
Tidak ada kata terlambat untuk memulai hari yang baru. Tidak ada kata sulit jika hati sudah terpatri untuk ditakdirkan menjadi satu.
Kini telah duduk didepan meja rias kamar Nancy, dikediaman Sugondo untuk menikahkan janda beranak tiga yang menjadi sahabat putri kesayangan mereka, Sindi dan Luqman.
Ketiga buah hati Sindi tersenyum bahagia melihat sang Bunda akan menikah lagi setelah kepergian Ayah mereka beberapa tahun lalu.
Juno yang dianggap sebagai putra pertama Sindi dengan suami tercinta, berkata penuh perasaan bahagia, "Bunda cantik. Sangat cantik, Juno senang akhirnya Bunda bisa membuka hati. Semoga Papa baru kami sangat menyayangi kita ya, Bun," kecupnya dipipi Sindi.
Tak dapat menahan air matanya, Sindi hanya bisa mendongakkan wajahnya, agar terlihat tenang walau keringat dingin mengucur deras membasahi tubuhnya yang terbalut kebaya, dan hijab yang dibantu Emi untuk meriasnya.
"Selamat ya, Teh. Terkadang kita punya rencana lain, tapi Tuhan membuat satu rencana yang sangat mengejutkan bahkan menyenangkan," senyumnya mengembang lebar.
Sindi memeluk tangan Emi yang masih berdiri dibelakangnya, "Makasih ya sayang. Kalian berdua sangat baik, dan bertanggung jawab atas Teteh. Walau sesungguhnya Teteh enggak harus menikah dengan cara seperti ini. Mendadak, bahkan membuat jantung Teteh enggak karuan. Sepertinya, begitu banyak kejutan karena mengenal kalian lebih dekat," sungutnya dengan mata berkaca-kaca.
Nancy yang mendengar celotehan Sindi, hanya tertawa kecil, "Sudah siap, Teh? Yang penting Teteh harus bahagia, jangan pernah menggantungkan hidup sama siapapun, kita wanita harus berdiri diatas kaki sendiri. Biar mereka pria yang berfikir, kita pantas atau tidak untuk diperjuangkan!"
"Setuju!" Emi merangkul bahu Nancy, kemudian saling berpelukan.
Tidak lama mereka saling menguatkan, terdengar suara ketukan pintu dari arah luar, untuk memanggil Sindi dan kedua wanita yang menjadi sahabatnya.
Perlahan Prisil, melongokkan wajahnya kedalam kamar hanya untuk memastikan ketiga wanita itu telah siap merias janda muda itu.
"Bagaimana, sudah selesai?"
Sindi yang tampak gugup, berusaha untuk menelan ludahnya sendiri. Ada perasaan mual, bahkan membuat tangannya benar-benar dingin dan perasaan yang tidak karuan.
"Bismillah! Aku hanya pasrah untuk terus bersama sahabat sekaligus akan menjadi suami. Agh lucu sekali aku menikah dengan perjaka ting-ting ..."
Tak lama mereka saling menatap, perlahan membawa Sindi untuk bertemu dengan pria yang sudah duduk dihadapan penghulu, serta Sugondo yang akan menjadi wali untuk menikahkan Sindi dan Luqman.
Luqman terkesiap ketika melihat wanita yang dulu tampak kucel, urakan, dan tidak tahu malu, kini tampak anggun, cantik, dan berkharisma walau sudah memiliki tiga anak dan berstatuskan janda di usia 27 tahun.
Berkali-kali Luqman berusaha menelan ludahnya, karena enggan mengedipkan mata seperti terhipnotis melihat janda cantik tersebut.
"Hmm, kenapa kita tidak menikah ketika lulus sekolah, Sin? Kenapa justru kita di pertemukan dengan cara yang sangat lucu, bahkan aku akan menjadi Papa sambung untuk ketiga anak kamu. Beruntung sekali aku, menikah dengan paket lengkap yang sangat sempurna ..."
