
Sangat berbeda dengan kondisi Evi dan Dida saat ini. Bagaimana mungkin, kedua insan yang tengah bertelanjang bulat itu, harus mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan secara mendadak, dengan kamarnya dibuka oleh petugas patroli yang tidak ada kerjaan.
Dida yang dalam pengaruh obat laknat, dan baru saja mengoleskan tisu khusus pria dibagian miliknya untuk membahagiakan Evi, kini harus menelan pil pahit yang akan menghancurkan keluarga juga karirnya.
Dida melawan keras saat pihak patroli menutup bagian intinya yang berdiri tegap menggunakan sehelai handuk, "Lepaskan aku brengsek! Aku akan melaporkan kalian, dan akan membuat perhitungan dengan kalian. Aku akan membawa satu kompi batalion untuk menyerang kalian!!!" teriaknya frustasi, karena berada dalam tegangan sangat tinggi.
Evi menggigil ketakutan, sambil mengenakan pakaiannya satu persatu dihadapan tiga petugas patroli dan satu Komandan Dida.
Betapa murah meriahnya tubuh Evi, yang dulu merupakan mantan dari Aditya, kini membanting harga semurah-murahnya semenjak kepergian Bambang ke timur tengah bahkan kembali hanya tinggal nama.
Entah apa yang ada dalam benak Evi saat ini, namun dirinya tidak pernah jera, melakukan hal itu demi untuk meraup keuntungan lebih demi anaknya Eko yang masih berusia satu tahun tersebut.
Miris, hanya kata-kata itu yang dapat Evi terima, saat kedua pria berpakaian bebas itu mendekatinya sambil mengusap-usap bagian terlarang janda itu tanpa permisi.
Evi tidak berusaha untuk menolak, namun sentuhan tangan nakal itu tak mampu dihindarinya, karena tubuhnya merespon dengan sangat baik.
Sontak pemandangan itu membuat Dida selaku partner ranjangnya, merasa jijik, namun sangat berbeda dengan pemikiran kedua pria yang masih menggoda Evi.
"Bagaimana jika kita melakukan bersama, tapi harus pakai uang damai dong!" tawa teman Luqman yang tidak diketahui namanya.
Tanpa pikir panjang, Dida menjawab dengan gampangnya, "Berapa? Saat ini saya hanya ada satu juta, mungkin besok!" tegasnya.
PLAAK ...!
"Aagh ... Sial! Kenapa kau menampar aku!" bentak Dida pada salah satu anggota patroli, yang sejak tadi sudah geram melihat barang pria itu masih berdiri tegak menantang.
Anggota yang masih menahan lengan Dida hanya tersenyum, "Bagaimana mungkin kau mau menutup mulut kami dengan satu juta! Kau pikirkan lah anak istri kami, setan!"
Dida berang, wajah mesumnya semakin terlihat jelas, saat melihat Evi benar-benar sedang dalam genggaman dua pria yang sudah melepaskan benang bagian bawahnya.
Sontak pemandangan itu menarik perhatian Dida yang menginginkan akan hal itu. Tentu ini akan menjadi hantaman keras bagi seorang komandan, karena kelakuan jahanam nya akan menjadi buah bibir di kesatuan.
Entahlah ... Kini Evi benar-benar tak kuasa melawan, karena dirinya pun sangat menginginkan hal itu ... Membuat salah seorang anggota patroli, kembali mencabut miliknya yang tidak merasakan denyutan apapun didalam milik wanita yang tengah menelungkup diatas ranjang ...
__ADS_1
"Njiir ... Enggak enak! Malas gue lanjutin! Suruh Abang ni aja yang menyelesaikan! Habis itu kita bawa jalan-jalan! Kalau enggak ada dana 30 juta hari ini juga, kita kirim dia ke kediaman keluarga nya!" ucap pria itu merapikan pakaian beranjak dari ranjang yang sudah tidak berbentuk.
"Sial, mana ada saya yang sebanyak itu! Saya belum pulang ke rumah! Tolong jangan bawa-bawa kesatuan, karena saya akan mengusahakan dana untuk kalian sebelum pukul 10.00 nanti!" teriak Dida lantang.
Membuat ketiga anggota patroli kembali tersenyum lebar ...
"Gitu dong!! Sudah cepat! Lanjutkan, gue nunggu di luar saja. Maklum, saya tidak biasa rame-rame ..." gelak teman Luqman tersebut.
Kejam, mungkin hanya kalimat itu yang ada dalam benak orang lain, saat melihat satu orang wanita melayani dua hasrat pria dalam waktu bersamaan.
Namun tidaklah untuk Evi, ia justru menikmati permainan itu, tanpa perasaan takut ataupun berdosa. Kali ini kehancuran benar-benar sudah berada didepan mata kedua insan yang ingin menghancurkan Aditya Atmaja.
