Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Cinta


__ADS_3

Keindahan kota metropolitan yang cerah, sangat berbeda dengan cuaca di daerah Lembang yang sejuk. Betapa beruntungnya putri kesayangan Sugondo itu kali ini, dia kembali merasakan deg degan dan merasakan kegelisahan sepanjang perjalanan.


Cinta, hanya itu yang ada dalam benak Nancy setelah menyandang status sebagai istri Aditya Atmaja.


Beberapa kali Nancy hanya bisa tersenyum sendiri, mengingat kenangan indah bersama Adit selama seminggu sebelum keberangkatan menuju medan perang, sehingga meninggalkan benih cinta mereka yang hingga saat ini belum di ketahui oleh Aditya Atmaja.


Nancy menoleh ke jok penumpang sebelahnya, melihat satu paper bag, yang berisikan handphone canggih seri terbaru, yang beberapa waktu lalu ia lihat Mang Nanang membawanya.


"Apakah ini handphone punya Bapak? Atau bagaimana ...?"


Nancy mengalihkan pandangannya kearah lain, hanya untuk menikmati perjalanan, tanpa mau bertanya dengan mertuanya.


Sepanjang perjalanan mereka hanya berbincang seadanya. Karena memang tipe Nancy kurang suka bicara panjang lebar, apalagi dengan orang tua. Dia memilih menjadi pendengar yang baik, daripada harus banyak bicara.


.


Disisi lain, Aditya dan team prajurit lainnya masih melakukan kegiatan pagi seperti biasa. Olahraga dan kembali mengatur pola makan yang telah di persiapkan oleh batalion pasukan militer angkatan darat seperti biasanya, sangat di nikmati bagi mereka yang kembali ke tanah air dengan penuh kerinduan.


Bukanlah hal yang mudah bagi mereka, untuk bisa kembali normal, karena masih melakukan pemeriksaan kesehatan untuk mengembalikan mental sang prajurit seperti sedia kala.


Kedatangan keluarga inti kali ini sangat di nantikan oleh mereka, karena akan mendapatkan dukungan penuh, dalam melaksanakan pelepasan prajurit, saat upacara kembalinya mereka ke pelukan keluarga beberapa minggu lagi.


Tentu Luqman dan Ali yang masih single, hanya menikmati keindahan mereka saat bergabung dengan team lainnya yang sama-sama bergabung di sana.


Yodi menepuk pundak Fredy, yang sudah berpakaian rapi, menanti kehadiran istri tercinta.


"Kita di kasih waktu hanya dua hari untuk melepas rindu, habis itu kembali lagi ke barak. Aaagh ... Dua hari rasanya masih kurang, karena meninggalkan anak istri selama satu tahun," tawa Yodi memilih duduk di samping Fredy.


Fredy mengangguk membenarkan, tapi kali ini dia sangat bersyukur bisa kembali dengan selamat di tanah air, walau harus mengalami trauma dan depresi yang sangat menyakitkan didalam penjara bawah tanah.


Fredy hanya bisa menekukkan wajah tegasnya, sambil mengenang masa sakitnya menjadi tawanan ...


"Bambang pikir aku itu Aditya! Jadi mereka sebenarnya salah sasaran. Pokoknya kejam lah! Tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata di dalam sana. Aku kasihan sama Celine, dia sangat tertekan karena harus menahan kerinduan pada dua anaknya. Tapi dia wanita tangguh dan aku salut sama ibu dua anak itu," jelasnya dengan mata berkaca-kaca.


Aditya yang mendengar penuturan Fredy hanya bisa berucap syukur didalam hati, karena terlepas dari serangan Bambang yang memang sengaja ingin melukainya.


"Apa salah ku pada anak itu? Hingga seperti itu dia ingin menyakiti ku ..." geramnya.


Entahlah, hanya Celine yang mengetahui apa masalah Bambang pada Aditya, sehingga memiliki dendam kesumat hingga beliau menutup usia.


