
Kedua insan anak manusia yang tengah mereguk kenikmatan dunia, tanpa memikirkan dampak yang akan timbul karena perbuatan gila seorang komandan, Dida melepaskan penyatuan mereka saat mencapai pelepasan surganya, tanpa mau mengecup wanita yang sangat biasa saja jika di masuki.
Dida mengusap lembut dadanya, menatap langit-langit kamar hotel melati yang ia pesan hanya untuk pelampiasan hasrat sesaat. Menoleh sedikit kearah wanita yang masih menelungkup tidur disampingnya ...
Dida bertanya, seolah-olah Evi tidak berharga di matanya, "Sudah berapa banyak pria yang sudah menikmati tubuh mu?"
Evi menautkan kedua alisnya, "Emang kenapa Mas? Cuma almarhum suami Neng aja kok ..." sungutnya dengan wajah merah padam.
Dida tertawa lirih, bibirnya menyunggingkan senyuman yang dapat diartikan, bahwa tidak ada kepuasan yang berarti dari percintaan mereka. Namun dia bisa memanfaatkan keadaan ini, untuk sementara, demi melengserkan orang tua Aditya yang menjadi orang kepercayaan Sugondo.
"Besok, jika Alvi sudah kembali, saya akan memintanya untuk menemani kamu, menemui Nancy. Kamu harus pura-pura hamil, dan katakan itu anak Aditya Atmaja. Aku yakin, jika rencana kali ini pasti berhasil. Dan buat Nancy tidak bisa menemani suaminya dalam persidangan di kesatuan pusat. Saya akan memintakan surat kehamilan disalah satu rumah sakit, dan kamu harus melakukan ini dengan baik! Jangan sampai kamu salah ataupun kalah menghadapi Nancy! Kamu mengerti!"
Evi mengangguk mengerti, dia tersenyum sumringah, karena mendapatkan angin segar untuk menghancurkan rumah tangga Nancy dan Aditya dengan bantuan Dida sebagai orang terdekat Aditya di kantor.
Dida mengeluarkan uang pecahan 50 ribuan enam lembar, dan memberikan pada Evi, sambil berkata ...
"Kamu pulang pakai taksi yah! Saya ada urusan sebentar, dan besok saya kabarin dimana kamu bertemu dengan Alvi."
Evi mengangguk, walau hatinya terasa terhina oleh ucapan Dida, namun kali ini dia harus melakukan apa yang disarankan sang komandan.
Dida berlalu meninggalkan Evi seorang diri, didalam kamar yang bertarif 120 ribu semalam itu.
Hatinya semakin terasa sangat sakit dan teriris, karena tidak ada seorang pria pun yang mau menghargainya.
"Jika Bu Alvi tidak mau menemani aku menemui Nancy, maka aku akan melakukannya sendiri. Aku akan mengatakan pada wanita sombong itu bahwa tengah mengandung anak Mas Adit ...! Pasti wanita itu akan percaya setiap ucapan ku," gumamnya disela-sela kesendiriannya.
__ADS_1
Sementara itu, ditempat yang berbeda, Aditya tengah di temani Aldo sang sahabat sekaligus sepupu Nancy.
Mereka tengah menikmati segelas kopi buatan waiters yang bekerja di restoran milik Aldo jika siang, namun saat malam berganti menjadi club' yang sangat ramai pengunjung dari kalangan atas.
Aldo tersenyum lebar, melihat sahabatnya seperti kucing Persia yang sangat patuh padanya.
Aldo bertanya kepada Aditya, "Lo kenapa? Masih belom baikan sama Nancy? Masih pisah ranjang?"
Aditya menganggukkan kepalanya dua kali, mengalihkan pandangannya kearah lain, dengan wajah memerah geram, "Enggak pernah dia menghindari ane. Sekarang Nancy menghindar, enggak pernah ada dirumah. Ane tanya dia dimana, enggak mau jawab. Akses ane ketemu Abdi juga enggak dikasih izin. Padahal ane kan Bapak-nya Abdi."
Aldo ternganga lebar mendengar penuturan sahabatnya, dia tertawa terbahak-bahak melihat wajah Adit dan kejujuran pria angkuh dihadapannya, "Sorry ... Bukannya lo bilang Abdi bukan darah daging lo? Wajarlah dia menghindar sekarang. Sampai saat ini saja lo masih angkuh, Dit! Bahkan terlalu memaksakan semua keadaan menjadi keinginan lo! Jangan mentang-mentang lo sebagai suami, terus mau semena-mena terhadap istri! Itu enggak bisa, ditambah lo menikah dengan wanita lain, yang sejak awal sudah menjadi pemicu retaknya hubungan rumah tangga kalian."
