
Dikeheningan ruangan sahabat sekolah Nancy, sedang bercerita dua orang wanita dengan penuh canda tawa. Walau sesungguhnya Nancy menyimpan sesuatu rahasia rumah tangga yang enggan ia umbar dihadapan Jumaida.
Saat mereka tengah berbincang-bincang selayaknya teman lama yang sudah lama tidak bertemu, tiba-tiba wanita yang belum melepas masa lajang itu nyeletuk sendiri didalam hati ... "Mampus lo!" dengan mata masih mengarah di layar handphone pipih miliknya, kembali menoleh kearah Nancy.
Nancy yang masih duduk disofa sambil menikmati segelas kopi buatan Jumaida hanya bisa bertanya dengan wajah polosnya, "Mas Adit kira-kira masih lama enggak yah Jum? Kalau masih lama aku pulang deluan deh! Karena Abdi dari tadi tinggal sama Unik dan Ibu. Aku takut rewel, sekalian mau mampir di supermarket dekat rumah."
Jumaida melirik gugup kearah Nancy yang masih belum tahu tentang berita yang langsung di tag di kesatuan mereka, sambil bertanya, "Kok cepet? Apa aku anterin kamu pulang? Biar aku yang nyetir mobil deh, nanti aku pulang bisa naik angkot. Sekalian aku belum pernah melihat anak kamu semenjak dia lahir."
Nancy tertawa kecil mendengar celotehan Jumaida, "Ya udah atuh. Nanti kamu pulang bisa dianterin sama Mang Nanang. Kebetulan tidak begitu sibuk di pabrik," jelasnya.
Saat mereka akan keluar dari ruangan Jumaida, ternyata di luar sedang ricuh kabar istri simpanan seorang prajurit angkatan darat, yang beredar dengan cepat. Bergegas Komandan Dida selaku atasan Aditya meminta prajurit militer untuk mencari mobil dinas yang beredar di sosial media tersebut.
Tak pelak, Jumaida langsung melindungi Nancy agar tidak mendengar umpatan para komandan yang mencari tahu keberadaan mobil itu. Sementara mobil dinas yang selama ini digunakan Aditya Atmaja, tengah berada di jalan menuju kantornya.
Meski begitu, perasaan Nancy semakin tidak tenang. Keningnya mengerenyit memandangi wajah Jumaida yang sengaja menutupi wajah sahabatnya agar tidak terlihat oleh orang lain.
Nancy bertanya, "Eeeh Jum, ada apa sih? Kok pada panik gitu?"
Jumaida menggelengkan kepalanya, "Sudah jalan saja dulu. Nanti di mobil kita ngobrol ..."
Jumaida bergumam dalam hati, "Semoga Komandan Dida cepat memblokir kabar itu. Ini bisa beredar seluruh Indonesia, dan menjadi masalah besar untuk Aditya. Aaagh ... Kasihan nasib sahabat ku. Ini ni, mencintai tapi tidak untuk di cintai ..."
Saat langkah mereka semakin dekat di mobil Nancy yang terparkir, seketika mata wanita beranak satu itu mengarah pada mobil dinas suaminya.
"Itu Mas Adit! Aku tunggu dia dulu deh, Jum. Kamu masuk aja dulu," pinta Nancy memberi kunci mobil kepada Jumaida, namun masih menunggu sang suami memarkirkan mobil, kemudian keluar dan menghampiri sang istri, dengan wajah kusut tidak seperti biasanya.
Jumaida yang sudah melihat kabar itu, justru memberi ruang pada Nancy untuk berbicara dengan Aditya, sambil menghubungi Luqman.
Nancy tersenyum sumringah saat matanya beradu tatap dengan sang suami, meraih tangan kanan Aditya, mengusap lembut wajah yang berkeringat, walau sesungguhnya hawa didalam mobil masih terasa dingin karena air conditioner.
__ADS_1
"Aduh ... Yang mau jadi kolonel kok kusam banget. Jangan stress atuh, Mas," kecup Nancy pada punggung tangan Aditya saat mendekat.
Aditya memeluk erat tubuh ramping Nancy, mengecup lembut puncak kepalanya, dengan mata berkaca-kaca ...
"Neng pulang dulu yah? Mas ada masalah. Nanti Mas jelasin di rumah. Sekali lagi, jangan percaya pada siapapun selain Mas yah, Neng!" jelasnya membuat hati Nancy tidak tenang.
Nancy mengangguk patuh, selama ini dia tidak memperdulikan apapun tentang perkataan orang lain, walau itu sangat menyakitkan. Baginya Aditya adalah pria yang sangat baik dimata seorang Nancy.
Katakan cinta Nancy buta pada Aditya. Atau bodoh dalam memilih pasangan, tapi inilah Nancy Sugondo, yang selalu yakin cintanya akan terbalas suatu saat nanti.
"Apakah dengan situasi ini Nancy akan memaafkan Aditya?"
Entahlah ...
