
Di benua yang berbeda ... Lagi-lagi Aditya menggeram kesal dengan tatapan penuh amarah terhadap wanita yang kini menjadi istrinya.
Nancy ... Ya Nancy yang ia nikahi hampir dua tahun ini, kembali berulah lagi hanya karena perasaan cemburu menurutnya.
Berkali-kali Aditya mencoba menghubungi Nancy, namun kembali di reject oleh wanita yang ternyata memiliki watak keras kepala tersebut.
Ningsih yang memperhatikan gerak-gerik menantunya sejak tadi, hanya bertanya sedikit, "Nak Adit kenapa?"
Bergegas Adit menghampiri Ibu mertuanya, tanpa basa-basi langsung menanyakan keberadaan handphone milik Ningsih ...
"Handphone Ibu mana? Hubungi Neng dong Bu. Dia lagi ngambek, Adit takut dia hmm, berpikir yang aneh-aneh," sungutnya.
Ningsih tidak banyak bertanya, dia mengambil handphone pipih itu, dan langsung memberikan kepada sang menantu ... "Nih ..."
Tanpa pikir panjang lagi, Aditya langsung menghubungi Nancy, hanya untuk memastikan bahwa sang istri tidak marah ataupun berpikir negatif tentang nya ...
[Ya Bu ...]
[Kenapa dimatiin Mas lagi ngomong! Kamu tidak menghargai Mas sebagai suami? Lagian Mas memberi itu tidak mengharapkan apa-apa, hanya sebagai teman dan paman yang baik untuk anaknya]
Terdengar suara tawa Nancy mengejek di seberang sana ...
__ADS_1
[Hmm ya sudah, jadikan Neng teman Mas! Atau apapun yang bisa membuat Mas, melakukan hal yang sama tanpa ada perbedaan! Abdi butuh biaya, sekolah, dan untuk masa depannya lebih baik, Mas! Lagian Mas sudah janji sama Neng, tidak akan pernah ada Evi lagi dalam list kita agar bisa move on menghabiskan waktu yang kita sendiri tidak tahu sampai kapan kita akan tetap bersama. Tapi semua sia-sia, Mas selalu mengecewakan Neng. Jadi enggak usah hubungin Neng, karena sudah tidak ada kata maaf lagi ...]
Mendengar pertanyaan Nancy, seketika Aditya kembali murka ...
[Oke, kalau begitu Mas akan bawa Abdi ikut sama Mas! Jangan pernah mengancam atau bahkan selalu memberikan list yang panjang untuk kita terus bersama. Dasar wanita kepala batu! Terserah kamu ...]
Aditya membalas semua ucapan Nancy, kemudian mengakhiri sambungan teleponnya.
Ningsih yang mendengar perdebatan anak menantunya, membuat dia sedikit penasaran. Memilih duduk disamping Aditya, hanya untuk sekedar bertanya ...
"Kok? Nak Adit kenapa? Kok malah ribut sama Nancy? Emangnya ada masalah apa?"
Aditya meremas kuat kepalanya, menghela nafas berat, dan melirik kearah Ibu mertuanya.
Ningsih hanya mengusap lembut lengan Aditya, menjawab pertanyaan sang menantu dengan sangat hati-hati ...
"Coba posisinya kamu balikin. Apakah kamu akan memberikan peluang pada Nancy jika berhadapan dengan mantan sekaligus anak nya? Tidak ada yang salah, dan tidak ada yang benar di sini Nak Adit. Tapi coba kamu membalikkan posisinya, apakah kamu rela uang yang ada di Nancy, di berikan nya kepada anak mantan kekasihnya?"
Aditya menyela ucapan Ningsih, "Ya ... Tapi kan Nancy tidak memiliki mantan, Bu!" tegasnya.
Ningsih tertawa kecil, mendengar celotehan sang menantu yang seolah-olah meremehkan putri kesayangannya ... "Dia itu bukan tidak memiliki mantan. Tapi dia selalu menutup akses untuk orang lain masuk, bahkan tidak ingin merusak kebahagiaannya bersama kamu yang sudah menjadi pilihannya. Jika kamu menganggap Nancy tidak memiliki mantan, kenapa tidak sebaiknya kamu menjadikan dia mantan? Kan kamu bisa lebih perhatian sama anaknya, begitu juga Nancy, ya kan? Daripada harus ribut terus menerus, gara-gara wanita yang bernama Evi, lebih baik kamu meninggalkan anak Ibu. Jadi kamu bebas melakukan apa saja di luar sana, tanpa harus mengatakan pada Nancy! Benar enggak?" jelasnya dengan perkataan yang sedikit menohok.
