Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Enggak usah peduli ...


__ADS_3

Setelah melakukan makan malam, Nancy sengaja beranjak ke rumah Sugondo, hanya untuk melihat putra kesayangannya yang sudah terlelap di kamar Ningsih.


Sementara Aditya tengah menerima panggilan telepon dari Aldo, yang sejak tadi merutuki sahabatnya itu, karena tidak menjawab panggilan telepon darinya sejak tadi siang ...


[Lo kemana saja sih? Sesak nafas gue nungguin kabar kalian, baru sekarang lo jawab telepon! Kemana saja sih lo]


Aditya tertawa terbahak-bahak, mendengar celotehan Aldo di seberang sana, membuat sahabatnya itu semakin kesal.


[Siapa suruh kasih kamar bulan madu, yah ane bermesraan dong sama Nancy ...]


[Hmm ... Orang showroom mobil sudah menghubungi gue dari tadi siang, setan. Nanyain kapan mobil mau di anterin ... Lo sama sekali enggak angkat telepon gue, kesel banget. Nih, mobil sudah sama gue, mau diantar kemana? Rumah apa hotel]


Aditya yang mendengar penuturan Aldo, ternganga lebar. Bagaimana mungkin, pria itu memberikannya satu unit mobil secara cuma-cuma.


[Se-serius? Mobil apaan? Terus yang didalam paper bag apaan, Do]


[Eeh anak Atmaja yang bego, didalam paper bag itu ada uang 100 juta, sebagai kado pernikahan lo sama Nancy. Jangan sampai lo sakiti sepupu gue lagi, atau ... Lo miskin gue buat seumur hidup]


Aditya semakin tidak percaya, bergegas dia meraih paper bag yang sejak tadi mereka bawa-bawa, tidak menyangka akan mendapatkan perhatian khusus dari seorang Aldo.


Kedua bola mata Aditya membulat besar, saat melihat uang 100 ribuan yang tersusun rapi dengan ditutup sehelai syal merah buatan Emi ...


[Anjir ... Dapat lotre lo! Ngasih ane uang dan mobil. Baik banget lo sama ane, Do! Ane hanya pria yang menyebalkan buat sepupu lo. Dari tadi permintaan dia aneh-aneh saja. Mau ikut arisan 20 juta sebulan. Dia pikir gaji kolonel bintang satu 100 juta sebulan! Aneh-aneh saja permintaan sepupu lo ...]


Terdengar tawa Aldo terbahak-bahak diseberang sana, membuat Aditya semakin kesal. 


[Ck ... Apakah selama ini Nancy pernah minta uang belanja sama lo? Selagi dia masih bisa, biarkan saja. Toh kalian tidak pernah kekurangan. Dit, istri itu memiliki hoby yang sama seperti kita kaum Adam. Jadi selama Nancy baik-baik saja, dia tidak pernah mengeluh dan melakukan hal-hal yang tidak baik di luar sana, biarkan saja. Jangan terlalu mengekang dan banyak aturan Aditya Atmaja ...]

__ADS_1


[Belain aja terus sepupu kesayangan lo itu. Gue enggak mau dia terlalu sibuk diluar, sehingga melupakan Abdi dan kewajibannya, titik]


[Hmm terus mobil ini mau gue apain? Dengerin celotehan lo, kayak emak-emak kompleks pulang kondangan gue, muak tahu]


[Ya udah, kesini aja ... Nanti gue anterin lo pulang. Besok pagi gue mu ke Jakarta, jadi bisa test drive ... Thanks yah bro. Lo emang sahabat sekaligus saudara terbaik ane. I love you ...]


Saat mengatakan I love you, seketika Nancy masuk kedalam kamar paviliun, dengan kening mengerenyit masam, memandangi Aditya penuh selidik ...


"Love you, love you, love you! Sama istri enggak pernah bilang cinta! Sama orang umbar-umbar cinta!! Siapa sih, Mas!" geramnya dengan mata mendelik tajam.


Aditya menelan ludahnya, kembali menempelkan handphone ke telinga kanannya, kemudian berkata ...


[Do, Do ... Bini ane ngambek! Lo kesini cepetan, biar kita bisa makan sekoteng. Lo sama siapa]


[Oke otewe, gue sama Emi ... Bye ...]


Aditya langsung merangkul bahu Nancy, mengecup lembut kepala sang istri dengan penuh perasaan cinta dan bahagia, "Aldo sayang, dia mau ngantar mobil, dan ternyata didalam paper bag ada uang 100 juta. Buat kado pernikahan kita ..." tawanya,  memainkan kedua alis yang naik turun.


Pemandangan yang tidak biasa, karena menerima kejutan luar biasa dari Aldo, "Ma-ma-mas ... Kalian bukan pasangan homo, kan? Mas masih normal dan masih mencintai Neng saja, kan?"


