Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Perhatian


__ADS_3

Cinta telah pergi ... Membawa orang terkasih yang berada di kapal perang milik negara, membuat air mata Nancy serta para istri yang di tinggalkan tidak kunjung berhenti menangis ...


"Mas ... Neng cinta sama, Mas ..."


Hanya kalimat itu yang keluar dari bibir mungil Nancy dengan linangan air mata.


Ningsih dan Sulastri mendekati anak menantunya yang masih menangis, dengan tangan masih mengepal terletak didada.


"Neng ... Kita pulang yah?" Sulastri mendekap tubuh ramping menantunya.


Nancy menepuk-nepuk dadanya sendiri, "Sakit Bu ... Sakit banget! Mas Adit baru seminggu ini mesra sama Neng. Tapi dia pergi meninggalkan Neng selama setahun. Bagaimana kalau dia enggak pulang, Bu!" isaknya di pelukan ibu mertua.


Sulastri mengusap lembut bahu Nancy, "Kamu harus kuat, karena hal itu yang Ibu rasakan saat Bapak pergi ... Tapi kita percaya, Tuhan pasti menjaga suami kita yang pergi berperang. Mas Adit pasti kembali, Ibu yakin!"


Nancy mengusap lembut wajahnya, ia menatap lekat mata Sulastri hanya untuk bertanya, "Ibu yakin? Mas Adit kembali dengan selamat?"


Sulastri mengangguk tersenyum, "Kita pulang yah? Kamu masih bisa menyibukkan diri di organisasi Persit, atau sibuk di pabrik. Mas Adit dan Bapak pasti senang."


Nancy mengangguk, membalikkan tubuhnya, kembali menoleh kearah kapal yang sudah jauh, sejauh mata memandang.


Saat mereka mendekati mobil yang berada di parkiran, Mang Nanang membukakan pintu mobil untuk anak majikannya, yang memilih duduk di bagian depan. Ia tidak ingin berada di belakang, karena kembali akan mengingatkan kenangannya bersama Aditya saat kembali dari club' milik Aldo sepupunya.


Sepanjang perjalanan, Atmaja justru bercerita tentang perjalanan karirnya, hingga terdampar di kota kembang, bersama Sulastri sang istri.


Pernikahan yang tak mendapatkan restu dari kedua orangtuanya, saat baru menjabat sebagai kolonel di Aceh, yang selalu dijadikan ajudan oleh para panglima jenderal bintang dua. Membuat karirnya meredup, saat memutuskan menikah dengan Sulastri.


Sehingga ia mengambil jalan yang benar-benar berat bagi sang istri. Harus ditinggalkan, selama dua tahun, hingga terakhir satu setengah tahun, harus berada diatas kapal perang.


Berjauhan selama bertahun-tahun menghabiskan waktu di medan perang, membuat Atmaja tidak mengenal putranya Aditya.


Nancy hanya mendengar semua cerita mertuanya, tanpa mau bertanya, ataupun menoleh kearah belakang.


Nancy menoleh kearah Mang Nanang, hanya ingin berhenti di supermarket rest area, "Nan ... Kita berhenti dulu, yah? Neng mau beli makanan, sama ke toilet."


Nanang mengangguk, mengikuti semua perintah putri majikannya.

__ADS_1


Sugondo justru menyusul sang putri, untuk membawanya ke restoran yang ada di rest area.


Nancy mengangguk patuh, kali ini dia hanya ingin mencari kesibukan sendiri sepanjang perjalanan, agar tidak mengingat Aditya sang suami.


Setelah memilih beberapa makanan kecil yang menjadi pilihan Nancy, Atmaja membayar semua belanjaan sang menantu ...


Nancy merasa sungkan, jelas-jelas ia menolak pemberian sang mertua, "Bapak ... Uang Neng ada kok!"


Atmaja hanya menggelengkan kepalanya, meminta semua belanjaan sang menantu dihitung dan ia bayar dengan santai.


"Enggak apa-apa. Kenapa enggak mau pakai uang Bapak? Takut enggak cukup buat bayar tol?" godanya pada Nancy yang masih cemberut.


Sulastri hanya tersenyum, membantu Nancy untuk membawa paper bag belanjaan sang menantu, yang berisikan makanan kesukaan Aditya.


"Bapak kamu sudah di Solaraya, Neng. Kita kesana saja, kebetulan Bapak juga pengen minum kopi. Ngantuk banget karena bangun jam tiga ..." celoteh Atmaja pada sang menantu.


