Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Pengen tahu saja ...


__ADS_3

"Nancy!"


Pria tegap bernama Aditya itu terjaga dari tidurnya, di malam yang dingin, terdengar suara angin sangat kencang, seperti akan memporak porandakan markas militer angkatan darat yang masih berdiri kokoh, terus bergoyang-goyang mengikuti arah angin yang sangat mencekam.


Adit semakin khawatir dengan keadaan Nancy sang istri. Entahlah, beberapa hari ini, dia merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan tentang wanita yang telah dia persunting beberapa waktu lalu.


Adit membangunkan Luqman, karena dia tidak menemukan keberadaan handphone miliknya sejak lama, dan Adit baru menyadari saat ini.


"Bro! Bro ... Bangun! Lo melihat handphone ane enggak, yah? Ane rasa sudah lama sekali tidak memberi kabar pada Nancy, dan saat ini aku mimpi dia," jelasnya pada Luqman yang setengah sadar.


Luqman mengerjabkan matanya, mengusap pelan, memilih duduk disamping Adit.


Luqman menjelaskan panjang lebar, kembali bertanya pada sahabatnya, "Handphone kita hancur, saat penyerangan waktu itu. Saat ini keluarga kita hanya mendapatkan kabar dari pihak Komandan Danu angkatan udara, yang menolong kita beberapa waktu lalu. Emang apa yang kamu rasakan saat ini? Apakah dia sedang sakit?"


Adit menggelengkan kepalanya, dia hanya menghela nafas dalam-dalam, sedikit khawatir pada keadaan Nancy.


"Aku takut dia selingkuh, bro!"


Sontak ucapan Aditya itu ditepis oleh Luqman yang mengenal Keluarga Sugondo.


"Hmm aku ragu kalau istrimu tukang selingkuh. Karena melihat kita-kita yang masih single ini saja, dia tidak tertarik. Bagaimana mau selingkuh! Sudah, jangan bodoh. Seorang Nancy, tidak mungkin akan selingkuh karena dia wanita baik-baik dan anak rumahan. Aku tahu dari Jumaida, mereka berteman sejak kecil. Jadi sangat mengenal watak Nancy istri mu! Sudah aaagh ... Aku mau tidur. Karena besok kita sudah berlayar untuk kembali ke tanah air! Jangan racuni pikiran mu, dengan hal-hal yang tidak baik!" jelasnya panjang lebar, melanjutkan tidurnya.


Aditya beranjak dari alas tidurnya, mencari keberadaan foto Nancy yang selalu ia simpan di dalam dompetnya.


Namun saat Adit tengah memandang foto istri tercantik nya, seketika lamunan Adit di kejutkan dengan suara isak tangis Fredy yang telah sadar dari komanya beberapa hari lalu.


Adit mendekati Fredy yang ternyata lebih tergoncang dari dirinya selama ini. Bagaimana tidak, lebih dari 10 bulan harus berjibaku didalam penjara, tidak mandi dan hanya memakan makanan basi, bahkan entahlah. Tingkat depresi para prajurit kali ini berbeda-beda, saat menghadapi semua tantangan di medan perang.


Adit bertanya dengan suara pelan pada Fredy, "Kenapa kamu menangis? Bukankah kita akan kembali?"


Fredy menoleh kearah Adit, dia memperlihatkan foto putra kesayangannya, yang sangat ia rindukan selama beberapa bulan ini.


"Aku rindu sama anak dan istri ku! Apalagi istri ku tengah mengandung dua bulan saat aku tinggalkan. Mungkin dia sudah melahirkan sebelum aku kembali, bro! Kedua anak ku, harus lahir tanpa ada aku di samping mereka," tangisnya.

__ADS_1


Mendengar kalimat seperti itu, sontak Adit mengingat Evi yang tengah mengandung saat di tinggalkan oleh Bambang ...


"Berarti Evi sudah melahirkan anak Bambang? Ooogh Tuhan, aku telah membunuh Bapak dari anak Evi, dan aku harus bertanggung jawab demi melindungi Evi juga anaknya ..."


Pikiran Adit seketika bercampur aduk, membuat kepalanya semakin berdenyut, membuat dia semakin tampak frustasi, "Aaagh!"


.


Sementara di rumah sakit, Nancy tengah berjuang di meja operasi, untuk melahirkan anak pertamanya, dengan pertolongan Dokter Arlen serta team anastesi dan dokter anak sudah berdiri untuk menyambut kelahiran anak Nancy.


Tepat pukul 01.00 dini hari, anak Aditya dan Nancy lahir ke dunia, membuat wanita cantik yang masih terhalang kain hijau di hadapannya mendengar suara tangis sang baby boy dengan sangat keras.


"Oeek ... Oeek ... Oeek ..."


Nancy menangis tersenyum bahagia, sementara tubuhnya masih dalam pengaruh bius spinal yang disuntikkan oleh dokter anastesi melalui punggung belakang, dan merasakan kebas setengah tubuhnya.


