
Suasana Lembang sangat sejuk, bahkan lebih tenang dengan kicauan burung yang bersuara merdu, melewati kediaman mertua Aditya. Ketiga pria gagah itu, tengah bersiap-siap untuk segera melakukan perjalanan menuju bandara internasional dalam perjalanan bisnis, sekaligus bulan madu bagi tiga pria muda yang sudah bertemu di kediaman Sugondo.
Sugondo, mengusap lembut punggung Abdi, yang akan di tinggalkan selama satu minggu, begitu juga Aditya yang meneteskan air mata, karena harus meninggalkan putra kesayangannya bersama Ningsih juga Sulastri.
"Bu ... Adit titip Abdi, yah. Mungkin jika kami sudah kembali, Adit akan pergi lagi. Tapi belum tahu kapan. Karena Adit minta bawa anak dan istri. Sudah enggak mau jauh-jauh lagi. Dua minggu jauh dari Nancy saja sudah membuat Adit kelimpungan, apalagi jauh-jauh lagi. Sudah enggak sanggup," sungutnya dihadapan Ningsih dan Sulastri tanpa perasaan sungkan.
Kedua ibu yang sangat menyayangi Aditya Atmaja itu hanya tersenyum bahagia, kemudian menggelengkan kepala, melihat raut wajah pria gagah itu kembali berubah, karena akan bertemu dengan sang istri kesayangan.
Ningsih menggeram, meremas kuat lengan menantunya, "Ingat yah Nak Adit ... Jangan buat ulah lagi. Itu negara orang, jadi jangan berantem. Oya, katanya Luqman ikut sama kalian? Emang dia cuti? Bukankah dia ada dinas ke kantor pusat, lusa?"
Aditya mengangguk meng'iya'kan ucapan Ningsih, sedikit berbisik ketelinga Ibu mertuanya tersebut ...
"Alasannya pengawalan untuk peti kemas karena permintaan Bapak. Tapi sebenarnya menyelam sambil minum air, Bu. Luqman tergoda sama janda beranak tiga ..." tawanya menjelaskan.
Kedua bola mata Ningsih membulat besar, "Kamu serius? Saha kasep? Aduh duh duh ... Emang Mama nya, bolehin anaknya nikah sama janda? Mamanya kan banyak maunya, justru minta dokter kalau enggak salah Ibu. Apalagi Mama-nya Luqman juga dokter, kan? Kasihan kalau enggak di setujui, bisa bunuh dia ..."
Aditya membenarkan ucapan Ningsih, karena mereka memang saling mengenal, ditambah Luqman merupakan putra satu-satunya.
"Kita enggak tahu, Bu. Biarkan saja, toh jodoh itu kita enggak tahu. Apalagi Luqman juga sudah cukup matang untuk menikah. Jika mampu apa salahnya, menikahi janda. Pahala ..." tawanya menyeringai kecil.
Ningsih yang mendengar penuturan sang menantu hanya menyunggingkan senyuman tipis, sambil menyindir kecil, "Ck, ibadah kalau sama-sama single. Kalau yang satu janda, satu suami orang itu namanya musibah!"
Aditya kembali memeluk tubuh Ibu mertuanya tersebut, tanpa perasaan sungkan dihadapan Sugondo dan Ibu kandungnya.
"Dasar anak lanang manja! Begini mau jauh dari istri! Seminggu enggak ketemu saja wajahnya sudah kusut berantakan kayak enggak di setrika. Sok-sokan mau pisah, hidup masing-masing, bisa nyariin anak ku terus kamu, Dit!" rungut Sugondo, melihat Aditya yang masih memeluk istrinya, karena tengah menggendong Abdi.
__ADS_1
Tak lama mereka saling bercerita, berpesan, serta berpelukan untuk berpisah selama satu minggu, akhirnya Aditya beserta rombongan Sugondo berangkat menuju bandara.
Hanya tiga pria yang menjadi pengawal di kediaman Sugondo tersebut untuk menjaga istri serta cucunya. Tentu dengan memberi perintah dan kepercayaan pada Nanang, Angga juga Asep sang ajudan Aditya.
.
Lebih dari 16 jam rombongan Sugondo menghabiskan waktu diatas pesawat, dengan melakukan dua kali transit di negara Asia juga timur tengah. Kebersamaan keempat pria muda tersebut, ditambah dua pria paruh baya, membuat beberapa pasang mata pramugari melirik kearah rombongan Sugondo yang duduk di kelas bisnis.
