
Mobil dinas Aditya terparkir di kediaman Sugondo, tentu saja dinanti oleh dua insan yang tengah duduk terdiam di teras rumah keluarga itu, dengan wajah yang kurang bersahabat.
Sindi langsung menghampiri Aditya dan Nancy ketika melihat pasangan serasi itu turun dari mobil loreng tersebut.
"Hmm kita langsung jalan saja, Neng. Tadi anak-anak sudah Teteh suruh main di rumah Bapak sama Unik. Lagi malas buat ngobrol sama anak jin itu!" tunjuknya kearah Luqman yang langsung berdiri dihadapan Aditya.
Nancy mengangguk setuju, sedikit melirik kearah Aditya, hanya untuk meminta izin, "Neng jalan deluan ya, Mas. Nanti Neng samperin Mas. Kita makan siang bareng. Karena Neng mau ke pabrik dulu. Sebentar ya, Teh. Neng ambil cek dulu ke dalam, tadi Bapak suruh bawa uang sekalian."
Sindi mengangguk, mendengus dingin, melirik kearah Luqman yang masih tampak serba salah.
"Gue kedalam aja, deh! Malas disini, gerah!" Sindi mengibas jemari tangannya, berlalu meninggalkan kedua pria dewasa itu di teras rumah tanpa mau mendengarkan panggilan Aditya.
Aditya menjadi serba salah dihadapan Luqman juga Sindi, karena keduanya merupakan sahabat sekaligus rekan bisnis sang istri.
"Hah! Susah berurusan sama wanita. Makanya dari awal ane bilang sama lo, jangan kasih harapan sama janda. Iya, iya, enggak, ya enggak! Sekarang Mama lo enggak setuju, lo mau ngapain? Mau kawin lari kayak Fredy Guarin yang dikejar parang oleh mertuanya?"
Luqman mengalihkan pandangannya, "Lo ngomong kadang suka asal, ya! Lo nikah sirih sama janda kemaren gara-gara plin-plan juga, kan? Sok-sokan mau nasehatin gue, baik sama Nancy juga baru sekarang!" gerutunya.
Aditya sedikit kesal karena pernyataan Luqman, walau sesungguhnya memang benar, tapi dia semakin kesal, karena sahabatnya itu mengingatkan pada kebodohannya beberapa bulan lalu.
"Terserah deh. Kalau lo emang serius, nikahin Sindi. Kalau enggak ya udah, jangan kasih harapan sebelum lo mengalami kejadian kayak ane! Uang habis, hasilnya tidak ada. Jujur nyesel sih. Tapi bagaimana lagi, sudah jalannya. Jadi nikmati saja!" jelasnya menepuk pundak sahabatnya yang masih menekukkan wajah hitam manis itu.
Tak lama mereka saling berbincang, Nancy keluar sambil memasukkan satu plastik uang dan cek yang terlihat oleh Adit dalam jumlah besar.
Bergegas Adit menghampiri Nancy, hanya untuk sekedar bertanya, "Neng, itu apaan?"
Nancy menjawab enteng, "Uang!"
Aditya mengusap lembut kepala istrinya, "Kamu mau ambil cek dengan nominal segini buat apaan?"
__ADS_1
Nancy menggembungkan pipinya, memperlihatkan angka yang dicantumkan pihak wedding organizer untuk acara resepsi pernikahan mereka.
Sontak nilai fantastis yang tertulis dilayar handphone pipih milik istrinya membuat dada Aditya terasa sangat sesak.
"Resepsi apaan sampe 500 juta Neng!" teriaknya tanpa suara.
Nancy langsung menutup bibir Aditya, dengan telapak tangannya, menepuk bahu suami itu dengan mata melotot.
"Mas sudah tahu menikah dengan siapa? Ini belum seberapa, jadi jangan macam-macam. Ini baru biaya wedding organizer, belum baju, undangan, bahkan tamu-tamu dari Australi, Swiss, dan kampung Bapak? Mau Neng sebutin totalnya?" godanya pada puncak hidung Aditya.
Wajah Aditya yang ternganga, semakin terdiam mematung, karena membayangkan bahwa selama ini dia benar-benar bodoh telah mengecewakan Nancy yang ternyata sangat kaya raya. Bahkan lebih kaya dari keluarga dan pangkatnya.
