Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Buat sial ...


__ADS_3

Setelah melihat Aditya mengakhiri panggilan teleponnya, perlahan Nancy memeluk tubuh kekar itu dari belakang. Membuat Adit yang sangat merindukan sentuhan Nancy diam tak bergeming. Dia seperti tengah dilanda hasrat, namun tidak dapat untuk melanjutkan, karena harus segera ke kesatuan militer untuk meminta surat perjalanan dinas menuju Jakarta besok pagi.


Nancy menyandarkan kepalanya dipunggung Aditya, mengusap lembut dada bidang sang suami dengan penuh perasaan bahagia ...


"Siapa yang menghubungi Mas? Apakah kita akan berakhir dalam keadaan begini, atau hmm ..."


Aditya membalikkan tubuhnya, menatap lekat iris mata Nancy yang sangat menyejukkan, mengusap lembut pipi halus, dan menyematkan anak rambut yang masih menutupi wajah cantik istrinya dengan perlahan, sambil menjawab, dan kembali bertanya.


"Kantor Neng, tadi sahabat kamu menghubungi ngapain? Mas agak-agak kurang mendengar tadi, apakah Jumaida membicarakan tentang Komandan Dida?"


Nancy mengangguk, tapi dia malas membahas tentang masalah wanita laknat bernama Evi tersebut.


"Sudah, Mas beres-beres dulu. Jangan buang-buang waktu, masih ada hari besok buat kita mesra-mesraan ..." kecupnya lembut pada bibir basah Aditya.


Namun Aditya tak ingin melewatkan momen indah berdua dengan Nancy, dia justru menggendong tubuh ramping istrinya diatas ranjang peraduan, tanpa mau mendengarkan penolakan dan teriakan manja dari bibir mungil sang istri.


"Mashh ... Katanya mau kerjahh ahh ..."


Aditya tak kuasa menahan hasratnya yang terpendam selama dua bulan sengaja ia tahan kala itu. Kali ini dia benar-benar terpedaya oleh pesona seorang Nancy. Wanita cantik, yang selama ini mencintainya dalam diam, dan baru kali ini dapat dirasakan nya betapa indahnya menjalin kasih setelah menikah.


Errangan, dessahan saling bersahutan didalam kamar mewah itu, tanpa menghiraukan panggilan telepon dari berbagai penjuru dunia, bahkan siang itu Aditya dapat melabuhkan cintanya pada seorang Nancy yang telah menjadi istri sahnya sejak satu tahun lalu.


Entah berapa kali kedua insan itu menikmati kebahagiaan yang utuh, bahkan saling berbalas dessahan membuat peluh dan saliva yang saling menyapa tanpa mau terpisahkan lagi ...


"Mashh ... Ahh ..."


"Hmmh ini indah banget Nenghh ... Mas hmm Ahh ..."


Aditya menghentakkan pinggulnya lebih dalam, saat kebahagiaan kembali terasa dan semakin dicengkeram kuat oleh milik Nancy dibawah sana.

__ADS_1


Tubuh keduanya ambruk di ranjang, karena mereka sedikit melakukan hal baru untuk menambah keromantisan dalam berhubungan dengan pasangan halal sendiri.


Nancy yang sudah menelungkup diatas ranjang, di dekap lagi oleh Aditya dari belakangnya, membuat keduanya masih enggan untuk meninggalkan kamar mewah itu.


"Neng ... Mas masih mau di sini. Nanti malam kita nginap disini saja yah? Neng temanin Mas ke kantor dulu, buat mengambil surat jalan, dan bertemu dengan Komandan Dida," jelasnya sesekali mengecup lembut punggung telanjang Nancy.


Nancy tersenyum sumringah, menoleh kearah suaminya yang masih berada diatasnya tanpa mau melepas penyatuan mereka yang sangat menyesakkan dibawah sana.


"Hmm ... Iya, tapi Mas mau ke kantor, kan, terus bagaimana? Apa mesti kita enggak turun, makan, sama ambil baju pulang ke rumah? Nanti Bapak ngomel lho, Mas. Masalahnya Neng enggak ngomong sama Bapak kalau bakal nginep tiga malam di hotel," jelasnya panjang lebar. 


Aditya yang merasa gemas melihat wajah manja Nancy tengah berceloteh, kemudian menghentakkan lagi pinggulnya, membuat wanita itu kembali mengeerang menggigit bibir bawahnya.


"Mashh ... Ahh hmm ..."


Nancy tak kuasa untuk melarang, karena kini Aditya yang lebih mendominasi permainan indah mereka berdua. Sehingga pria bertubuh tegap itu kembali merasakan kehangatan yang semakin memijat kuat miliknya dibawah sana, membuat mereka hanya bisa saling berciuman mesra dengan penuh perasaan bahagia.