Sindi yang tidak mampu untuk bersitatap dengan bola mata Luqman, hanya menunduk malu dan hormat dihadapan para tamu.
Sesekali mata Sindi melirik kearah Aldo, menundukkan wajahnya dengan satu senyuman mengisyaratkan terimakasih sudah datang untuk menjadi saksi pernikahan yang kedua kalinya.
__ADS_1
Sindi memilih duduk tidak jauh dari Aldo dan Adit yang duduk bersebelahan dengan pasangan mereka masing-masing, hanya bisa berkata ...
"Terimakasih ya, Dit! Gue hanya bisa menuruti semua keinginan anak-anak dan mertua kamu juga Ibu kamu!" senyumnya menyeringai kecil.
Aditya mengangguk pelan, "Selamat. Ane harap setelah ini kalian bisa bahagia."
Aldo yang mendengar ucapan Aditya, tersenyum sumringah. Walaupun dulu dia pernah menjalin hubungan dengan Sindi selama di Eropa, tapi tetap saja tidak pernah melarang ataupun mengganggu pikiran wanita itu untuk memilih masa depannya dengan semua keputusan yang mereka ambil kala itu.
Kecewa, sedih, karena Sindi memutuskan untuk menjalin hubungan yang serius dengan Dedrick, membuat Aldo hanya bisa menahan rasa sakit itu sendiri, dengan menerima Emi menjadi istri atas perjodohan keluarga yang berhasil bahagia.
Tidak ada rasa cinta, tidak pernah ada perasaan sayang, tapi Aldo berusaha mengikhlaskan Sindi yang memilih bahagia seperti saat ini dengan Luqman.
Kedua-nya hanya mantan, yang bisa menutup halaman paling akhir kisah cinta masa lalu. Tidak ingin menjadi perusak ataupun menghalangi jalan hidup yang sudah menjadi pilihan dalam hidup mereka.
Sementara disudut ruangan sebelah kiri, tengah berdiri Jumaida sambil meredam rasa sakit yang teramat dalam, karena pernikahan Luqman dan Sindi terlalu cepat juga mendadak.
Ijum hanya bisa bergumam dalam hati, "Kenapa Tuhan tidak pernah berpihak pada ku dalam menemukan tambatan hati? Kenapa ini menjadi sangat sakit, dan tidak bisa aku terima? Apa karena harapan ku terlalu besar pada Luqman ...?"
Wajahnya tertunduk, ketika Sugondo menandatangani berkas perwalian atas Sindi, yang menjadi tanggung jawabnya sebagai orang tua pengganti, karena janda cantik itu tidak memiliki keluarga lain.
Hidup yang penuh liku, telah ia jalani bersama Dedrick, selama lima tahun pernikahannya yang penuh rahasia. Kepercayaan keluarga bule itu terhadap Sindi dalam merawat Dedrick selama sakit, membuat mereka memberikan materi yang cukup juga memberikan kebebasan pada Sindi untuk merintis karirnya sebagai single parents yang seharusnya tidak menjadi tanggung jawabnya.
"Bagaimana? Bisa kita mulai?" tanya Pak Penghulu yang sejak tadi membolak-balikkan semua berkas, setelah penandatanganan hak perwalian Sindi.
Luqman menatap wajah Sugondo, sesekali melirik kearah Sindi yang duduk diantara Nancy dan Aditya, diapit dengan Aldo juga Emi.
Sugondo mengangguk, karena tidak ada yang harus mereka tunggu. "Ya! Kita mulai saja!"
Dengan mantap, Luqman menyambut tangan Sugondo, dihadapan Melinda yang sejak tadi bermain dengan calon cucunya, sambil menepuk-nepuk bokong Mery yang meringkuk di pangkuannya.
Tanpa menunggu lama ijab kabul terucap dari bibir Sugondo, di sambut dengan sangat cepat oleh Luqman ...
"Saya terima nikah dan kawinnya Sindi binti almarhum Lazuardi dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan 50 gram emas 24 karat tunai!"