"Ogh Tuhan, kenapa selama ini aku sangat bodoh telah mengecewakan Nancy, yang ternyata super duper kaya, bahkan dia tidak pernah menunjukkan bahwa dia memiliki harta yang berlimpah padaku. Tapi kenapa dia selalu pelit memberi aku uang saku ...!" geramnya mengepal kuat tangannya sendiri.
Aditya menggelengkan kepalanya, melarang istri tercinta untuk berangkat sendiri, "Masuk ke dalam mobil! Mas yang temanin Neng, biar Luqman dan Asep ngelayat dulu. Mas enggak mau Neng kenapa-napa!"
Sindi yang melihat kemesraan Aditya dengan Nancy, langsung menggoda sahabatnya itu dengan penuh canda tawa.
"Nyesel lo kan? Selama ini tidak memperjuangkan kepentingan istri sendiri. Syukurlah kalau lo sadar, gue ingatin sama lo, ya! Jangan sampai lo ngebuang berlian hanya untuk batu krikil yang tidak akan pernah mendoakan lo! Gue udah denger cerita lo, dari Emi dan Prisil! Awal lo ya, ketemu lagi sama janda gatel itu! Gue aja janda asik-asik aja! Eeh, lo malah nikahin janda yang enggak ada kelasnya! Rendah selera lo, Dit!" tawanya menyeringai lebar.
Aditya yang mendengar penuturan Sindi dan Luqman barusan, semakin merasa bersalah dihadapan Nancy dan mertuanya. Begitu banyak dosa dan kekecewaan yang telah ia lakukan, membuat dia hanya bisa meringkuk di bahu sang istri yang langsung memeluknya.
"Neng cinta kok sama, Mas! Dari dulu sampai sekarang! Sudah, kita jalan sekarang. Karena jadwal Mas banyak, begitu juga, Neng. Kita ke rumah komandan Mas dulu saja. Nanti baru urus gedung!"
Aditya memeluk erat tubuh Nancy yang masih berada didepannya, kembali mengecup bibir sang istri tanpa perasaan sungkan dengan kedua sahabat yang langsung memilih masuk kedalam mobil, karena merasa tidak enak akan melihat dua pasangan yang semakin hari semakin tampak mesra tersebut.
Didalam mobil Luqman langsung meraih handphone miliknya, menulis pesan singkat whatsApp untuk Sindi.
[Menikahlah dengan ku, Sindi. Aku akan menjadikan mu ratu, demi anak-anak kamu. Jika ya, aku akan mengajukan permohonan kepada atasan ku, untuk menjadi militer internasional pasukan elite untuk perwakilan Indonesia di Netherland. Aku mohon ...]
__ADS_1
Sindi yang membaca pesan dari Luqman hanya menghela nafas berat, langsung membalas dengan cepat sambil tersenyum.
[Bagaimana dengan Mama mu ...]
Luqman tertegun sejenak, menyandarkan kepalanya di jok mobil, menoleh kearah mobil yang membawa Sindi berlalu lebih dulu, kembali membalas ...
[Aku siap melakukan apapun untuk kamu, demi kita. Aku janji, tidak akan mengecewakan mu, Sindi ...]
Sindi yang membaca pesan dari Luqman hanya tersenyum. Ia meletakkan handphone miliknya di dalam tas, kembali menatap kedepan, tanpa mau menyapa kedua insan suami istri yang saling berpegangan tangan tanpa mau melepaskan.
Ada keinginan Sindi untuk menerima pinangan Luqman. Tapi ada sedikit keraguan, karena kejadian malam itu.
"Jujur aku belum sepenuhnya bisa untuk melupakan almarhum suami ku, Luqman. Tapi aku juga tidak ingin mengecewakan mu, karena anak-anak sangat menyukai mu ..."
Perlahan matanya terpejam, membendung air mata yang akan mengalir, walau sesungguhnya hati dan pikirannya sangat menginginkan menjadi istri Luqman sejak dulu, sejak masa sekolah, sejak pria itu dinyatakan lulus sebagai seorang militer yang berpangkat.
"Hmm apakah aku harus merebut hati mu kembali? Merebut hati seorang mayor untuk menjadi ayah sambung buat anak-anak ku ..."
Sindi kembali merogoh handphone miliknya, menuliskan pesan singkat agar pria itu tidak menunggu.
[Apakah kamu yakin ...]
Luqman langsung menjawab dengan singkat.
[Ya ...]
[Hmm ... Lamar aku dihadapan Aldo dan Keluarga Sugondo nanti malam, just it ...]
[Oke]
__ADS_1