Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Bukan anak kalian


__ADS_3

Aditya tidak menghiraukan celotehan Nancy yang mengatakan bahwa dirinya gila. Ia memilih mendekati Nancy, dan menggendong tubuh ramping istrinya itu, hanya untuk memberikan kenyamanan, karena perbuatan nakalnya.


Nancy masih menundukkan kepalanya. Kali ini ia benar-benar tidak ingin melihat wajah Aditya yang sangat memuakkan dimatanya.


Adit tertarik untuk terus menggoda Nancy, yang ternyata tak mampu berkutik dengan perbuatan gilanya ...


Perlahan dia mendekatkan wajahnya, hanya untuk melihat raut wajah lelah sang istri tercinta. Namun, saat dia menatap iris mata Nancy, hatinya semakin merasakan sesuatu yang berbeda, membuat ia terus melawan perasaan itu.


Ada perasaan iba, bahkan keteduhan yang Nancy pancarkan mampu membuat Adit merasa sangat tenang dan merasa berdosa telah menyakiti istri sendiri.


Adit mendekatkan kursi mereka, kali ini perasaannya tidak mampu untuk menyakiti Nancy lagi ...


Tangannya meraih tubuh Nancy, yang masih menggigil, mengecup lembut kening istrinya, sambil berkata, "Mas minta maaf, Mas janji enggak akan berbuah begini lagi!"


Nancy hanya terdiam, bibirnya terkunci seakan-akan terhipnotis oleh pesona seorang Aditya. Tangan halus itu meremas kuat baju kaos yang pria itu kenakan, memperdalam pelukan mereka, karena hanya kalimat lembut yang menjadi penguat bagi Nancy, bahkan ia rindukan dari seorang Aditya Atmaja.


Perlahan Adit melepas pelukannya, melihat wajah cantik Nancy yang tak pernah pudar, bahkan sangat menarik perhatiannya.


"Mas suapin kamu yah? Mau makan apa dulu? Sop iga bakarnya atau ayam penyet ini?" tunjuknya.


Nancy tersenyum geli melihat wajah Adit yang sangat menggemaskan jika sudah terlihat lebih baik memperlakukannya.


"Biar Neng saja. Mas jangan ganggu Neng makan, seharian Neng ngelayanin hasrat Mas, badan Neng terasa remuk," rengeknya meringkuk manja.


Aditya tertawa terbahak-bahak, melihat Nancy yang gampang terbuai oleh lembutnya seorang Adit.


"Ya sudah, kamu makan dulu ... Habis ini kita jalan-jalan keluar yah? Mas pengen menghirup udara bebas di luar sana, tapi kamu yang nyetir!" pintanya.


Nancy mengangguk patuh, dia tidak ingin suaminya kecewa jika melakukan penolakan, walau sesungguhnya ia masih terasa sangat lelah.


Itulah mengapa Aditya semakin besar kepala, melihat istrinya selalu bisa untuk menerima maafnya, walau berkali-kali telah menyakiti Nancy dari segi ucapan dan perilakunya.


Berbagai macam tawa canda yang tercipta pasangan suami istri muda itu, dengan situasi yang masih menginginkan keadaan tidak akan pernah berubah, sampai Aditya kembali kepelukan keluarga secara utuh.


.


Sudah lebih dari satu bulan Aditya menghabiskan waktu di barak batalion, untuk mengembalikan kehidupannya normal seperti sedia kala. Sebelum kembali ke masyarakat luas dan berbaur dengan keluarga tercinta.

__ADS_1


Kini tiba saatnya Adit kembali ke kediaman sang istri yang berada di Bandung, namun pria tampan itu menolak kedua orangtuanya untuk menjemputnya di batalion, tentu saja dengan berbagai alasan untuk memberikan kejutan pada Nancy.


Mendengar penuturan sang putra, Atmaja tidak bisa menolak. Baginya kebahagiaan Nancy merupakan satu keharusan yang wajib Adit berikan kepada sang menantu.


Aditya Atmaja, kini kembali berbaur dengan keluarga dan masyarakat setelah mendapatkan wejangan dari dokter untuk memeriksakan kondisi psikologis sang Mayor.


Senyumnya mengembang, saat melihat selembar kertas yang menyatakan bahwa ia sehat secara jasmani dan rohani.


Terlihat senyuman bahagia terpancar dari raut wajahnya, dan bergegas mempersiapkan diri dan semua barang bawaannya untuk kembali ke pelukan sang istri tercinta, Nancy.


Luqman yang akan kembali bersama dengan Adit, dan prajurit lainnya, menepuk pundak sahabat terbaik.


"Selamat, mungkin tiga bulan lagi kita akan naik pangkat! Sepertinya Nancy membawa keberuntungan untuk mu, ditambah kelahiran anak kalian berdua!" ucapnya pada Adit saat menyaksikan sahabatnya berkemas-kemas.


Aditya menaikkan kedua alisnya, "Makanya nikah! Biar ada yang mengurus semua kebutuhan kita sebagai laki-laki. Semua di urusin, semua bro!" tawanya.


Luqman mengangguk-angguk sambil tersenyum, melihat semangat Aditya bergelora seperti pertama kali ia kembali dari Yordania.


