
Dimalam yang di taburi bintang-bintang, tubuh wanita hamil yang tertutup selimut tipis hanya menatap jauh kedepan menantikan sang fajar untuk membawa suaminya kembali dalam menjalani tugas.
Nancy hanya tersenyum bahagia, menantikannya kehadiran Aditya yang berjanji akan kembali malam itu. Benar saja, perlahan bahu mulus itu kembali merasakan kecupan manis dan lembut dari seorang suami.
Perlahan Nancy membalikkan tubuhnya, menatap penuh cinta seorang Aditya Atmaja, sambil tersenyum sumringah dan menantikan bibir itu saling berpagutan melepas kerinduan setelah satu minggu berlalu.
"Neng kangen, Mas. Malam ini Neng kangen banget sama, Mas. Satu minggu Neng hanya di temani ibu-ibu sekitar komplek, dan besok kami akan mengadakan seminar ringan tentang kegiatan yang menyenangkan bagi istri-istri kayak, Neng."
Aditya memeluk erat tubuh Nancy, mengusap lembut perut buncit yang sebentar lagi akan melahirkan. Perlahan ia turun ke bawah, untuk mengecup dan menyapa lembut perut sang istri, "Berapa hari lagi kata dokter, Neng?"
Nancy tersenyum, dengan mata berkaca-kaca ia hanya menjawab singkat, "Dua minggu lagi anak perempuan kita lahir ke dunia. Semoga saja, Neng sehat, Mas juga ada di sini."
Aditya kembali berdiri, setelah membacakan doa-doa untuk kelancaran proses persalinan Nancy. Ia mengecup lembut kening istrinya, menatap sendu kedua mata yang sangat menyejukkan jiwanya, "Mas bersih-bersih dulu ya. Tadi Mas ada beli makanan pas di jalan. Jadi Neng tidak usah repot-repot, kita makan berdua di kamar saja. Oke!"
Tangan halus nan lembut itu hanya mengusap lembut punggung Aditya, kembali menoleh kearah jendela, dan kembali duduk seperti awal tadi, menggunakan bantal khusus ibu mengandung, yang ia susun di sofa agar tetap nyaman.
Tidak banyak permintaan Nancy kepada Aditya. Dia hanya menikmati keindahan hidup bersama selama jauh dari orang tua. Tidak ada pertikaian, tidak ada pihak ketiga lagi, dan tidak ada perasaan cemburu dihati kedua-nya karena dapat saling membahu dalam merawat dan menjaga putri kecil mereka.
Kini sepuluh tahun berlalu ...
Sepuluh tahun juga usia Mutia Atmaja, sesuai nama yang diberikan Aditya kepada dua orang anak kesayangannya.
Kaki Aditya dan Nancy melangkah keluar dari pintu kedatangan luar negeri Jakarta, setelah kembali dari Yordania. Betapa terkejutnya Ningsih ketika melihat perubahan anak menantu dan cucu perempuannya yang sangat cantik persis Nancy kecil.
Rambut panjang ikal berwarna coklat, sama persis dengan Aditya jika gondrong, bulu mata lentik, dan bibir mungil berlari kencang mendekati Abdi yang sudah tumbuh menjadi anak laki-laki berusia 12 tahun.
Ya ... selama di Yordania, komunikasi mereka hanya menggunakan video call, serta Aditya di berikan cuti kembali ketanah air hanya satu minggu dalam kurun waktu satu tahun. Kini mereka telah pindah habis dari Yordania, setelah kurang lebih 10 tahun menghabiskan waktu dan kini menjadi mapan di sana.
Tentu saja posisi Aditya tidak akan tinggal di kota kembang lagi, melainkan diberi posisi yang sangat penting dalam kesatuan militer berprestasi di pasukan elite.
Jakarta, posisi Aditya ditempatkan di kota besar, dan akan tinggal di rumah dinas mereka, tapi tidak menutup kemungkinan Nancy masih tetap tinggal di kota kembang, jika mengurusi pabrik seperti biasanya bersama Sindi sang kakak angkat.
Waktu terasa sangat cepat berlalu, ditambah kita di kelilingi oleh keluarga yang baik, juga sangat menyayangi. Membuat beberapa orang diluar sana, semakin cemburu merasakan kebahagiaan enggan berpihak padanya.
