Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Mual


__ADS_3

Pagi menjelang, memasuki bulan pertama kepergian Aditya sang abdi negara, membuat Nancy lebih bersemangat menghabiskan waktu di pabrik dan berkumpul seminggu sekali dengan ibu-ibu Persit lainnya.


Tentu dengan drama yang sangat memusingkan kepala Nancy sebagai wanita biasa saja. Ibu-ibu Persit yang sangat suka membicarakan tentang hal-hal yang sangat merusak mood Nancy sebagai istri seorang mayor.


Tak sedikit dari mereka sangat memuji Nancy, namun ada juga yang membandingkan dengan Evi.


Entah kenapa, jika mendengar nama wanita bernama Evi tersebut, dada Nancy naik turun, bahkan semakin sesak di buatnya.


Contoh kini mereka tengah berada di acara rapat di ruang pertemuan, yang menjadi tempat biasa ibu-ibu Persit Kartika mengadakan rapat organisasi, akan menggalang dana atau berupa bantuan untuk pasca gempa yang melanda salah satu daerah di Indonesia.


Sontak mata mereka tertuju pada Nancy, yang merupakan putri kesayangan dari pengusaha perkebunan teh terbesar di daerah kembang tersebut.


Berkali-kali Nancy menelan ludahnya, melirik kearah ibu-ibu yang lain, agar mengalihkan pandangan mereka darinya.


"Bu Mayor, ayo dong beri kami teh terbaik untuk korban gempa. Hitung-hitung sedekah," ucap salah satu ibu-ibu yang suka mengganggu Nancy, dari penampilan yang sangat sederhana tanpa perhiasan dan kemewahan.


Nancy hanya tersenyum tipis. Dia tak ingin menjawab, karena semua itu bukan wewenang Nancy sepenuhnya.


Entah kenapa, hari ini Nancy tidak ingin berbasa-basi dengan para organisasi yang hadir pagi itu. Kepala pusing, bahkan membuat perasaan mual semakin bergejolak dan ingin mengeluarkan semua isi perutnya.


Bergegas Nancy berlari kecil menuju toilet, karena tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya ...


"Uweeek ... Uweeek ... Uweeek ..."


Perut Nancy benar-benar bergejolak, bahkan membuat matanya berair dan pipi terasa mengembang karena merasa kepala yang meremang seperti orang yang terkena hipertensi.


Nancy menyandarkan kepalanya didepan cermin toilet, membasahi wajahnya dengan air, agar merasa nyaman dan segar kembali.

__ADS_1


Seketika Nancy teringat terakhir ia periode, saat tiga minggu sebelum Adit berangkat ke Timur Tengah.


Nancy menatap lekat wajahnya di cermin, melihat semua perubahan yang terjadi, jika wanita benar-benar hamil, sehingga mengalami perubahan pada bentuk tubuh seorang wanita seperti yang ia baca.


Tangan halus nan lembut itu menyentuh bagian kenyalnya, yang tampak belum ada perubahan apapun, bahkan semakin terasa kencang. Namun wajah cantik itu terlihat lebih pucat, dan tampak lelah karena kurang istirahat.


Nancy menghela nafas berat, bergumam dalam hati, masih menatap cermin toilet, "Bagaimana jika aku benar-benar hamil? Kenapa Mas Adit meninggalkan benihnya disaat dia tidak ada? Aku ingin merasakan hamil dan melahirkan dekat dengan suami tercinta. Agar aku dapat merasakan, bagaimana rasanya menjadi ibu sekaligus istri yang sempurna."


Mata Nancy seketika berkaca-kaca, saat mengingat semua yang akan menjadi pergumulannya sepanjang hari jika benar-benar ia di nyatakan hamil.


Tangan halusnya kembali mengusap perut ramping, yang masih terbalut dengan kemeja, "Selesai dari sini, aku harus mampir ke Bidan Siska untuk cek kondisi ku."


Nancy berlalu, meninggalkan toilet ruang pertemuan untuk berkumpul lagi dengan ibu-ibu lainnya. Wajahnya terlihat membaik, setelah menghirup minyak angin yang biasa ia bawa kemana-mana.


Tak lama Nancy berada di sana, acara mereka selesai. Sesuai perencanaan awal, wanita yang berstatus istri mayor tersebut hanya menyumbang uang tunai senilai 15 juta dari pabrik teh Sugondo.


Lagi dan lagi, uang tunai yang Nancy bawa itu menjadi bahan gunjingan bagi ibu-ibu yang berada di ruangan tersebut.


