
Tidak menunggu lama. Semua prajurit tiba di kantor pusat pukul 09.00 waktu Indonesia bagian barat. Aditya dan Nancy membuat satu pemandangan yang baru bagi prajurit angkatan darat lainnya.
Bagaimana tidak, seorang pria muda bertubuh tegap dan gagah tampan rupawan, hanya berpangkat Kolonel bintang satu, kini menunggangi kuda besi mewah, dengan harga yang fantastis walau berkisar dibawah angka satu milyar.
Luqman yang melihat tunggangan menantu Sugondo, bergidik ngeri, karena ada perasaan cemburu. Bagaimana mungkin, seorang Aditya Atmaja bisa masuk dan menaklukkan hati mertuanya yang kaya raya atas kesalahan yang pernah dilakukan oleh seorang menantu.
"Woowh ... Hebat banget mobil lo, Dit! Lo apain mertua lo, kok bisa di kasih mobil mewah dalam semalam?" sindir Luqman melirik kearah Nancy yang tidak senang dengan pertanyaan sahabat suaminya tersebut.
Nancy mendengus dingin, melihat beberapa pengunjung yang menghadiri acara pelantikan suaminya, sekaligus akan menghadiri sidang formalitas kasus suaminya beberapa waktu lalu.
"Mas ... Neng duduk di sana yah?" tunjuknya, "Kalau disini, takutnya semakin panas, dan mencakar pria yang ada dihadapan Mas ini," ucapnya dengan mimik wajah garang melirik kearah Luqman.
Luqman terdiam, ia menelan ludahnya sendiri, karena mendengar penuturan Nancy yang semakin menunjukkan ketidaksukaannya.
"Maaf Dit ... Gue bercanda, jangan marah, yah!"
Aditya hanya menggelengkan kepalanya, "Udah, santai saja ... Bini ane emang rada-rada sensitif akhir-akhir ini. Biasa mau datang bulan kata Mbah Google ..." bisiknya merangkul pundak Luqman.
Mereka menuju tempat duduk yang telah di persiapkan. Beberapa wartawan, media cetak, dan televisi meliput siaran langsung, acara pelantikan tersebut, ditambah pencopotan secara tidak hormat kepada Komandan Dida di sesi akhir.
Alvi yang menghadiri acara tersebut, menggeram kesal, karena telah gagal mencelakai dua orang suami istri yang telah menghancurkan kehidupannya sebagai Ketua Ibu Persit di organisasi, serta perselingkuhan suaminya yang terbuka lebar di kesatuan.
Alvi telah mengajukan permohonan cerai pada pihak kesatuan, untuk melanjutkan di pengadilan agama nantinya.
Entahlah, semua keadaan berbalik bak bom bardir yang menghancurkan seluruh harapan Dida serta anak dan istrinya, selaku orang terpandang sebagai bintang satu.
Cukup lama, masa pelantikan, dengan berbagai macam acara yang dihadiri berbagai pejabat tinggi negara, membuat Nancy tersenyum lega, saat nama suami tercinta kembali di panggil sebagai prajurit pilihan angkatan darat terbaik.
Entah berapa kali, suara tepuk tangan terdengar menyambut Kolonel Aditya Atmaja bintang satu, untuk naik ke panggung, memberikan sepatah dua patah kata sebagai ucapan rasa syukurnya ...
"Terimakasih atas dukungannya dari kesatuan militer angkatan darat, yang telah memilih saya sebagai prajurit terpilih dari batalion 608, di bawah pimpinan Jendral Sudirman, dan para petinggi lainnya. Saya ucapkan terimakasih kepada keluarga saya, Bapak Atmaja, serta Bapak Sugondo sebagai mertua, dan istri tercinta Nancy Sugondo. Saya berdiri di sini, karena dukungan mereka, yang dengan sabar menjaga dan menanti kepulangan saya, dari Yordania dan timur tengah. Kepada Nancy Sugondo, saya ucapkan terimakasih, telah melahirkan anak hebat yang di titipkan Tuhan kepada kami, Abdi Atmaja. Mas mencintai kamu, Nan-cy Sugondo ..."
__ADS_1
Terdengar suara tepuk tangan, yang meminta Nancy untuk menghampiri sang suami diatas panggung, membuat wanita cantik itu tersipu malu, dengan wajah merah merona.
Bagaimana mungkin, Nancy harus naik ke panggung, karena ini merupakan acara pelantikan suaminya, bukan acara anniversary pernikahan mereka berdua.
Namun seorang prajurit, mendatangi Nancy, untuk mendatangi suaminya, tanpa perasaan sungkan.
"Ayo Bu ... Kita antar untuk naik keatas pentas ..."
Nancy menggigit bibir bawahnya, menoleh kearah Atmaja juga Sugondo dengan mata berkaca-kaca, dan tawa bahagia.
