Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Wanita gila


__ADS_3

Dini hari yang mencekam, suara dentuman bom kembali terdengar sangat keras, membuat para prajurit gabungan harus segera menyelamatkan rakyat sipil, yang menjadi korban selama ini.


Duaaar ... Duaaar ...Duaaar ...


Dor ... Dor ... Dor ...


Lagi dan lagi dentuman dari arah selatan menghancurkan seluruh gedung-gedung apartemen, kantor, dan kebakaran di tengah kota negara tersebut ...


"Run!" teriak seorang pria paruh baya, saat akan menyelamatkan putranya yang masih berusia delapan tahun ...


Namun seketika ...


Dor ... Dor ... Dor ...


BHUUG ...


Tubuh mungil itu tergeletak di tanah, dengan darah segar mengalir deras, membuat sang putra kehilangan nyawanya.


Tembakan dari arah yang tidak di sangka-sangka menembus tenggorokan sang putra kesayangan dihadapan sang Ayah ...


Mata merah dan basah itu menoleh kearah Aditya Atmaja yang memegang sniper dihadapan sang putra pria asing tersebut.


Dengan wajah garang dia harus membalas kematian sang putra dengan berlari kencang mendekati Adit, dan akan menghujamkan belati yang ada dalam genggamannya.


Seketika ...


Dor ... Dor ... Dor ...


Aditya Atmaja dapat melumpuhkan lawan yang telah menyandera beberapa tentara militer, dan harus melakukan penembakan atas izin interpol.


Dada Adit bergemuruh seketika, tangannya kaku dan bergetar hebat. Bagaimana tidak, baru kali ini ia melumpuhkan lawan dengan mengorbankan satu orang anak kecil, yang tumbuh dari keluarga pembelot untuk negara mereka.


Cepat Luqman menyambar tubuh Adit, yang akan di hujami senjata dari jarak dekat ...


"Tiarap!"


Dor ... Dor ... Dor ...


Luqman membawa tubuh Adit hingga terjerembab di tanah membuat kedua-nya berguling-guling di tepian jurang ...


BHUUG ...!


Dengan nafas tersengal-sengal mereka berhasil selamat, namun belum mendapatkan di mana letak penjara bawah tanah yang menyembunyikan beberapa pasukan elite dan tawanan sipil.


Aditya yang dapat membaca situasi, seketika melihat seorang pria dari kejauhan yang berlari kencang mencari tempat perlindungan ...

__ADS_1


Dengan sigap kedua pria itu mengarahkan sniper mereka untuk melumpuhkan lawan dari jarah 500 meter, seketika ...


Dor ... Dor ... Dor ...


BRAAAK ...!


BHUUG ...!


Tubuh pria itu tergeletak di tanah, dengan luka tembak di sekujur tubuhnya.


Aditya bergerak cepat mendekati pria itu, yang ternyata pria tersebut merupakan Bambang sahabatnya.


Tatapan Adit mengarah pada Luqman, dengan wajah semakin merah padam, tak kuasa menahan rasa mual nya saat menyaksikan sahabatnya meregang nyawa dengan nafas tersengal-sengal.


Luqman menginjak tangan Bambang yang penuh darah ... "Jawab, dimana penjara bawah tanah kalian, brengsek!"


Bambang tidak mengindahkan, ia mengalihkan pandangannya dengan tangan bergetar hebat, meraih kaki Adit ...


"Ma-ma-maaf kan a-a-a-aku ..."


Bambang menghembuskan nafas terakhirnya, dengan mulut ternganga, dan mata yang terbuka lebar.


Mereka berdua hanya terdiam saat menjadi saksi kematian seorang Bambang, yang menjadi sasaran internasional ternyata mati ditangan mereka berdua.


Kali ini mereka tidak menyangka bahwa Bambang yang merupakan warga negara sendiri bahkan sahabat masa sekolah, ternyata mati di tangan mereka.


Ali yang menjadi saksi dari kejauhan berlari mendekat team elite, menepuk tegas pundak Luqman serta Adit agar tidak terlarut dalam kesedihan.


"Pinggirkan mayat pembelot ini! Kita akan mengeluarkan Fredy! Cepat tinggalkan dia, team lain akan mengurus jenazah nya!" tegas Ali.


Mereka memeriksa tubuh tawanan, mendapatkan kunci penjara, mengambil satu genggam kunci dari pinggang Bambang yang menyangkut di celana belakang, dan bergegas berlari menuju jalan setapak, menuruni anak tangga curam, dengan gerakan cepat.


Jujur jauh didalam hati Aditya kini tengah berkecamuk nasib sang mantan kekasih ... Evi, Evi, Evi dan Evi ...


Namun tidak di benak Ali selaku keluarga Evi. Dia merasa kematian lebih pantas untuk Bambang, karena jika dia hidup juga akan mendapatkan hukuman mati.


