
Semua rombongan Sugondo telah tiba di Bandara Amsterdam. Bola mata Aditya membulat sempurna, ketika melihat sosok wanita cantik, yang selama ini menjadi istrinya. Wanita yang di balut selendang berwarna merah jambu, memperlihatkan kecantikan Nancy yang tampak sempurna dan alami.
Bergegas Aditya berlari mengejar sang istri karena perasaan rindu yang teramat sangat ... Akan tetapi, wanita cantik itu justru mengalihkan perhatian hanya untuk mendekati orangtuanya, sehingga tidak mengacuhkan sang suami.
Kesal, marah, hanya itu yang ada dalam benak Nancy karena perasaan kecewa kepada Aditya yang belum memiliki solusi atas masalah mereka beberapa waktu lalu. Entah mengapa kali ini wanita yang berstatus sebagai istri itu, harus memberi pelajaran pada sang suami, agar bisa menghargainya sebagai Ibu dari Abdi putra kesayangan mereka.
Egois, mungkin itu yang ada dalam benak Aditya saat ini, ketika ia tak di acuhkan oleh sang istri.
"Sial, Bethrand asik-asikan sama Prisil, Aldo sama Emi, masa gue malah menjadi jomblo sama kayak Luqman ...!" gerutunya sambil menghampiri Nancy yang masih mengobrol sama Bapak dan mertuanya.
Aditya berusaha untuk langsung merangkul pinggang Nancy, mengecup lembut kepala sang istri, karena perasaan rindu yang teramat sangat.
"Neng ..." bisiknya pelan.
Nancy menoleh kearah Aditya, dan langsung memeluk erat tubuh suaminya, kemudian berbisik, "Urusan kita belum selesai, Mas!" geramnya.
Aditya hanya memejamkan matanya, menikmati aroma tubuh sang istri yang sangat ia rindukan, "Mas enggak peduli, kamu mau marah atau bahkan mau ngamuk-ngamuk sama Mas nanti. Yang penting, Mas kangen sama kamu. Terserah kamu saja nanti!"
Nancy mencubit kecil perut sispack Aditya, membuat pria bertubuh tegap itu, meringis kesakitan.
"Agh, sakit Neng!"
"Hmm itu baru cubit! Belum di cakar, kayak kucing garong!" sesalnya dengan mata melotot saat mereka melepas pelukan yang penuh kesal tersebut.
Tak lama bercengkrama, rombongan Sugondo langsung berangkat menuju hotel yang telah di pesan oleh Sindi, atas perintah Pak Anggoro yang merupakan Abang dari Sugondo.
Ya, Sugondo dan Anggoro merupakan kakak beradik, yang sangat akur, namun harus terpisah karena satu tragedi masa muda ketika berada di medan perang, hingga akhirnya menemukan tambatan hati di Swiss.
__ADS_1
Seorang wanita bule yang kini di sapa Ambu oleh Nancy, karena kepiawaiannya menggunakan bahasa Indonesia saat berbincang-bincang dengan mereka.
Ada satu hal yang berbeda, ketika rombongan berada di dalam satu mini bus buatan Eropa itu melaju meninggalkan bandara, menuju hotel.
Ya, ini tentang Luqman yang sibuk mencuri perhatian janda beranak tiga tersebut, sehingga membuat pria hitam manis itu hanya bisa senyum-senyum sendiri, ketika kedua netra mereka saling bertemu.
Tentu Sindi menjaga imagenya ketika berhadapan dengan Pak Atmaja serta Pak Sugondo yang sibuk berbincang-bincang dengan Pak Anggoro, agar tidak terlalu terlihat asal bicara dihadapan orang yang lebih tua darinya.
Sindi yang duduk di samping Nancy, menggoda Aditya, sepanjang perjalanan, karena duduk mereka saling berdekatan.
"Ugh, sengak banget lo sekarang ya! Mentang-mentang sudah kaya, sudah kolonel, jadi lupa sama gue! Untung bini lo anak Pak Anggoro! Kalau enggak gue sangkutin di tiang kincir angin," geram Sindi mengusap kasar wajah Aditya.
Aditya yang di perlakukan seperti itu oleh sahabat lamanya, hanya bisa tersenyum tipis, menjaga sikap agar tidak terlihat oleh orang nomor satu di perkebunan teh keluarga milik Nancy.