Entahlah, Nancy bak seorang ratu di hadapan para tamu lainnya, membuat dia menjadi salah tingkah, karena menjadi pusat perhatian bagi para istri-istri petinggi lainnya.
Penampilan Nancy yang sederhana namun tampak sangat elegan, membuat para istri-istri jenderal lainnya menghampiri Nancy untuk memberikan ucapan selamat.
"Selamat yah Bu Nancy, sepertinya kami akan selalu berkunjung ke Bandung ..." tawa seorang wanita yang bernama Ulfa.
Nancy menundukkan kepalanya, tersenyum bahagia, dengan tangan kanan berada di dada, dan memohon izin untuk naik keatas pentas.
Nancy menunduk hormat dihadapan Aditya, jujur ini kali pertama ia menaiki panggung, dihadapan para tamu. Ia membulatkan kedua bola matanya kepada Adit, karena merasa gugup dan enggan untuk melihat kearah tamu ...
"Mas ... Jangan buat malu di sini. Neng malu tahu!!" geramnya.
Aditya memeluk tubuh ramping Nancy, mengecup lembut kepala sang istri, dan merangkul bahu itu dengan mesra. Sambil menanti pejabat tinggi untuk menyematkan pin dan tongkat Kolonel kepada Aditya.
Tepuk tangan yang sangat ramai, dengan di iringi lagu gegap gempita sang prajurit, memberikan satu kebahagiaan tersendiri bagi keluarga kesatuan militer angkatan darat tempat Aditya selama ini bernaung.
Luqman menoleh kearah Ali, mengagumi sosok Aditya yang tampak tenang dan semakin mirip dengan Nancy. Hanya bisa tersenyum sambil berkata ...
"Selamat Aditya Atmaja, lo memang pria yang paling beruntung menikah dengan Nancy. Enggak sia-sia penantian Nancy selama ini, akhirnya ia mampu merebut hati suaminya. Walau sekarang bukan mayor, tapi perjuangannya dari mayor, bro!"
Ali membenarkan ucapan Luqman, "Nanti malam kita pesta pedang pora dong ..." tawanya.
__ADS_1
Luqman mendelik memandangi wajah Ali yang berdiri disampingnya, "Siapa yang nikah?"
"Lo lah! Siapa lagi, masak gue!? Gue mah nikah dua bulan lagi! Lo nikah kan nanti malam di minta Jumaida!!" tawanya mengejek Luqman dengan suara yang tertahan.
"Iiighs ..." tapi mata Luqman mencari keberadaan Jumaida yang ternyata berdiri sedikit jauh darinya.
Jika di tanyakan dalam hati Luqman sesungguhnya, ia menginginkan Jumaida, namun perdebatan dengan sang Mama masih berlangsung, membuat ia mengurungkan niatnya untuk tetap mempersunting gadis lucu yang somplak tersebut.
Setelah melakukan sesi foto bersama dengan para petinggi, tibalah saatnya mereka harus mendengar pemberhentian secara tidak hormat terhadap Dida, yang dibawa langsung oleh polisi militer dengan penuh drama yang sangat mengiris hati.
Bagaimana mungkin, seorang jenderal bintang dua harus berhenti dari kesatuan hanya karena seorang wanita.
Terdengar suara isak tangis Alvi yang terisak, saat mendengar nama suami tercinta, di sebut. Acara hening seketika, tanpa terdengar suara para prajurit, selain suara isak tangis dan pelepasan masa jabatan Komandan Dida secara resmi.
Betapa terkejutnya para istri-istri jenderal, yang mengetahui skandal terlarang Dida dengan seorang janda. Namun, tidak seorangpun mampu mengeluarkan suaranya, hanya untuk menjaga perasaan Alvi yang masih dirundung kesedihan.
Akan tetapi, saat acara makan siang bersama, Sugondo mendapatkan telepon dari Angga, yang merupakan keponakan juga adik kandung dari Aldo, membuat pria paruh baya itu terlonjak kaget seketika ...
[Pak ... Maaf! Mobil Teh Nancy kecelakaan, Abdi pingsan dan Ibu luka-luka. Sekarang kami di rumah sakit swasta daerah Pasteur. Mobil Teh Nancy hancur, Pak ...]
Mendengar kalimat seperti itu, membuat tubuh Sugondo ambruk seketika ...
BHUUG ...!
Nancy yang melihat kejadian tersebut, berhambur mendekati Sugondo, sambil menoleh kearah para tamu yang mendekati mereka.
"Bapak ...! Bapak kenapa? Bapak bangun!!!" teriak Nancy memeluk tubuh Sugondo yang ambruk.
Sementara Atmaja langsung mengambil handphone milik Sugondo, mendengar penjelasan Angga sekali lagi ...
[Abdi pingsan Pak, dan Ibu Ningsih luka-luka, sementara mobil Teh Nancy hancur, karena kami terbalik dan menabrak pembatas jalan ...]
__ADS_1
"Astaghfirullah ...! Innalilahi wa innailaihi rojjiun ...!"