Entahlah ... Kali ini Aditya menginginkan Nancy, selalu menjepit miliknya, tanpa mau melepaskan lagi, karena menyesal telah menyia-nyiakan wanita sehebat dan sebaik Nancy selama pernikahan mereka.


Nancy kembali menggenggam jemari Aditya saat merasakan kebahagiaannya yang sangat berbeda. Perasaan cinta yang berbalas, membuat wanita satu anak itu semakin mendekatkan wajahnya agar mendapatkan ciuman dari sang suami.


Benar saja, Aditya mengusap lembut kepala Nancy, mengecup lembut kening istrinya, sambil mengucapkan, "Mas mencintai, Neng. Terimakasih ..."


Mendengar kalimat seperti itu, membuat tubuh Nancy berada di surga terindah yang selama ini dia bayangkan tidak pernah akan terjadi, namun kini hati Aditya benar-benar berbalik 180 derajat, kepadanya.


Senang ... Tentu sangat membahagiakan bagi Nancy. Sejak kelas tiga sekolah menengah pertama ia jatuh hati pada seorang Aditya, baru kali ini pria itu menyatakan dengan tulus sambil menatap mata indahnya.


Aditya melepaskan penyatuannya, menggendong tubuh Nancy untuk melakukan ritual bersama. Benar saja, didalam kamar mandi yang luas itu, lagi-lagi terdengar suara dessahan-dessahan yang tak pernah ada habisnya, membuat seseorang diseberang sana yang menghubungi Aditya merasa kesal ...


"Kemana sih tuh bocah! Apakah siang-siang begini mereka masih indehoi ...?" gerutu Aldo dihadapan Bethrand.

__ADS_1


Bethrand yang tengah sibuk dengan pekerjaannya, hanya menoleh sebentar kearah Aldo, kemudian melanjutkan pekerjaannya ...


"Kenapa? Bukankah kamu yang memberikan dia kamar bulan madu tiga malam. Jangan di ganggu dong!" ucapnya sambil memasukkan kentang goreng kedalam mulut sendiri.


Aldo mendengus dingin, "Iya ... Tapi dari tadi mereka tidak menghubungi aku. Apakah mereka belum membuka isi paper bag? Masalahnya mobil yang aku pesan untuk Aditya sudah ada di showroom. Yahh ... Walau hanya city car, tapi cukuplah untuk keluarga kecil itu."


Bethrand mengangguk-angguk sambil tersenyum, melihat lagi kearah Aldo yang sejak tadi menatap layar handphone miliknya.


"Jadi kita menyusul para istri seminggu setelah mereka berlibur, kan? Karena aku masih banyak pekerjaan hingga dua bulan kedepan. Produksi kami disetujui dan aku akan berangkat ke Netherland bersama Pak Sugondo dan Pak Atmaja. Mungkin membawa Nancy juga, karena dia selaku direktur utama di perkebunan," jelas Bethrand.


Aldo menautkan kedua alisnya, tertawa kecil mendengar penuturan pria bule yang selalu menjadi bulan-bulanan oleh Aditya ... "Hati-hati jangan terlalu dekat dengan Nancy. Takutnya sahabat ku itu tidak bisa membedakan antara pekerjaan dan pribadi. Rasa ketakutannya sangat tinggi, karena dia pernah melakukan kesalahan. Jadi lebih inscure pada istrinya," tawanya.


Bethrand hanya menggelengkan kepalanya, "Jika Nancy ikut, aku pasti membawa Prisil. Karena tidak mungkin aku akan berjalan berdua Nancy, walau ada dua pengawal. Namanya juga perasaan, takut jika getaran itu timbul karena terbiasa bertemu ..."


Aldo mengangguk setuju. Dia sangat mengagumi cara Bethrand sejak dulu, yang selalu menjaga komitmen dalam pernikahannya bersama Prisil.


Walau usia terpaut jauh dengan sang istri, namun pria bule itu masih saja menganggap bahwa Prisil anak kecil yang tidak suka menjalani dunia bisnis seperti Emi dan Nancy.


Saat kedua-nya tengah berbincang-bincang selayaknya partner bisnis, Aldo mendapatkan kiriman video laknat Evi dan dua pria yang bergantian melakukan hal itu ...


Sontak pemandangan itu, membuat Aldo merasa mual, kemudian melemparkan handphonenya pada Bethrand ...


"Aagh shiiit! Damn it! Gibran monyet, setan, brengsek! Buat sial tujuh hari tujuh malam tuh orang ..." umpatnya geram.


_____


Hai hai hai ...


Tinggal dua hari lagi ... Author akan mengundi sesuai top fans dan komentar yah, secara acak, untuk dua orang yang mendapatkan kenang-kenangan dari author edisi bulan Oktober ...

__ADS_1


Terimakasih atas kunjungan dan suport untuk karya ini ... Salam sehat untuk kita semua ...😘😍


__ADS_2