Sudah lebih dari dua tahun Evi keluar dari penjara. Dan memilih tinggal agak jauh dari kampung tempat Nancy tinggal, karena merasa malu pada warga lain setelah di usir beberapa waktu lalu oleh masyarakat kampung mereka.
Aditya tengah berlari kecil menikmati keindahan perkebunan teh milik keluarganya yang semakin luas, dan masih terasa sangat sejuk. Membuat pemandangannya sedikit liar karena melihat putra kesayangannya tengah berbincang dengan gadis kecil seusia Mutia.
"Abdi, Abdi!" teriak Adit, karena tidak ingin melihat putranya berbincang dengan orang asing.
Abdi menolehkan wajahnya, menunjuk bahwa gadis kecil itu terjatuh dan terluka, "Gadis ini jatuh, Pa. Dan lututnya terluka. Makanya aku bantuin," jelasnya, sambil mengusap lembut lutut gadis kecil yang seusia dengan adiknya.
Dengan penuh semangat, Abdi yang memang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang ramah juga hangat, bertanya pada gadis kecil itu, "Siapa nama kamu? Dan dimana rumah kamu? Mau aku bantuin pulang enggak?"
Gadis itu menggelengkan kepalanya, dia menjawab pertanyaan Abdi dengan posisi wajah menunduk, "Aku Sonya, Aa. Sonya Larasati. Rumah ku sedikit jauh dari sini. Kami kesini hanya menghabiskan waktu, karena Mama ku bekerja di pabrik ini."
Abdi tersenyum sumringah, ia melihat wanita yang mengenakan pakaian tertutup mendekati putri kesayangannya, sambil menjongkok setelah meletakkan keranjang pemetik teh disampingnya, kemudian mengusap lembut kaki putri kesayangan, dan menoleh kearah Abdi dan Aditya yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik dua wanita ibu dan anak itu.
"Mas Adit!?" kejutnya, dengan mata membulat besar dan mulut ternganga, kemudian bergegas Evi membantu putri kecilnya untuk berdiri serta tersenyum sumringah, menyibak kedua tangannya untuk bersalaman dengan pria yang dulu menjadi mantan kekasihnya.
Adit hanya mengangguk biasa, tidak menyambut tangan wanita itu, hanya menundukkan wajahnya untuk menghargai Evi sebagai wanita yang bekerja di perkebunan teh milik keluarga istrinya, sambil merangkul bahu Abdi yang berdiri disampingnya.
Evi tampak seperti salah tingkah, jika diikutkan hati mungkin ingin sekali ia berhamburan memeluk tubuh pria yang semakin tampak gagah setelah sepuluh tahun tak bersua.
"Hmm, Mas Adit apa kabar? Kalau pulang mampir atuh ke rumah, Neng. Kami hidup sederhana saja dirumah kayu, tapi sudah tidak ngontrak. Apalagi semenjak Bapak meninggal dunia karena bunuh diri di penjara, jadi kami hanya tinggal bertiga saja. Eko anak Neng juga udah seumuran sama anak Mas Adit. Ta-ta-tapi dia ikut sama sodara di Sukabumi. Biasa bertani, Mas. Putus sekolah, karena tidak ada biaya lagi," senyumnya berusaha menarik simpati seorang Aditya.
Aditya tak banyak bicara, dia hanya tersenyum tipis, dan sesekali mengusap lembut kepala Abdi yang berdiri di sisinya. "Senang bisa melihat kamu tumbuh bersama keluarga kecil yang utuh. Walau tinggal di rumah kayu, yang penting kamu tidak kepanasan dan mendapatkan upah yang cukup di pabrik Keluarga istri saya. Senang bertemu dengan mu, Evi. Teruslah berjuang, besarkan anak-anak mu untuk membantu mu kelak. Saya permisi!"
Wajah Evi seketika langsung berubah, karena melihat Aditya tak sehangat dulu. Wajah yang dulu halus mulus, kini sudah di hiasi dengan flek-flek hitam karena pengaruh obat-obatan ataupun tidak pandai merawat diri. Tangannya mengepal kuat, ingin sekali ia merebut Aditya kembali. Namun apalah daya, Nancy lebih sempurna dibandingkan dengan dirinya.
Sangat berbeda dengan Nancy, yang sudah menjemput anak dan suaminya di perkebunan sambil tersenyum sumringah melihat kearahnya, dan merangkul pinggang Aditya sambil memberikan kunci mobil mewah yang mereka miliki saat ini.
