
Dentuman alunan musik masih terdengar semakin keras. Kali ini acara semakin seru, karena begitu banyak anak muda yang hadir di acara resepsi pernikahan Aditya dan Nancy serta Luqman dan Sindi. Dari rekan alumni sekolah mereka, hingga kerabat dekat kuliah Nancy, juga Aditya. Tidak ada yang lebih membahagiakan kedua pasangan suami istri, untuk terus mendekap erat tubuh pasangan mereka masing-masing.
Nancy yang tengah terduduk di kursi pelaminan, karena menahan rasa mual yang kembali bergejolak, memberikan kebebasan pada sang suami untuk berbaur dengan sahabat-sahabat sekolah, serta keluarga yang tengah membicarakan tentang kawin gantung anak mereka.
Salah satu keluarga Nancy bertanya pada Aditya, "Bagaimana Dit? Apakah kamu setuju, menikahkan Abdi dan Arini? Jika setuju, sebelum saya kembali ke Ausi dan Aldo kembali ke Swiss, kita bisa menjalankan rencana keluarga setelah ini. Biar keluarga kita tidak jauh-jauh mencari pasangan yang cocok buat Abdi. Lagian Arini dan Abdi hanya berselisih usia satu tahun. Jadi tidak ada salahnya, untuk mempertahankan keharmonisan keluarga ini."
Aditya yang mendapatkan pertanyaan seperti itu dari pihak keluarga Aldo dan Nancy hanya bisa tersenyum garing, karena tidak menyangka bahwa keluarga besar menanggapi serius akan kawin gantung tersebut.
"Ta-ta-tapi Abdi dan Arini masih kecil sekali, Om! Lagian masih kecil gini, mana bisa kawin gantung begitu saja. Iya, kalau mereka mau menerima perjodohan itu. Jika tidak? Bisa kita di sesali oleh anak-anak!" elak Adit pada Paman Nancy.
Dengan cepat Aldo menepuk pundak sahabatnya, "Gue sih setuju saja punya besan kayak lo, Dit. Lagian kita ini keluarga besar. Dan Arini akan gue kirim ke Swiss sampai dia dewasa. Jadi kita sama-sama menjaga anak-anak hingga usia mereka cukup. Ya ... bisa di 24 atau 25 tahun. Jadi setelah itu kita pertemukan lagi."
Sejujurnya Aditya tidak setuju dengan perjodohan. Akan tetapi, sesuai permintaan Ningsih beberapa waktu lalu, untuk menyelamatkan bisinis dan perkebunan mereka.
"Ane ikut saja, Do. Karena Abdi mungkin masih tinggal di Indo kalau ane berangkat ke Yordania. Jadi kita aman dalam membesarkan mereka. Semoga ketika bertemu kembali, kita bisa melanjutkan harapan dalam perjodohan ini."
Aldo bersorak kegirangan, karena Aditya Atmaja akan menjadi besannya suatu hari nanti, walau sesungguhnya sangat jauh dari harapannya. Dan berniat untuk terus menjalin komunikasi baik, walau harus memilih berjauhan setelah resepsi pernikahan mereka berdua.
.
Tidak ada yang paling sempurna dalam benak Aditya dan Nancy. Begitu juga dengan Luqman dan Sindi yang telah halal dalam janji suci pernikahan mendadak mereka.
Dua insan itu, masih bergelut dalam gairah cinta yang tak pernah padam. Di tambah suasana kamar hotel yang dipersiapkan keluarga, cukup mewah dan menenangkan.
"Ahh ... le-le-lebihh dalam sayanghh ..." Sindi terus mendessah ketika Luqman terus memompa bagian intinya dibawah sana, dengan gaya yang paling di gemari keduanya.
__ADS_1
"Kamu suka, sayanghh ..." kecup Luqman pada punggung telanjang Sindi yang sejak tadi berada dibelakangnya.
"Ahh, lagihh ... aku benar-benar tidak menyangka bahwa ini sangat menyenangkan, sayanghh ..." rengeknya kembali mengarahkan wajahnya untuk mellumat bibir manis sang suami, yang membuatnya benar-benar ketagihan.
Tentu ini merupakan hal termanis yang Luqman rasakan, setelah menikah dengan Sindi, yang ternyata tidak mampu menahan hasratnya jika bertemu dengannya.
Setiap ada waktu berdua Sindi selalu meminta lebih dulu, dan selalu ingin bermain-main lebih lama, membuat kedua-nya semakin saling membutuhkan.
Hal yang berbeda, terjadi di kamar pengantin stok lama pasangan Aditya dan Nancy.
