
Hari semakin larut, suasana sejuk menyelimuti daerah perkebunan teh milik Sugondo. Entah berapa luas perkebunan mertua Aditya tersebut, sehingga membuat semua orang ingin masuk dan merasakan harta yang dimiliki Keluarga Sugondo.
Aditya yang baru saja membersihkan diri, meminta Nancy untuk mempersiapkan makan malam untuknya.
Wanita cantik yang baru saja akan terlelap masuk ke dunia mimpinya, hanya bisa mengusap wajah lembut, melakukan semua permintaan suami, dengan meninggalkan Abdi sendiri di ranjang paviliun mereka.
"Neng ..."
Nancy yang masih berada dalam situasi hati menahan kantuk yang teramat sangat, hanya menjawab ...
"Hmm ... Neng enggak buat apa-apa yah Mas. Cuma telor ceplok sama indomie kornet keju kesukaan, Mas. Kenapa tadi enggak makan di luar saja sih? Biasakan kalau pulang larut malam, Mas makan di luar saja, jadi enggak gangguin tidur Neng. Mas, kan tahu Neng enggak bisa kurang tidur dari delapan atau tujuh jam. Nanti kalau Neng jelek Mas kawin lagi ..." celotehnya sepanjang mempersiapkan makan malam permintaan Aditya.
Aditya yang mendengar celotehan Nancy hanya tersenyum tipis, melirik kearah ranjang peraduan, untuk memastikan Abdi masih terlelap.
Perlahan Adit mendekati Nancy, yang masih berceloteh, namun mempersiapkan semua makanan untuknya.
Perlahan Aditya memijat bahu sang istri, mengecup mesra leher yang terlihat putih, selalu tercium aroma khas wangi, membuat pria itu semakin mendekat, sambil berbisik ...
"Neng wangi, Mas suka ... Oya, Neng kenal sama Istri Komandan Simon, dan Komandan Sudirman ...?"
Nancy mengehentikan aktivitasnya, menoleh kearah Aditya yang berada dibelakangnya, "Emang kenapa? Neng enggak kenal sih, yang kenal kan, Bapak."
Aditya hanya membulatkan bibirnya, kembali bertanya, "Ooogh ... Berarti Neng enggak kenal sama jenderal bintang dua itu?"
Nancy menggelengkan kepalanya, "Neng enggak suka kenal sama mereka. Karena enggak ada urusan. Bagi Neng, Bapak sama Pak Atmaja selalu akur, walau di luar sana banyak yang ingin memisahkan mereka berdua. Tapi kan ada Bapaknya Aa Aldo, yang merupakan orang terkuat, yang selama ini melindungi Bapak. Jadi enggak usah di dengar masalah kecil yang akan merusak kebahagiaan keluarga kita. Orang bisa saja mengira-ngira, ooh ini jahat, itu jahat, padahal mereka masuk juga ada niat terselubung! Sudah, nih makan ... Neng mau tidur! Ngantuk ..." sungutnya panjang lebar.
Aditya menarik tangan sang istri untuk duduk dan menemani dirinya karena enggan untuk menikmati makanan itu sendiri. Dengan nada manja, ia hanya bicara ... "Suapin ..." rengeknya mengalahkan Abdi.
__ADS_1
Nancy menghela nafas berat, "Jujur Neng ngantuk, Mas. Mas makan sendiri yah? Neng temenin ..."
Aditya tersenyum lebar, ia membuka satu kursi, namun Nancy malah duduk di pangkuannya, sambil mendekap tubuh kekar itu.
"Neng ... Ini gimana Mas mau makan, nanti kenak punggungnya, kuahnya masih panas lho!"
"Hati-hati atuh, sudah makan, Neng begini saja ..." Nancy mendekap erat tubuh kekar suaminya, meyandarkan kepala di bahu Aditya.
Mau tidak mau, suka tidak suka, Aditya terpaksa harus makan, karena perutnya terasa sangat lapar. Entah berapa kali ia merasa tenggorokannya sangat tercekat, ditambah Nancy mengalungkan tangan sangat kuat di leher kekar itu, membuat dia sulit untuk menelan makanannya.
"Ne-ng ... Uhug-uhug-uhug, Mas keselek," ucapnya terbata-bata membuat Nancy hanya menatap wajah tampan Aditya yang masih terbatuk-batuk.
Nancy meraih gelas yang telah ia isi air, ke tangan Adit kembali memeluk tubuh suaminya.
Tanpa banyak bicara Aditya hanya menggeleng pasrah, karena baru mengalami hal yang sungguh menyiksa namun menyenangkan tersebut.