Aditya menggeram, saat mendengar celotehan istrinya yang mengatakan bahwa dirinya pasangan homo dengan Aldo, langsung menjawab, "Mas normal Neng. Masih suka sama punya Neng yang hmm menggigit ..." godanya pada leher jenjang Nancy.


Nancy berteriak, mengusap kasar lehernya yang terasa basah karena saliva sang suami, mendorong tubuh kekar itu sambil berteriak manja, "Mashh ... Bau tahu!!"


"Bau cinta kan ...!"


"Mas!!"

__ADS_1


Aditya semakin mendekap tubuh ramping sang istri membawa untuk naik ke ranjang peraduan mereka, membuat Nancy benar-benar berteriak karena merasa terkejut diperlukan seperti itu oleh suami tercinta.


"Mashh ... Ampun, jangan gelitikin Neng lagi," tawanya semakin keras.


Namun, Aditya semakin gencar untuk terus menggoda sang istri yang tampak menggemaskan.


Hingga akhirnya, Aditya merebahkan tubuhnya disamping Nancy sambil menatap langit-langit kamar paviliun dengan tangan saling menggenggam.


"Setelah pelantikan, kita pindah ke rumah dinas yah, Neng. Mas akan dikasih ajudan, dan mungkin kita juga bakal disibukkan dengan berbagai kegiatan. Tapi Mas masih di Bandung. Makasih yah, sudah menjadi istri paling sempurna untuk hidup Mas," jelasnya dengan wajah tersenyum sumringah.


Nancy menoleh kearah Aditya yang masih serius menatap langit-langit kamar, mengusap lembut dada suaminya, "Mas ... Emang kita harus tinggal di rumah dinas? Kenapa tidak dirumah kita yang diberi Bapak saja. Kasihan Abdi, dan Neng juga bulan depan akan ke Netherland bersama Bapak dan Bethrand ..."


Mendengar Nancy menyebutkan negara kincir angin di benua Eropa tersebut, seketika Aditya terlonjak dan langsung duduk di bibir ranjang, "Apa!? Kamu mau ke Netherland? Ngapain Neng! Enggak boleh, kamu tidak boleh pergi-pergi sama pria manapun. Mas enggak kasih izin, titik!"


Nancy yang kaget mendengar larangan Aditya, tampak kesal, dan duduk disamping suaminya, yang tengah meremas kuat jemarinya sendiri.


"Kenapa? Neng ada kerjaan, Mas. Pergi juga sama Pak Atmaja, Pak Sugondo. Mungkin Bethrand juga membawa Prisil istrinya!" jelasnya.


Aditya menggelengkan kepalanya, dia menoleh kearah Nancy, "Neng mau pergi berdua-duaan sama bule somplak itu! Neng mau mesra-mesraan sama dia? Enggak, sekali enggak, tetap enggak! Neng tidak perlu datang kesana juga pabrik bisa jalan, kan?"


Mulut Nancy ternganga lebar mendengar penuturan suaminya, "Mas ini pekerjaan, Neng. Enggak mungkin seorang direktur harus tinggal. Terus siapa yang menandatangani surat perjanjian pabrik sama perusahaan di sana? Bapak? Atau Bethrand? Ini perusahaan Neng, Mas! Sebelum kita menikah, perusahan ini sudah ada, dan Neng juga sudah menjalin kerjasama dengan Bethrand!"


Aditya menelan ludah berkali-kali, mengusap wajahnya dengan sangat kasar. Kali ini dia tidak ingin melihat istrinya dekat dengan yang namanya pria. Mau itu untuk bisnis atau apapun.


"Mas enggak peduli! Neng itu istri Mas, jadi Mas harus menjaga Neng, dari laki-laki hidung belang seperti bule somplak itu. Apalagi Mas mendengar bahwa Neng naksir sama Mayor Gibran polisi militer itu. Apa Neng tidak pernah menghargai perasaan, Mas?"


Nancy semakin tidak mengerti, "Mas Adit kenapa sih? Kalau Neng mau selingkuh, udah dari Mas di timur tengah Neng selingkuh! Tahu!!!" sesalnya menggeram lantang.

__ADS_1


Aditya semakin mendengus dingin, "Terus ... Neng mau ke Belanda sama tuh bule somplak? Silahkan! Silahkan pergi! Enggak usah peduli sama Mas!" rungutnya seperti anak kecil ...


Nancy hanya bisa memijat pelipisnya, sesekali melirik kearah Aditya ... "Ternyata Mas Adit cemburuan, yah? Mungkin melihat Neng sama kambing jantan juga Mas cemburu, kan ..." tawanya mengejek. 


__ADS_2