Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Salon ...


__ADS_3

Di keheningan siang, ketika semua tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing, wanita cantik itu hanya bisa termenung sendiri, menatap jauh kedepan dalam kehampaan.


40 hari berlalu ... Nancy bergelut dengan pikirannya sendiri tanpa mau banyak bicara dengan siapapun termasuk keluarganya.


Begitu beratnya menjadi seorang istri abdi negara, sehingga tidak mendapatkan perhatian dari sang suami yang sangat jauh darinya sejak proses kehamilan dan kelahiran buah hati mereka. Hingga Nancy tidak mampu menyusui bayi laki-lakinya, karena mengalami baby blues ringan pasca melahirkan.


Sesuai permintaan Nancy, putra tampan yang masih berusia dua bulan itu kini di beri nama Abdi Atmaja. Menghabiskan perjalanan waktu kehamilannya yang tak mendapat perhatian dari Aditya sang suami, karena keadaan.


"Jangankan untuk memberi kabar berita, membalas whatsApp saja dia tidak mau ... Sudah lupa kah Adit dengan ku ...? Mengapa sama sekali dia tidak mengingat ku? Aku sudah lelah Tuhan, hanya padamu aku pasrahkan hidup ku dan anak ku ..." sesalnya.


Hanya itu yang ada dalam hati Nancy, saat ia merenung dalam kesendiriannya.


Tak lama Nancy bergelut dengan pikirannya, terdengar suara ketukan pintu dari baby sitter yang mengasuh anak mereka.


Nancy membuka pintu kamar pelan, dia tak lagi tinggal di paviliun selama 40 hari, karena kedua orangtuanya menginginkan Nancy tinggal di kamarnya selama pasca melahirkan.


Kamar yang cukup luas, dihadapkan dengan pemandangan indah pekebunan teh milik orangtuanya. Nancy sangatlah wanita paling beruntung sedunia, tapi dia tidak mendapatkan perhatian lebih dari sang suami semasa menikah, seperti wanita lain di luar sana.


Nancy tersenyum lebar, saat melihat bayi berusia dua bulan itu di letakkan oleh pengasuh di ranjang miliknya.


Nancy berjalan pelan mendekati putra kesayangannya, mengusap lembut kepala Abdi, yang menjadi penguatnya kala merasa kesepian seperti saat ini.


"Kamu anak kebanggaan Mama," kecupnya.


Atmaja yang tak pernah lepas memperhatikan Nancy sejak melahirkan, memberanikan diri untuk menyampaikan bahwa Adit akan kembali.


"Neng ..."


Atmaja mengetuk pintu kamar yang masih terbuka, di susul oleh Sulastri dan Ningsih masuk ke dalam kamar. Karena siang itu Sugondo tengah ada tamu yang datang dari luar negeri untuk menjadi partner bisnisnya dalam mengekspore teh hijau yang mengandung mint.


Tentu pria paruh baya itu belum mendengar kabar, tentang kepulangan menantunya.


Nancy menoleh kearah pintu, memperbaiki posisi duduknya, karena mengenakan baju sedikit pendek dan merasa sungkan dihadapan mertuanya.


"Maaf Pak, Bu ... Bisa keluar dulu? Nancy enggak biasa kalau ngobrol sama orang tua dengan baju begini," jelasnya sambil menutup bagian dada yang agak terbuka.


Atmaja mengangguk, langsung keluar dari kamar, tanpa mau bertanya, karena sangat memahami bagaimana menantunya yang selalu sopan dalam berpakaian.

__ADS_1


Disusul oleh Ningsih dan Sulastri, yang langsung menyusul suami serta besannya, sambil menutup pintu kamar.


"Jeng ... Sopan banget anak mu! Aku kadang sampe susah untuk bicara," bisik Sulastri pada Ningsih.


Ningsih hanya mengangguk membenarkan, memberi penjelasan bagaimana sang putri dalam berbusana ...


"Neng memang seperti itulah, besan. Dia jarang pakai baju yang terbuka. Padahal mini dress-nya juga banyak, tapi dia lebih sopan jika berpakaian. Jarang menggunakan baju terbuka. Lebih-lebih semenjak menikah, katanya mau menghargai suaminya. Adit tidak suka melihat dia pakai baju seksi. Cukup di kamar saja, cennah ..."


Atmaja yang mendengar bisikan-bisikan dua wanita itu hanya tersenyum tipis, dan nyeletuk pelan ...


"Bagus seperti itu, daripada di umbar-umbar!"


"Ya, tapi kita ini kan keluarganya, Pak!"


"Hmm ..."


Tak lama mereka saling berbincang tentang anak menantunya itu, Nancy keluar dari kamar duduk di sofa tunggal yang berada di ruang keluarga.


Benar saja, dia hanya menggunakan piyama berlengan pendek, dipadu celana panjang.


Sulastri tersenyum sumringah, melirik kearah suaminya yang sudah tidak sabar untuk menyampaikan kabar gembira buat menantu terbaiknya.