"Mas Adit, anak kita sudah lahir ..." senyuman Nancy mengembang bahagia.


Saat telinganya masih mendengar suara tangisan sang putra, Nancy kembali di suntikkan satu setengah ampul obat penenang, hanya untuk membuat wanita itu beristirahat sejenak.


Tersenyum bahagia karena dapat membantu keponakan sahabatnya Siska dalam proses persalinan dengan selamat.


Arlen membuka semua atribut kedokterannya, memilih keluar kamar operasi untuk memberitahu kabar bahagia ini.


Saat pintu terbuka lebar, Sugondo mendekati Arlen, begitu juga Ningsih dan Sulastri.


Pertanyaan mereka sama dan serempak ...


"Bagaimana keadaan anak dan cucu kami? Apakah mereka berdua selamat?"


Arlen mengangguk, "Selamat yah Pak, Bu. Nancy selamat, cucu bapak laki-laki, beratnya 3,5 kilogram, dan panjang 52 centimeter. Sekali lagi selamat, yah? Satu lagi, kalau nanti sudah tiba di ruangan, jangan berisik atau mengganggu tidur Nancy yah, Pak. Temanin saja dia, karena di pikirannya hanya Aditya. Jadi saya harap kita sama-sama menjaga hati wanita yang baru melahirkan!"


Sugondo mengangguk mengerti, namun mencubit kearah Ningsih sang istri agar tidak brisik jika sudah bertemu sang putri.

__ADS_1


"Apakah kami sudah bisa ketemu cucu kami, dokter?"


Arlen menggelengkan kepalanya, "Untuk saat ini kita masih biarkan ibunya istirahat dulu yah, Pak, Bu? Yang penting baby boy sangat tampan dan sehat. Nanti bisa lihat ke ruangan baby."


Arlen berpamitan, berlalu meninggalkan keluarga bahagia tersebut, yang sangat senang dengan kelahiran cucu pertama mereka.


Sulastri mengangguk mengerti, begitu juga Ningsih. Kedua wanita paruh baya itu tersenyum bahagia, bagaimanapun mereka sudah mendapatkan keturunan dari perjodohan anak mereka yang tidak memiliki perasaan pada awalnya.


Sugondo tertawa bahagia, sambil berucap, "Nanti kalau Nak Adit pulang, suruh buat anak lagi yang banyak, Bu! Jadi bisa kita jagain, mudah-mudahan perempuan, biar cantik kayak anak ku!"


Ningsih mencubit kecil perut suaminya, menggeram kesal, karena lagi-lagi suaminya minta anak yang banyak.


"Kamu pikir anak ku itu enggak capek apa? Hamil itu harus pakai rencana Pak. Bukan asal hamil saja! Harus mikir sekolah, biaya pendidikan, perawatan. Emang Bapak pikir aku selama ini ngerawat anak gadis kamu itu di biarin aja gitu? Pake ini Pak eee ... Pake ini ..." Ningsih menautkan jempol dan telunjuknya, sambil menggoyangkan di wajah Sugondo.


Sugondo mengeluarkan dompetnya, "Nih ... Nih ... Nih ... Dasar cewek matre! Duit aja, ijo!"


Ningsih mengusap wajah suaminya, merampas dompet sang suami, dan meletakkan di dalam tas tangannya.


Sementara di lorong koridor rumah sakit, Atmaja yang baru menerima panggilan telepon dari Jakarta, berjalan dengan langkah cepat menuju besan serta istrinya sambil berkata ...


"Alhamdulillah ... Semua prajurit angkatan darat berhasil selamat. Tapi ternyata Bambang menantu Sunardi meninggal dan mayatnya akan di bawa ke sini. Ternyata selama ini hmm ... Sudah lah!"


Ningsih dan Sulastri saling tatap, saat mendengar suami Evi meninggal.


Sulastri bertanya penasaran, "Emang suaminya Evi militer juga Pak? Bukannya wartawan?"


Atmaja, tak ingin menjelaskan secara rinci di sana. Karena akan berdampak pada dinding yang akan bicara pada siapapun, termasuk Nancy sang menantu kesayangan.


Sengaja Atmaja mengalihkan pembicaraan nya, "Bagaimana cucu kita, Bu? Nancy? Apa yang mau di makan menantu ku itu? Biar aku beliin. Sop iga, sop ikan gurame atau soto Betawi, Padang?"


Sulastri melayangkan tangannya ke udara, dia masih penasaran dengan berita kematian Bambang suami Evi. Ia mendekatkan wajahnya ketelinga suaminya, hanya berbisik, "Kenapa suaminya Evi? Kok bisa mati, Pak?"


Atmaja menjawab, melakukan hal yang sama pada istrinya, "Pengen tahu saja! Nanti kalau di rumah kita ngobrol!" tegasnya.

__ADS_1


"Iiighs ...!"


Sementara Sugondo dan Ningsih saling menatap, saling berbisik-bisik ... "Kalau Evi janda bagaimana dengan anak kita?"


__ADS_2