Alvi mendekati Nancy, berbisik ketelinga wanita cantik tersebut, "Aduh Mba Nancy, bagaimana ikut arisan sama ibu-ibu jenderal. Pasti dapat keuntungan lebih banyak! Sebulan hanya lima juta perbulan," angguknya untuk meyakinkan.


Nancy menggelengkan kepalanya, dia tersenyum tipis, melihat Ibu Alvi kemudian berkata, "Maaf Bu. Saya kurang suka arisan. Karena terlalu banyak kegiatan di pabrik!" tegasnya.


Alvi hanya mendengus dingin, mendengar penuturan Nancy yang tidak tertarik berkumpul dengan ibu-ibu pejabat tinggi yang lebih wow.


"Kamu punya uang banyak, bahkan lebih besar penghasilan kamu daripada suami. Tunjangan mayor juga tidak sampai 15 juta, kan? Sudah ikut saja, biar banyak teman! Karena kamu punya kendaraan juga mewah. Biar tahu mereka, bahwa istri Aditya Atmaja itu benar-benar orang kaya, dan tidak menutup kemungkinan suami kamu di pulangkan dengan cepat," rayu Alvi panjang lebar.


Nancy tetap menggeleng, "Maaf Bu. Saya tidak tertarik. Mungkin lain kali, yah? Saya permisi!"

__ADS_1


Nancy mengambil tas kecilnya, berlalu meninggalkan ruangan pertemuan, yang masih terdengar suara ocehan kaum ibu-ibu julid yang membicarakan nya.


Perlahan Nancy menghela nafas panjang, dia mengusap lembut kepalanya, membuka pintu mobil, kemudian berlalu meninggalkan kesatuan tersebut.


Sepanjang perjalanan, Nancy hanya ngedumel sendiri. Bagaimana mungkin, dia dipaksa untuk gabung dengan istri para jenderal yang selalu mengawal pengiriman barang ekspor keluarganya.


"Maaf Bu Alvi, saya bukan enggak mau! Tapi pasti mereka akan memperebutkan keluarga ku untuk menjadi pengawal mereka, dan meraup keuntungan lebih besar ... Seperti tidak tahu saja pancingan kecil yang di tawarkan Bu Alvi ..."


Nancy hanya geleng-geleng kepala, membayangkan jika semua orang dalam kesatuan mengetahui siapa istri Aditya Atmaja.


"Saat aku datang tanpa sopir saja, sudah banyak yang bertanya-tanya. Apalagi aku bergabung sama mereka! Bisa-bisa Bapak bingung dan memutuskan kerja sama dengan mertua ku yang selalu berurusan dengan Om Nanta. Mereka tidak tahu saja ... Uuuugh!" geramnya sepanjang perjalanan.


Nancy mengehentikan mobilnya di depan rumah Bidan Siska, yang merupakan sepupu dari Ningsih. Kepalanya masih terasa cenut-cenut, kembali mual tak seperti biasanya.


"Hmm ... Mudah-mudahan hanya masuk angin biasa," ucapnya sendiri saat turun dari mobil.


Siska yang melihat mobil keponakan jauhnya ada di depan rumah prakteknya, menyambut kedatangan Nancy dengan pelukan hangat.


Siska bertanya sembari memeluk tubuh Nancy dengan erat, "Aduuh ... Si geulis sudah tiba saja di sini. Apa kabar geulis?"


"Baik Tante," balasnya memeluk tubuh Siska yang masih terlihat ramping walau sudah memiliki tiga putra yang masih dalam pertumbuhan.


Siska mengusap kening Nancy, karena melihat wajah wanita itu sedikit pucat, bertanya karena menaruh curiga pada kondisi keponakannya tersebut, "Kamu hamil? Kok pucat banget? Mas Adit emang sudah pulang?"


Nancy menggelengkan kepalanya, menjawab sambil duduk di kursi yang telah tersedia.


Nancy menjelaskan serta bertanya, dan memijat pelipisnya yang terasa berdenyut, "Masih 11 bulan lagi Mas Adit kembali, Nte. Makanya Nancy mau cek kehamilan, karena terakhir periode saat tiga minggu sebelum Mas Adit berangkat. Kira-kira hamil nggak, Tan?"

__ADS_1


Siska tersenyum sumringah, "Enggak apa-apa kalau hamil. Jadi pas Mas Adit pulang, dia akan senang melihat istrinya sudah memiliki penerus abdi negara," godanya di puncak hidung Nancy.


Nancy hanya mengangguk membenarkan ucapan Siska yang tampak tersenyum bahagia.


__ADS_2