
Sudah lebih dari tiga minggu Nancy menutup dirinya dari semua keluarga, kecuali kedua orangtuanya. Kali ini ia hanya ingin fokus menjaga kesehatannya, serta Abdi yang masih membutuhkan perhatian ekstra, karena masih berusia empat bulan. Tentu kondisi ini sangat memberatkan bagi wanita seusia Nancy.
Ditambah beban pikiran, yang sangat berat Nancy rasakan. Kali ini Nancy memang tidak ingin membuka pintu maaf untuk seorang Aditya Atmaja. Ditambah pria itu sama sekali tidak pernah datang untuk menemuinya di kediaman Sugondo.
Nancy yang tengah menjalani kehamilan anak kedua, menginginkan sesuatu layaknya seorang wanita yang tengah mengandung dari tangan suami yang memiliki perhatian atau apalah ...
Nancy menoleh kearah Unik yang tengah menyusun botol milik Abdi di box sterilnya, menyampaikan apa yang ia inginkan, "Nik ... Kamu beliin Teteh batagor yang di perapatan lampu merah dong. Rasanya enak banget, sekaligus sate kelinci kuah kacang, tolong beliin dong, Nik?"
Unik tertawa kecil mendengar keinginan anak majikannya, dia hanya bisa menjawab, "Emang Unik mau pergi pakai apa, Teh? Emang ada motor di rumah kita? Coba Unik hubungi Mang Nanang, nanti dia yang akan membelikan."
Nancy mengangguk setuju, namun Nanang sama sekali tidak bisa mampir di tempat yang di maksud wanita cantik itu, meminta anak majikan saja yang melakukan seperti biasa.
"Teh, kata Mang Nanang, dia enggak bisa mampir. Karena masih jauh, takut kelamaan nunggunya," jelasnya.
Nancy mengangguk setuju, dia menitipkan Abdi pada Unik, bergegas mengambil kunci mobil serta tas kecil miliknya menuju mobil yang berada di garasi, melajukan kendaraannya ke tempat yang ia maksud seorang diri.
"Hati-hati Teh!"
Hanya kalimat itu yang ia dengar, saat akan meninggalkan kediamannya.
Nancy sengaja menutup semua akses keluarga Aditya untuk menemuinya, karena tidak ingin melihat Sulastri selalu membahas putranya, agar sang menantu mau memaafkan putra kesayangan mereka.
Bagi Nancy, jika Adit memang laki-laki bertanggung jawab, dia pasti akan menemui istrinya, dan meminta maaf atas perbuatan dan perkataan yang menyakitkan dirinya sebagai seorang istri.
Nancy sengaja memarkirkan mobilnya agak jauh dari warung batagor yang tampak ramai pengunjung, memilih berjalan sedikit santai karena kehamilannya.
Selama kehamilan kedua-nya Nancy sama sekali tidak mengalami perubahan yang berarti. Hanya saja sedikit lelah karena beban pikiran yang sangat menganggu perasaannya.
Saat akan memasuki warung batagor tersebut, mata Nancy seketika beradu tatap dengan sang suami yang tengah duduk dengan seorang wanita yang membelakanginya.
Betapa terkejutnya Nancy, harus menyaksikan suaminya sendiri tengah berpegangan tangan dengan wanita yang ia ketahui adalah Evi.
Begitu juga dengan Aditya, dia tidak menyangka bahwa istrinya akan melihat kejadian itu langsung melepas genggaman mereka berdua, bersusah payah menolak tangan Evi untuk menyentuhnya lagi.
Namun, tidak untuk pikiran Nancy ... Dia semakin jijik melihat Aditya yang ternyata masih menjalin hubungan dengan wanita sampah itu.
__ADS_1
Cemburu, sudah pasti, karena tiga minggu Aditya Atmaja tidak pernah menemui Nancy, melainkan menemui wanita yang menjadi penyebab hancurnya rumah tangganya.
"Laki-laki brengsek! Bukannya nyelesaiin masalah sama istri sendiri, malah buat masalah baru ..." geramnya.
Nancy mengurungkan niatnya untuk membeli batagor kesukaannya, berlalu meninggalkan warung tersebut, tanpa menghiraukan panggilan Adit yang seketika mengejarnya.
Aditya beranjak dari tempat duduknya, karena merasa ini waktu yang tepat untuk menyelesaikan pertikaiannya dengan sang istri, tanpa menghiraukan Evi yang berteriak mencegah Adit berlari dari warung tersebut.
"Mas, Mas Adit!" pekiknya di warung batagor, ikut berlari mengejar Aditya yang ternyata tengah berada di pinggir jalan untuk mengejar Nancy.
Betapa sakitnya hati Evi, karena baru saja dia menerima uang dari Aditya untuk dia dan anaknya.
Terdengar oleh Evi, Aditya memanggil wanita yang masih sah menjadi istri pria yang ia harap akan kembali ke pelukannya, namun ketika melihat Nancy, Aditya kembali berubah dan lebih memilih mengejar Nancy.