__ADS_1
Aditya terdiam, wajahnya menunduk takut. Sejujurnya dia tidak menyangka bahwa sikapnya secara otomatis akan menyakiti hati Nancy sekali lagi. Sengaja atau tidak sengaja, namun semua itu telah terjadi.
"Ta-ta-tapi Bu. Aditya berusaha untuk tetap setia sama Neng!"
Ningsih termangu, menatap lekat wajah pria yang duduk disampingnya melanjutkan pertanyaannya ... "Menurut kamu pernikahan itu seperti apa sih, Nak Adit?"
Terlihat wajah Aditya yang semakin kebingungan, bahkan tampak seperti serba salah ... Karena selama ini, dia berpikir Nancy tidak akan mempermasalahkan tentang uang 20 juta itu, dengan melihat nominal angka tabungan mereka berdua melebihi dari yang di permasalahkan oleh sang istri.
Adit menelan ludahnya berkali-kali, mendengar pertanyaan Ningsih, "Ya ... Pernikahan itu seperti inilah Bu. Tapi Adit bingung sama Nancy, semenjak kejadian beberapa waktu lalu, dia jadi berubah sama Adit. Kadang lembut, terkadang kasar melebihi monster yang sangat menakutkan ...! Adit bingung Bu, benar-benar bingung kalau Nancy tidak mau mendengarkan penjelasan dari Adit. Adit ini suaminya, bukankah istri harus tunduk pada suami?" sungutnya tanpa pikir panjang.
Ningsih langsung tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan menantunya, menggeleng-geleng karena terdengar sangat lucu di telinganya, "Hmm Nak Adit ... Nak Adit ... Kok kamu bodoh sih! Dengerin Ibu, yah ... Suami yang harus di patuhi itu adalah suami yang peduli sama anak juga istrinya. Menghargai perasaan istri, serta benar-benar meninggalkan semua masalah yang berurusan dengan MANTAN. Karena mantan itu akan menjadi petaka untuk menghancurkan rumah tangga kalian! Jika kamu masih mau melanjutkan rumah tangga mu dengan anak Ibu, lupakan Evi dan semua keluarganya. Termasuk anaknya itu!!! NGERTI!!!"
Kali ini Adit berada di tepian jurang kehancuran. Niat baik yang ia lakukan, ternyata menoreh luka kembali di hati Nancy. Wanita yang mencintai nya tulis, sehingga dia melakukan kesalahan ke-dua kalinya.
Aditya meringkuk di pangkuan Ningsih, memohon kepada Ibu mertuanya, agar mau membujuk Nancy, untuk memberikan pintu maaf padanya ...
"Bu ... Tolongin Adit, Bu. Adit tidak pernah berniat buat menyakiti Neng. Jujur Adit hanya ingin membantu Evi. Karena perasaan kasihan, Bu ..."
PLAAK ...!
"Aaugh ... Kok Ibu nampar Adit?" teriaknya, langsung mengusap pipi yang terasa panas.
__ADS_1
Ningsih tertawa kecil, menyunggingkan senyumannya, langsung berkata tanpa mau di bantah ...
"Maaf Nak Adit. Ibu memang sayang sama kamu! Tapi sampai saat ini kamu tidak bisa berubah. 10 tahun lagipun pernikahan kalian selalu sama ... Evi, Evi, Evi dan Evi. Bahkan sampai matipun kami nih, permasalahan rumah tangga kalian hanya Evi. Saat ini, Ibu menyerahkan semua keputusan pada Nancy, karena Ibu yakin dia tahu apa yang terbaik untuk dirinya sendiri. Dia tidak ingin berada dalam kebodohan seperti ini terlalu lama! Lebih baik kamu tinggalkan rumah Ibu, pikirkan semua tindakan kamu ... SUDAH BENAR ATAU BELUM!!!"