Merebut Hati Suami Mayor

Merebut Hati Suami Mayor
Kontraksi ...


__ADS_3

Istri mana tak akan berang saat mendengar dari bibir orang lain menyatakan bahwa suami yang selama ini ia nanti, dinyatakan geger otak bahkan terancam akan melupakan Nancy selaku istri sah.


Tangan Nancy mengepal kuat, ingin sekali ia meremas mulut Evi yang kini masih berdiri di belakangnya.


Namun lagi-lagi Nanang membisikkan kata-kata yang sangat menguatkan Nancy sebagai wanita lemah, yang tengah mengandung besar.


"Ayo Neng, kita pulang ... Nanti Bapak nyariin, kita sudah dari jam enam disini. Ayo, cepet ...!"


Nancy mengangguk, dia membalikkan badannya, tersenyum tipis menatap nanar kearah Evi ...


"Jika memang Mas Adit sakit atau melupakan saya sebagai istri dan anaknya, justru saya yang akan merebut kembali hati suami saya! Termasuk dari wanita seperti kamu, yang tidak memiliki rasa malu sebagai wanita terhormat! Selamat pagi!"


Nancy membalikkan tubuhnya, melangkah menuju mobilnya yang terparkir dipinggir jalan perkebunan.


Sementara Angga masih tinggal di sana untuk memberi makian luar biasa pada Evi.


"Teteh kenapa sama Teh Nancy? Emang Teh Nancy yang sudah merebut Mas Adit? Bukannya Teteh yang sudah selingkuh sana sini. Oya, bisa jadi anak yang didalam kandungan Teteh kemaren itu bukan anak Mas Bambang doang, tapi anak Mas Sigit yang menjadi kepala tukang di pabrik! Enggak tahu malu, mau nyerang orang ngaca dulu! Bego!"


Angga tersenyum lirih, meninggalkan Evi dalam keadaan terhina. Entahlah, hanya Evi yang tahu siapa Ayah anak yang ia lahirkan beberapa waktu lalu.


Kejujuran seorang pegawai pabrik, yang menjadi tukang di pabrik Keluarga Sugondo, merupakan aib yang sengaja di tutup rapat oleh semua ibu-ibu yang bekerja di sana.


Evi benar-benar sering menghabiskan waktu dengan berbagai macam pria, tanpa bertanya lebih jauh dengan siapa ia menjalin hubungan saat ini.


Niat Evi hanya satu, ia akan berubah jika Adit mau kembali menerima maafnya, dan menjalin hubungan kembali walau harus menjadi yang kedua.


Tentu pikiran itu tidaklah mudah bagi Evi, karena harus menghadapi Nancy selaku istri Aditya Atmaja, yang rela melakukan apa saja untuk merebut hati seorang Adit.


.


Nancy masih memikirkan kondisi Aditya yang di katakan Evi padanya. Walaupun itu hanya sebuah kebohongan, namun ada sedikit kecurigaan yang ia lihat beberapa hari ini atas sikap mertuanya, yang lebih sering menemaninya jika sudah selesai melakukan aktivitas di pabrik.


Atmaja selalu membawakan makanan kesukaan Adit, yang sangat ia sukai semenjak kehamilannya.


Nancy meringis kecil, saat merasakan kontraksi kecil yang mendadak. Tangan halusnya mengusap lembut pinggang yang semakin terasa nyeri, bahkan seperti di peras-peras bagian perut dan sekeliling pinggangnya.


"Huufh ..."

__ADS_1


Nancy mengatur nafasnya, dia masih tampak tenang, walau keringat dingin sudah keluar sebesar jagung.


Nancy meraih bahu Nanang, hanya bisa berkata pelan, sambil menahan kontraksi yang semakin lama semakin menyakitkan.


"Huufh ... Nan, cepet hubungi Bapak. Neng kayaknya mau la-la-lahiran ..."


Mendengar kalimat mau lahiran dari Nancy, sontak membuat Nanang semakin panik dan kaget, tanpa menoleh langsung menghubungi majikannya tanpa salam, ataupun basa-basi.


"Neng, Bapak nanya ... Rumah sakit tentara, atau bidan Siska?"


"Ru-ru-rumah sakit saja. Neng pendarahan, Nan ... Huufh ..."


Nanang menghentikan kendaraannya, menoleh kebelakang, melihat darah yang mengalir dari kaki anak majikannya, membuat dia langsung menekan pedal gas, menuju rumah sakit, dengan cepat.


Tidak peduli dengan klakson, teriakan, makian dari arah lawan, yang penting dia harus segera tiba di rumah sakit dengan selamat.


