
Nancy menjawab panggilan telepon dari Aditya selama di perjalanan menuju kediaman mereka ...
[Mas dimana?]
[Lagi di depan kantor. Neng bisa jemput Mas? Mobil kantor ditahan, dan Mas enggak pegang uang tunai]
Nancy menghela nafas panjang, kali ini dia tidak ingin memanjakan Aditya Atmaja.
[Mas pakai taksi saja. Neng tunggu di depan supermarket biasa kita belanja. Nanti Neng yang bayarin taksinya]
Nancy mendengar Adit mendengus kesal di keruwetan suara klakson diseberang sana ...
[Neng kenapa tidak mau jemput Mas? Mas sudah bilang, jangan dengarkan omongan orang! Mas saat ini dapat musibah, bukannya menguatkan malah disuruh pulang pakai taksi! Apa kata orang, jika melihat Mas pulang sendiri tanpa Neng!]
Nancy mengerenyitkan keningnya, berfikir sejenak menatap layar handphone yang masih menyala ... "Ini orang gila yah? Bukannya introspeksi diri, malah ngebentak aku! Dia pikir siapa dirinya? Sudah sukur aku mau membayarkan taksinya ..." sesalnya dalam hati.
[Neng tunggu di depan supermarket, jika tidak datang dalam waktu satu jam Neng pulang!]
Nancy menutup telfonnya, tanpa mau mendengar omelan dan umpatan dari sang suami yang meledak-ledak diseberang sana.
"Ada yah, orang enggak punya malu begitu! Udah buat ulah, malah memberi perintah! Nikmatilah karma mu, Aditya Atmaja ..."
Nancy meletakkan handphone miliknya di dashboard mobil, memarkirkan mobilnya di parkiran supermarket, sekaligus membeli beberapa kebutuhan Abdi.
"Hmm ... Kebetulan susu Abdi habis, enggak ada salahnya belanja dulu sebentar," batinnya dalam hati, melenggak-lenggok memasuki supermarket yang tidak begitu ramai malam itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 19.30 waktu Indonesia barat. Bagi Nancy hari ini dia harus menyelesaikan semua permasalahannya dengan Aditya. Tanpa mau menunggu esok atau lusa.
Benar saja, sudah lebih 30 menit Nancy berkeliling santai di dalam supermarket, menikmati kesendiriannya tanpa memperdulikan Aditya, ternyata dia menabrak seseorang yang tidak terlihat tengah berdiri di depan rak belanjaan kebutuhan pria ...
__ADS_1
BRAAK ...!
"Aaugh shiiit!" Pria itu menoleh kearah Nancy yang mencicit pergi meninggalkan pria tampan bertubuh tegap itu.
Pria itu tidak terima, dia mengejar Nancy karena telah membuat jari kelingking kakinya terluka terkena roda troli ...
"Hei you, stop!" sesalnya masih meringis.
Nancy mengatup bibir, mengerjabkan matanya, menoleh kebelakang, kemudian mengerucutkan bibir berusaha tenang dan memberikan senyuman manis, hanya berkata gugup, "Ma-ma-maaf! A-a-apakah kamu terluka? Jika iya kita ke bidan dekat sini saja!"
Pria itu bergidik, menyunggingkan senyuman lirih menyiratkan bahwa dia tidak sedang bermain-main.
"Aku enggak hamil! Tapi kelingking ku sakit Nona! Lihat-lihat dong, bawa troli. Untung kamu cantik, kalau jelek sudah aku masukin ke troli ku untuk aku jadikan pembantu di rumah ku!" geramnya asal.
Nancy yang mendengar celotehan pria itu hanya bisa menahan rasa gugupnya, dan masih berdiri dihadapan pria itu.
Pria bernama Pramudya itu kembali menatap wajah cantik Nancy. Dia mengerenyitkan keningnya, berfikir sejenak, "Dimana aku melihat gadis ini, yah ..." gumamnya dalam hati.
"Hai ... Are you oke? Bo-bo-boleh saya pergi hmm?"
Pramudya hanya menghela nafasnya panjang, mengangguk-angguk kemudian menggeleng ...
Namun Nancy hanya mengucapkan, "Sekali lagi saya minta maaf. Jika kaki mu mau di amputasi, silahkan hubungi saya. Segala biaya akan saya tanggung!" jelasnya mengambil kartu nama, kemudian memberikan pada pria itu, dan berlalu meninggalkan Pramudya dalam kebingungan.