Atmaja menoleh kearah Nancy, dia tersenyum sumringah menatap wajah cantik menantunya yang sangat baik dimatanya.


"Besok pagi kamu mau ikut Bapak ke Jakarta? Mas Adit sudah dua minggu di sini. Dia di karantina di barak batalion. Jadi keluarga boleh bertemu hanya orang tua dan istri saja. Kalau kamu mau ikut, kita pergi sama-sama. Karena Mas Adit belum bisa berbaur dengan yang lainnya untuk beberapa waktu, mungkin dia akan kembali bulan depan ..."


Mendengar penuturan seperti itu, membuat Nancy ingin sekali berteriak bahagia. Entahlah, pikiran tentang yang tadi berkecamuk, seketika buyar karena akan bertemu dengan suami tercinta.


Kerinduan yang selama ini dia rasakan, akhirnya terobati karena akan bertemu kembali setelah satu tahun lebih dua hari ... Aaaagh ...


"Abdi bagaimana Pak? Dia masih dua bulan, Neng belum pernah meninggalkannya ..."


Ningsih yang mengetahui bagaimana rasanya bertemu dengan suami tercinta, langsung memotong pembicaraan sang putri.


"Kamu tenang saja, Neng. Ada Ibu dan Bapak. Yang penting, kamu puas-puasin ketemu kangen sama suami. Karena Komandan Dida memberi perintah, agar membawa istri tercinta saja, sekaligus ada yang akan di tandatangani," jelas Ningsih.


Nancy mengusap wajahnya lembut, rasanya dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan suami tercinta.

__ADS_1


"I-i-iya Pak. Nancy mau ke salon dulu hari ini. Makasih yah Pak, Bu! Nancy permisi!" dia berlari masuk kedalam kamar, hanya untuk mengusap lembut wajah putra tercinta, kemudian mengambil tas dan kunci mobil.


"Bu, titip Abdi ... Neng mau perawatan dulu!" kecupnya pada Ningsih dan Sulastri secara bergantian, berlalu meninggalkan kediaman keluarganya sambil berteriak bahagia.


"Mas! Neng kangen!"


Hanya kebahagiaan yang tidak bisa di ucapkan dengan kata-kata bagi Nancy saat ini. Dia hanya fokus untuk bertemu Aditya Atmaja yang selama ini dia rindukan. Satu tahun menahan kerinduan, bukanlah mudah untuk pasangan pengantin baru.


Ditambah, keluarga masih menutup rapat semua yang terjadi pada Adit saat berada di medan perang, hingga kematian Bambang suami Evi.


Kali ini, Atmaja sedikit kaget melihat menantunya, begitu bahagia menyambut sang putra kesayangannya kembali dan akan bertemu.


Sulastri mencolek suaminya, "Pak ... Bisa izin enggak tuh? Mereka bulan madu di hotel? Wah ... Enggak kebayang bagaimana rasanya belah duren kedua. Satu tahun Pak ... Satu tahun itu lama!"


Atmaja hanya bisa geleng-geleng kepala, mendengar celotehan sang istri, namun dia telah mengatur semua demi kebahagiaan anak menantu.


Kedua wanita itu hanya berbisik-bisik membayangkan tentara militer yang pulang perang, pasti tidak akan membiarkan istrinya bernafas jika bertemu.


"Itu namanya, tentara keluar dari barak yah, Pak? Semoga saja anak-anak bahagia yah, Pak!" ucap Sulastri melirik kearah suaminya.


Tak lama mereka bercerita, Sugondo tiba di rumah, dengan wajah berseri-seri.


Matanya tertuju pada garasi mobil, yang tidak melihat keberadaan kendaraan putri kesayangannya.


Sugondo berteriak dari arah luar memanggil sang istri, "Bu! Ibu! Siapa yang bawa mobil, Neng? Kan Bapak sudah bilang, jangan biarkan siapapun yang bawa mobil anak ku! Nancy ma--- ..."


Seketika ucapannya terhenti, saat melihat Atmaja sudah berada di kediamannya.


Sugondo mencari keberadaan mobil besannya, "Mana mobil, Mas? Kok enggak ada di depan?"


Ningsih menoleh kearah suaminya yang masih berdiri didepan pintu masuk, "Jangan teriak-teriak Pak eee ... Nanti cucu ku bangun. Mama nya lagi ke salon, mobil besan juga lagi di cuci kolong! Mau ketemu menantu besok," jelasnya.


Sugondo hanya ternganga, mendengar penuturan sang istri. Dia bersorak gembira, karena putrinya akan tersenyum kembali dan hmm ... Pikirannya sedikit menerawang jauh entah kemana, kemudian mendekati Atmaja.


"Tolong siapkan tempat terbaik untuk anak ku bulan madu! Jika tidak, aku tidak akan mengeluarkan jatah mu bulan ini, Mas!" godanya.


Mendengar penuturan itu, mereka tertawa terbahak-bahak, karena sangat memahami bagaimana jika sudah mendapatkan perintah dari kesatuan militer seperti itu ...

__ADS_1


"Bulan madu ..." Ha-ha-ha


__ADS_2