Benar saja, saat mobil accord Nancy terparkir di rumah sakit tentara, Nanang langsung berlari kencang mencari suster atau siapapun yang berpakaian putih kala itu, untuk segera memberikan pertolongan pada anak majikannya.


Entah alam yang sedang berpihak pada kelahiran Nancy kala itu, atau satu kebetulan ...


Dokter Arlen yang tengah berada di pintu depan langsung memberi perintah, agar membawa Nancy keluar dari dalam mobil tersebut.


"Siap Dok!"


Dengan gerakan cepat dua orang perawat membantu Nancy untuk keluar dari dalam mobil.


Kini Nancy telah berada diatas bangkar, yang di dorong cepat menuju ruang pemeriksaan khusus ibu melahirkan.


Nanang yang tampak khawatir, karena perasaan takut saat anak majikannya mengeluarkan banyak darah.


"Selamatkan Nancy, Gusti ..."


Hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Nanang, saat menghubungi Sugondo yang tak kunjung datang ke rumah sakit.


Di dalam ruangan yang dingin itu, Dokter Arlen justru tengah melakukan pemeriksaan pada pembukaan jalan kelahiran pada wanita normal biasanya.


Namun Arlen menggelengkan kepalanya, karena tak kunjung ada bukaan yang berarti untuk kelahiran seorang baby.

__ADS_1


Nancy masih meringis menahan rasa sakit, kali ini yang ia butuhkan sosok seorang suami. Tangan dingin yang tak tahu akan bertumpu pada siapapun, dia hanya bisa menangis merasakan sakit luar biasa.


Arlen sangat memahami bagaimana kondisi Nancy. Dia terus menemani wanita cantik itu, agar terus mengatur nafasnya.


"Sabar yah, Neng. Jalan belum terbuka, tapi kamu sudah mengalami kontraksi kuat, sepertinya kita harus segera melakukan tindakan, karena ketuban kamu bercampur darah," jelasnya pelan.


Nancy hanya memejamkan kedua matanya, merasakan sesak yang teramat sangat. Sakit yang tak kunjung reda, bahkan membuat buku-buku tangannya semakin memutih.


Arlen membiarkan jemari Nancy merremas kuat lengannya, sambil memberikan informasi pada pihak anastesi untuk segera mempersiapkan ruangan, karena beberapa jam lagi akan melakukan tindakan operasi caesar.


Nancy benar-benar merasa hancur saat ini. Perasaannya sebagai istri seorang prajurit ternyata tidaklah seindah yang ia bayangkan. Antara hidup dan matipun Aditya belum memberikan kabar padanya.


"Mas ... Neng butuh, Mas! Pulang Mas ... Neng enggak kuat. Ini sakit banget ..." isaknya menangis dalam kepiluan hati.


Kali ini Nancy kalah, dia tak mampu untuk melahirkan secara normal, karena rasa sakit tak kunjung mereda, sementara jalan untuk sang jabang bayi untuk keluar belum terbuka sempurna.


Tubuhnya semakin melemah, Nancy berada di ambang batas kesadarannya. Seperti berada di dua pilihan, antara hidup atau mati ...


.


Sementara di ujung timur belahan dunia. Aditya masih menatap foto Nancy yang selalu di ingatkan Yodi juga Ali sebagai istri tercinta.


Luqman yang menyaksikan kerinduan dari sorot mata sahabatnya hanya bisa menepuk pundak Adit.


"Aku selalu ingat saat kami masuk ruangan kala itu, kamu kelabakan memperbaiki posisi kalian, dan jadi bahan ledekan Komandan Dida. Bawa istri kemana-mana, biar semangat kerja!" tawanya mengejek sang sahabat.


Adit justru tertawa kecil mendengar celotehan Luqman, namun ia masih mengenang nasib Evi sepeninggalan Bambang.


"Evi jadi janda kembang, bro! Jadi ...?"


Mereka saling bertatapan.


Namun Adit mengalihkan pandangannya, hanya bisa bergumam dalam hati, "Jadi yah balik dong ...!"


Ali menatap kearah Aditya, "Jangan pernah lo berpikir yang aneh-aneh yah? Pokoknya begitu pulang, lo masuk karantina, jangan sampai lari lagi! Nanti depresi lagi kayak pulang dari Yordania, setelah itu tiba-tiba nikah saja sama Nancy anak Pak Sugondo!"


Yodi mengangguk setuju dengan ucapan Ali, "Karantina buat kita semua, jangan pulang dulu. Karena kalau pulang pasti bahaya!"

__ADS_1


Mata mereka tertuju pada Fredy Guarin yang masih berada di bangkar rumah sakit, berharap agar sahabatnya cepat siuman ...


"Bangun Ndan! Anak lo nunggu!" bisik Luqman di telinga Fredy yang berada di dekat mereka.


__ADS_2