"Amputasi!? Sialan ni cewek! Emang kaki ku kenak tetanus!" geramnya, melihat kartu nama berwarna putih, yang menuliskan nama serta kantor Nancy di daerah Lembang.
"Ooogh ... Ternyata ini yang dinamakan jodoh. Berarti yang selama ini Papi bilang Nancy anak Sugondo itu, beliaulah orangnya. Hmm ... Kalau jodoh emang enggak kemana. Pasti Papi tidak menyangka aku bisa berkenalan dengan gadis yang selama ini sulit sekali untuk dilacak keberadaannya. Besok aku ke pabrik aagh ... Sama Papi!" tawanya.
Tak lama Pramudya mengikuti langkah Nancy yang bejalan menuju kasir, namun wanita beranak satu itu tidak mengacuhkan tatapan mata pria yang memperhatikannya dari kejauhan.
__ADS_1
Pramudya membayar semua belanjaannya, pura-pura mampir ke toko roti yang berada di pintu masuk supermarket, sambil melihat Nancy dari kejauhan, tengah berbincang kemudian memeluk pria yang menggunakannya pakaian loreng.
"Sialan! Kalah selangkah aku dengan angkatan. Tapi lebih tampan aku lah, dari angkatan itu. Aku dokter spesialis anak dirumah sakit swasta, sementara dia hanya hmm ... Tidak boleh remeh Pram ... Bersaing secara sehat. Kamu pasti bisa mendapatkan perhatian dari gadis itu ..."
Pramudya melihat mobil Nancy berlalu, tidak lupa mencatat plat nomor dua seri itu, untuk memastikan bahwa putri kesayangan Sugondo itulah yang selama ini ia incar.
Sangat berbeda dengan Nancy yang masih fokus dengan stir kemudi, setelah memberi beberapa lembar uang pecahan 50 ribuan pada sopir taksi, dan memasuki stir kemudi mobil miliknya, tanpa mau meminta kepada Aditya.
Kali ini Nancy hanya fokus untuk kembali kekediaman nya, tanpa banyak bicara.
Diam ... Hanya itu yang terjadi antara mereka berdua, setelah bertemu. Aditya hanya diam, sesekali melirik kearah Nancy yang tampak tenang mengendarai kendaraannya.
Tak lama Aditya mengeluarkan suaranya pelan, "Neng ..."
"Hmm ..."
"Mas lapar ..."
Nancy menoleh kearah Aditya, hanya bisa tersenyum tipis, menunjuk kearah belakang, "Dibelakang ada sate kelinci buat Mas. Neng tadi mampir di warung biasa. Nanti mandi aja dulu, Neng siapin buat makan malam Mas."
Adit mengangguk, dia menyandarkan kepalanya di lengan Nancy, namun di tepis secara halus oleh wanita cantik itu ...
"Aduh Mas, Neng lagi nyetir! Nanti di rumah manja-manjanya yah? Mungkin Abdi sudah di bawa pulang sama Ibu ke rumah Bapak. Karena kemalaman hari ini Neng pulangnya. Kebetulan banyak kegiatan," jelasnya.
Aditya hanya bisa tersenyum, dia menganggap bahwa Nancy akan menerimanya dengan sangat baik hari ini. Semua kesalahan sudah terlanjur terbuka, namun dimata Aditya Atmaja, Nancy masih memperlakukan nya dengan sangat baik.
"Mas akan berubah menjadi lebih baik Neng ...! Mas janji sama Neng. Demi Abdi, dan masa depan kita. Walau Mas tidak berhasil meraih kolonel bintang satu tahun ini, Mas akan mencoba untuk menerima cinta kamu ..."
Namun sangat berbanding terbalik dengan Nancy ... Dia justru tengah tertawa kecil didalam hati, bergumam sendiri sepanjang perjalanan ...
__ADS_1
"Jangan kamu berpikir kita akan bersama lagi Aditya Atmaja. Aku sudah jijik menerima sentuhan tangan mu, yang sudah pernah menyentuh janda sampah itu ...! Kita lihat, apakah kamu berhasil untuk merebut hati seorang Nancy ...? Karena kali ini aku akan membuka pintu hati untuk orang lain, bukan untuk Aditya Atmaja lagi ... Makan tuh Evi yang selalu kamu bilang mencintai dia ..."