
Sebuah rumah sakit bertaraf internasional yang berada di sudut Timur dunia, terbaring lemah di bankar rumah sakit seorang pria berwajah tampan dan tenang.
Aditya Atmaja, kini berada dalam pengawasan seorang militer bule dan dokter spesialis otak yang berdiri menunggu pria itu siuman.
Sudah hampir dua bulan Aditya mengalami koma, karena penyerangan mereka di daerah konflik bagian timur oleh sekutu. Tubuh itu kini kaku, karena mengalami benturan keras dan membuat pria itu mengalami geger otak.
Ali bertanya pada dokter spesialis, "Bagaimana keadaan prajurit kami, Dok?"
Dokter yang bernama Donald itu menepuk pundak Ali, "Dia baik-baik saja, hanya kesadarannya belum kembali. Sabar!"
Ali kembali menoleh kearah Donald, kembali bertanya, "Apakah akan berdampak pada memori otak nya, Dok? Karena beberapa kali saya mendengar dia berteriak keras memanggil nama istrinya. Saya khawatir kegelisahan juga dapat dirasakan oleh istri Prajurit Adit, Dok."
Donald menghela nafas panjang, "Terkadang orang yang mengalami benturan keras, akan menurunkan daya ingatnya lebih kurang 40%, saya harap semua baik-baik saja. Karena kami sudah melakukan pengecekan pada otaknya, tidak ada masalah! Beliau hanya mengalami depresi."
Ali mengangguk mengerti, dia melihat Aditya masih terbaring lemah, semenjak mengalami muntah pasca penyerangan dari sekutu beberapa waktu lalu, yang menghancurkan markas militer angkatan darat.
Ali melihat Luqman menghampirinya setelah menjalani rapat antar negara, untuk menyampaikan bahwa Fredy Guarin belum dapat di temukan.
Luqman bertanya, sambil melihat Aditya yang masih terbaring menutup matanya, "Bagaimana Adit, bro?"
"Yah, masih begini saja. Apakah sudah dapat keputusan? Kapan kita akan kembali?"
"Hmm ... Kita masih harus menemukan Fredy dulu, baru kita bisa kembali. Jika tidak aku tidak akan berani menginjakkan kaki di tanah air. Semua begitu lambat bergerak! Sementara kita membutuhkan team lainnya. Entahlah ..." sesal Luqman.
Saat mereka tengah berbincang-bincang, terdengar suara erangan dari arah Adit yang terbaring ...
"Neng ... Tu-tu-tu-tunggu M-a-s ..."
Ali yang mendengar penuturan sahabatnya, bergegas mendekati Aditya, hanya untuk melihat reaksi mata pria tampan tersebut.
"Dit ... Aditya ... Bangun bro! Kamu sudah terlalu lama tertidur di sini, dan hanya menyebut istri mu saja. Kita akan kembali setelah menemukan Fredy!"
__ADS_1
Luqman yang menyaksikan sahabatnya dalam kondisi memprihatinkan hanya bisa mengelus dada.
"Semoga kita semua bisa kembali dengan selamat, Dit ... Bangunlah, kami sangat merindukan mu!"
.
Di kota Jakarta, Komandan Dida masih menunggu hasil kondisi prajurit dari kesatuannya. Menurut laporan dari tentara internasional dua orang terluka, satu orang koma, dan satu dinyatakan hilang.
Untuk yang hilang, pihak Interpol terus dilakukan pencarian atas nama Fredy Guarin.
"Izin Ndan, saya mendapatkan kabar bahwa Aditya Atmaja sudah mulai siuman, tapi belum sepenuhnya sadar. Sudah lebih dari tujuh bulan kita tidak mendapatkan informasi tentang Fredy. Tapi kita terus melakukan pencarian, dan telah mengirimkan mata-mata!"
Laporan seorang team informasi yang masih menjalin komunikasi dengan pasukan elite yang berada di luar negeri.
Seorang pria tegap yang merupakan putra kebanggaan dari Atmaja, yang sudah berpangkat Mayor bunga dua, dan akan mendapatkan penghormatan jika kembali ke tanah air untuk menjadi kolonel bintang satu.
.
Wajah tua pria paruh baya itu terlihat kusut, karena sudah hampir tujuh bulan tidak mendengar kabar dari putra kesayangannya.