"Lihat lo ya! Luqman tuh, naksir sama lo, langsung nikah saja kalian di sini. Jadi pulang-pulang ke Bandung Luqman langsung bawa bini," gelaknya menyeringai lebar, melirik kearah Luqman yang duduk agak jauh dari mereka.
Sindi tidak begitu banyak bicara dengan Aldo, begitu juga sebaliknya. Ia sangat menjaga perasaan Emi, walau sesungguhnya ingin sekali ia memeluk sang mantan kekasih. Namun enggan ia lakukan, karena menjaga perasaan keluarga besar, ditambah statusnya yang sangat berbeda.
Cukup lama perjalanan mereka menuju hotel, karena harus mampir untuk mengisi lambung tengah, karena perasaan lapar yang tidak ketulungan, sehingga mendapatkan satu rumah makan masakan khas Indonesia.
Setibanya di hotel, Aditya masih merangkul bahu istrinya, untuk membawa wanita cantik itu menuju kamar mereka.
Tentu Nancy yang sudah mengetahui bagaimana kelakuan suaminya, hanya tersenyum tipis menoleh kearah Sindi untuk memastikan rencana mereka berdua.
Benar saja, ketika rombongan sudah berjalan dari loby hotel menuju kamar, Aditya berbisik mesra ketelinga sang istri tentang kerinduannya, "Mas kangen banget, Neng ..."
Hanya kata-kata itu yang di ucapkan Aditya selama di koridor hotel, kemudian melambaikan tangan kepada para sahabat mereka.
__ADS_1
"Hmm ..." Nancy menjawab kaku, dan menempelkan card di pintu kamar, kemudian meletakkan card di dinding yang tersedia.
Ketika pintu kamar tertutup, detik itu juga pintu connecting terbuka lebar oleh kelakuan Sindi dan para sahabatnya, yang sangat mengetahui bagaimana sifat Aditya ketika sudah bertemu dengan Nancy.
"Bagh! Pasti lo mau mesum kan? Mentang-mentang sudah nikah!" tawanya menggoda Aditya yang tampak kelimpungan ketika ia sudah membuka baju kaos miliknya.
Kedua bola mata Aditya membulat sempurna, menatap lekat kearah Nancy. Karena tidak menyangka akan di kerjain oleh para wanita itu, beserta sahabatnya.
"Sial! Kalian benar-benar membuatku semakin kesal!" teriaknya karena frustasi, dan menoleh kearah Nancy yang tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan suaminya.
Bagaimana tidak, dua minggu mereka tidak bertemu, tapi harus mendapatkan perlakuan seperti ini dari wanita janda bernama Sindi.
Sindi merebahkan tubuhnya di ranjang kingsize kamar Nancy, tanpa perasaan malu, sambil berkata, dengan memangku wajahnya menatap kearah Aditya ...
"Lebih baik kamu jangan berpikir kita akan biasa saja Aditya Atmaja. Gue mau menanyakan, kenapa Luqman jadi malu-malu kucing begitu ketemu sama gue? Dia beneran naksir sama janda beranak tiga ini? Karena setiap malam, sahabat lo itu mengirim pesan singkat whatsApp sama gue. Gue kan jadi gimana gitu. Malu-malu, apalagi sudah lebih dari tiga tahun tidak menjalin relationship dengan pria," jelasnya tanpa perasaan sungkan.
Aditya hanya tersenyum, kembali mengenakan pakaiannya, dan kurang bersemangat untuk menjawab pertanyaan Sindi.
"Ane enggak tahu! Lo tanya saja sama orangnya langsung. Kenapa mesti bertanya sama gue," sesalnya, menghempaskan tubuhnya di sofa kamar dengan wajah dingin.
Nancy hanya diam, ia memilih membuatkan dua cangkir teh manis hangat untuk sang suami. Bagaimanapun, Aditya merupakan pria yang sangat ia cintai. Dia tidak ingin berdebat ataupun berubah ...
"Mas Adit merupakan Papa dari Abdi, tapi aku tidak boleh memberikan peluang begitu saja padanya. Bagaimanapun sangat sulit bagi Mas Adit untuk tidak memikirkan Evi ... Agh Tuhan, tolong aku ...! Bantu aku untuk melumpuhkan pikiran Mas Adit, terhadap wanita bernama Evi ..."
___
Mohon maaf sebelumnya, atas keterlambatan update ... terimakasih 🙏🙏
__ADS_1