
Matahari menyinari kota sudah semakin tinggi, Aditya akhirnya terlelap di sofa, hingga pukul 14.00 waktu kota kembang. Ia sama sekali tidak merasakan kecupan-kecupan nakal dari sang istri, membuat dirinya hanya bisa menggeliat, sesekali membuka mata lalu menutup kembali karena tak kuasa menahan rasa kantuknya.
Nancy menyeringai kecil, dia tertawa terbahak-bahak melihat suaminya seperti berada di dua alam yang berbeda. Ingin sekali ia menyerahkan seluruh hidupnya kali ini pada sang suami, namun masih ingin bermain-main menikmati indahnya rengekan manja sang suami yang menginginkannya kembali seperti dulu.
Saat akan beranjak, membuka paper bag yang masih terletak di atas meja kamar mewah itu, seketika handphone Nancy kembali berbunyi ... "Jumaida? Hmm ngapain dia menghubungi aku ..."
Tanpa pikir panjang, Nancy menjawab panggilan Jumaida, kembali duduk di sofa tempat Aditya tertidur.
[Hmm]
[Dimana Neng? Eeeh Mas Adit di mintain kekantor pusat Jakarta, sudah dapat kabar belum?]
Nancy menggelengkan kepalanya, seolah-olah ia tengah berhadapan dengan Jumaida ...
[Enggak ... Emang ada apa]
[Heboh Neng, heboh! Komandan Dida lagi di periksa, karena ketangkap lagi indehoi sama Evi di hotel mana itu lupa gue! Enggak bisa bayar anggota patroli 30 juta di seret ke kesatuan tadi jam 11.00, heboh Neng ... Heboh!]
Nancy mengerenyitkan keningnya, berfikir sejenak menoleh kearah Aditya yang sudah meletakkan dagunya dibahu kiri sang istri.
[Separah itu kah? Kok Komandan Dida tidak memikirkan perasaan Bu Alvi dan karirnya sih? Terus kapan Mas Adit disuruh ke kantor pusat?]
[Paling sebentar lagi pihak pusat menghubungi Pak mayor. Ciee ... Enggak jadi di skorsing Pak mayor-nya, karena menurut Luqman, cuma Aditya yang bisa menggantikan Komandan Dida. Kolonel bintang satu, Neng! Rejeki kalian baikkan, dan Abdi si kasep. Tambah lagi dong, satu lagi. Kali aja cewek, jadi kalian punya satu pasang anak. Nah entar nama anaknya Nantya ...]
Tawa Jumaida terbahak-bahak membuat Nancy yang mendengar celotehan sahabatnya hanya bisa menyeringai kecil, karena mendapatkan perlakuan yang sangat tidak asing baginya, karena tangan Adit sudah mulai mencari titik sensitif sang istri ...
"Mashh, sabar atuh! Neng lagi nerima telepon, mandi dulu," rengeknya, membuat Jumaida yang mendengar diseberang sana menjadi merinding dan kelabakan sendiri.
__ADS_1
[Jum ... Sudahh duluhh yahh ahh ... Mashh ...]
Aditya merampas handphone milik Nancy, menonaktifkan handphone pipih itu, meminta haknya sebagai suami terhadap Nancy.
Jumaida tertegun sejenak, berkali-kali dia merinding mendengar dessahan sahabatnya diseberang sana, hingga tidak mengacuhkan dirinya.
"Emang begitu yah kalau sudah nikah. Setiap ditelpon pasti mendessah, bahkan tidak bisa menutup panggilan telepon dengan kalimat yang lebih sopan, daripada errangan manja ... Aaagh jadi pengen ngerasain di ewew ..." rengeknya sendiri, tanpa disadari sudah ada Luqman dan Ali di belakangnya.
Luqman memilih duduk disebelah Jumaida, sementara Ali masih berdiri dihadapan dua insan yang belum pernah mengungkapkan perasaan tersebut.
Ali bertanya pada Jumaida, sambil melirik kearah Luqman, "Napa lo? Pasti habis menghubungi Nancy, kan? Dimana mereka, Jum? Dirumah Pak Sugondo atau di rumah Nancy yang baru?"
Jumaida menaikkan kedua bahunya, "Gue nggak tahu mereka dimana. Yang pasti mereka lagi menikmati indahnya pernikahan. Walau awalnya Pak mayor angot-angotan, tapi Nancy masih tetap sabar, menghadapi suaminya. Yah gitu deh! Gue jadi pengen nikah dan ngerasain indahnya malam pertama. Kali saja mendessah kayak Nan-cy ..." ucapnya dengan wajah yang sangat polos, membuat Ali dan Luqman ternganga lebar.
