Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Pura-pura mencintai


__ADS_3

Suasana paviliun tampak hening, dua insan yang sejak tadi bergelut diatas ranjang, sesuai permintaan Adit yang masih dalam pengaruh obat laknat pemberian sahabatnya, dengan tubuh masih mengenakan pakaian lengkap.


Nancy melepaskan ciumannya, karena merasa bibirnya terasa sangat kebas, karena tidak memiliki pengalaman untuk melakukan hal itu, membuat mereka berdua sama-sama menatap langit kamar.


Adit hanya menutup matanya, memperbaiki posisi miliknya yang sejak tadi memberontak dibawah sana, namun tidak dapat mengutarakan apa yang dia inginkan.


Sejak tadi, hanya sibuk dengan bibir gadis yang ada disampingnya kini, tanpa berani membuka sehelai benangpun untuk saat ini.


Adit menoleh kearah Nancy ... Dengan tatapan sendu, karena belum mengerti dimana letaknya titik-titik seperti yang dikatakan para rekan kerjanya.


Perlahan dia mendekati Nancy, yang masih terlihat frustasi ... Bagaimana mungkin, dia harus meninggalkan pekerjaannya, hanya untuk mementingkan kepentingan suaminya saat ini.


"Neng ..."


Nancy menoleh kearah Adit ...


"Mas hmm ..."


Kedua-nya kembali terdiam, mereka tersenyum sumringah, menikmati walau sekedar ciuman. Sesungguhya perasaan Nancy sangat berharap seperti sentuhan tadi malam, namun Adit tampak melupakan perbuatannya yang sangat menggairahkan.


"Kamu deluan deh yang ngomong ... Mas dengerin!"


Nancy menautkan kedua alisnya, menghela nafas panjang, tersenyum tipis melihat Adit.


"Tadi malam Mas pinter, kok hari ini Mas enggak hmm ..."


Adit terdiam, wajahnya memerah dan panas. Bagaimana mungkin dia harus mengatakan pada Nancy bahwa dirinya tidak memahami hal tabu menurut benaknya.


"Hmm ... Jujur Mas takut Neng ..."


Hanya itu yang mampu Adit ucapkan dengan wajah semu merah padam.


Nancy tertawa terbahak-bahak, mendengar kejujuran pria yang sudah menjadi suaminya saat ini.


"Hmm ... Kita pikir-pikir lagi deh untuk melakukannya. Mungkin hari ini Neng memikirkan pabrik, jadi kurang fokus dengan hal begini. Mas temenin Neng saja kalau begitu. Jika sudah enakan kita balik lagi kesini. Bagaimana? Karena Neng harus mengajarkan karyawan baru yang kemaren ..."


Adit mematung, wajahnya seketika berubah malu. Karena telah cemburu dengan pria yang datang kekediaman mereka siang itu. Ternyata karyawan Sugondo untuk pabrik teh nya.

__ADS_1


Tanpa perasaan sungkan, Adit mengangguk setuju untuk menemani istrinya ke pabrik milik mertuanya yang terletak lumayan jauh dari kediaman mereka.


Mereka membersihkan diri, dari sisa saliva yang entah kemana-mana, membuat keduanya hanya bisa tersenyum malu, karena tidak memiliki pengalaman yang berarti.


Adit hanya berpikir sejenak, "Aku harus banyak-banyak nonton film biru nih. Bagaimana cara mendaratkan senjata ku, yang belum mendapatkan tempat berlindung nya," tawanya menyeringai kecil, mengikuti langkah kaki Nancy menuju garasi mobil milik gadis cantik tersebut.


Adit mengerenyit keningnya, memandangi mobil sedan milik sang istri yang berwarna silver.


"Ini mobil siapa, Neng?"


Nancy kembali menautkan kedua alisnya, menunjuk ke dadanya ...


"Punya Neng atuh ... Emang ada yang mau ngasih mobil cuma-cuma jaman sekarang?"


Adit mendengus dingin, dia tidak menyangka, bahwa selama ini dia mempersunting gadis kaya, yang sangat cantik jelita.


Wajahnya tersenyum sumringah, "Tidak ada salahnya pura-pura mencintainya. Toh enggak ada ruginya menikahi gadis kaya, dan hmm ... Plat mobil dua seri ..."


Nancy menyalakan mesin mobil, membiarkan Adit yang mengambil alih untuk mengemudikan kendaraannya.


Sugondo yang mendengar suara mesin mobil menyala, berlari keluar rumah untuk bertemu Nancy sang putri kesayangan.


Nancy mengangguk, melirik kearah Adit, kemudian mengalihkan pandangannya kearah pria paruh baya tersebut, kembali bertanya ...