Luqman mendekati ketiga sahabatnya, yang di beri izin untuk bertemu istri tercinta, dan di berikan tempat khusus dalam menghabiskan waktu dengan pasangan halal yang terdaftar di kesatuan.


Sementara Ali dan Luqman ingin bertemu dengan Jumaida hanya untuk sekedar menyapa gadis tomboi itu, karena barak mereka berjarak beberapa blok saja.

__ADS_1


Setelah makan siang bersama, Komandan Sarkawi masuk ke ruang makan yang masih berkumpul beberapa prajurit elite angkatan darat, memberi perintah pada 10 orang yang di beri izin untuk bertemu keluarga, termasuk Aditya, Yodi serta Fredy.


Jam makan siang yang sudah biasa mereka lakukan gabungan, tanpa boleh berbicara saat makan berlangsung hingga selesai, 10 nama yang di panggil mulai mengasingkan diri.


Mereka menuju ruangan serba guna yang telah di persiapkan pihak kesatuan, sebagai mana mereka bertemu dengan pasangan dan orang tua tercinta.


Aditya yang baru kali ini kembali dengan status yang berbeda, membuat perasaannya sedikit tak tenang. Debaran yang tak pernah ia rasakan selama di medan perang, kini kembali terasa, dan semakin kuat ia rasakan.


Jika berada di dekapan Aditya saat ini, mungkin akan dapat merasakan, dadanya bergemuruh bahkan seakan rontok saat mendekati ruangan serba guna tersebut.


Aditya hanya mengingat ciuman terakhir kali yang dilakukannya bersama Nancy saat di dermaga sebelum keberangkatan. Entahlah ... Dia hampir lupa rasanya memiliki istri.


"Aaagh ... Neng, apakah begini rasanya jauh dari istri? Sehingga Mas lupa bagaimana hangatnya saat mendekap tubuh indah mu ..."


Benar saja, saat para prajurit gabungan memasuki ruang serbaguna, mereka baru dipertemukan dengan kedua orangtuanya, sementara para istri masih menunggu di gedung sebelah yang hanya terhalang pembatas terbuat dari grc sejenis triplek tebal, yang dengan mudah di geser jika ada acara lebih besar, seperti yang akan di lakukan beberapa waktu lagi.


Sontak kerinduan Aditya Atmaja pada Sulastri begitu haru. Mereka menangis sejadi-jadinya, karena dapat di pertemukan kembali dengan kedua orang tua yang masih tampak sehat, yang selalu sabar mendoakan karir terbaik anak-anak mereka.


"Apa kabar Bu?" kecup Adit pada punggung tangan Sulastri dan Atmaja bergantian.


Sulastri memeluk erat tubuh kekar Adit, yang tampak kurus dari sebelum berangkat.


"Ibu sehat, kamu bagaimana? Masih ingat kan wajah menantu Ibu?" godanya sambil menyeka air matanya.


Adit bertanya sedikit kaku, "Masih Bu, apa dia ikut sama Ibu?"


Sulastri tersenyum, menjawab dengan anggukan.


Atmaja tersenyum lega, mengusap dadanya pelan, menunggu komando dan komandan batalion pasukan, yang akan membuka ruangan di sebelah tersebut, kini berada dihadapan mereka semua.


Adit menunggu dengan posisi berdiri tegap menunggu pintu terbuka. Sesekali ia menundukkan kepalanya, hanya untuk sekedar mengatur nafas, mengambil oksigen secara teratur, karena saat ini dia agak sulit bernafas.


Begitu juga dengan prajurit lainnya. Perasaan yang berbeda, menunggu sang istri yang diatur sedemikian rupa hanya untuk sekedar memberikan kenyamanan pada mereka yang masih berada dalam tekanan luar biasa, dari perasaan bersalah yang dihadapi di medan perang.


Komandan militer memberi perintah agar pintu terbuka lebar yang dibantu oleh pasukan lainnya.


"Siap! Pintu segera terbuka!"