Luqman yang tidak pernah memiliki perasaan apa-apa terhadap wanita, langsung berkata ...
Ali mengangguk-anggukkan kepalanya, menoleh kearah dua insan yang masih duduk tanpa menyadari ucapan mereka ...
"Ya sudah, nikah saja kalian sekarang. Tunggu apalagi, biar kita sama-sama pesta pedang pora. Karena gue bulan depan mau melamar kekasih gue yang berada di Sukabumi. Permintaan gue cuma satu, berhubung gue tidak ada keluarga lagi, bagaimana kalian menemani gue lamaran. Jadi kita sama-sama nikah, dan sama-sama punya anak. Nanti anaknya kita jodohkan sedari kecil," tawanya.
Jumaida menoleh kearah Luqman, mengerjabkan matanya berkali-kali, untuk menyimak ucapan kedua pria somplak tersebut ...
"Apa tadi? Bisa lo ulangi enggak? Mau ajak gue nikah? Lo pikir nikah segampang membalikkan telapak kaki! Kalau ngehalu jangan kerendahan Pak bos! Jelas-jelas kita temenan, mana ada perasaan cinta! Apalagi gue belum ada prestasi apa-apa. Keluarga lo pasti memilihkan istri yang baik buat lo, Luqman. Bukan kayak gue, bicara suka-suka. Mau jadi apa rumah tangga kita, Luqman dodol!" tawanya terbahak-bahak.
Sementara Ali hanya manggut-manggut, tanpa mau menjawab ucapan Jumaida yang selalu merasa inscure jika sudah membahas tentang perasaan dan pernikahan.
Luqman menaikkan alisnya satu, "Lo nolak gue, nyet? Masak gue ngajak lo nikah langsung di tolak mentah-mentah! Enggak bisa, gue sudah tahu sifat lo bagaimana, mending lo jadi bini gue! Jadi kita bisa bar-bar bareng ... Hangout bareng, kerja bareng, kemana-mana bareng!"
__ADS_1
Jumaida bergidik menyunggingkan senyumannya, "Ogah! Kalau lo emang serius, lo datengin rumah emak gue! Lo lamar sama bapak gue! Jangan ngebacot doang yang lo gedein, setan! Satu lagi, jangan lupa roti buaya, karena gue orang Betawi, dan jemput gue pake ondel-ondel!"
Luqman menekukkan wajahnya ... "Ribet amat hidup lo! Mau melamar saja bawa-bawa buaya segala. Yang penting gue bawa diri. Gentle datang ke rumah lo, nyet! Yang penting kita nikah dulu, kali saja pas nikah sama lo karir gue juga melejit. Ali mah enak, calon bininya anak orang kaya Sukabumi. Nah, kita! Sama-sama angkatan, yang ada sebelum melakukan malam pertama, kita sudah perang dunia deluan, karena rebutan bantal!" dengusnya kesal.
Mereka tertawa terbahak-bahak, karena saling membuli hanya untuk sekedar hiburan. Namun sangat berbeda di hati Luqman, dia merasa yakin bahwa Jumaida wanita baik, untuk masa depannya.
"Apakah orangtuaku bakal merestui enggak, yah? Jika menikah dengan angkatan juga. Sementara Mama selalu menginginkan aku menikah dengan dokter, tapi dokternya belum nemu ..." sungutnya dalam hati ...
Sementara di hotel bintang lima, Aditya masih terus menggoda Nancy agar mau melepaskan kerinduan antara mereka berdua.
Namun, saat tubuh itu sudah berada diatas ranjang peraduan, handphone milik Aditya Atmaja berdering dengan sangat keras ... Membuat mereka berdua kembali tertawa tersipu-sipu malu ...
"Uuugh! Gangguin saja sih!" sesalnya ...
Nancy mengecup lembut bibir Aditya, tersenyum bahagia, "Angkat dulu, kalau sudah selesai baru nonaktifkan ..."
"Gagal mulu ..." rengeknya meraih handphone yang ada dinakas, menghentakkan kakinya dilantai kamar yang sejuk.
[Ya halo]
[ ***** ]
[Hah ... Serius]
[ ***** ]
[Siap komando! Laksanakan!]
__ADS_1