Kedua-nya justru sibuk membuka makanan kecil yang di tersedia dikamar hotel tersebut, tapi memaksakan pria gagah itu untuk memakan cokelat yang ia buka sambil tertawa bahagia.
"Lagi atuh, Mas. Neng mau buat Mas Adit gendut. Biar cewek-cewek diluar sana enggak ada yang ngelirik Mas lagi," rengeknya menyuapkan satu potong toblerone kemulut Aditya.
Dengan sangat terpaksa Adit mengangakan mulutnya, walau sesungguhnya perut sispack itu sudah merasa sangat kekenyangan.
Melihat kejadian itu, Aditya langsung berhambur memeluk tubuh sang istri, mengusap lembut wajah cantik yang sangat mempesona baginya.
"Kiss me please ..." bisiknya lembut, sambil menggendong tubuh itu menuju ranjang peraduan mereka yang telah ditaburi bunga mawar merah.
Nancy menatap teduh wajah Aditya, "Setialah sama Neng, Mas. Demi anak-anak, demi kebahagiaan kita juga keluarga Ibu sama Bapak."
Tak banyak bicara, Aditya langsung mengecup lembut bibir mungil itu, mellumatnya lebih dalam, karena tidak ingin berjanji lagi.
"Mashh ..." Nancy melepas ciuman Adit yang sangat menggairahkan, dan benar-benar berbeda.
__ADS_1
"Hmm ..." Aditya kembali menghulurkan lidahnya di bagian-bagian sensitif istrinya, karena ingin mendengar errangan Nancy yang sangat ia rindukan.
"Jangan pernah tinggalkan Neng!"
Aditya kembali menghela nafasnya dalam-dalam. Ia yang tengah berada dipuncak gairah hanya tersenyum tipis, sambil berkata pelan, "Apa pernah Mas ingin pergi meninggalkan kamu, hmm? Apa pernah Mas ingin jauh dari kamu. Tidak sayang, Mas yakin bahwa kamu merupakan wanita yang sangat pantas untuk Mas juga Abdi dan calon buah hati kita."
Perlahan tangan halus itu mengusap lembut wajah Aditya, hanya untuk menatap mata yang sudah sayu karena sebuah hasrat yang tertahan, "Tanpa Evi?"
Aditya kembali menganggukkan kepalanya, "Tanpa dia, tanpa anak-anak mereka. Mas ingin kita sama-sama saling percaya, jika kita sudah tinggal bersama di Yordania. Mas tidak mau meninggalkan kamu, ketika melahirkan. Mas harus mendampingi kamu, karena kita akan selalu bersama ..."
Entah apa yang ada dalam benak Nancy, yang pasti ia sangat bahagia karena telah mendapatkan hati Aditya sepenuhnya, tanpa perasaan takut ataupun khawatir lagi dengan kehadiran pihak ketiga.
Baginya, Aditya sangat spesial bagi hidupnya. Pemaksaan yang dulu pernah terucap, kini justru benar-benar mencintainya dan memilikinya sepenuh hati.
.
Sangat berbeda dengan Jumaida, yang langsung menjalin komunikasi dengan Sean sepulang acara resepsi pernikahan sahabatnya.
"Neng, maukah kamu menikah dengan Aa?"
Pertanyaan Sean membuat kedua bola mata Jumaida membulat besar, berusaha tenang karena dilamar dalam kondisi yang masih terlihat urakan.
"Hmm, kamu ngomong apaan sih? Gue minta anterin pulang karena tadi bareng sama Ali. Ta-ta-tapi Ali nganterin tunangannya, dan lo nawarin gue pulang eee." Jumaida tampak sangat gugup, namun berusaha untuk menutupi kegelisahannya, yang tengah di intip oleh kedua orangtuanya dari balik jendela kediamannya. "Turun dulu deh. Enggak enak sama Emak dan Abah. Kalau lo emang serius, langsung ngomong saja sama kedua orang tua gue!"
Sean menautkan kedua alisnya, ia bergumam dalam hati, "Dari tadi gue ngomong 'Aa dan Neng', dia malah 'Lo, Gue' ..."
__ADS_1
"Hei!" Jumaida mengejutkan lamunan Sean, yang masih termangu menatapnya.
"Ogh, ya sudah ... kita ketemu sama orang tua kamu, sekarang. Karena Aa enggak mau lama-lama menjomblo, kalau bisa kita nikah besok! Dan Aa pengen ngerasain indahnya malam pertama," tawanya menyeringai lebar, membuat Jumaida bergidik ngeri.