Benar saja, di tempat gelap bawah tanah serta pengap, mereka berhasil mengeluarkan tawanan dengan bantuan team militer asing, membawa serta bantuan medis yang sudah menunggu di sana dengan gerakan gerilya.


Tentu tawanan yang sudah hampir 10 bulan di dalam sana sudah tidak berbentuk. Wajah pucat, hitam legam, bahkan sangat bau menyengat membuat mereka hanya bisa bersyukur tentang kehidupan, tanpa memikirkan bentuk para rekan yang masih bernyawa ...


"Cepat tinggalkan tempat ini, karena ada bom aktif yang menyala!" teriakan salah satu militer asing, yang menemukan bom aktif hanya tersisa waktu beberapa menit saja.


"Move!"


"Run! Run!"

__ADS_1


Langkah seribu para prajurit membawa beberapa warga sipil, membuat mereka melangkah cepat meninggalkan tempat tersebut.


Benar saja, saat mereka berhasil keluar dari penjara bawah tanah tersebut, ledakan dahsyat terdengar, menghancurkan seluruh gedung perkantoran tua yang menimbulkan serpihan yang berterbangan mengenai tubuh mereka yang masih berlari kencang.


"Tiarap!"


"Aaagh ..."


BHUUG ...!


BRAAAK ...!


Suasana sepi hanya disinari cahaya kobaran api yang menyala. Seluruh tawanan dan beberapa pasukan militer terjerembab di tanah dengan dada berdebar-debar, nafas tersengal-sengal, bahkan wajah tak lagi berbentuk, akan tetapi mereka semua masih bisa bernafas, setelah menyelamatkan semua tawanan, walau harus kehilangan nyawa seorang pengkhianat, Bambang ...


Luka di lengan dan pelipis Adit tak lagi terasa, karena hanya satu impiannya, melindungi Evi sepeninggalan Bambang, tanpa memikirkan Nancy.


.


Berbeda dengan kondisi Nancy yang tengah menikmati jalan pagi, untuk memperlancar proses persalinannya yang hanya menunggu hari. Dia di temani oleh Nanang juga Angga adik Aldo yang bekerja selama ini di pabrik Keluarga Sugondo.


Nanang yang ikut menggerak-gerakkan tubuhnya, sambil menghirup udara segar perkebunan teh, melirik kearah Nancy yang tengah merentangkan kedua tangannya.


Nanang bertanya hanya sekedar basa-basi, "Neng, kapan lahiran menurut perhitungan Dokter Arlen?"


Nancy mengusap lembut perut buncitnya, menoleh kearah Nanang dan Angga, "Doakan saja seminggu lagi, Nan. Papa-nya sekitar dua bulan lagi pulang. Duh ... Enggak sabar!" tawanya tersenyum sumringah.


Nanang mengangguk, dapat merasakan kebahagiaan yang dirasakan anak majikannya, "Semoga semua sehat yah, Neng! Mang Nanang yang jadi saksi lho," godanya.


Nancy hanya mengangguk, dan tertawa kecil. Dia menolehkan wajahnya, melihat Evi dari kejauhan yang tampak berjalan mendekati nya.


Nanang yang melihat wajah Evi berubah, seperti layaknya janda kesepian yang menggunakan makeup lebih menor dari biasanya, membawa anak majikannya menjauh dari wanita monster tersebut.


Evi berlari, mengejar Nancy yang sudah berbalik, memanggil dengan berteriak keras, "Hei tunggu! Mau kemana kalian hmm? Hah ... Ternyata wanita sombong ini lagi hamil? Apa kamu yakin ini anak Mas Aditya Atmaja? Jangan-jangan anak sopir kamu ini, atau anak dari karyawan pabrik yang angkuh ini!" tawanya mengejek Nancy.


Nancy hanya menggelengkan kepalanya, membalikkan tubuhnya, menantang nanar kedua bola mata Evi.


"Kamu tuh enggak tahu malu, ya! Kamu pikir, orang kampung di sini tidak tahu kelakuan kamu hmm? Maaf yah, kalau kamu menemui saya hanya untuk mengata-ngatai saya seperti yang kamu bayangkan, tampaknya kamu salah orang Nyonya Bambang!"


Nancy mendecih, membalikkan tubuhnya, akan berlalu meninggalkan Evi yang masih berkacak pinggang untuk melakukan penyerangan kembali ...


"Bagaimana kalau ternyata suami kamu Aditya Atmaja mengalami geger otak dan tidak sadarkan diri! Apakah kamu tidak akan berselingkuh dan meninggalkan nya, karena bisa saja dia tidak akan mengingat kamu juga anak mu?" ungkapnya dengan tawa menyeringai lebar.


Langkah Nancy terhenti, dia menghela nafas dalam-dalam, memejamkan matanya, mendengarkan bisikan dari Nanang ...


"Jangan di dengar, Neng ... Dia itu wanita gila di tinggal suami, makanya stress. Kita pulang, nanti Ibu sama Bapak nyariin ..."

__ADS_1


__ADS_2