Seperti mendapatkan durian runtuh, bagi Luqman dan Aditya dapat naik pesawat kelas bisnis, karena berangkat dengan pengusaha sukses seperti Sugondo, Aldo, serta Bethrand.
Akan tetapi, tidak ada komentar yang berarti dari bibir Aditya saat Bethrand selalu menggodanya, membuat kedua telinga pria itu sedikit panas.
Bagaimana tidak, entah darimana Bethrand mengetahui tentang 20 juta yang Aditya berikan kepada cucu Sunardi, membuat pria bule itu berkali-kali mengejeknya.
Aditya hanya terdiam, rahangnya mengeras, merutuki sang istri yang sembarangan bicara, sehingga sampai ketelinga bule somplak yang sengaja buat kesal.
"Perempuan kalau sudah nongkrong, pasti akan bicara yang tidak penting. Apa enggak mikir, yang di jelekin itu suami sendiri ..." sesalnya menggeram kesal di dalam hati.
Entah berapa kali Aditya mesti mendapatkan cemoohan dari Bethrand, sehingga membuatnya semakin kesal ...
"Eh ... Udah deh yah! Ada mertua ane, bule sialan. Kenapa sih, lo terus buat ane kesal! Jangan nyindir-nyindir gitu, entar kedengaran sama mertua dan Bapak ane, bisa berabe tahu! Dasar bule jelek lo!" geramnya membulatkan kedua bola matanya, seakan-akan ingin menerkam Bethrand yang duduk berjarak tiga meter.
Aldo hanya tertawa kecil melihat tingkah kedua sahabatnya, tanpa mau melerai kedua pria aneh tersebut.
"Kalian berdua tuh, kayak guguk sama meong! Melebihi anak gue, berantem mulu ... Eeeh Dit, kita jodohin anak kita yuk. Karenina cewek imut-imut, Abdi subur kayak Bapak Nancy. Kita kawin gantung saja, mereka sedari kecil ... Jadi pas mereka tamat sekolah kita kasih tahu. Mana tahu cocok, yah kalau enggak kita pindah haluan. Mana tahu Abdi suka sama daun tua anaknya bro bule ini, kan ..." tunjuknya pada Bethrand yang masih menikmati segelas jus buah pemberian salah satu pramugari.
__ADS_1
Aditya mendengus dingin, mendengar permintaan sahabatnya, hanya bisa tersenyum tipis, "Kemaren Ibu mertua ane ngomong. Tapi masak kita mau jodohin anak-anak. Lo pikir jaman Siti Nurbaya! Sekarang ini sudah jaman Justine Bieber, bro!"
Aldo melirik kearah Aditya dan Bethrand bergantian, "So ... Apa salahnya kita menjodohkan mereka. Lo angkatan, gue pengusaha, daripada diambil orang yang enggak jelas anak cewek gue, lebih baik kita mempererat hubungan keluarga ini. Back to bako kalau kata orang Padang!" tawanya terbahak-bahak ...
Mendengar penuturan sahabatnya seperti itu, Aditya hanya bisa terdiam. Sesungguhnya, dia belum memikirkan untuk masa depan Abdi yang sesungguhnya.
"Ntar deh, ane ngobrol dulu sama Nancy. Dia kan selalu memikirkan jauh ke depan. Tapi kalau enggak jodoh, jangan di paksakan. Karena ane enggak mau memaksakan kehendak. Ntar kayak Bapak yang duduk di depan kita ini, dia yang temenan, ane jadi korban!" sungutnya ...
PLAAK ...!
PLAAK ...!
Aldo dan Bethrand memukul pundak Aditya, membuat pria yang asal bicara itu hanya bisa meringis pasrah.
"Setan! Sakit tahu!" kesalnya mengusap-usap pundak dan bahunya.
Sugondo yang mendengar tawa canda anak-anak muda di belakangnya, hanya berbisik ketelinga Atmaja ...
"Kalau Aditya bukan anak kamu, Mas ... Sudah saya buang dia dari pesawat ini ..." tawanya menyeringai kecil.
Atmaja yang mendengar omelan sahabat sekaligus besan terbaiknya hanya bisa tersenyum tipis, "Buang saja, mana tahu kamu siap Nancy jadi janda!"
Sugondo mendelik memandangi wajah Atmaja, menatap lekat mata yang masih memandang kearahnya ...
"Anak sama Bapak sekali bicara, nusuk!"
__ADS_1