
BRAAK ...!
Dengan gerak cepat, mereka menggerebek rumah kos-kosan yang terletak tidak begitu jauh dari kediaman Keluarga Sugondo, membuat kelima pemuda itu kaget melihat tiga orang pria mendobrak kamar mereka.
Luqman menarik tangan pemuda yang ingin kabur meninggalkan kamar tersebut, "Mau kemana kau!!"
"A-a-a-ampun Bang! Ka-ka-kami cuma duduk-duduk saja di sini, Bang! Kami tidak narkoba!" tunduknya dengan wajah ketakutan.
Luqman melirik kearah satu wanita tengah sibuk mencari keberadaan pakaian yang terbuka, menutupi tubuhnya dengan kedua tangan.
Dengan sigap Luqman, memberikan pakaian gadis muda itu, dan berusaha melindungi wanita itu dari sorotan tajam empat pria muda yang bermaksud buruk pada gadis itu.
"Tidak narkoba, tapi mau ewe gitu! Ikut kami ke kantor, dan hubungi orang tua kamu!" tegas Luqman ...
"Ja-ja-jangan Om! Kami hanya bersenang-senang, Bang. Enggak ada maksud apa-apa ..." tunduk pemuda itu semakin ketakutan.
BHUUG ...!
"Aaagh ...! Apa salah kami Bang!" ringis pemuda itu.
Dengan sigap Ali mengikat tangan mereka menggunakan cable tee, yang selalu mereka bawa, jika ingin mencari mangsa seperti malam ini ...
"Asep, kamu bawa motor mereka, aku karungin anak-anak ini!" geram Luqman, langsung menyeret dua anak laki-laki itu masih kedalam mobil, dan menumpuk keempat pemuda itu di bagasi belakang, dengan tangan terikat cable tee.
Luqman menarik tangan gadis muda yang tampak berusia 17 tahun itu dengan baik, meminta gadis itu untuk masuk kedalam mobil dengan caranya ...
"Kamu mau masuk sendiri, atau saya ikat seperti mereka?"
Gadis itu tampak patuh, memilih masuk kedalam mobil dengan sendirinya, tanpa banyak bicara.
Mereka menuju kesatuan batalion, dengan membawa barang bukti yang ada didepan rumah kos tersebut, membuat para warga setempat hanya bisa mengomel ketika melihat kejadian tersebut.
__ADS_1
"Hmm ... Rasain! Tangkap saja, Mas! Mereka itu songongnya luar biasa, mentang-mentang anak jenderal!" celoteh para ibu-ibu julit melihat kearah mobil yang masih terbuka.
Luqman menoleh kearah Ali, "Siapa anak jenderal bro?"
"Mana gue tahu! Cewek ini kali ... Eh, nama kamu siapa? Kamu kenal sama keempat laki-laki itu?" tanya Ali penuh selidik.
Gadis itu hanya mengangguk, menjawab pertanyaan Ali sambil ketakutan, "Na-na-nama sa-sa-sa-saya Ayu, Bang. Yang anak jenderal Bang Aldi. Bapaknya orang Ambon, Mamanya Bu Alvi kalau saya enggak salah. Tapi sudah lama dia enggak pulang ke rumah, Bang," jelasnya jujur.
Luqman menelan ludahnya berkali-kali, mendengar penuturan Ayu yang menyatakan bahwa salah satu dari pemuda itu merupakan anak dari Komandan Dida.
Tak pikir panjang, Luqman melajukan kendaraannya, menuju kesatuan, karena Aditya dan Jumaida telah menunggu mereka disana.
Entah berapa banyak pertanyaan dalam benak Luqman juga Ali, saat mendengar bahwa salah satu dari pemuda itu merupakan anak dari Dida dan Alvi. Apa maksudnya meminta pada putra mereka untuk melakukan hal keji tersebut.
Setibanya di kesatuan militer, beberapa prajurit melihat kehadiran Aditya serta Jumaida tengah menunggu kehadiran Luqman, dan ternyata Asep tiba lebih dulu di sana, membawa motor yang mereka gunakan untuk melakukan kebodohan malam itu.
Bisa bayangkan para prajurit angkatan darat, harus mengamankan empat pemuda yang masih berusia 18 tahun, untuk menyakiti satu keluarga.
"Ma-ma-maafkan saya, Bang! Saya enggak tahu itu rumah Pak Sugondo. Kami hanya mengikuti arahan Bu Alvi saja ..." ucap salah satu dari mereka dengan terbata-bata.