Nancy hanya tersenyum tipis, mendengar kedua mertuanya saling menggoda sepanjang jalan dari parkiran mobil, menuju restoran, bahkan tertawa bahagia, walau memiliki anak cuma satu, Aditya Atmaja.


Sugondo tersenyum membukakan kursi untuk Nancy, saat melihat putrinya semakin mendekat.


Nancy melihat buku menu, menunjuk pada nasi sapi lada hitam, yang menjadi kesukaan Adit sang suami.


"Ini saja Pak ..." tunjuknya dengan nada pelan.


Sugondo memberikan buku menu pada besannya, meminta pelayan restoran agar membawakan makanan mereka lebih cepat.


Kedua keluarga itu saling bercerita tentang bisnis milik Sugondo, namun pandangan Nancy sedikit teralihkan, pada sosok wanita yang tengah mengandung ...


"E-e-vi ..."


Nancy mengalihkan pandangannya, tak ingin melihat wanita yang tengah di gandeng oleh Sunardi.


Sulastri melihat kearah Evi bersama keluarganya, tanpa ditemani Bambang, yang merupakan sahabat Aditya.


"Itu kan Sunardi dan anaknya ... Mana menantunya, jeng?" tanya Ningsih berbisik pada Sulastri.

__ADS_1


Ningsih menaikkan kedua bahunya, hanya berbisik-bisik menceritakan tentang putri Sunardi yang merupakan warga kampung sebelah di daerah yang sama.


"Saya kalau punya anak gadis, dari dulu enggak saya bolehin deket sama lelaki. Apalagi lelaki jaman keneh ... Meni ngegarap waeh ..." bisik Ningsih pada Sulastri.


Sugondo menepuk pundak istrinya, "Ssssht ... Enggak boleh ngomongin orang. Anak kita cewek juga. Nanti malah jadi fitnah sana sini. Sudah cepetan makan!"


Ningsih mengkerut kan keningnya, "Iiighs Bapak enggak tahu saja kelakuan anak Sunardi sebelum menikah. Neng tuh yang nolongin dia, saat ketahuan sama orang kebun teh, mereka ewew!" sesalnya.


Atmaja hanya diam tak ingin membahas calon menantu tidak jadinya itu. Dia hanya membantu Nancy menyuapkan makanan ke mulut sang menantu.


Nancy yang mendapatkan perhatian lebih dari mertua, sedikit sungkan, karena Sugondo tersenyum lebar menggoda sang putri.


"Pak, Nancy bisa sendiri. Enggak usah di suapin gini!" tolaknya, namun membuka mulut hanya untuk menghargai.


Atmaja sengaja melakukan hal itu, untuk mengobati kesedihan sang menantu yang di tinggalkan oleh putranya.


Namun, sangat berbeda yang ada dalam benak Evi. Ia melihat kemesraan keluarga tersebut, hatinya merasa teriris dan remuk. Karena tidak mendapatkan perhatian seperti Nancy dari mertua.


Evi justru di perlakukan buruk oleh mertua, karena kesalahan yang ia buat dengan Bambang beberapa waktu silam. Membuat kedua orang tua pria yang berprofesi sebagai jurnalis itu enggan menerimanya sebagai menantu, sehingga membiarkan putranya tinggal di rumah kontrakan yang tidak jauh dari rumah Sunardi sang mertua.


Evi menoleh kearah Nancy, menatap kesal wajah cantik istri Aditya Atmaja tersebut, dengan tatapan sinis.


"Mana Mas Adit? Kenapa wanita sombong itu malah pergi sama mertua dan orangtuanya? Atau jangan-jangan Mas Adit sama-sama berangkat dengan team Mas Bambang? Tapi kok aku enggak melihat mereka tadi di pelabuhan ...?" gumamnya dalam hati.


Nancy menikmati sepiring nasi sapi lada hitam, dengan candaan yang di haturkan oleh Atmaja serta Sugondo.


"Aaagh ... Setidaknya mertua juga bapak sangat perhatian pada ku ..."


_____


Hai hai hai ...


Yuk aaghh, Author butuh suport dan komentar biar lebih semangat update, dan akan memberikan Give pada reader setia Merebut Hati Suami Mayor, sampai akhir bulan 28 Oktober 2022.


Author akan mengirimkan hijab, atau daster bagi dua top fans yang paling banyak kasih othor hadiah ...

__ADS_1


Terimakasih ... Happy reading ...❤️🥰😘


__ADS_2