dan akhirnya melepaskan semua kekecewaan nya pada Dida.


Berkali-kali Evi menepuk-nepuk dada bidang Dida, bahkan meronta-ronta agar diberi kesempatan untuk bertemu dengan Aditya setelah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari Gibran, yang menyeret wanita jallang itu keluar dari club'.


Tentu Dida terseret oleh Evi, membuat beberapa pasang mata mencurigai sang komandan, karena memiliki kedekatan dengan pria berwajah garang itu. Rambut plontos, dengan otot-otot terlihat tegap, karena memiliki wajah keras sesuai daerah asalnya Ambon, membuat pria berkulit hitam itu menggendong janda laknat itu masuk kedalam mobil dengan caranya.


BRAAK ...!


"Augh sakit, Mas!" ringis Evi saat berada di bangku penumpang bagian depan.


Dida menggelengkan kepalanya, menuju stir kemudi, berlalu meninggalkan club' tanpa menghiraukan beberapa orang yang sengaja mengikuti langkah sang komandan.


Ya ... Luqman dan Ali sengaja memata-matai Komandan Dida, mengikuti arah kendaraan besi tua yang tampak biasa saja, bahkan jauh dari kata mewah.


"Kenapa mesti Evi dekat sama Pak Dida? Ngeri banget sepupu lo, Li! Ternyata seleranya yang seram-seram. Apa komandan kita enggak salah lihat? Main embat saja, sepertinya beliau lagi puber kedua, deh. Secara usianya sudah 40 keatas, kan?" gerutu Luqman saat mengemudikan kendaraannya.


Ali menaikkan kedua bahunya, hanya menjawab santai, "Biarin dia mau jadi apa. Enggak sadar diri, syukurlah Aditya enggak ngapa-ngapain Evi. Kalau sempat mereka ehem-ehem, berantakan semua karena nafsu dunia ..."


Akan tetapi, begitu kagetnya mereka berdua, saat melihat mobil Dida memasuki hotel melati yang bertaraf murah meriah muntah-muntah.


"Njiir ... Nguli komandan kita! Abadikan, kita kasih tahu ke Fredy, atau Yodi. Sepertinya Evi balas dendam sama kesatuan kita, bro!" tawa Luqman menepuk lengan Ali yang tampak ternganga lebar melihat Evi memeluk mesra Dida menuju kamarnya.


Otak Luqman berkerja dengan baik, mencari handphone miliknya yang berada didalam laci dashboard mobil, menghubungi salah satu rekannya dari pihak lain yang sangat suka mencari uang tambahan jika melakukan patroli.


[Dimana lo, bro]


[Lagi nyari cekeran, biasa. Ada lawan enggak]


Gayung bersambut, Luqman tertawa kecil melanjutkan pembicaraannya ...


[Ada ni, kakap! Gue share lokasi, kalau 86 kirimin, yah]


[Siap-siap Ndan! Share saja. Pakai bebe enggak ni]


[Pakai dong, kirim ke gue]


[Sip, thanks]


Luqman berteriak keras, "Yes, dapat jajanan kita buat beli baju!" tawanya.


Ali mengangguk-anggukkan kepalanya, hanya bisa pasrah sambil berkata, "Kasihan banget sama Sunardi! Tapi yah, hukuman keluarga itulah. Selalu memanjakan Evi, terlalu sadis dan sombong pada orang lain dulunya keluarga mereka. Kita nungguin disini, atau balik ke club'? Gue masih penasaran dengan Adit. Terus mau minta maaf sama Nancy," jelasnya.


Tanpa pikir panjang, mereka berdua berlalu meninggalkan hotel melati yang terletak di daerah Buah Batu, menuju club' malam milik Aldo yang terletak di Cihampelas kota kembang.

__ADS_1


Mereka berdua turun dari mobil, masuk ke dalam club' dengan beriringan, namun suasana musik semakin keras dan suasana semakin ramai.


Tentu Luqman mencari dimana keberadaan Aditya, atau pria bule, yang sejak awal bersama team kesatuan militernya itu.


Luqman berbisik ketelinga Ali hanya untuk bertanya, "Mana Aditya? Apa mereka sudah pulang?"


Ali mengangguk, "Ya iyalah ... Sudah jam berapa ini!"


"Lah ... Terus?"


"Pulang lah! Ngapain kita mabuk di sini! Besok latihan, gue enggak mau kehilangan fokus. Apalagi Aditya belum masuk, pasti akan susah sekali buat kita untuk mencari alasan. Yuk ..." Ali menarik lengan Luqman untuk meninggalkan club' saat waktu menunjukkan pukul 02.30 dini hari.


.


Sementara di tempat yang berbeda, di hotel bintang lima, Nancy tengah tertawa bahagia bersama Aditya saat akan memasuki kamar hotel.


Setelah melakukan makan malam, bersama Bethrand juga Aldo ditemani para istri, akhirnya Aldo menyerahkan kunci kamar hotel nan mewah untuk pasangan baru berbaikan itu ... Aditya dan Nancy tentunya.


"Mas ... Gendong Neng!" pinta Nancy manja ...


Aditya membungkukkan tubuhnya, untuk menggendong istrinya di belakang dari loby hotel menuju kamar mereka yang berada dilantai delapan.


