
Suasana bahagia masih menyelimuti relung hati Aditya dan Nancy. Bahagia yang tidak dapat di ungkapkan dengan kata-kata oleh keduanya, membuat mereka hanya saling berpelukan mesra saat berada didalam kamar hotel, tanpa mau menghabiskan waktu keluar kamar, walau hanya sekedar mencari makanan ringan.
"Mashh sakit ..."
Nancy lagi-lagi merengek manja, saat Adit menggigit geram bahu sang istri dengan penuh perasaan geram.
Tangan kekar namun masih terasa halus itu, masih enggan melepas tangannya setelah mendengar semua keluh kesah sang istri sepeninggalannya.
"Terus anak kita dimana, Neng? Apa enggak rewel ditinggal dua hari?"
Nancy menggelengkan kepalanya, membuka baju kaos Adit, kemudian memasukkan tubuhnya kedalam baju suaminya, agar tidak dapat terpisahkan oleh apapun.
Adit yang melihat manjanya sang istri, semakin geram, bahkan memberanikan diri untuk mellumat bibir manis istrinya lebih dulu.
"Hmmfh ..."
Nancy menghentikan ciuman mereka, hanya untuk sekedar saling menatap dan bercerita.
"Neng masih kesal sama, Mas! Kenapa sama sekali enggak pernah kasih kabar sama Neng? Sakit Mas ... Hamil, melahirkan tanpa suport dari suami," rengeknya dengan wajah cemberut.
Adit yang masih menatap mimik wajah cantik sang istri, hanya mengecup lembut kening Nancy ...
"Terimakasih Neng ... Mas bangga punya istri sekuat kamu. Ternyata Mas tokcer, meninggalkan benih di rahim kamu, sehingga membuat kamu hamil dengan cepat," godanya menggigit hidung mancung sang istri.
Nancy yang mendengar pujian dari sang suami, merasa bahagia. Hanya mendengar ucapan terimakasih itu saja membuat hatinya berbunga-bunga, sehingga terbang melayang menembus awan ...
Kedua bola mata indah pasangan suami istri yang kini saling mencintai kini saling menatap. Sudah lebih dari dua jam mereka berada dikamar hotel yang tidak jauh dari batalion, hanya saling mendekap, bercerita, bahkan dengan bangganya Nancy memperlihatkan foto putra kesayangan pada Aditya.
Entahlah ... Di dalam benak Adit, hanya ingin menghabiskan waktu dua hari bersama istri tercinta, tanpa mau membahas hal lain.
Adit mengangkat dagu Nancy, menatap lekat mata indah yang senantiasa memandang penuh cinta padanya ...
"Sejak kapan Neng jatuh cinta sama, Mas?"
Nancy tersipu malu, mendengar pertanyaan sang suami yang ternyata ingin tahu perasaannya.
"Emang penting pertanyaan itu? Kita sudah menikah bahkan memiliki anak, dan ki-- ..."
Adit tak ingin mendengar pertanyaan yang di jawab pertanyaan, "Jawab Neng ... Sejak kapan Neng mencintai Mas?"
__ADS_1
Nancy tertegun sejenak, menunduk malu, menjawab pertanyaan tersebut dengan pelan, "Sejak SMP ... Kenapa?"
Adit mengehela nafas dalam-dalam, dadanya seketika bergemuruh bahkan dapat dirasakan oleh Nancy, detak jantung suaminya kini berdegup sangat kencang.
"Ternyata Neng penyebab semuanya ..."
Nancy terdiam, wajahnya seketika berubah sedikit bingung, "Maksudnya?"
Adit mengalihkan pandangannya kearah lain, wajahnya menggeram dengan mata memerah.
Perlahan Adit kembali mendekap tubuh ramping Nancy dengan sangat erat, mencari bibir mungil nan merah yang sejak tadi saling mellumat, kini melakukannya sedikit kasar ...
"Mashh ..."
Nancy merasakan perubahan pada Adit, seketika menjauhkan wajahnya karena ciuman kali ini sedikit berbeda.
Adit tersenyum tipis, menatap Nancy yang gelisah, namun tidak bisa menjauh, karena berada di baju yang sama, tapi dia berusaha mengendalikan emosi, agar tidak mengecewakan wanita yang masih duduk di pangkuannya sejak tadi, sedikit bergumam dalam hati ...
"Pantas saja Bambang merebut Evi dari ku ...! Ternyata yang menolaknya adalah kamu, Nancy ...!"
Perlahan Adit memejamkan kedua bola matanya, mendongakkan wajah tampan itu keatas, berteriak keras ...
Suara tegas nan lantang itu sontak mengejutkan dada Nancy, yang belum menyadari apa yang membuat suaminya berubah dalam hitungan detik.
