Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Merebut ...


__ADS_3

Kebahagiaan, hanya itu yang menari-nari dalam benak Nancy dari malam sejak kembali dari salon, menjalani perawatan seluruh tubuh selama enam jam di salah satu rumah spa langganannya, sangat menenangkan dan melegakan baginya setelah lebih dari enam bulan ia tidak merawat dirinya.


Entahlah, kali ini Nancy seperti akan mendapatkan Aditya Atmaja yang akan ia temui esok hari.


Semenjak kelahiran baby boy, Nancy hanya fokus mengurus Abdi dengan bantuan baby sitter yang selalu menemani dan membantunya jika malam. Rasa sayang Nancy pada Abdi terpancar sangat jelas, karena wajah putra kesayangannya lebih mirip dengan Adit saat kecil.


Tampan, hanya kalimat itu yang selalu di katakan Atmaja saat menimang cucu pertamanya.


.


Pagi menjelang, Nancy yang di balut dengan busana kasual, menggunakan mini dress putih yang di balut dengan blazer dengan warna senada, membuat istri mayor bunga dua itu terlihat sangat elegan.


Ditambah badan wanita cantik itu tidak mengalami perubahan yang sangat drastis. Ia masih tampak seperti gadis kecil yang memiliki baby mungil, seperti yang selalu diucapkan ibu-ibu di pabrik.


Baby sitter yang biasa di sapa Unik itu mengagumi kecantikan seorang Nancy, saat menyaksikan majikannya berdandan dan berputar-putar di depan cermin bak model profesional.


"Teh ... Teteh cantik banget. Beruntung sekali suami Teteh," pujinya, membuat Nancy tersipu malu.


"Kamu tuh, yah ... Bisa saja!" Nancy melanjutkan nasehatnya, "Yang penting jangan di tinggal Abdi sendiri yah, Nik. Kalau ada apa-apa kabarin Teteh. Jangan lupa botol Abdi harus langsung di cuci dan di masukkan kedalam box sterilnya!"


Unik mengangguk mengerti, gadis belia yang merupakan anak dari salah satu pekerja di pabrik Keluarga Sugondo, sangat patuh pada semua ucapan Nancy karena dia memang menyukai anak bayi dan merasa nyaman bekerja di keluarga tersebut.


Bagaimana tidak, Sugondo menguliahkan Unik, disalah satu universitas di Setiabudi, agar kelak memiliki pendidikan untuk mendidik anak sendiri jika sudah berkeluarga.


Meskipun demikian, Nancy tidak ingin mempercayakan sepenuhnya pada Unik, jika Ningsih tidak berada di rumah.


Tepat pukul 07.00 waktu setempat, mobil Atmaja telah terparkir di halaman rumah besannya.


Ditambah sambutan Sugondo yang sangat hangat pada besannya tersebut, membawa Atmaja untuk sarapan terlebih dahulu.


"Mas ... Sarapan dulu. Bi, bibi, ambilkan piring buat Pak Atmaja! Sekalian untuk Neng Nancy, sarapannya jangan lupa di antar ke kamar. Dia belum sarapan, nanti pingsan pula," teriaknya menggema di seluruh ruangan, karena perasaan bahagia.


Atmaja yang mendengar celotehan besannya hanya tertawa kecil, karena selalu memiliki cara bercandain sang putri, yang sangat memahami bagaimana Sugondo menghiburnya.


Bi Sumi bergegas menyediakan piring untuk besan majikannya. Mempersiapkan semua sarapan pagi, untuk mereka yang sudah duduk di meja makan tersebut.

__ADS_1


Sulastri bertanya pada Sugondo, "Nancy mana, Mas?"


Sugondo menjawab penuh semangat, "Lagi dandan! Maklum mau ketemu sama suami tercinta, jadi yah gitu," jelasnya.


Kemudian Sugondo mengalihkan pandangannya kearah Atmaja yang duduk disampingnya, "Kira-kira berapa hari Mas di Jakarta? Karena saya juga mau ke Jakarta, mengantarkan klien yang datang kemaren, untuk memastikan kantor mereka. Maklum jaman sekarang harus cek keseluruhan, jika mau pakai lebel perusahaan mereka."


Atmaja berpikir sejenak, langsung menjawab, "Mungkin dua hari. Kami menginap di hotel biasa. Karena tidak boleh jauh dari kesatuan. Jika sudah selesai dengan urusan kamu, tinggal susul saja. Kan sudah tahu dimana kami menginap."


Sugondo tersenyum, dia sangat lega karena putrinya akan di bawa menginap di hotel yang layak, walau hanya bintang empat. Bagi pria paruh baya itu yang penting anaknya bahagia setelah bertemu dengan suami tercinta.


Saat mertuanya tengah sibuk berbincang-bincang, Nancy keluar sambil menggendong Abdi yang sangat jarang menangis jika sudah berada di dekapan sang Mama, dengan tangan kanan memegang piring sarapannya.


Sulastri langsung berdiri, mendekati menantunya, mengambil cucu kesayangan dari dekapan Nancy, yang akan melanjutkan makanan yang masih tersisa.


