Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Abdi terjatuh ...


__ADS_3

Pagi menjelang, Nancy dan Aditya masih terlelap saling berpelukan, sementara Abdi yang sudah terjaga lebih dulu hanya merengek karena perutnya terasa sangat lapar.


"Ma-ma-ma ... Pa-pa-pa ..." Hanya kata-kata itu yang keluar dari Abdi dengan posisi telah duduk di bibir ranjang untuk terjun bebas menuju lantai.


"Ma-ma-mama, Pa-pa-papa ..." Abdi menepuk-nepuk ranjang merasa frustasi, karena tidak di acuhkan oleh kedua orangtuanya yang masih terlelap.


Saat akan membalikkan tubuhnya, seketika ...


BHUUG ...!


Abdi terjatuh dari ranjang membuat Nancy terlonjak seketika, mencari keberadaan putra kesayangannya.


"Oek oek oek oek ..." Pekik Abdi, membuat Aditya langsung berhambur mencari keberadaan putranya.


Benar saja, Abdi sudah tertelentang di lantai kamar, dengan tangis yang semakin kencang ...


"Ya Allah Gusti! Maafkan Mama, Nak!" tangis Nancy ketika mengambil putranya yang masih menangis tersedu-sedu.


Aditya langsung mengusap kepala semua tubuh putranya yang biru, namun tidak menemukan benjolan baru yang baru saja terjadi.


Aditya bertanya seolah-olah Abdi belum bisa merangkak, "Kok bisa dia jatuh Neng?"


Nancy menggeleng kesal, "Ya bisa atuh, dia udah bisa merangkak, dan sebentar lagi di berlari mengejar kamu, jika macam-macam sama Mamanya," sesalnya.


"Maafkan Mama yah, Nak. Mama ketiduran, kamu mau apa sayang, ne-ne-n, biskuit atau teh?"


"Ne-ne-nen, Ma-ma-mama ..."


Nancy yang merasa anak laki-lakinya mengeluarkan aroma tidak sedap dari balik pampers-nya langsung memberikan pada Aditya, langsung bertanya ... 


"Mas yang mandiin Abdi atau Neng? Neng mau buat sarapan. Jadi Mas mau pilih kerjaan yang mana?"

__ADS_1


Aditya menautkan kedua alisnya, langsung menggendong Abdi, dan mencium aroma tidak sedap, "Neng ... Abdi pup ... Masak Mas yang bersihin!?"


Mendengar pertanyaan seperti itu, membuat Nancy semakin kesal, "Mas yang mandiin atau Neng? Jangan semuanya Neng atuh! Sesekali bantuin enggak apa-apa, kan? Lagian itu pup anak bayi Mas! Anak kamu, mau enggak? Kalau enggak Mas yang siapin makanan kami, dan ambil baju Abdi di rumah Ibu," geramnya dengan mata melotot.


"I-i-iya, Mas yang mandiin. Tapi cebokin dulu dong sama Neng. Mas geli ..." rengeknya mengalahkan anak manja sedunia.


Nancy hanya bisa mengurut dada, "Sudah, Mas minta baju Abdi sama Ibu, biar Neng yang beresin. Nungguin kamu keburu kelaparan anak ku!"


Dengan sigap Nancy mengambil Abdi dari gendongan suaminya, karena tidak ingin berdebat panjang, hanya untuk menghilangkan moodnya di pagi hari.


"Baru di suruh bersihkan pup anak yang masih berusia enam bulan, udah ngomong geli. Waktu buatnya dulu, enggak pernah geli, malah semuanya di jilat tanpa bersisa, bahkan enggak pernah berhenti. Emang laki-laki jaman sekarang aneh! Bapak saja mau bersihin pup cucunya, ini Papa-nya sendiri geli. Tenang Nak, nanti kita suapin sama Papa kamu pup ini. Biar tahu rasa dia ..." geramnya, selama membersihkan Abdi yang tertawa kecil mendengar celotehan sang Mama, dengan memercikkan air ke wajahnya sendiri.


Aditya yang merasa bersalah, hanya mengikuti semua perintah Nancy, sebelum istrinya berceloteh hingga malam hari, membuat dia tidak konsentrasi untuk melakukan pekerjaannya.


"Hmm ... Tapi hari ini aku masih off, dua hari lagi baru masuk kantor. Palingan hari ini hanya menyerahkan empat pemuda itu ke kepolisian, dan menunggu sidang akhir ku. Yah, semoga cepat berlalu lah semua masalah ..." gumamnya, ketika melangkah keluar menuju kediaman Sugondo yang telah aktif seperti biasanya.


Ningsih yang melihat sang menantu menuju kediamannya, menghampiri Aditya untuk bertanya ...


"Kunaon kasep?"


"Eee anu Bu. Hmm mau ambil baju Abdi, Nancy lagi mandiin soalnya," jelasnya.


