
Nancy menghabiskan satu mangkuk bubur ayam pemberian sang bunda, ditambah satu piring nasi kuning yang ia pinta dari sang ibu mertua dengan alasan tidak enak badan.
"Hamil ..." Hanya kata-kata itu yang terlintas dalam benak kedua orang tua pasangan Aditya juga Nancy.
Benar saja, setelah menghabiskan semua makanannya, Nancy kembali merasakan mual dan semakin bergejolak ketika mencium aroma parfum sang suami yang menusuk indra penciumannya.
Bergegas Nancy berlari kearah kamar mandi, hanya untuk mengeluarkan semua isi perutnya, setelah berisikan makanan permintaannya.
Pemandangan itu, membuat Aditya selaku suami siaga langsung menghampiri Nancy, kemudian memijat pelan punggung sang istri untuk memberikan pijatan kecil.
"Uek, uek, uek ..."
Dada Nancy semakin terasa sangat sesak, keringat dingin mengucur deras, ditambah air mata tak kunjung mengering, karena dorongan dari dalam perutnya yang semakin menyesakkan.
Rona senyuman bahagia, walau sedikit kesusahan menenangkan sang istri, membuat Aditya langsung memeluk tubuh Nancy dari arah belakang, ketika merasakan bahwa wanitanya sedikit tenang menatapnya melalui pantulan cermin.
Adit bertanya dengan nada lembut, "Neng hamil?"
Nancy menggeleng pelan, merasakan pening dan pandangan berkunang-kunang.
Aditya mencoba untuk membujuk Nancy, "Kita ke bidan Siska, ya? Sudah dua bulan Neng enggak periode, sejak berlibur sampai sekarang belum ada tanda-tanda Neng menstruasi. Justru Mas merasakan berbeda saja, kalau lagi ehem," godanya semakin membuat Nancy mendengus dingin.
"Ck, minggir deh. Neng mau rebahan saja. Kita enggak usah ikut sama Bapak ke Jogja ya, Mas? Takutnya, pulang dari sana langsung resepsi, Neng kelelahan dan kenapa-kenapa lagi. Neng sudah enggak kuat, rasanya fisik terkuras habis-habisan semenjak pulang liburan," sungutnya beranjak dari dalam kamar mandi.
Tanpa pikir panjang Aditya langsung menggendong tubuh Nancy, membuat wanita yang ada dalam dekapannya itu langsung berteriak manja, kemudian mengalungkan tangannya dileher kekar suami tercinta.
"Kita enggak usah ikut, kita jalan-jalan ke Ciwidey saja. Mas pengen menghabiskan waktu sama Neng sebelum resepsi. Dan satu lagi setelah kita resepsi mungkin kita akan pindah ke Yordania," jelasnya sambil menatap wajah cantik sang istri.
Nancy mengangguk, dia sangat merindukan sosok Adit yang sangat perhatian padanya setelah kembali dari Netherland. Ditambah kehadiran Sindi, membuat rumah tangga mereka semakin sempurna, karena wejangan dari bibir wanita itu sangat menyejukkan hati dua insan ini sebagai orang terdekat.
Aldo dan Sindi satu paket lengkap yang mampu memberikan masukan positif, selayaknya sepasang kekasih yang sudah menerima ikhlas takdir tertulis setelah menjalani pernikahan dengan pasangan mereka masing-masing.
Kehidupan yang sangat berbeda dengan semua tantangan mereka hadapi dengan lapang dada, sehingga memberikan ruang yang terbiasa jika bertemu kembali. Tidak ada rasa cemburu, ataupun membahas masa lalu. Karena kedua-nya sama-sama menghindar jika dipertemukan.
Dengan sangat hati-hati Aditya meletakkan Nancy diatas ranjang peraduan mereka, mengusap lembut kepala sang istri, kemudian mengambil handphone untuk menghubungi Siska.
"Neng yang ngomong sama, Tante ..."