"Timang timang eyang. Mama pergi dulu ya tayang eyang. Mama mau jemput Papa, mau lepas rindu, kamu tinggal sama Oma yah, jangan rewel," godanya pada cucu semata wayangnya.


Nancy tersenyum bahagia, sementara Atmaja masih melihat kesedihan dari raut wajah menantunya.


Atmaja menyapa Nancy, "Neng ... Kamu mikirin apa sih? Kok masih murung saja? Kan mau ketemu Adit."


Sulastri yang tengah menimang cucu kesayangannya dengan satu tangan kirinya, mengusap lembut punggung Nancy karena mengerti bagaimana perasaan sang menantu yang akan meninggalkan buah hatinya.


"Kan ada Ibu, Neng ... Ada Bi Sumi, dan Unik juga. Jika ada apa-apa, ada Mang Nanang sama Nak Angga atau orang kebun nanti yang membantu," titah Sulastri yang diangguki oleh Ningsih.


Nancy hanya menelan ludahnya, satu sisi dia tidak ingin jauh dari sang putra, satu sisi dia juga rindu pada suami tercinta.


"Neng kasihan sama Abdi, Bu. Masih kecil udah jauh-jauh gini. Nanti kalau dia enggak tahu sama Papa-nya, gimana?" rungutnya.


Sulastri tersenyum, berusaha menjelaskan perlahan pada sang menantu, "Seorang anak tidak akan melupakan orangtuanya. Karena ikatan batin antara bapak dan anak itu, sudah ada sejak anak berada dalam kandungan. Walau sebenarnya, banyak pria yang melupakan darah dagingnya, jika sudah berpisah atau bahkan yah ... Mit amit deh ..."


Nancy terdiam, dia hanya menghela nafas dalam-dalam. Setidaknya, jika ia bertemu dengan sang suami, segala kegundahannya selama setahun berjauhan terjawab sudah.


Wajah mungil nan tampan, dengan kulit masih tampak memerah karena memiliki kulit putih seperti Nancy, Abdi telah terlelap saat di tinggal oleh sang Mama.


Nancy mengecup puncak kepala putra kesayangannya, berbisik ketelinga mungil Abdi Atmaja, "Mama pergi dulu sayang, jangan rewel yah, Nak."

__ADS_1


Nancy menatap lekat mata Ningsih, "Neng titip Abdi yah, Bu. Unik, kamu jangan lupa pesan teteh!"


Ningsih hanya tersenyum, mendengar celotehan putrinya, memberi kode pada Nancy agar segera menyusul mertuanya.


"Jangan biarkan mertua kamu menunggu lama, salam buat Nak Adit, yah Nak?"


Nancy mengangguk, ia mengambil punggung tangan Ningsih dan mencium penuh rasa hormat.


Begitu juga dengan Sugondo, pria paruh baya itu mengusap lembut kepala putrinya, mencium kening anak kesayangan yang selalu menjadi kebanggaan baginya.


"Salam buat Nak Adit. Bapak sudah mengirimkan uang gaji kamu, jadi kamu bisa senang-senang. Bahagia yah, Nak. Jangan lupa makan, jangan manja. Ingat, jangan ingat sama Abdi dulu, fokus sama Aditya. Karena Abdi aman sama Bapak!" titah pria paruh baya itu.


Nancy mengangguk, dia berlalu meninggalkan kediaman keluarganya, menuju Jakarta bersama mertua tercinta. Tentu ini merupakan satu kebanggaan baginya, bisa pergi bersama Atmaja serta Sulastri seperti anak sendiri.


Banyak wanita di luar sana yang sangat menginginkan posisi Nancy saat ini.


Termasuk Evi, yang sangat menginginkan Adit kembali semenjak kematian sang suami, ditambah dia tidak mendapatkan pesangon dari pihak perusahaan tempat Bambang bekerja, sebagai uang duka, karena telah menjadi penyusub berbahaya bagi perusahaan yang terancam di cabut izinnya oleh negara, karena ketamakan salah satu karyawan mereka yaitu Bambang.


Kali ini Evi tengah menanti kabar kepulangan Aditya Atmaja, yang belum dapat ia ketahui kapan sang mantan akan kembali. Keyakinannya bahwa Adit masih mencintainya dari terakhir mereka bertemu beberapa bulan lalu, saat di supermarket.


"Aku akan merebut Mas Adit dari mu, Nancy. Aku yakin, Mas Adit akan percaya dengan semua ucapan dan meninggalkan mu wanita sombong ..."


______


Hai hai hai ...


Menyapa sebentar, hanya untuk memberikan give pada pembaca setia Merebut Hati Suami Mayor ...


Bulan ini, othor mau bagi jilbab atau daster kesukaan kaum emak atau istri dan pacar ... Hayuuuk, perbanyak hadiah dan komentar dong ... Siapa yang banyak komentar dan kasih vote akan menjadi the winner ...


Dua pemenang saja ... Hingga 29 Oktober 2022 ...


Ingat yah, diantara dua pilihan, Jilbab atau daster ... 😘😍


Happy reading ...🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2