"Setidaknya kali ini lo kembali, sudah ada anak dan istri yang menyambut kedatangan lo! Aku bahagia melihat dan mendengar semua cerita tentang baby boy kalian. Ingat, jangan sampai lo sia-siakan Nancy! Karena tidak akan ada kesempatan kedua buat lo jika menyakiti hati wanita selembut Nancy," titahnya sebagai seorang sahabat.


"Aku ingin menemui Evi sebelum kembali ke rumah, karena aku ingin memberikan uang ini padanya ..." tunjuknya pada sebuah amplop yang berisikan uang seratus ribuan sebanyak lima puluh lembar.


Sontak pernyataan Aditya membuat Luqman murka, dan menggeram menantang mata sahabatnya.


"Hei bro! Daripada lo ngasih uang ini sama wanita jallang itu, lebih baik lo ngasih sama anak lo! Pikir pakai otak Aditya! Aaagh!" geramnya menendang kaki tempat tidur.


THAANG ...!


Terdengar suara sepatu PDL milik Luqman beradu dengan kaki ranjang bertingkat itu.


Adit terdiam, wajahnya merah padam, bahkan semakin kesal pada Luqman, "Ane memberi dia karena tanggung jawab! Dia janda bro, janda, dan satu lagi jangan pernah lo bilang Evi wanita jallang!"


Luqman membalikkan badannya, tersenyum tipis, menyunggingkan bibirnya sedikit, "Maaf yah Dit! Daripada kamu memberi harapan palsu pada Evi, lebih baik kamu benahi rumah tangga mu! Nancy lebih baik dari Evi, apalagi kalian sudah memiliki anak. Jangan karena Evi, karir mu untuk mencapai kolonel bintang satu, gagal! Hanya itu pesan ane pada lo! Semua terserah, hidup itu pilihan, dan lo berada dalam pilihan yang seharusnya sudah tahu apa jawabannya!"


Aditya terdiam sejenak, matanya teralihkan kearah lain, dengan hati yang semakin mendongkol pada sikap Luqman. Dia tetap tidak peduli, apapun yang keluar dari mulut sahabatnya, itu merupakan ketidaksukaan yang memang sejak dulu Luqman perlihatkan pada seorang Adit jika sudah membawa Evi bergabung bersama mereka.


Tiba masanya mereka berpisah, Luqman kembali ke kediaman keluarganya yang berada di Pasteur, sementara Aditya melanjutkan perjalanan menuju Lembang.

__ADS_1


Saat kakinya turun dari mobil dinas, matanya tertuju pada perkebunan teh yang terhampar luas milik Keluarga Sugondo, yang kini telah menjadi mertuanya.


Matanya tertuju dalam jarak 10 meter pada pohon kebun teh yang bergoyang-goyang, membuat dirinya sedikit penasaran, kemudian mendekati, hanya untuk melihat apa yang terjadi, "Apa itu? Apakah ada seseorang di sana ...?"


Dengan langkah kaki tegap dan gerakan cepat, kedua bola mata Aditya tampak seperti akan meloncat dari kantung mata, saat melihat tubuh telanjang seorang Evi yang tengah menikmati keindahan surga dunia bersama seseorang pria yang tidak ia kenali.


Evi mendorong tubuh pria yang tengah berada diatasnya itu, walau belum mencapai puncak kebahagiaannya.


Tentu pria tersebut lari tunggang langgang, meninggalkan Evi yang masih melebarkan kakinya, sambil meraih pakaian untuk menutupi bagian intinya.


"Mas Ad-- ..."


Adit langsung membalikkan tubuhnya, menelan ludahnya berkali-kali, karena tidak menyangka akan melihat kejadian yang sangat menjijikkan tersebut.


Perasaan Aditya seketika hancur, bahkan sulit sekali untuk meninggalkan wanita yang telah nyata melakukan dosa tersebut.


Dengan wajah merah padam Aditya membalikkan tubuhnya, untuk melihat Evi kembali, kemudian berkata, "Jadi benar apa yang dikatakan Bapak pada ku, tentang mu! Ternyata kam-- ..."


Ucapannya terhenti, karena Evi langsung berhamburan memeluk Aditya tanpa perasaan malu ataupun berdosa ...


"Mas, maafkan Neng! Jangan hina Neng, Mas! Mas juga harus tahu sesuatu, bahwa istri Mas juga pernah melakukan hal ini pada pria lain. Dan aku melihatnya, belum tentu anak Mas yang dia lahirkan! Percayalah pada Neng, Mas ..."


Tangan Adit mengepal kuat, rahangnya mengeras, dia mendorong tubuh Evi dengan kuat, hingga terjerembab di tanah ...


BHUUG ...!


"Aku kecewa sama kamu!" Kemudian Adit berlari kencang keluar dari perkebunan ...


Evi semakin berteriak keras dan lantang, "Mas ... Istri mu yang sombong itu juga selingkuh! Dan aku pastikan anak itu bukan anak kalian, Mas!"


Adit terhenyak mendengar ucapan Evi, seketika pandangannya kabur dan berkunang-kunang ...


"Aaagh!"


Teriak Adit berlalu, meninggalkan Evi yang masih berada di area perkebunan Keluarga Sugondo, dengan deraian air mata.


Hancur, sakit, bahkan dadanya terasa sangat sesak ... "Kenapa kau lakukan ini pada ku, Evi! Kenapa!" sesalnya menangis menatap langit ...

__ADS_1


__ADS_2