__ADS_1
Nancy yang masih menutup matanya, menggeleng, kemudian memiringkan tubuhnya, mencari posisi yang sangat nyaman bagi tubuhnya.
Aditya tak ingin mengganggu ketenangan sang istri, mengikuti semua permintaan Nancy, untuk meminta Siska datang ke kediaman mereka.
Aditya : "Assalamualaikum, Tante ..."
Siska : "Waalaikumsalam. Tante pikir tadi Neng Nancy, rupanya si kasep. Ada apa, Dit?"
Aditya tampak sedikit gugup, untuk menyampaikan kondisi sang istri ...
Aditya : "Hmm, i-i-ini Tan ... eee Neng, kayaknya mabuk berat. Sudah dua bulan enggak periode, sepertinya hamil deh. Karena habis sarapan langsung muntah-muntah, sekarang malah pusing. Bisa tolong datang ke rumah, sekalian bawa Dokter Arlen?"
Siska : "Oke, palingan dua jam lagi ya. Kalian enggak jadi ke Jogja? Kata Bapak berangkat hari ini. Terus kalau lagi mabuk begitu, bagaimana kalian resepsi minggu depan, Dit? Tante dengar dari Komandan Sudirman kamu bakal pindah tugas ke Yordania, dua minggu lagi. Duh, kasihan bapak sama ibu ..."
Aditya termenung sejenak, mengusap wajah tampannya, kemudian menoleh kearah Nancy yang masih memejamkan matanya.
Aditya : "Iya Tan, namanya juga perintah. Jadi kita mengikuti saja semua keinginan sebagai abdi negara."
Siska : "Terus bagaimana dengan Abdi, Dit? Apakah dibawa?"
Lagi-lagi Aditya terdiam. Ia tidak tega untuk meninggalkan anak yang masih kecil bersama orangtuanya, tapi bagaimanapun juga Sugondo pasti berusaha untuk menahan Abdi untuk tetap tinggal bersama mereka.
Mereka tertawa terbahak-bahak, karena tidak ingin memikirkan hal yang belum terjadi.
Siska : "Ya sudah, dua jam lagi ya. Bapak sama Ibu berangkat jam berapa?"
Aditya : "Mungkin sore, Nte. Oke Adit tunggu yah. Jangan lupa bawa Dokter Arlen."
Siska : "Oke-oke, see you ..."
Kedua-nya mengakhiri telepon, dan Adit langsung mengusap lembut kepala Nancy yang sudah terlelap.
Ada perasaan iba dihati Aditya kepada Nancy, karena telah menyakiti perasaannya diawal pernikahan mereka. Entah mengapa, kali ini ia harus menjaga kesehatan sang istri yang sangat dicintainya.
Perlahan Adit berbisik ketelinga Nancy, "Mas sayang sama, Neng. Tidur yang nyenyak yah ..." kecupnya lembut, pada kepala Nancy yang masih mengeluarkan keringat dingin.
Aditya berlalu meninggalkan kamarnya, membiarkan sang istri beristirahat karena tidak ingin mengganggu ketenangan Nancy yang tengah mabuk berat.
__ADS_1
Ketika Aditya menutup pintu dengan sangat perlahan, ia berpapasan dengan Ningsih yang tengah mempersiapkan semua kebutuhan perkebunan untuk di bawa ke Jogja.
Banyak, hanya itu yang ada dalam benak Adit ketika melihat semua perlengkapan yang merupakan hasil uji laboratorium serta beberapa pack kemasan yang akan menjadi hadiah kecil untuk para buruh yang ikut pelatihan.
Aditya bertanya sambil membantu sang ibu mertua melangsir memasukkan kedalam bis pariwisata yang sudah terparkir di kediaman Sugondo, "Emang berapa hari di sana, Bu? Kok banyak banget bawaannya?"