__ADS_1
Evi bergumam dalam hati sendiri, dalam kepiluan, "Kenapa kamu lebih memilih wanita kaya itu daripada aku, Mas. Aku masih mencintai kamu. Tapi kamu justru semakin kaya dan bahagia bersama wanita itu! Maafin aku, Mas. Karena pernah jahat sama kamu, setidaknya aku ingin kita saling bercerita seperti dulu. Ini kamu kayak yang asing sama aku. Kamu kejam Mas Adit, jika aku tidak berhasil merebut hati mu lagi, maka anak ku yang akan merebut hati anak mu suatu hari nanti ..."
Nancy justru tengah berbahagia membawa dua putra-putrinya untuk berbelanja mingguan di salah satu swalayan dekat rumah mereka. Perlahan dia tersenyum sumringah, dan menautkan kedua tangan mereka yang sejak tadi saling menggenggam, sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang suami, sambil berkata pelan, "Neng pikir, Mas bakal gimana gitu ketemu sama janda gatel yang menjadi mantan terindah itu. Ternyata sudah tidak peduli lagi."
Perlahan Aditya mengusap lembut kepala istrinya, mengecup lembut kepala Nancy yang sudah tertutup hijab, "Mas hanya peduli sama Neng, tidak ada yang lain lagi. Cuma sama Neng, Abdi dan Mutia. I love you, Neng!"
Nancy mendongakkan wajahnya, agar Adit mencium bibirnya. "Cium ..."
Benar saja, Aditya langsung mencium bibir Nancy dihadapan anak-anak mereka.
"Igh ... sweet banget sih Mama dan Papa, semoga jika aku menikah nanti mendapatkan suami kayak Papa, romantisnya."
Mendengar pernyataan seperti itu dari Mutia sang putri, Abdi sebagai anak tertua merasa mual, "Sekolah! Nikah! Masih kecil mikirin nikah," celotehnya langsung memiting kepala adik tersayang.
"Kakak! Rusak tahu rambut gue! Agh! Lo nyebelin yah!" umpat Mutia, membuat mereka saling tertawa bahagia karena candaan anak-anak yang sejak di Yordania mereka rindukan.
TAMAT
_____
Hai hai hai ...
Jangan lupa mampir ke season dua Kawin Gantung Mafia vs Abdi Negara ...
Tak kalah serunya, dan tak kalah romantisnya. Ingat-ingat, bakal ada give bagi pembaca setia yah. Untuk lima orang yang rajin komentar dan like bahkan kasih give terbaik untuk cerita ku.
Terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, sehat selalu untuk kita semua. Salam cinta dari author Tya Calysta.
***
BHUG ...!
BHUG ...!
BRAK ...!
Gadis berambut pendek itu berhasil melumpuhkan lawannya, karena pihak mereka enggan membayarkan uang miliknya atas pembelian barang haram yang mereka pesan beberapa waktu lalu, kepada Arini.
"Dasar laki-laki sialan, jika tidak mampu membayar jangan ambil barang dengan ku, brengsek!" umpatnya, kembali menendangkan kakinya ketubuh pria yang sejak kemaren membuat ulah dengannya.
Dengan nafas masih tersengal-sengal, Arini menoleh kearah Samuel, memberikan perintah, "Cepat kau ikat kaki dan leher anak ini! Buat dia seperti bunuh diri, jangan tinggalkan barang bukti! Aku tidak ingin berurusan dengan hukum. Kau mengerti!"
Samuel menunduk hormat, "Baik Nona Zea!"
"Lakukan!"
Arini melangkahi tubuh pria yang sudah tidak bergerak tersebut. Melangkah dengan gagah berani menuju mobil mewahnya untuk menghadiri acara ulang tahun yang diadakan keluarga malam itu.
Bergegas Arini merubah penampilannya, sebagai wanita yang cantik dan elegan. Setelah melepaskan wig serta celana jeans panjang yang ia kenakan, untuk menghadiri pertemuan dadakan tersebut.
"Hmm, aku sudah terlihat lebih cantik dan anggun. Mama dan Papa pasti sangat suka dengan penampilan ku," tawanya geli mengagumi kecantikan wajahnya sendiri, setelah mengenakan lipstik berwarna natural dibibir indahnya.