"Pak tunggu?" Sulastri tampak kesulitan mengikuti langkah kaki suaminya agar dapat jalan beriringan, memasuki Batalion Angkatan Darat.
Atmaja sedikit kaget, melihat kehadiran mantan kekasih putranya secara mendadak ada dihadapannya, "Evi ...?"
Evi menunduk hormat, pada Sulastri juga Atmaja, "Pak, aku kesini karena undangan Komandan Dida." tunduknya.
"Ooogh ..."
Beberapa prajurit TNI Angkatan Darat yang mengetahui siapa Atmaja, langsung mengarahkan paruh baya itu keruang rapat mereka, yang sudah dinanti Komandan Dida juga beberapa keluarga yang hadir.
Semua mata tertuju pada Atmaja, wajah pensiunan yang tampak sangat tenang, walau ada perasaan remuk didalam hatinya, namun dapat ia tutupi karena rasa percaya nya kepada sang pencipta. Ia memilih duduk bersebelahan dengan Sulastri sejajar dengan Komandan Dida.
__ADS_1
Evi justru duduk paling belakang, karena dia mewakili dari Keluarga Ali Sunardi.
Salah seorang pemuda berwajah blesteran, memperkenalkan diri, sebagai awal percakapan mereka yang tidak begitu formal.
"Selamat siang, perkenalan saya Sarkawi. Perwakilan Kedutaan Indonesia yang berada di Timur Tengah yang di perbantukan untuk menangani kasus kehilangan prajurit Indonesia yang berada di negara tersebut. Perkenalkan, ini adalah Dokter dari Angkatan Udara bernama Banni dan Danu, salah satu mililter yang menangani kasus ini," jelasnya panjang lebar dengan sangat tenang.
"Silahkan Dokter Danu!"
Sarkawi memberi kesempatan pada pria yang duduk di sampingnya, memberikan beberapa penjelasan kepada pihak keluarga.
Wajah Danu sedikit kaku, memohon izin untuk menjelaskan lebih santai. Menceritakan dari awal hingga akhir kejadian penyerangan dari sekutu, saat pasukan lima pemuda Siliwangi itu di serang tanpa ampun, karena ada penyusup yang merupakan warga negara sendiri.
"Kami tidak bisa mendarat di Turki, karena sesuatu hal. Sehingga seseorang memerintahkan untuk segera membawa pasukan elite yang terluka untuk mendapatkan perawatan intensif dan harus segera dilakukan tindakan. Saat ini kondisinya sudah pulih, menurut data yang kami terima dari Dokter Donald, Aditya Atmaja mengalami hmm eee ..."
Danu menjelaskan secara gamblang membuat Atmaja terhenyak mendengar penjelasan dari prajurit angkatan udara tersebut.
Sementara Sulastri, merinding mendengar keadaan putranya yang mengalami geger otak, sehingga mengalami koma selama dua bulan.
"Bagaimana dengan keadaan putra ku, Fredy Guarin?" tanya seorang pria paruh baya dengan mata berkaca-kaca.
Danu menatap pria paruh baya tersebut, dia mencoba mengingat sosok Fredy Guarin yang hilang saat penyelamatan lima pasukan elite di perbukitan yang gelap bahkan sangat mencekam.
"Keputusan militer di negara kita, menunggu Fredy Guarin ditemukan dulu, baru bisa membawa lima prajurit angkatan darat kembali ke tanah air. Kami sudah melakukan yang terbaik, untuk semua anggota yang menjadi abdi negara. Mungkin selama tujuh bulan ini, keluarga Bapak dan Ibu tidak mendapatkan kabar anak, suami tercinta. Kami mohon maaf atas keadaan ini. Sepenuhnya, akan menjadi tanggung jawab kami!"
Tentu saja kabar yang sangat mengejutkan ini, membuat panik semua keluarga yang hadir. Bagaimana mungkin selama tujuh bulan ternyata anak-anak mereka dalam keadaan yang membahayakan.
Sulastri memeluk erat lengan Atmaja, menangis tersedu-sedu, karena membayangkan Nancy yang tengah mengandung tujuh bulan ...
"Bagaimana kita harus memberitahu pada Nancy, Pak! Dia lagi hamil cucu kita Pak ..." tangisnya membayangkan wajah sang menantu.
Atmaja hanya bisa mengusap lembut kepala istrinya, "Tenang dulu yah, Bu? Nanti kita bicarakan pada Komandan Dida ..."
__ADS_1