"Kenapa Pak?"


"Kamu mau kemana? Nak Angga sudah di ajarin sama Mang Nanang. Katanya tadi malam kalian pulang malam. Makanya bapak enggak mau mengganggu kalian. Sudah masuk lagi ke kamar! Buat anak yang banyak ...!"


Sugondo meninggalkan anak menantunya, tertawa kecil menggoda Nancy begitu juga Adit.


Nancy menautkan kedua alisnya, dia menoleh kearah Adit ...


"Bagaimana kalau kita ke supermarket saja? Kebetulan perlengkapan makanan dikamar sudah habis. Jadi kita bisa menghabiskan waktu untuk makan bersama dan nonton film."


Mendengar penuturan istrinya, Adit mengangguk setuju, "Baiklah ..."


Mereka meninggalkan paviliun menunju supermarket, yang terletak cukup jauh dari kediaman mereka.

__ADS_1


Adit memarkirkan mobilnya di parkiran yang telah tersedia, dengan perasaan yang sudah membaik. Saat ini dia hanya ingin menikmati indahnya menjadi menantu Keluarga Sugondo, tanpa memikirkan wanita bernama Evi.


Namun, saat mereka tengah berbincang-bincang selayaknya pasangan baru yang saling mengenal. Keduanya dikejutkan dengan munculnya sosok Evi bersama Bambang suaminya.


Dada Adit terasa semakin bergemuruh seketika, saat mereka saling menatap satu sama lainnya. Dengan cepat pria itu meraih tangan Nancy untuk iya genggam, sama halnya Evi yang bermanja-manja di lengan Bambang.


"Hai bro ..." sapa Bambang dengan nada pelan.


Adit meremas kuat tangan Nancy. Dadanya masih terasa sangat sakit. Disaat dia ingin melupakan wanita yang telah mengkhianati nya, saat itu pula mereka di pertemukan kembali. Membuat pria bertubuh tegap itu berkali-kali merutuki diri sendiri.


"Ha-ha-hai ... Apa kabar? Su-sudah lama kita tidak bertemu. Kenalkan ini istriku ..."


Adit menoleh kearah Nancy memberikan senyuman keterpaksaan. Senyuman aneh yang belum pernah Nancy lihat selama pernikahan mereka.


Nancy hanya menunduk sopan, sangat berbeda dengan Evi yang tidak senang bertemu dengan anak orang kaya yang angkuh menurutnya.


"Bagaimana kalau kita makan bersama?" ajak Bambang, hanya sekedar formalitas yang terpancar dari raut wajahnya.


Nancy menolak, dia mengayunkan tangannya ke udara ...


"Maaf ... Kami harus segera pulang, hanya mampir membeli beberapa kebutuhan di paviliun saja. Maklum semenjak menikah Mas Adit nafsu makannya semakin meningkat ... Ya kan sayang ...?"


Adit mengangguk meng'iya'kan ... Berkali-kali dia mengerjabkan matanya, melawan apa yang ada dihadapannya saat ini sangat menganggu pandangannya.


Dengan cepat Nancy mendorong troli, agar Adit tidak salah tingkah seperti itu lagi, jika dihadapkan dengan sahabat yang semakin terasa asing hanya karena wanita bernama Evi.


Tak berapa lama kemudian, troli mereka berdua tampak terisi penuh, namun perasaan Adit semakin tak karuan.


Berkali-kali dia mengalihkan pandangannya, mencari keberadaan Evi ... Membuat Nancy menabrak tubuh kekar itu menggunakan troli yang ada dihadapan suaminya dengan geram.


"Masih mencari keberadaan wanita yang sudah mengkhianati Mas? Coba deh Mas pikir-pikir lagi, tiga tahun dia mengkhianati kamu, tapi kamunya masih belum move on? Kasihan sekali Neng menikahi pria selemah Mas Adit ..." sesalnya berlalu menuju kasir.


Adit yang tampak salah tingkah, bergegas mengejar Nancy yang ternyata sangat menarik perhatiannya saat ini.


"Sabar atuh Neng ..." Adit merangkul bahu sang istri, mengecup mesra pipi gadis cantik itu dihadapan Evi dan Bambang yang menuju kearah mereka untuk melakukan pembayaran.


Nancy hanya menggeram, menggeleng-geleng sendiri, mengusap wajahnya yang dibasahi saliva suaminya sendiri.

__ADS_1


"Sengaja banget buat mantan terbakar api cemburu ..." tawanya melirik kearah Evi yang berdiri disamping mereka.


__ADS_2