Arini mengenakan resleting gaun malam yang selalu ia sediakan didalam mobil untuk berjaga-jaga. Sambil melihat kearah luar, untuk menyesiasati situasi gedung tua yang menjadi markas penghabisan orang-orang telah berbuat curang padanya.
"Rasakan kau, siapa suruh tidak membayar hutang pada ku! Kau pikir aku ini panti sosial, memberikan barang itu secara cuma-cuma untuk kesenangan mu! Dasar laki-laki brengsek tidak berguna ..."
Bergegas Arini menekan tombol otomatis, melajukan kendaraan, menuju kediamannya yang berada di Setiabudi kota kembang.
Lebih dari enam puluh menit perjalanan yang ia tempuh seorang diri. Arini memarkirkan kendaraannya dibawah pohon yang rindang berada di kediaman keluarga, hanya untuk kembali bersolek agar tidak diketahui oleh keluarga, apa pekerjaannya selama ini setiba di tanah kelahiran.
__ADS_1
Ya, Arini yang biasa menggunakan nama Zea jika sudah bersama para rekan bisnis haramnya. Menjadi anak kesayangan Aldo dan Emi yang merupakan cucu satu-satunya dari Keluarga Anggoro.
Berkali-kali dia menata rapi rambutnya yang panjang dan berkilau, sebelum turun dari mobil yang ia beli dari bisnisnya sendiri.
Di usia 24 tahun Arini sudah menyelesaikan tugasnya sebagai mahasiswa terbaik di salah satu universitas ternama di Swiss dan kembali ke Indonesia hanya untuk sekedar memastikan rencana kedua orangtuanya.
"Hmm, surprise apa yang akan diberikan Mama dan Papa padaku? Jangan-jangan Papa mau memberikan aku satu unit pabrik pil laknat ..." tawanya menyeringai lebar sebelum turun dari mobil kesayangannya.
Perlahan kaki jenjang itu turun dari mobil, melihat beberapa tamu undangan yang merupakan keluarga dekat dari Opa Anggoro, kemudian matanya melihat sosok pria yang pernah ia temuin di club' malam milik sang Papa.
Kedua alisnya menyatu, bergumam dalam hati, "Anak ini lagi! Dia selalu saja muncul di hadapan ku! Dia kan anak Papa Adit, ahh ... enggak seru kalau aku harus bertemu dengan anak ini. Apalagi aku dengar, dia lulusan angkatan ...!"
Bergegas Arini berlari kecil dengan balutan heels dua belas centimeter menghiasi kaki indah itu, sehingga terlihat sangat menawan juga elegan.
Abdi yang dilewati oleh Arini begitu saja, ketika akan memasuki kediaman keluarganya, sedikit mendengus dingin, bergumam dalam hati, karena gadis itu menabrak lengannya, tapi enggan berbalik hanya untuk mengucapkan kata maaf, "Siapa gadis itu? Apakah dia tidak memiliki tata krama ...?"
Dentuman musik terdengar sangat jelas, Arini memasuki kediamannya, kemudian menghampiri kedua orang tua hanya sekedar mencium dan menyapa orang yang telah membesarkannya hingga saat ini.
Emi memeluk erat tubuh ramping putri cantiknya, sambil berkata penuh kelembutan, "Dari mana saja, sayang? Sejak tadi Mama menunggu kamu."
Dengan manja Arini mengalungkan tangannya ke lengan sang Mama untuk sekedar minta maaf, "Sorry aku terlambat. Tapi ulang tahun kali ini, kadonya harus keren, karena kalau enggak berkesan, Arini pulang lagi ke Swiss dan tinggal sama Opa," sungutnya.
Aldo yang melihat putri kesayangannya sudah hadir bersama mereka, langsung meminta MC untuk memulai acara keluarga tersebut, ketika melihat sosok sahabatnya sudah berkumpul di ruangan mewah itu.
Tidak menunggu lama, lampu yang awalnya remang-remang, kini justru terang benderang menyinari ruangan yang tampak luas dengan tamu undangan dari pihak keluarga terdekat.
Acara puncak dimulai, Arini yang terlihat anggun kini sudah berada ditengah-tengah keluarga untuk mendengarkan satu pernyataan yang membuat dadanya semakin berdegup kencang.