Aditya mengambil mangkuk mie instan itu, kemudian melahapnya sambil menopang tubuh istri yang masih berada di pangkuannya. Sulit awalnya, namun sangat mengasyikkan bagi Aditya ketika harus memangku sambil melahap makanan buatan Nancy.
Nancy tersenyum tipis, merasakan kesusahan suaminya saat melahap makanan dengan penuh perjuangan untuk membuat perut sispack itu merasa kenyang.
"Mashh ..."
"Hmm ..."
"Udah kenyang, kan? Udah ada tenaga lagi, pasti Mas enggak tidur, Mas tadi mau ngobrol apa? Neng tadi masih ngantuk banget, makanya menjelaskan sambil ngomel-ngomel. Pokoknya ... Besok-besok kalau pulang larut malam, makan di luar saja. Neng enggak mau masakin, repot!" rungutnya membuat Aditya hanya bisa tersenyum bahagia.
"Mau Mas gendong ke ranjang, atau jalan sendiri hmm?" bisiknya lembut.
__ADS_1
"Gendong ..." rengeknya manja, semakin mengeratkan pelukannya.
Aditya menggendong tubuh Nancy bak koala, membawa istrinya ke ranjang peraduan mereka, namun wanita itu justru mellumat bibir Aditya dengan cepat.
"Hmm Neng, Mas masih begah ... Ntar muntah di sini bagaimana?" Aditya bergegas melepas ciuman istrinya yang mendadak, melirik kearah Abdi masih terlelap pulas.
Nancy tertawa kecil melihat tingkah suaminya yang tampak serba salah karena takut putra kesayangan mereka akan terjaga dan melihat kenakalan sang Mama.
"Kenapa hmm, takut yah?"
Aditya mendengus dingin, "Enggak apa-apa, cuma enggak bisa saja, kalau ehem ada Abdi. Nanti dia bangun melihat kita bugil bagaimana? Enggak baik, kecuali dia sudah terbiasa tidur di ranjang terpisah dari kita. Mas enggak mau anak-anak kita merasakan getaran gempa saat Mama Papa-nya lagi ehem gitu ..."
Nancy mengangguk setuju, ia mengarahkan tangan Aditya ke punuk kenyalnya, hanya ingin merasakan kehangatan jemari sang suami.
Aditya yang memang senang, dengan perlakuan agresif sang istri, hanya menikmati keindahan malam bersama keluarga kecilnya, dengan berbincang ringan tentang keluarga.
"Tadi Neng bilang, Bapak Aldo yang memiliki andil besar di pabrik dan perkebunan. Emangnya Bapak Aldo bisnis kebun juga di sana?"
Nancy menghela nafas berat, menoleh kearah Aditya yang duduk di dekatnya, dengan kaki menjuntai ke lantai kamar.
"Hmm Bapak Aa Aldo itu eee apa yah? Pokoknya beliau sangat berjasa sama Bapak. Dia kan, pensiunan angkatan laut, Mas. Bintang tiga, tapi di Swiss. Karena Mama Aa Aldo bule di sana. Kalau enggak salah sih, waktu itu ada kecelakaan atau apa gitu, Neng enggak paham. Jadi dia di tawarkan menjadi militer di sana. Makanya Komandan Simon, dan Komandan Sudirman pengen banget mengenal Bapak Aa Aldo. Beliau juga banyak mengenal orang-orang hebat di sini, tapi Neng tidak begitu memahami. Kalau ada yang bilang mereka ingin menghancurkan keluarga kita, itu sudah rahasia umum, Mas. Jadi jangan percaya begitu saja. Buktinya Emi sendiri mendengar kalau Komandan Dida mau menyingkirkan Bapak kamu. Coba saja ... Paling dia kena batunya, bener kan?" jelasnya panjang lebar.
Aditya mengangguk mengerti, "Terus apa hubungannya dengan Sigit? Kepala tukang yang hmm eee ..."
"Yang punya hubungan khusus sama Evi?" tawanya menggoda Aditya.
Aditya mengangguk membenarkan, "Iya ... Kata mereka Sigit pembelot juga."
__ADS_1
"Mang Sigit itu hanya tumbal Mas, sudah berapa kali di mau di keluarkan dari pabrik, tapi tenaga dia sangat di butuhkan di pabrik, untuk menjadi bodyguard dari orang-orang yang suka datang minta uang, atau yah pemuda iseng gitu deh. Setidaknya kita membutuhkan tenaganya, bukan otaknya ..."
Aditya semakin mengerti, "Sial ... Berarti empat pemuda itu, hanya penyebar fitnah ..." geramnya.