
Nancy terjaga dari tidurnya, namun tak ia temuin Abdi berada dalam dekapan, dirinya hanya melihat Adit yang masih terjaga, sambil menatap langit-langit kamar.
Nancy bertanya dengan wajah khawatir, "Mas, Abdi mana? Kok enggak ada di sini?"
Aditya yang baru menyadari bahwa istrinya sudah terjaga, memiringkan tubuhnya sedikit hanya untuk mendekap tubuh ramping sang istri ...
"Di bawa sama Bapak dan Ibu kamu. Sepertinya mereka lebih menyayangi cucunya daripada kamu," godanya pada puncak hidung Nancy.
Nancy hanya bisa menghela nafas panjang, dia duduk, melepas dekapan Adit, mencepol rambutnya tinggi, mendengus dingin.
Bagaimana tidak, sepanjang siang Adit hanya bisa mencecar Nancy sebagai wanita yang tidak bisa menghargai perasaan suami, karena kehadiran seorang Bethrand menemui Nancy dan Sugondo di restoran, padahal hanya untuk menandatangani perjanjian kerja sama antara pabrik teh milik Sugondo, dan perusahaan Bethrand, membuat seorang Aditya meledakkan amarah yang ia sendiri tak tahu apa yang dilakukannya.
Tentu ini akan menjadi momok yang sangat menakutkan bagi Aditya, ditambah pria bule itu sangat tampan dan baik dari dirinya dalam memperlakukan seorang Nancy.
"Mas cemburu!?" bentak Nancy siang itu.
Wajah Adit langsung menunduk, dia tidak ingin membahas tentang sakitnya melihat sang istri yang di datangi pria tampan, bule dan mapan secara finansial.
"Ti-ti-tidak ... Ngapain Mas cemburu Sa-sa-sama dia, toh Mas sudah tidur sama kamu, melakukannya terus menerus hingga saat ini. Ngapain cemburu ..." jawabnya gugup dan langsung mengalihkan pandangannya kearah lain.
Nancy yang tidak ingin berdebat, memilih meninggalkan suaminya untuk tidur mendekap Abdi hanya untuk mencari sebuah ketenangan dalam dekapan Nancy.
Sebelum Nancy terlelap, di masih sempat mengatakan pada sang suami hanya untuk sekedar menegaskan ...
"Makanya kalau punya istri tuh di sayang! Karena di luar sana, masih banyak yang mau sama Neng! Bodohnya Neng, masih mau sama pria kaku, kasar, enggak jelas sikapnya, bahkan arogan seperti seorang Mayor Aditya Atmaja! Bisanya nyakitin doang, dari sejak menikah, sampai saat ini!" ungkapnya dengan kesal, langsung merebahkan badan diatas ranjang kingsize dan menutup mata tanpa peduli lagi dengan Adit, hanya untuk sebatas menghilangkan rasa penat.
__ADS_1
Akan tetapi, beban pikiran yang harus di tanggung Nancy dalam kesendiriannya, membuat ibu satu anak itu kebablasan hingga pukul 23.00, dan kini melihat hanya ada Aditya tengah menatapnya.
Nancy melepas dekapan Aditya, untuk mengganti pakaian, namun tak di izinkan oleh sang suami.
"Mas ... Lepas. Neng lapar sama haus, dari kemaren enggak di kasih makan, tapi di ewe aja! Emang begini yah punya suami angkatan? Neng rasa Bidan Siska dan Dokter Arlen enggak begini deh," geramnya.
Aditya hanya tersenyum tipis, mendengar celotehan Nancy. Dia bergegas meraih telepon yang ada dinakas, kemudian menghubungi pihak restoran agar membawakan dua piring makan malam untuk mereka berdua.
Entahlah, kali ini Adit hanya ingin menghabiskan waktu bersama Nancy, dengan semua pertikaian yang ada. Ia tak mengindahkan umpatan, makian kedua orangtuanya agar bersikap baik pada Nancy.
Inilah Aditya Atmaja, dia kembali dalam tekanan yang tidak disadari oleh seorang Nancy juga keluarga besarnya. Rasa bersalah yang ia rasakan, karena telah menghabisi nyawa sahabatnya sendiri, membuat rasa iba terhadap Evi dan buah hati mereka, kembali menyala, sehingga mengorbankan perasaan Nancy, tanpa mau menerima tentang keburukan Evi yang selalu diutarakan Atmaja.
Baginya Evi wanita sempurna, yang berstatuskan janda beranak satu harus mendapatkan perlindungan darinya. Sangat berbeda dengan Nancy, yang merupakan istri sahnya, namun berani mengundang pria lain ke restoran di depan mata kepalanya.