.
Saat tubuh itu saling berpelukan, hanya untuk saling menguatkan, Komandan Dida berteriak keras memanggil nama Aditya Atmaja.
Sontak teriakan seorang komandan, membuat tubuh Nancy sebagai seorang wanita penuh kelembutan terlonjak seketika, dan menoleh kearah belakang.
Benar saja, Aditya langsung berdiri tegap, memberi hormat kepada komandan dengan menelan ludahnya berkali-kali ...
"Izin Ndan! Saya baru datang! Kasih saya waktu lima menit, untuk mengizinkan istri saya pulang ke rumah!"
Dida menyunggingkan senyuman tipis, "Lima menit!" tunjuknya pada mata Aditya.
Aditya menggeram, dia menghela nafas berat, menoleh kearah Nancy, "Silahkan pulang dulu. Mas akan menjelaskan semua sama Neng! Mas mohon, setelah kita bicara, Mas serahkan semua keputusan sama, Neng! Mas permisi," kecupnya pada kening sang istri dan langsung meninggalkan Nancy yang tampak kebingungan.
Nancy hanya bisa menerka-nerka, apa yang dialami suaminya sehingga membuat Komandan Dida memanggilnya seperti itu.
__ADS_1
Sementara sebelum memasuki mobil, mata Nancy melihat beberapa prajurit yang mendekati mobil Aditya, dan menunjuk ke layar handphone milik mereka, hanya untuk mencocokkan plat nomor kendaraan yang ada didalam video.
Nancy semakin penasaran, namun saat dia akan melangkah mendekati prajurit itu, Luqman menarik lengan istri sahabatnya dengan gerak cepat, membuat Nancy hampir terjatuh karena kurangnya keseimbangan. Namun di tahan oleh tangan Luqman yang dengan sigap menahan bahu istri sahabatnya.
Nancy melepaskan dirinya dari tangan Luqman, mengajukan pertanyaan bertubi-tubi pada pria yang tampak tenang menatapnya, "Aa' lepasin aagh! Nanti di lihat orang lain, malah jadi fitnah. Kenapa sih? Kok malah ngelihat mobil Mas Adit kayak gitu? Ada apa Aa, apakah Mas Adit menabrak orang lain? Atau tabrak lari? Siapa yang Mas Adit tabrak? Mati apa enggak?"
Luqman mengalihkan pandangannya, mencari keberadaan Jumaida yang masih berada didalam mobil, "Aa sudah minta izin sama komandan. Kita duduk di restoran dulu yah? Kita bicarain masalah yang tengah dihadapi Aditya. Ini lumayan rumit, enggak enak bicara di sini. Nanti malah simpang siur. Kami sudah meminta pada pihak pusat untuk memblokir video yang sudah beredar."
Penjelasan Luqman semakin membuat Nancy panik, dia sama sekali tidak mengetahui tentang video atau apapun tentang sosial media, karena baginya berita-berita yang beredar di sosial media itu hanya untuk menjatuhkan reputasi seseorang, atau mencari kesalahan.
"Ta-ta-tapi Neng mau pulang! Kasihan Abdi, dia Neng tinggal sejak pagi. Neng pikir hari ini tanda tangannya. Ternyata besok, tahu begini Neng enggak kesini!" celotehnya.
Luqman tidak ingin Nancy terlalu lama berdiri disana, langsung membuka pintu mobil penumpang membiarkan wanita itu masuk.
Ali bergegas menghampiri mobil putri kesayangan Sugondo itu, dan masuk kedalam mobil Nancy tanpa basa-basi.
Nancy termangu, melihat dua mayor dan satu kopral tengah menatapnya dengan tatapan kasihan. Membuat dia tampak seperti tawanan angkatan darat ...
"Kalian mau ngapain di mobil Neng? Nanti semakin ada fitnah, turun iigh! Masak kita ke restoran pasang-pasangan gini. Enggak lucu aaagh, kalian tahu siapa Neng?"
Mereka menjawab dengan serempak ...
"Tahu ... Istri dari Aditya Atmaja!"
"Terus, naha atuh buat Neng jadi kebingungan? Nanti kalau Mas Adit tahu bagaimana?"
Lagi-lagi mereka menjawab serempak, "Biarin! Aditya memang pantas kehilangan kamu saat ini!"
Nancy tertawa kecil mendengar celotehan sahabat Adit, ternyata sama gilanya dengan Jumaida ... "Iiighs, ternyata kalian cocok sama Ijum! Sudah cepat jalan! Biar enggak kelamaan kita ngobrolnya!" sesalnya mengalihkan pandangan kearah lain, namun pikirannya masih fokus kepada sang suami.
__ADS_1
"Ada apa sih Mas Adit? Apakah Mas mendapatkan masalah besar? Jika benar-benar ini masalah besar, apa yang harus Neng lakukan? Kenapa mereka semua seperti ingin menjauhkan Neng dari suami sendiri ...?"