Nancy panik, dia memilih keluar dari baju kaos Adit, namun ditahan oleh tangan pria kekar tersebut.
Susah payah Nancy menelan ludahnya sendiri, menatap jakun Adit yang turun naik, memberanikan diri mengusap lembut leher suami tercinta.
Perlahan Nancy mengecup lembut leher suaminya yang masih mendongak keatas, tanpa perasaan sungkan, dengan penuh kerinduan, membuat pria yang berstatus suaminya itu mengeerang, mendekap erat tubuh wanita yang lebih agresif bila di dekatnya.
Adit sungguh tak kuasa menolak jika Nancy sudah lebih aktif menyentuhnya, bahkan sekeras apapun dia menahan, justru semakin terlena seorang Aditya Atmaja.
Dengan tatapan sendu Adit menatap wajah sang istri, "Mas kangen Neng, jujur Mas pengen banget. Lakukan apa yang mau Neng lakukan," ucapnya memohon.
Mendengar kalimat seperti itu Nancy benar-benar melakukannya dengan penuh perasaan cinta, yang sangat berbeda. Dia sangat mengetahui dimana letak titik kelemahan Aditya, karena selama seminggu mereka tak pernah berhenti melakukan hal itu, setiap ada kesempatan, sebelum keberangkatan suaminya setahun lalu.
Perlahan Adit membalas lummatan bibir yang masih terasa sangat manis, menggendong tubuh istrinya, membawa Nancy ke ranjang peraduan mereka, tanpa melepas ciuman hangat, yang semakin lama semakin terasa sangat menggairahkan bagi pria itu.
Kali ini Nancy ingin memanjakan Aditya Atmaja. Sosok pria yang dia cintai sejak dulu hingga saat ini, sehingga mampu memikat hati seorang Adit karena sentuhan indah seorang wanita yang kini telah membius perasaannya.
__ADS_1
"Ahh ..."
Sentuhan tangan Nancy yang lembut pada tubuh Adit, mampu membuat tubuh kekar itu benar-benar di luar batas kendalinya.
Perlahan Adit merubah posisi mereka, membuka semua penghalang yang sejak tadi membatasi gerak kedua-nya, kembali menatap mata indah yang senantiasa menatap teduh seorang suami.
Adit mengarahkan miliknya ke lembah surga yang telah halal bagi kehidupannya, sedikit menekan pinggulnya, namun masih terasa sangat ...
"Mashh ... Pelan, masih sakit ..."
Adit yang tak kuasa mendengar rengekan manja sang istri, kembali memberi sentuhan lembut pada punuk kenyal yang semakin kencang bahkan sangat memabukkan baginya.
"Ahh ..."
Adit tersenyum bahagia, melihat wajah cantik alami istrinya, kembali mendekati wajah Nancy, menatap mata indah nan lentik bahkan ...
"Mas enggak kuat Neng, Mas kedalam yah? Tahan, nanti juga enakan ..."
Nancy yang merasa dirinya juga menginginkan hal itu meremas kuat punggung suaminya, menatap mata sang suami yang juga menatapnya.
"Mashh ... Ahh ..."
Aditya terpesona saat lenguhan Nancy semakin terdengar indah, dia melihat leher istrinya yang mulus, bahkan semakin menghentakkan pinggulnya, sambil menikmati aroma wangi yang sangat khas dihidung nya.
"Kok masih an-nu Neng ... Ini benar-benar hangat banget, jangan salahkan Mas minta terus sama Neng ..."
"Ahh ... Mashh ..."
Nancy sangat menikmati keindahan cinta yang ia rasa semakin berbalas. Entahlah, kali ini kerinduan penantian selama satu tahun, benar-benar terbayar dalam kebahagiaan dan suasana kamar yang berbeda.
Adit menghentak lebih cepat namun penuh kelembutan, sambil mengusap wajah cantik yang tidak pernah bosan jika menatapnya.
"Neng ..." ucapnya menatap mata indah saat mengayuh ketika hasrat yang sudah membuncah di kepala, "Ahh ...!" Adit menyentak beberapa kali, hingga akhirnya menelungkup di atas tubuh indah Nancy.
Peluh kedua-nya membasahi sekujur tubuh, menempel pada anak rambut, sambil mengatur nafas yang masih menderu.
"Mas cinta sama, Neng ..."
Tepat 375 hari menunggu kalimat cinta seorang Aditya Atmaja, menanti di keheningan malam kehadiran sosok mayor bunga dua, yang mampu membuat hati wanita secantik Nancy Sugondo selalu setia menjaga perasaannya sejak dulu hingga kini.
__ADS_1
"Neng juga mencintai, Mas ..."