Namun hati Aditya tak menepis perasaan cintanya pada Nancy tumbuh semakin besar, sehingga ia tidak pernah menyadari akan hal itu. Karena dalam benaknya hanya Evi yang mampu membutakan mata hatinya untuk melihat sisi baik seorang Nancy yang sudah menjadi istri sahnya.
"Sebentar yah Mas, Neng mau ganti baju dulu. Sejak siang belum mandi enggak enak rasanya," ucapnya masih terdengar sangat lembut.
Tanpa mendengar jawaban dari Adit, Nancy berlalu menuju kamar mandi.
Aditya tersenyum tipis, menatap punggung Nancy yang sudah tidak mengenakan sehelai benangpun saat berada didepan pintu kamar mandi.
Tanpa pikir panjang, Adit mengejar Nancy hanya untuk melepaskan semua hasratnya malam itu, tanpa memperdulikan penolakan dari seorang istri yang benar-benar terkejut saat merasakan suaminya sudah memeluk tubuh ramping itu di bawah guyuran shower.
"Mas!" pekiknya, saat merasakan tangan kekar itu sudah berada di punuk kenyalnya, tanpa ada perasaan iba ataupun kasihan dalam kondisi yang belum mendapatkan asupan makanan.
__ADS_1
Adit tak mau tahu, kali ini Nancy harus menerima kenyataan, bahwa pria yang dicintainya hanya ingin melampiaskan hasrat dengan wanita yang telah halal bagi Aditya Atmaja.
Cukup lama Nancy benar-benar di buat seperti wanita jallang oleh Aditya, tanpa memikirkan bagaimana tubuh Nancy yang seketika akan ambruk karena perlakuan sang suami.
Namun, perasaan Nancy tak mampu untuk berkata-kata. Saat ini dia kalah, dan hanya bisa pasrah akan perlakuan Adit padanya.
"Mas sangat menyukai tubuh kamu, sayang. Mas tidak akan pernah melepaskan kamu. Kamu yang membuat Mas menjadi ketagihan, kali ini, Mas ingin kamu menikmatinya ..."
Hanya kalimat itu yang diucapkan Adit, saat miliknya memasuki lembah surga Nancy tanpa harus permisi.
Tubuh ramping Nancy yang memang sudah tak berdaya, akhirnya ambruk dalam dekapan Aditya, saat pria itu menghentakkan pinggulnya beberapa kali saat mencapai kebahagiaannya.
"Ahh Neng ..."
Nancy tak dapat merasakan hal yang sama, karena Adit terlalu bersemangat, bahkan tak memberi ruang padanya untuk bernafas, kemudian meninggalkan tubuh itu dalam kehampaan ...
"Apakah cinta seperti ini yang harus aku terima ...? Rasanya tak seindah awal ... Mas Adit kenapa tega sama, Neng ...? Padahal Neng sudah mengatakan, bahwa saat ini tubuh Neng lelah dan lapar ... Ooogh Tuhan, rasanya aku tidak menginginkan Mas Adit lagi ..." isaknya saat membersihkan diri setelah mendapatkan perlakuan seperti itu dari sang suami.
Selama pernikahan mereka, Aditya tidak pernah berlaku kasar saat meminta hal itu. Namun malam ini, dia melakukannya, tanpa melihat kondisi fisik istrinya yang benar-benar sangat tidak sehat.
Lebih dari dua jam Nancy berada di kamar mandi, hanya untuk menangisi nasib rumah tangganya. Satu tahun dia menunggu Aditya Atmaja. Namun baru dua hari bertemu, harus mendapatkan perlakuan yang sangat menyakitkan dari seorang pria yang ia cintai sejak dulu.
Apakah ini dendam Aditya padanya? Entahlah, yang pasti saat ini Adit hanya memikirkan indahnya memiliki istri yang patuh dan tunduk pada pria yang sudah memberikan seorang anak pada pernikahan mereka.
Dengan langkah kaki bergetar, Nancy keluar dari kamar mandi, melihat Aditya hanya sibuk bermain handphone milik Nancy sambil tersenyum lirih berkata kearahnya ...
__ADS_1
"Bagaimana? Indah bukan menjadi istri seorang mayor? Sehingga kamu tidak bisa berjalan. Setidaknya, aku telah membahagiakan mu menjadi seorang istri dari Aditya Atmaja. Pria yang kamu cintai sejak dulu, tapi jangan pernah berharap kamu bisa lepas dari ku setelah ini, Nancy!"
Nancy menghela nafasnya dalam-dalam, dia hanya bisa menahan sakit, perih, atas perlakuan Adit, sambil berkata, "Gila kamu, Mas!"