Beberapa kali Aditya menelan ludahnya susah payah, menunggu pembatas itu terbuka dengan sempurna.


Sulastri berdiri di sisi kiri Aditya, sementara Atmaja berdiri di sisi kanan sang putra kebanggaan.


Pintu terbuka lebar, Aditya mencari keberadaan istri tercinta, diantara sembilan para istri prajurit lainnya.

__ADS_1


Sontak matanya tertuju pada sosok wanita yang sangat berbeda dari yang lainnya. Wajah cantik keibuan, membuat Aditya meneguk ludahnya karena merasa tenggorokannya mengering tiba-tiba.


Entahlah ... Aditya merasa bersalah karena tak pernah mengingat semua tentang Nancy. Namun, kali ini dia kembali terpesona melihat kecantikan dan keanggunan seorang istri Aditya Atmaja yang merupakan wanita halalnya.


"Neng Nan-cy ..."


Sulastri mengusap lembut punggung Aditya, meminta Adit mengejar sang istri yang masih menunggunya dengan dada bergemuruh dan sesak, tak karuan.


Nancy tampak salah tingkah bahkan gugup. Bibirnya tak mampu berkata-kata, bahkan hanya merindukan dekapan dari seorang suami yang ia rindukan selama ini ...


Dengan langkah cepat, Aditya Atmaja mengejar istri tercinta, begitu juga Nancy berlari kearah suaminya.


Perasaan berbeda, suasana yang berbeda, membuat suasana tampak seperti menemukan cinta sejati, cinta halal yang senantiasa menunggu dengan setia. Dalam sumpah untuk selalu menjaga komitmen, kehormatan dan nama baik keluarga.


Saat langkah mereka semakin mendekat seketika langkah itu terhenti, hanya untuk sekedar memastikan bahwa ini bukan mimpi ...


"Mas Adit ..."


"Neng Nan-cy ..."


Aditya langsung berhambur mendekap tubuh ramping istrinya yang tampak semakin berisi, dengan penuh kerinduan, tanpa ada jarak sedikitpun. Ingin sekali dia menggendong Nancy, membawanya berputar-putar bak drama Bollywood, dengan iringan lagu dan hujan.


Namun kali ini, Aditya merasakan indahnya dicintai wanita terhormat seperti Nancy, yang selalu tampak sempurna di matanya.


Nancy meremas kuat baju kaos loreng yang Adit kenakan, memecahkan tangisnya di dada suaminya. Rasanya ingin sekali ia menggigit Adit, karena tidak pernah bertanya kabar padanya, tapi ternyata ...


"Aaagh Mashh Adit ..."


Adit lebih dulu mengigit kecil bahu sang istri karena geram dan rindu, sehingga membuat istrinya merengek manja, melanjutkan tangisnya.


"Neng rindu sama Mas, Neng butuh Mas, Neng enggak mau jauh lagi ... Jangan pernah tinggalkan Neng lagi, Mas ..."


Hanya itu yang dapat Nancy ungkapkan, sementara Adit hanya menutup mata, menikmati hangatnya tubuh sang istri, tanpa bisa berkata-kata. Tubuhnya hanya bisa merasakan halusnya kulit Nancy yang menyentuh lehernya, karena istrinya tak melepaskan tangannya di leher kekar itu.


Sekuat apapun wanita jika berjauhan dengan belahan jiwanya, ada masanya ia membutuhkan pasangannya.


Jika memang takdir mengatakan bahwa dialah pasangan mu, sekeras apapun kita melawan, jika dipertemukan dalam keadaan yang berbeda, semua akan berubah dalam sedetik.


Karena hanya Tuhan yang mampu membolak-balikkan hati manusia dalam hitungan detik.


Keduanya hanya saling mendekap, sesekali bibir saling mengecup saat mata basah itu saling menatap, sambil mendengarkan isak tangis prajurit lainnya, yang sungguh memilukan.


Cinta ...

__ADS_1


__ADS_2