Ningsih tersenyum, menjawab pertanyaan Adit dengan canda tawa, "Ya ... Ini sebagai bentuk jalan-jalan saja kasep. Biar pekerja yang rajin tambah semangat kerja ketika mendapatkan hadiah dan kenaikan jabatan. Angga juga ikut. Kalian bagaimana, jadi ikut sama Ibu? Atau mau bawa mobil sendiri? Karena Bapak sama Ibu pakai mobil sendiri sama Nanang. Kalau jadi kamu bisa barengan sama Luqman dan Sindi. Mereka mau bulan madu katanya."
Aditya menoleh kearah kamar paviliun Luqman, melihat kedua insan itu tengah bersiap-siap untuk berbulan madu. "Hmm anak-anak mereka bagaimana, Bu?"
Ningsih kembali menjawab, "Dibawa sama Mama Memel. Jadi mereka bebas mau ngapain. Sama kayak kamu dan Nancy," godanya pada puncak hidung sang menantu.
Dengan nafas berat Aditya hanya bisa menjawab ajakan Ningsih, "Jujur Adit pengen ikut, Bu. Tapi Neng lagi mabuk berat. Kayak yang Ibu bilang tadi, hamil. Dari tadi muntah-muntah saja. Adit takut kenapa-kenapa sama kandungannya."
Ningsih menepuk pundak sang menantu, "Ajak saja, dia itu wanita kuat luar biasa. Sebentar lagi Ibu kasih obat. Jangan sampai kami senang-senang disana, kalian di sini masak sendiri. Mana Neng, biar Ibu samperin!"
Aditya hanya menghela nafas panjang, menuruti semua perintah ibu mertua terbaiknya.
Ningsih membuka pintu kamar paviliun putri kesayangannya perlahan, menghampiri Nancy yang tengah terlelap ...
"Neng ... kamu mau ikut kita enggak? Jangan di ikutkan kalau lagi mabuk, kita bisa jalan-jalan. Kamu bawa mobil sendiri saja, sama Nak Adit. Yang penting jangan tinggal sendiri, Ibu khawatir sama kamu enggak ada yang masakin," usapnya lembut pada kepala Nancy.
Nancy mengerjabkan matanya perlahan, membalikkan tubuhnya, menatap wajah sang bunda yang sangat menyayanginya.
"Neng enggak kuat, Bu. Nanti resepsi lagi. Ibu pergi saja deh. Biar Neng tinggal di sini sama Mas Adit," rengeknya meringkuk di pelukan Ningsih.
Sejujurnya Ningsih bukan tidak mau meninggalkan Nancy dalam kondisi seperti ini. Tapi dia khawatir karena Aditya belum berpengalaman mengurus anaknya yang tengah berbadan dua.
"Hmm, nanti makan kamu gimana?"
Nancy tertawa kecil mendengar pertanyaan sang bunda, "Kan ada Mas Adit, Bu. Sudah, enggak usah takut. Lagian sebentar lagi Tante Siska akan datang kesini, untuk memeriksa kondisi Neng, jadi Ibu jangan khawatir ya."
Ada kelegaan yang dirasakan Ningsih karena putrinya telah mempercayakan dirinya pada sang suami.
Dengan tatapan mata yang tajam, Ningsih menoleh kearah Aditya yang masih berdiri didepan pintu kamar sambil berkata dengan nada lembut namun tegas penuh ancaman, "Jangan sampai anak Ibu enggak makan ya. Kalau sampai Neng kenapa-napa, Ibu kirim kamu ke barak militer yang ada di pusat, biar kamu ngerasain indahnya hidup didalam sana dan jauh dari anak istri."
Aditya mematung sejenak, membayangkan bagaimana jika berada di barak militer yang sangat kejam, jika melakukan satu kesalahan seperti Komandan Dida.
__ADS_1
"I-i-iya ... Adit perhatiin kok, Bu!" sungutnya dengan wajah sedikit menunduk.