Aditya terus mengejar Nancy, memanggil wanita yang masih menjadi istrinya, "Neng! Neng!"
Aditya semakin mendekat, kemudian berhasil meraih lengan Nancy, namun ditepis oleh istrinya, karena merasa jijik setelah melihat suaminya bersentuhan dengan wanita jallang itu.
Namun, dengan sekuat tenaga Adit berhasil membawa Nancy masuk dalam dekapannya. Perasaan cinta yang dulu ada kini tersisa rasa benci yang sangat menyakitkan. Akan tetapi, pelukan Adit yang sangat Nancy rindukan selama ini, mengubur semua rasa bencinya.
"Maafin Mas, Neng. Maafin Mas ...!" kecupnya pada puncak kepala Nancy di pinggir jalan lalu lalang itu.
Nancy tersadar, dia melirik ke belakang suaminya yang ternyata masih ada Evi disana, "Kenapa Mas masih mau ketemu sama jallang itu? Dia yang sudah menghancurkan rumah tangga kita! Dia yang jahat! Kenapa dia yang menjadi pemenangnya Mas?" tangisnya semakin keras.
Aditya hanya bisa berkata, "Neng ... Mas bisa jelaskan."
Akan tetapi, hati Nancy semakin terasa sakit, saat melihat Evi tersenyum sumringah, mengisyaratkan bahwa dia berhasil merebut Aditya kembali dari dirinya.
Seketika Nancy menatap mata Aditya, "Mas jahat, Mas jahat sama Neng! Neng benci sama, Mas!" teriaknya lagi dengan air mata masih berderai membasahi wajah cantiknya.
Saat Nancy akan membalikkan tubuhnya, untuk segera berlalu meninggalkan Aditya, laki-laki bule telah berdiri dibelakang Nancy dan menatap lekat kearah Aditya serta Evi.
Semua hancur, hati Aditya terasa sangat sakit, melihat kehadiran sosok Bethrand yang tiba-tiba muncul, langsung merangkul bahu Nancy dan menunjuk kearah Aditya dengan tangan kirinya.
Aditya tentu tidak terima, bagaimanapun dia masih menjadi suami Nancy. Bergegas dia meraih bahu istrinya yang akan berlalu, kemudian akan menangkap tangan Nancy, namun seketika terlepas dan Nancy kehilangan keseimbangan dirinya, membuat dia terjerembab dijalanan.
__ADS_1
BHUUG ...!
"Aaaagh ...!"
Nancy terjatuh, di pinggir jalan, membuat dia benar-benar berteriak kesakitan.
Kemacetan, klakson, teriakan, terdengar sangat jelas, namun tak dihiraukan oleh dua pria tersebut.
Aditya terbakar api cemburu dengan Bethrand, seketika akan menghujamkan pukulannya namun dihindari oleh pria tampan tersebut.
"Sial ...!" geram Bethrand, saat melihat Nancy menangis merasakan sakit yang teramat sangat menghantam perutnya.
Bergegas Bethrand menggendong tubuh Nancy, untuk segera membawa wanita cantik itu menuju mobilnya.
"Brengsek kau! Akan aku buat perhitungan dengan mu!" teriak Bethrand pada Aditya.
Aditya yang menyadari bahwa terjadi sesuatu pada Nancy mengejar Bethrand, tak menghiraukan Evi yang masih ternganga melihat keributan mereka.
Evi berteriak memanggil Aditya, "Mas! Mas Adit! Bagaimana Neng pulang?" rengeknya.
Sementara Aditya masih berdebat dengan Bethrand, karena tidak boleh memasuki mobil pria bule itu ...
"Silahkan pakai kendaraan mu sendiri! Nancy akan aku selamatkan!"
"Tapi Nancy istri ku, brengsek!" hardik Adit.
Bethrand tersenyum tipis, mengarahkan pandangannya kearah Evi yang masih berdiri di pinggir jalan, "Lebih bagus kamu membawa jallang itu pergi. Karena aku akan menjadi Papa buat Abdi dan anak yang ada dalam kandungannya," tawanya sengaja mengejek Aditya yang semakin terbakar amarah.
Adit melihat tas milik Nancy di pegang oleh seorang ibu-ibu yang melihat pertikaian mereka hanya memanggil salah satu dari pria itu.
"Mas, Mas Mister, ini tas istrinya!"
Bethrand menunjuk pada Adit untuk menegaskan dalam keadaan emosi, "Kau ambil tas istrimu, dan kau bawa mobil istri mu, kau ikuti aku! Bodoh!" geramnya berlalu memasuki stir kemudi.
Adit hanya memikirkan, bahwa Nancy akan di macam-macami oleh bule itu. Kembali mengancam Bethrand tanpa perasaan takut serta bersalah, "Jika terjadi sesuatu pada istri ku, akan aku hajar kau!"
__ADS_1
"Coba saja ...!" tawanya berlalu, melayangkan jari tengah ke udara pada Aditya.