Antara tega tak tega untuk menyakiti empat anak muda itu, Adit hanya menendang tulang kering kaki Aldi yang duduk di kursi pesakitan militer didepannya.
BHUUG ...!
"Aaagh ... Ampun Bang! Ampun! Aku enggak tahu apa niat Ibu ku, Bang! Mereka hanya meminta ku untuk segera melepaskan selang rem mobil sedan Tante Nancy. Kami sering melihat mobil Tante itu, Bang. Karena ka-ka-kami sering menggoda dia. A-a-a-ampun Bang! Jangan telepon orang tua ku!" tangisnya.
Aditya mengehela nafas dalam-dalam, dia langsung menghubungi Gibran, tanpa mau berbasa-basi atau mendengarkan rintihan anak ingusan tersebut.
[Izin Ndan ...]
[Sampai dimana kasus Dida? Ternyata anaknya yang melepaskan selang rem mobil Nancy kemaren malam! Bisa bayangkan jika salah satu keluarga ku mati! Aku serahkan kemana mereka malam ini]
__ADS_1
Geram Aditya merutuki kebodohan empat anak muda yang sudah mulai di siksa oleh Ali juga Luqman.
[Kirimkan saja ke kepolisian, Ndan. Kalau kita proses di PM (Polisi Militer) pasti habis mereka di sini. Kirim semua bukti, nanti saya bantu proses melalui rekan kepolisian di sana. Karena saya juga masih menyelidiki kematian wartawan atas nama Bambang yang di Timur tengah. Pihak Celine telah menceritakan dalang dari pengkhianatannya. Ternyata semua ini ada sangkut pautnya dengan wanita bernama Evi. Ternyata mereka sindikat yang ingin menghancurkan seluruh pabrik Keluarga Sugondo serta kesatuan atas perintah seorang Jenderal bintang dua! Saya sedang mengumpulkan semua bukti dari Celine. Dan kita akan memproses semua orang-orang yang terlibat didalamnya. Termasuk eee hmm Sigit, yang diangkat menjadi kepala tukang di perkebunan mertua Anda. Ada beberapa hal yang harus kita luruskan di sini, Ndan]
Aditya terdiam sejenak, "Jendral bintang dua? Apakah ada dalang dari semua ini untuk menyakiti keluarga mertua ku? Bahkan memecahkan hubungan antara Pak Sugondo dan Bapak ku? Apakah yang di maksud Gibran Komandan Sudirman? Mereka sering bertemu, bahkan yang membantu ku beliau. Aaaagh tidak-tidak-tidak ... Tidak mungkin Komandan ku akan menyakiti Bapak. Tapi bisa, jadi ... Karena Dida juga melakukannya."
[Oke ... Kalau ada apa-apa hubungi saya. Saya orang terdepan yang akan memberikan perintah saat ini]
[Siap-siap Ndan]
Aditya mengakhiri panggilan teleponnya, menatap wajah keempat pemuda ingusan itu lekat-lekat. Wajah sudah hancur babak belur bahkan tak berbentuk karena tangan Luqman dan Ali yang memukul mereka berempat.
Sementara Jumaida masih mengintrogasi gadis belia yang bernama Ayu tersebut.
Aditya hanya menatap Aldi, yang sama sekali tidak pernah berbohong setiap mereka menanyakan sesuatu padanya. Anak muda itu dengan cepat buka mulut, karena tamparan Luqman hampir merontokkan seluruh giginya.
PLAAK ...!
"Siapa lagi! Sebutkan!!!"
"Eng-enggak tahu aku, Bang! Ampun Bang!" mohonnya menundukkan kepalanya.
BHUUG ...!
"Cepat jawab!"
"Ba-ba-baik Bang ... Yang aku dengar dari Ibu ku cuma Tante Simon, Bang! Istrinya Om Iman! Aku enggak tahu nama kepanjangan suaminya, Bang!!!"
Luqman menoleh kearah Aditya, "Fix ... Komandan Sudirman yang akan mengawasi keberangkatan peti kemas teh bulan depan ke Netherland! Bapak, dan mertua lo dalam bahaya! Ternyata mereka ingin melengserkan Pak Atmaja yang menjadi orang kepercayaan mertua lo, Dit! Lo harus bertindak cepat, bagaimanapun ini menyangkut tentang pekerjaan serta sindikat mereka!" jelasnya dengan nafas terengah-engah ...
Aditya mengangguk mengerti, "Ikat mereka, kita tunggu besok pagi! Aku akan membuat perhitungan pada tukang di pabrik Keluarga Sugondo!"
__ADS_1
"Siap Ndan!"