Adit menyela ucapan Aldo, "Ane cinta sama Evi, bro! Cinta, lo ngerti enggak! Evi tuh masih membekas di hati, sudah terpatri, bahkan sulit buat ane menolak permintaannya."
Aldo menggelengkan kepalanya, dia sangat terkejut mendengar pernyataan cinta Aditya untuk seorang Evi, "Hei ... Monyet, lo tahu sekarang bicara sama siapa? Gue sepupu Nancy, gue ini keluarga istri lo! Untung lo ngomong sama gue, kalau terdengar sama Sugondo, kelar hidup lo! Sadar nggak sih lo, dijatuhkan seperti ini biar bertobat, biar lo sadar bahwa sesungguhnya Nancy itu belahan jiwa lo! Bukan Evi! Sekarang disaat jatuh begini, siapa yang ada selain gue, njiir!"
Aldo benar-benar berang melihat wajah Aditya, dan dia harus menjalankan sesuatu, menjalankan rencana Bethrand untuk memperkenalkan Nancy pada pria blesteran tersebut.
Aldo tersenyum, melanjutkan pertanyaannya, "Apa lo mau, melihat istri lo jalan sama pria lain, terus membuka kesempatan untuk pihak ketiga? Lo yakin enggak akan cemburu? Kalau gue jadi lo, mending terima wanita yang sudah halal buat gue sih, daripada cari yang haram. Udah dosa, penyakitan lagi. Iya kalau enak, kalau buluk bagaimana?"
Aditya menepis semua ucapan Aldo, "Mana berani Nancy dekat dengan cowok lain, orang dia cintanya sama ane!" tawanya angkuh.
"Woooowh ... Pede bener lo jadi orang, setan!" Aldo semakin tertarik untuk mencari selah perasaan Aditya terhadap Nancy.
Lagi-lagi Aldo bertanya, "Kalau ni yah, kalau, lo lihat Nancy keluar sama cowok lebih ganteng, mapan, dari lo bagaimana? Cemburu enggak?"
__ADS_1
Adit langsung menjawab tegas ... "Ya enggak lah! Ngapain cemburu, cewek jaman sekarang enggak bisa dipercaya, pembohong semua!" sesalnya.
"Yakin ... Yang kemaren ngamuk-ngamuk bilang Abdi bukan anak lo siapa ya?" tawanya langsung melanjutkan perkataannya, "Tapi tidak untuk bini gue dan Nancy dong, mereka jujur, bahkan sangat menyenangkan. Untung gue sepupu, kalau orang lain, gue rebut Nancy dari lo, bro! Evi mungkin pembohong, karena kita sudah lihat sendiri bagaimana kelakuan dia di luar sana!" bela Aldo ...
"Sial lo!" geram Adit mengalihkan pandangannya.
Mereka berbincang-bincang ala kadarnya, hanya untuk menghabiskan waktu, namun tampak kegetiran dihati Aditya karena ucapan Aldo yang mengatakan bahwa Nancy akan membuka hati untuk pria lain.
Namun kini Aditya kembali di uji, saat melihat tiga orang yang sangat ia kenali sebagai pengunjung memasuki restoran milik Aldo ...
"Anjir, ngapain Neng Nancy jalan sama tuh bule! Emang dia pikir aku sudah menceraikannya ..." geramnya dalam hati dengan rahang tegas itu semakin mengeras.
Aldo yang belum menyadari kedatangan sepupunya, karena masih menerima panggilan telepon dari rekan bisnis, melihat perubahan pada wajah pria yang ada disamping kirinya tengah menatap ke satu titik, pada satu orang wanita serta dua orang pria bule.
Aldo tertawa, mengakhiri sambungan telfonnya, menepuk pundak Adit dengan sangat keras ...
"Kenapa? Sakit enggak? Kalau enggak sakit, berarti lo emang enggak cinta, tapi kalau sakit, berarti lo cinta sama sepupu gue! Jangan gengsi, Nancy itu istri, bukan pelampiasan nafsu doang!" tegasnya.
Namun Aditya langsung berdiri tegap, untuk menghampiri mereka yang duduk agak jauh dari tempatnya.
Aldo menahan tangan Aditya, "Jangan buat onar di tempat gue! Santai saja, gue kenal sama mereka berdua."
Adit menoleh kearah Aldo, "Nancy itu istri ane! Bukan wanita sembarangan!" tegasnya.
Aldo tersenyum, "Dua bule itu partner bisnis keluarga bini lo! Jangan egois, tolong pilah. Mending kalau mau selingkuh, mereka milihnya hotel, bukan restoran!" tukasnya.
__ADS_1
"Ta-ta-tapi do!"
"Duduk suami egois!" perintah Aldo dengan wajah garang.