Tentu barang bukti yang diminta oleh Luqman segera meluncur ke layar handphone milik teman sekolahnya tersebut. Tidak menunggu lama, tepat pukul 07.00 waktu kota kembang, rekaman laknat itu terkirim dengan selamat.
Dengan wajah masih mengantuk pria hitam manis itu membuka mata, langsung melihat siaran live yang di kirim teman sekolahnya.
Kedua bola mata Luqman membulat besar, dan langsung duduk dari ranjang singlenya, mengusap-usap matanya berkali-kali untuk memastikan pemandangan yang ia lihat pagi itu.
Dengan cepat dia langsung menyimpan barang bukti tersebut, jika suatu saat di butuhkan pihak kesatuannya dalam memproses Dida, jika dituntut oleh istri tercinta.
Entah berapa lama Ali dan Luqman berbicara melalui telepon, sehingga mereka melupakan waktu sesi latihan hari itu.
.
Namun ditempat yang berbeda, di hotel bintang lima yang berada dipusat kota kembang, Nancy tengah terlelap pulas, tanpa menghiraukan Aditya yang sejak tadi merengek meminta akan hal itu pada sang istri ...
Aditya yang belum bisa memejamkan matanya, hanya mondar-mandir bak setrikaan membiarkan Nancy beristirahat dengan alasan masih terasa sangat lelah.
Mata Aditya tertuju pada layar handphone milik Nancy yang menyala, tertera nomor beserta nama yang tertulis ... "Bapak ..."
Nancy yang masih meringkuk diatas ranjang kingsize kamar hotel mewah tersebut, masih enggan membuka mata, membuat Aditya memberanikan diri untuk menjawab panggilan telepon dari Bapak mertuanya.
[Ya Pak ...]
__ADS_1
[Siapa ini? Nak Aldo ...]
Aditya menelan ludahnya berkali-kali, karena sangat mengetahui bagaimana Sugondo jika mendengar namanya tengah berduaan dengan putri tercinta.
[Bu-bu-bukan Pak. Adit ... Neng masih tidur, maaf ta-ta-tadi malam enggak sempat memberitahu pada Bapak dan Ibu, kalau kami menginap di hotel pemberian Aldo. Sekali lagi Adit minta maaf, Pak ...]
Terdengar hembusan nafas berat Sugondo dari seberang sana, membuat Aditya semakin merasa gugup.
[Ooogh ... Sudah rujuk. Ya sudah atuh, jangan lupa untuk membeli susu anak kamu lima kaleng! Karena Mang Nanang hari ini enggak sempat mampir di supermarket. Dia lagi sama saya! Oya, sekali lagi kamu buat ulah, saya yang membenamkan kepala kamu di pematang sawah]
Aditya menelan ludahnya mendengar ancaman Pak mertua, hanya bisa menjawab gugup ...
[I-i-iya Pak. Kali ini Adit benar-benar mengaku salah. Aditya minta maaf, Pak ...]
[Hmm jangan lupa susu buat Abdi! Susu! Bukan kamu saja yang butuh susu, tapi Abdi juga butuh susu]
[I-i-iya Pak ...]
Sugondo mengakhiri panggilan teleponnya, menoleh kearah Ningsih dan Abdi sang cucu tercinta, sambil tersenyum sumringah ...
"Kita bakal dapat cucu lagi, Bu! Neng sudah berbaikan dengan Aditya. Alhamdulillah yah, Bu!" tawanya bersorak gembira, menari-nari dihadapan Abdi yang berada dalam gendongan Ningsih.
Ningsih menautkan kedua alisnya, menatap wajah Sugondo dengan kesal ...
"Naha atuh, Aditya disuruh beli susu? Kan susu Abdi masih banyak, Pak?" sesalnya.
"Biarin! Biar dia tahu bahwa anaknya butuh susu!" tawanya mengejek, langsung menghubungi Atmaja, untuk memberi kabar bahwa anak menantu mereka telah berbaikan.
[Kita adain pesta besar-besaran, Mas. Saya mau mengundang orang kampung buat syukuran. Lagian mereka semenjak nikah belum pesta, kan? Jadi kita harus mengadakan pesta besar adat Sunda dan Sumatera yah Mas]
[Atur saja ... Saya akan mendukung semua rencana kamu, Ndo! Yang penting anak-anak bahagia ...]
Namun di hotel bintang lima itu, Aditya masih menatap wajah Nancy dengan penuh kerinduan ...
__ADS_1
"Neng ... Bangun, Mas kangen ..." rengeknya duduk disofa kamar sambil menikmati secangkir kopi hitam.
Walau sudah rujuk, masih saja dianggurin ...