Ningsih langsung berteriak memanggil Unik ... "Nik! Unik! Bantuin Teh Nancy, dan bawain sarapan ke paviliun untuk Mas Aditya. Jangan lupa, bawa Abdi ke sini. Biar Ibu yang ngasih dia sarapan. Sudah jam berapa ini, jam 07.00 anak belum mendapatkan asupan makanan, bisa rewel cucu ku sama kalian berdua!" geramnya melirik kearah Aditya.


Aditya hanya tersenyum tipis, mendengar celotehan Ibu mertuanya, "Buset dah ... Pagi-pagi ane sudah di omelin dua wanita. Bagaimana jika ane pengangguran? Bisa kenak PHK ane jadi menantu ..." sungutnya.


Unik dengan sigap membawa nampan yang berisikan makanan untuk dua orang suami istri tersebut, serta beberapa baju Abdi yang ia letakkan di atas nampan.


"Eeeh Nik, biar Mas Adit saja yang bawa ke paviliun, nanti Teteh kamu malah ngomel-ngomel lagi sama saya. Jadi kamu bisa ngerjain yang lain ..." bisiknya.


Unik menelan ludahnya, karena takut di omelin oleh Ningsih, "Eng-enggak usah Mas. Ini tugas Unik. Nanti Unik di omelin Ibu, sama Teteh. Mas Adit kan enggak boleh pegang kerjaan perempuan. Nanti malah gaji Unik yang di potong. Sudah sana ... Mas Adit ngapain kek, ngepel, nyuci, atau bantuin Mang Nanang bersihin mobil, Bapak!" tawanya menyeringai kecil, berlalu meninggalkan Aditya menuju paviliun.

__ADS_1


Aditya hanya mendengus dingin, melihat Unik berlalu meninggalkan rumah utama mertuanya menuju kamar paviliun mereka.


"Kalau sampai ketahuan Abdi jatuh dari ranjang, bisa kelar hidup ane! Mendingan cuci mobil saja ..."


Namun saat akan mengambil selang panjang, ia melihat dua orang pria muda yang berdiri di luar pagar, dengan wajah urakan, tato berlambang hati yang tertusuk panah asmara dan berdarah di lengannya, membuat Aditya berdiri tegap membuka pagar rumah dengan lebar.


Melihat Aditya yang berdiri di depan pagar, membuat dua pemuda itu menunduk hormat pada pria gagah yang berperawakan tinggi dengan potongan rambut cepak ...


"Pagi Om ...!" sapanya dengan senyuman semanis gula.


"Hmm ngapain kalian? Lihat-lihat rumah saya?" gertaknya.


"Eee eng-enggak Om, kamu cuma mau memastikan bahwa rumah kos yang di belakang Om yang gerebek? Karena kami kehilangan Ayu, adik kami Om," jelasnya semakin mendekat.


Aditya menautkan kedua alisnya, "Ayu? Emang cewek itu adik kalian? Kok kalian jelek, adik kalian cantik? Lagian kenapa kalian biarkan adik kalian di obrak-abrik sama empat pria seperti itu hah?"


Pemuda yang bertato itu tampak semakin ketakutan, "Eng-enggak Om, mereka yang menculik adik kami, karena kami ngamen di perapatan lampu merah. Nah, pas kami kembali, adik kami sudah tidak ada. Beberapa warga sini bilang, bahwa menantu Pak Sugondo yang angkatan sudah membawa mereka, makanya kami kesini untuk menanyakan sama Om," jelasnya.


Aditya kembali melihat penampilan di pria yang ada dihadapannya dengan penuh seksama ...


"Adik kalian cantik, tapi kok kamu berpenampilan aneh begini. Tidak ada kemiripan antara kalian bertiga! Bisa tunjukkan identitas keluarga kalian, atau bawa kedua orang tua kamu ke kesatuan militer angkatan darat. Saya tidak percaya dengan semua ucapan kamu!" tegasnya.


Kedua pemuda itu tampak kebingungan, dia hanya mengeluarkan handphone miliknya, dan menunjukkan bahwa mereka benar-benar adik kakak.


Aditya tersenyum lirih, "Maaf yah ... Langsung ke kantor saja, sebelum adik kamu saya bawa ke kantor polisi hari ini!"


Sontak pernyataan Aditya membuat kedua pria muda tersebut hanya bisa menelan salivanya ...


"Ja-ja-jam berapa Om? Apa yang mesti kami persiapkan Om?"


"Siapkan KTP, kartu keluarga, untuk mengeluarkan adik kamu. Jika tidak, adik kamu akan saya bawa ke sini!" tegasnya ...

__ADS_1


"Eee ... Kayak mau ambil dana BLT saja, Om!"


"Begitulah ...!" jawabnya asal.    


__ADS_2