Walau masih ada perasaan kesal pada Nancy karena permintaan yang memalukan di club', kali ini Aditya tidak ingin melanjutkan perdebatannya, yang sejak tadi menjadi bulan-bulanan Aldo dan pria bule somplak itu.


Bagaimana tidak, mereka menertawakan Adit saat makan bersama, namun tidak ada mendapatkan pembelaan dari Nancy, yang memilih bergosip dengan dua wanita dengan rencananya ke luar negeri.


Entahlah, kali ini Aditya merasakan indahnya kehangatan tubuh Nancy saat sang istri meletakkan kepalanya di pundak gagah sang suami. Sambil sengaja menghembuskan nafas untuk menggodanya.


"Jadi dong, emang kenapa?"


"Terus Mas bagaimana? Siapa yang mengurus Abdi? Mas masih cuti Neng dua bulan ..." sungutnya dengan nada pelan.


Nancy mengalungkan tangannya lebih kuat di leher Aditya, sambil berkata asal, "Kan sudah besar, sudah bisa urus diri sendiri, sudah enggak butuh Neng lagi. Buktinya berapa lama Mas enggak pulang-pulang! Kalau Abdi, kan ada Ibu sama Bapak!"


Aditya menautkan kedua alisnya, kali ini dia tidak ingin berdebat, hanya bisa menahan sindiran-sindiran sang istri yang belum sepenuhnya memaafkan dirinya.


"Neng masih dendam sama, Mas?"


Nancy tertawa terbahak-bahak, mendengar celotehan suaminya, "Mas Aditya sayang, wajar dong Neng pergi jalan-jalan dulu. Mumpung ada keluarga disana. Abangnya Bapak, ada di sana. Mereka pengen ketemu sama Neng, yah kan Mas tahu Aa Aldo orangtuanya masih di Swiss? Enggak ada hubungannya sama dendam, Mas ..." kecupnya pada leher Aditya.


Aditya mendengus dingin, "Yang Mas tanya itu, nasib Mas bagaimana Neng Nan-cy. Bukan Abang Bapak atau apa. Masa Mas tinggal sendiri dalam kehampaan?" geramnya.


"Yah ... Nyanyi. Entah dimana, dirimu berada ... Hampa terasa hidup ku tanpa dirimu ..." tawa Nancy mengejek Aditya.

__ADS_1


Tak ingin berdebat lagi, Aditya menempelkan card di pintu kamar, kemudian membukanya lebar ...


Kedua mata pasangan suami-istri ini seketika terbuka lebar, saat melihat kamar yang telah dihiasi bunga mawar merah dan putih, ketika Aditya meletakkan card dinding untuk menyalakan lampu ...


Nancy turun dari gendongan Aditya menatap indahnya kamar dengan hiasan balon-balon dan ada paper bag besar diatas meja dikamar seluas presiden suite tersebut.


"Ooogh my God! Apa mereka meminta kita untuk berbulan madu selama dua bulan di sini, Mas?"


Pertanyaan Nancy membuat Aditya tersenyum sumringah, dan mendekat pada sang istri.


Kali ini kedua-nya tampak malu-malu, bahkan tidak seperti biasanya, dengan mengacuhkan isi paper bag.


Aditya langsung membuka baju kaos yang ia kenakan, menggendong Nancy ala bridal menuju ranjang kingsize yang dipenuhi bunga mawar ...


"Mas, mau ngapain? Neng belum mau!! Nanti sakit!" teriaknya sambil tertawa kecil.


Aditya menautkan kedua alisnya, "Mas pelan-pelan kok, yang penting kita melakukannya pake hati, kali aja Neng hamil lagi, dan enggak jadi ke Swiss!"


"Enggak! Turunin, bukan masalah pelan-pelannya, asal selesai ehem sama Mas tuh punya Neng rasa-rasa ada yang ngeganjel. Apalagi kita udah lama enggak melakukannya, pasti sakit, Neng belum mau Mas!" tolaknya, namun masih mendekap erat.


Aditya semakin bahagia, mendengar pengakuan Nancy, tentang kejujuran mengenai miliknya. Langsung merebahkan tubuh ramping istrinya dengan sangat baik diatas ranjang peraduan ...


"Emang sakit yah?"


Nancy mengangguk malu-malu, dengan wajah merona.


"Terus ngapain kita kesini kalau enggak ehem ..."


"Ya bobo atuh, masak mau hmm ..."


"Kalau Mas buat enggak bisa bobo bagaimana?"


Nancy menatap iris mata Aditya, hanya untuk mencari jawaban cinta yang berbalas ...


"Beneran Mas cinta sama Neng ..."


Aditya menganggukkan kepalanya, "Mas cinta sama Neng, jangan pergi yah ke Swiss? Biar kita bisa jalan-jalan ke Yogya saja. Seumur hidup Mas belum pernah kesana ..." rengeknya merebahkan kepala dibahu Nancy.


"Ya sama atuh ... Neng juga paling jauh masih di daerah Tasikmalaya!" tawanya mengejek Aditya ...


"NENG!!!!!" geramnya, namun Nancy berhambur untuk beranjak dari ranjang peraduan mereka ...


"Neng ... Please!"

__ADS_1


"Usaha dong!" tawanya mengejek Aditya, dan langsung masuk kedalam kamar mandi.


"Aaagh! Usaha mulu!"


__ADS_2