
Suasana malam yang sejuk, membuat Sindi menunduk hormat kepada Melinda yang akan membawa ketiga buah hatinya kekediaman wanita paruh baya yang berprofesi sebagai dokter itu.
"Mama jalan dulu yah, Sin! Besok pagi kamu dan Luqman harus pindah kerumah Mama, jangan tinggal di sini. Mama malu sama Pak Sugondo, walau dia sudah menganggap mu sebagai anaknya. Tapi kamu menantu Mama, kamu mengerti!" tegas Melinda sebelum memasuki mobil mewahnya.
Sindi menganggukkan kepalanya patuh. Membuat Luqman menjawab celotehan sang Mama dengan penuh tawa canda ...
"Iya Ma. Mama main-main saja sama anak-anak, besok Luqman membawa Sindi pulang kerumah. Malam ini Luqman hanya ingin menikmati indahnya menjadi seorang suami," tawanya sambil mengecup lembut bahu Sindi yang berdiri di sampingnya.
Melinda mengerlingkan bola matanya, karena sangat mengerti bagaimana rasanya menjadi pengantin baru.
Luqman yang memiliki darah campuran Sunda dan Batak, hanya menggoda sang Mama yang ternyata sangat patuh jika Ningsih sudah bersuara.
Kini kedua-nya telah tiba di depan pintu kamar paviliun mereka, tentu Sindi masuk lebih dulu. Karena langkah suaminya terhenti, menerima segala candaan yang diberikan Aditya juga Aldo, sebagai pria yang lebih dulu menikmati indahnya pernikahan dan malam pertama.
Walau sesungguhnya, Aditya sangat berbeda dengan Aldo, tapi candaan mereka mampu menghangatkan suasana yang akan menyambut malam pertama terindah bagi Luqman.
Aditya yang masih berdiri di teras paviliunnya, untuk melepas Aldo yang akan pulang ke kediamannya, kembali berpesan pada sahabatnya tersebut, "Jangan buru-buru. Slowly, yang penting landasan sudah siap menerima pesawat tempur. Harus sabar, jangan sampai hmm, menjerit ..." seketika suara bariton itu berubah menjadi bisikan nakal para kaum Adam.
Luqman menyunggingkan senyumannya, "Tenang saja, tapi kok jantung gue deg-deg-degan yah. Apa karena ini yang pertama? Ahh, enggak kebayang ...!" tawanya semakin terdengar keras, untuk menutupi rasa gugupnya.
Cukup lama mereka saling memberi wejangan, sehingga Luqman memasuki kamar paviliun yang tidak ada bedanya dengan kamar hotel bintang lima.
Dalam benak Luqman, benar-benar berdecak kagum dengan semua fasilitas yang di persiapkan oleh Sugondo untuk kebahagiaan putri angkatnya itu. Kasih sayang yang tidak ada bedanya dengan Nancy, membuat Sindi sedikit sungkan karena mendapatkan perlakuan yang sangat baik, serta dapat dirasakan oleh kedua-nya.
Sindi telah melepas kesendiriannya dengan menikahi seorang perjaka yang memiliki karir cukup baik di dunia militer. Langkah kakinya terhenti ketika bersitatap dengan pria yang dulu menjadi sahabat kini telah menjadi suami dalam waktu yang singkat, sambil berkata.
"Terimakasih, sudah mau menikah sama gue! Sebenarnya gue belum siap untuk menjadi seorang istri lagi. Tapi daripada kita menunggu lama, dan akan menimbulkan fitnah, gue terima. Gue senang sudah bisa dekat dengan lo lagi ..." tunduknya.
Luqman yang terpesona melihat kecantikan alami Sindi yang ternyata sungguh diluar dugaannya, setelah melepaskan hijab dan kebayanya, membuat tubuhnya semakin mematung tak bergeming.
__ADS_1
"Sin, lo yakin sudah pernah melahirkan? Kenapa hmm, maaf ... enggak jadi deh. Gue bersih-bersih dulu!" Luqman menghela nafasnya dalam-dalam dengan berbagai pertanyaan dibenaknya, berlalu meninggalkan Sindi yang akan menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslimah.
Mendengar pertanyaan Luqman yang sangat mengagumi sosok Sindi, ketika hanya menggunakan daster pendek tali satu, tanpa penyangga. Langsung tersenyum bahagia kemudian mengenakan mukenanya.
Jantung kedua-nya sama-sama berpacu, karena akan menjalankan ibadah malam mereka sebagai sepasang suami istri yang sudah halal beberapa jam lalu.
Cukup lama Luqman melakukan ritualnya membersihkan diri, kemudian melanjutkan ibadahnya setelah melihat Sindi mengucap salam.
Entah mengapa, ketika iris mata sepasang suami istri itu bertemu, semakin cepat degub jantung memompa didalam sana.
Sindi yang merasa kelelahan, langsung merebahkan tubuhnya diranjang kingsize kamar paviliun tersebut, dan mengalihkan pandangannya kelayar handphone yang kini ada digenggaman nya.