"Sah, sah, sah," tanya penghulu kepada para saksi yang hadir, membuat mereka mengucapkan 'Alhamdulillah' secara bersamaan, setelah mendapat anggukan dari Atmaja, juga Melinda yang turut senang menerima sang menantu.
Keluarga besar Nancy menghela nafas panjang, mengusap wajah masing-masing, setelah mendengarkan Penghulu membacakan doa-doa pernikahan.
Sindi hanya bisa menangis haru, ia tidak menyangka bahwa malam itu merupakan pernikahan kedua-nya, dengan pria yang merupakan sahabat sekaligus laki-laki idamannya masa sekolah dulu.
__ADS_1
Perlahan Luqman berdiri, menghampiri Sindi, untuk memeluk wanita yang kini telah menjadi istri sahnya.
Jantung kedua-nya berdebar-debar, Sindi semakin tampak salah tingkah, bahkan dia tidak menyangka bahwa Luqman benar-benar melakukan apa yang menjadi keinginannya.
"Lo enggak bisa lari lagi dari gue, Sin! Karena kita sudah menikah!" bisiknya lembut, sambil membuka selendang penutup wajah cantik sang istri.
Sindi menganggukkan kepalanya, berusaha tersenyum, memandangi ketiga buah hatinya yang tertawa sambil menunjukkan layar handphone miliknya kearah sang Bunda.
Perlahan Sindi menghela nafas berat, ketika menerima mas kawin yang di berikan Luqman, membuat dia tersenyum sumringah.
"Terimakasih Luqman! Kamu sudah mau menerima aku untuk menjadi pendamping hidup mu," kecupnya pada punggung tangan pria hitam manis tersebut.
Entahlah, kali ini Luqman hanya bisa tersenyum bahagia, walau dia telah menikahi seorang janda.
"Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang indah buat kita, Sin!" bisiknya lagi.
Sindi semakin gelisah, berkali-kali dia menolak tangan Luqman yang mencoba untuk merangkul bahunya karena perasaan risih.
"Jangan pegang-pegang disini! Aku malu ..." geramnya meremas kuat lengan pria gagah itu.
Luqman tersipu malu, kali ini ia merasakan kebahagiaan yang berbeda, tapi pandangannya harus menerima kenyataan bahwa di sudut ruangan, Jumaida benar-benar menangis setelah ijab kabul pernikahan mereka.
"Maafkan gue, Jum! Gue benar-benar minta maaf ..."
____
Hai hai hai ...
Bulan ini author akan memberikan give akhir tahun. Yuk silahkan tinggalkan komentar, karena akan ada give untuk yang banyak komentar, juga like. Cerita ini akan semakin seru ...
Ditambah cerita baru yang updatenya sedikit santai, karena merupakan romans fantasi.
#Cinta Suci Seorang Sultan, menceritakan perjuangan suami untuk mempertahankan rumah tangga mereka, demi menyelamatkan anak yang terlahir bukan dari benihnya. Cinta tulus yang ia miliki membuat, berkali-kali memaafkan istrinya, ketika mengetahui perselingkuhan yang kembali terjadi. Simak yuk kisahnya ...
#Putri Tujuh Kesayangan Kaisar Muda, ini merupakan cerita time travel, seorang gadis muda yang hidup di dunia modern setelah tersadar dari tidur panjangnya yang bernama Putri, yang memiliki kekuatan untuk memakmurkan satu wilayah dengan sentuhan tangan dan mata batin yang ia miliki, karena ada enam saudara kembarnya yang masuk kedalam jiwanya.
Berhasilkah seorang Kaisar Muda, yang merupakan keturunan Kerajaan Mangku Muda, untuk jatuh hati padanya, ketika satu petaka menimpa wilayah yang ia pimpin. Simak juga yuk kisahnya ...
Cuus mampir, jangan lupa like dan komentar, paling banyak komentar, paling banyak author kasih give terbaik. Terimakasih, 🙏🙏
__ADS_1