Pikiran gadis muda itu, Aldo akan memberikan satu kejutan sebuah bisnis yang akan ia geluti di dunia nyata selain bisnis haram yang ia tekuni, dengan tangan dingin ia melirik kearah Emi dengan senyuman lebar yang memancarkan satu kebahagiaan.
Aldo mendekati Keluarga Aditya yang berdiri tegap dihadapan mereka, menatap wajah cantik sang putri satu-satunya sambil berkata dengan nada lembut.
"Arini binti Aldo Anggoro, Papa telah menikahkan kamu dengan Abdi Atmaja sejak usia kamu dua tahun. Jadi saat ini, karena kamu sudah menyelesaikan tugas mu menjadi seorang sarjana yang berprestasi. Diusia 24 tahun ini, Papa akan menyerahkan kamu kepada Keluarga Abdi Atmaja untuk menjadi seorang istri sah sebagai abdi negara, sebagai kado terindah Papa untuk kamu, sayang."
Kalimat yang keluar dari bibir sang Papa, dengan tatapan mata yang berbinar-binar, membuat Arini benar-benar ternganga lebar mendengar pernyataan tersebut.
Kedua bola mata Arini membulat besar, menatap lekat kearah Abdi yang di tunjuk oleh sang Papa.
Hal yang sama dilakukan Abdi ketika bersitatap dengan manik mata gadis yang ada dihadapannya, "Menikah diusia dua tahun? Kawin gantung ...?"
"Ka-ka-kado ... ka-ka-kado apa ini ...!" Dada Arini bergemuruh, bahkan terasa ingin menampar wajah sang Papa, karena telah tega menikahkannya dengan cara kawin gantung sedari kecil. "Pernikahan apa ini? Enggak kenal, tiba-tiba menikah. Emang masih jaman Siti Nurbaya ...?" geramnya dalam hati.
Perlahan mata Arini terpejam, menelan ludahnya sendiri, menahan diri karena ini merupakan satu pemaksaan bahkan ia sama sekali tidak mengenal Abdi yang berdiri di samping orang tua mereka.
"Pa ... A-r-arini enggak kenal dia! Kita memang keluarga, tapi sama sekali kita enggak pernah kenal! Lelucon seperti apa ini!" Ia menoleh kearah Emi, meluapkan amarahnya, "Arini enggak mau, Arini belum mau menikah! Arini enggak cinta sama dia!" teriaknya lantang, membuat para tamu melihat kearah mereka.
Abdi yang mendengar penuturan dari Aldo, melakukan hal yang sama terhadap kedua orangtuanya.
"Apa-apaan ini! Abdi pikir, kita datang kesini karena ada acara keluarga seperti yang Mama bilang! Abdi enggak mau, Abdi tidak kenal sama cewek seperti ini, lihat saja penampilannya! Aneh, enggak ada cantik-cantiknya!" sesalnya turut berontak.
Aldo dan Aditya yang mendengar penolakan dari anak menantunya, menghardik kedua insan itu, tapi kedua-nya justru membuat acara semakin kacau balau, karena penolakan keputusan kedua keluarga.
Emi mencekal lengan putrinya, agar tidak pergi lagi, namun dapat ditepis oleh gadis muda itu dengan tatapan nyalang penuh amarah, "Mama saja yang menikah dengan laki-laki itu, jangan paksa Arini!"
Aldo yang mendengar ucapan tajam Arini, menghardik putri kesayangannya tanpa perasaan sungkan dihadapan para tamu, "Jaga ucapan mu, Arini! Jika kamu menolak Abdi, maka kamu akan Papa kirim ke pondok pesantren, bukan ke Swiss! Karena Papa tidak mau kamu terus bergaul dengan Samuel!"
Arini tidak perduli, dia menepis tangan Emi, berlari kencang meninggalkan ruangan yang tidak bersahabat tersebut, dengan air mata mengalir deras menuju mobilnya, sambil melepaskan high heels yang ia kenakan.
"Terserah! Terserah, Arini tidak menyukai laki-laki itu!"
Terdengar ucapan yang sama dari bibir Abdi ikut keluar dari kediaman mewah itu, "Siapa juga yang mau sama gadis itu! Tidak ada sopan santun, bahkan jauh dari kata baik ...!" umpatnya melepaskan kancing kemeja yang menyesakkan lehernya.
__ADS_1