Setelah melakukan ritual-ritualnya sebelum tidur, Luqman memberanikan diri untuk mendekati Sindi, sedikit menuntut haknya kepada sang istri.
"Hmm ... Sin!" sapanya, sedikit beringsut meraih handphone yang ada di genggaman tangan sang istri, kemudian meletakkan di nakas, dan langsung mengalihkan pandangannya kearah wanita cantik itu.
"Emang kita mau ngapain malam ini, apa lo sudah siap?" tanyanya menelan salivanya susah payah, kembali mengalihkan pandangannya kearah lain karena perasaan gugup.
Luqman mengangguk perlahan, "Ya, gue mau hmm menjadi Papa untuk anak-anak kita. Apa lo sudah eee ..."
Sindi enggan untuk menjawab, kali ini dia hanya ingin memberikan kewajibannya sebagai seorang istri untuk pria yang benar-benar sudah menjadi suami halalnya, tanpa perasaan berdosa ataupun sembunyi-sembunyi seperti janda lainnya diluar sana.
Begitu indah malam itu, yang hanya di terangi temaram lampu senja, menemani dua insan yang akan mereguk kebahagiaan untuk pertama kalinya.
Kedua-nya benar-benar terlarut dalam perasaan cinta dan sayang, berkali-kali terdengar errangan keikhlasan dari bibir mereka berdua, karena Sindi benar-benar mencintai Luqman sejak dulu.
Ketika sesuatu yang semakin mengeras itu akan menerobos masuk kedalam lembah milik Sindi, dengan berbagai dessahan yang membuat Luqman merasa sudah yakin dengan hasrat yang semakin membuncah menuntut untuk sebuah penyelesaian, tiba-tiba ...
"Sin ... kok susah banget! Jangan bilang lo massih perawan ...?"
__ADS_1
Sindi yang masih menahan rasa perih karena gesekan-gesekan dibawah sana, hanya menjawab sambil meremas kuat lengan Luqman, "Ssht ... jangan banyak bertanya, gue ikhlas kok, karena ahh ..."
Tubuh Luqman benar-benar bergetar hebat, ketika akan menerobos satu dinding pertahanan seorang janda yang ternyata masih perawan.
"Ogh Tuhan, ternyata Sindi masih perawan ...? Ada apa dengan pernikahan pertamanya? Terus, siapa ketiga anak itu ...? Kenapa dia terlalu sayang pada ketiga anak yang ia anggap sebagai darah dagingnya ..."
Lagi-lagi Luqman menatap wajah Sindi yang benar-benar tampak menggigil karena menahan rasa sakit, "Ka-ka-kamu masih pe--, maafkan aku, Sin."
Dengan susah payah Luqman memposisikan miliknya agar Sindi tidak berteriak, tapi wanita yang berada di bawah kungkungannya itu menjerit kesakitan, ketika benda keras itu terus menyelusup, menghentak bahkan merobek sesuatu untuk memasukinya.
PLAK ...!
"Augh, sakithh ..."
"Ahh, ini juga sa-sa-sa-sakit banget dodol!" geramnya, menahan rasa perih yang teramat sangat mengatur nafasnya naik turun, setelah menampar Luqman yang telah berhasil merobek kulit terhalusnya dibawah sana.
Luqman memejamkan matanya, menahan rasa hangat yang sungguh luar biasa, mengusap lembut kepala Sindi, mengecup bibir basah itu berkali-kali agar memberikan kenyamanan juga ketenangan bagi perasaannya.
Perlahan Luqman berbisik ketelinga Sindi hanya untuk sekedar mengalihkan pikiran dari rasa sakit yang benar-benar menyiksa, karena merasa penuh bahkan sangat menyesakkan.
"Anak siapa yang tiga itu, Sin?"
Sindi mengalihkan pandangannya, tapi pandangannya kembali menatap Luqman dengan perasaan cinta.
"Jangan pernah tinggalkan gue, karena gue telah menyerahkan seluruh hidup gue buat lo," kecupnya lembut sambil mengusap lembut tubuh kekar itu agar kembali bergerak.
Entah mengapa, air mata Luqman mengalir, dia mengecup lembut kening janda yang ternyata masih perawan, tanpa mau bertanya lagi. Cinta masa sekolah, perhatian yang dulu pernah tercurah, ternyata Sindi benar-benar menyimpan satu rahasia yang tak seorangpun tahu ...
"Kenapa lo enggak pernah cerita bagaimana sakitnya rumah tangga lo, Sin?"
__ADS_1
Sindi menggelengkan kepalanya, "Gue mencintai Dedrick waktu itu, dan gue harus mencintai anak-anaknya. Walau sebenarnya dia telah menipu gue setelah kami menikah. Hmm, sudahlah. Dedrick sudah tenang, dan gue harap jangan pernah lo cerita masalah ini sama siapapun, termasuk keluarga kita. Gue mencintai lo, Luqman."
Luqman mengusap lembut punggung telanjang yang masih meringkuk di pelukannya, bergumam dalam hati, "Gue juga mencintai lo, Sin ... ternyata lo istri yang tidak pernah tersentuh selama lima tahun ...! Gila tuh bule ..."