
Di tempat yang berbeda, kedua team Aditya justru tengah menghabiskan waktu bersama Jumaida yang baru kembali dari Poso. Mereka duduk di bangku taman belakang batalion, yang tidak begitu jauh dari ruang pertemuan tempat prajurit militer mengadakan pertemuan dengan pasangan halal mereka.
Ya ... Prajurit angkatan darat, yang berangkat menuju medan perang hanya 10 orang yang telah berkeluarga, termasuk Aditya di dalamnya.
Tentu sangat berbeda dengan Luqman serta Ali yang masih betah melajang, termasuk Jumaida untuk team kowad wanita.
Mereka saling bercerita, bertukar pikiran, saat menghadapi Bambang yang merupakan penyusub militer yang telah di habisi oleh prajurit angkatan darat atas komando dari komandan mereka.
Jumaida terkejut mendengar cerita rekan kerjanya, "Apa? Mas Bambang ... Ooogh Tuhan!"
Gadis muda itu menundukkan kepalanya seakan-akan tidak percaya bahwa Bambang melakukan hal segila itu.
Jumaida menoleh kearah Ali, "Terus? Bukannya istri Bambang saudara kamu, Li?"
Ali mengangguk membenarkan, namun ia hanya tersenyum tipis mendengar nama Bambang di sebut oleh Jumaida, yang merupakan kekasih adik angkatannya saat melaksanakan pendidikan militer kala itu.
Luqman menyandarkan tubuhnya di kursi taman, mendongakkan kepalanya menatap jauh ke langit biru, membayangkan bagaimana kejadian yang sangat mencekam itu terjadi dan mengancam nyawa mereka sebagai orang-orang pilihan.
"Kami hanya kasihan dengan Fredy, dia di sekap lebih 10 bulan didalam sel bawah tanah, dan yaah ... Bisa kamu bayangkan bagaimana enggak gila dia. Aku yakin, Aditya juga mengalami hal yang sama, karena hmm ..."
Ali menginjak kaki Luqman agar tidak banyak membahas tentang Aditya pada Jumaida, karena ketakutannya akan sampai ke telinga Nancy.
Kedua pria itu justru bertanya pada Jumaida, tentang Nancy yang tentunya menarik perhatian mereka kaum Adam.
__ADS_1
"Eeeh ... Jum! Kamu kenal sama Nancy sudah lama? Terus kok baru kenalin sama kita-kita sekarang sih? Justru Adit pria yang paling beruntung mendapatkan hati seorang Nancy. Aagh ... Kalau yang menjadi menantu idaman Keluarga Sugondo itu aku, pasti aku kan menjadi lebih bahagia dalam kemewahan," tawa Luqman hanya untuk mengorek informasi tentang Nancy.
Jumaida mendelik, menyunggingkan senyuman tipis pada pria hitam manis tersebut dengan lidah menjulur keluar ...
"Eeeh kutil, kalau mimpi jangan ketinggian! Nancy tidak pernah menyukai pria hitam kayak elo! Dia suka pria putih, bersih, kayak Pak mayor. Apalagi kita kan satu sekolah dulu sama Adit dan Bambang," jelas Jumaida tersenyum lebar.
Luqman yang merupakan sahabat Aditya sejak sekolah di Penabur, membuat dia mencoba mengingat wajah Nancy yang ternyata adik kelas mereka.
Luqman meletakkan telunjuknya di dagu, membayangkan masa sekolah beberapa waktu lalu, "Berarti kami kelas tiga, kalian kelas satu yah? Kok bisa kita enggak saling kenal, yah?" tanyanya menoleh kearah Jumaida.
Jumaida tertawa terbahak-bahak, mendengar pertanyaan Luqman yang penasaran, "Ternyata kamu memang lupa atau bahkan enggak ingat sama sekali? Aku sering mengantarkan uang belanja ke kantin untuk Adit! Ingat enggak?"
Ali hanya menjadi pendengar yang baik, karena dia berbeda jauh saat sekolah dari para prajurit tersebut.
Mendengar penuturan Luqman Jumaida mengalihkan pandangannya kearah lain, sambil berkata, "Ternyata kalian laki-laki, hanya ingat duitnya saja! Tapi tidak pernah bertanya, dari siapa duit itu, sial!" geramnya.
Luqman membalas celotehan Jumaida dengan tertawa terbahak-bahak, "Jadi uang itu dari kamu buat Adit? Atau Bambang? Tapi kok kita enggak ingat yah? Sama adik kelas seunyu-unyu kalian. Kalau aku ingat pasti sudah aku kejar salah satu dari kalian buat jadi istri. Tentu aku mengejar Nancy, bukan kamu!" godanya pada puncak hidung gadis itu.
Ali yang mendengar penuturan Luqman ikut tertawa terbahak-bahak, "Dasar cowok matre! Aku saja yang tahu Nancy sejak dulu, tidak berani mendekati dia. Karena anaknya pendiam banget. Di rumah Mulu! Makanya aku suka kesal sama Adit yang tidak menghargai hmm ..."
Ali tak melanjutkan ucapannya, karena Luqman menatap tajam kearah nya, dengan bola mata yang siap keluar dari sarangnya.
Jumaida yang sangat peka pada kedua pria itu, mencubit kecil perut Luqman yang duduk disebelahnya, "Kenapa Aditya? Apa dia menyakiti sahabat ku? Jika berani dia menyakiti Nancy, aku orang terdepan yang akan memecahkan kepalanya! Jangan macam-macam, tolong sampaikan pada sahabat kalian itu!" sesalnya melepas cubitan itu dengan menariknya.
__ADS_1
Luqman meringis kesakitan, "Enakkan di tampar cewek deh! Daripada di cubit, bego!" geramnya, sambil mengusap-usap perutnya.
Ali bersiul-siul kecil, pura-pura tidak mendengar ancaman Jumaida yang ditujukan kepada Aditya.
Luqman semakin mendekatkan duduknya, menggoda Jumaida agar tidak membicarakan tentang hal ini pada Nancy jika mereka bertemu.
"Aku cuma penasaran, kok bisa Aditya nikah sama Nancy? Bukankah mereka tidak pernah kenal, bahkan waktu itu kita tahu dengan siapa Adit pacaran," jelas Luqman pelan.
Jumaida menundukkan kepalanya, dia hanya bisa tersenyum tipis, "Mereka itu di jodohkan. Nancy emang suka sama Aditya sejak SMP. Kami sekolah di Penabur itu dari SD sampai SMA, tapi gadis cantik itu tak pernah menunjukkan rasa cintanya. Dia hanya selalu bilang, aku mencintai pria dua tingkat dari kita. Yaah ... Jodohkan misteri! Jadi aku juga enggak tahu, kenapa Bambang bisa menikah dengan wanita gatal itu! Apalagi sampai hamil, dan aku di khianati, bro!" rungutnya.
Mereka tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan Jumaida, membuat Luqman semakin mengerti kenapa Bambang merebut Evi dari Aditya.
Luqman mencoba mengingat gadis yang ditaksir Bambang semasa sekolah, dan berniat melamar gadis itu setelah lulus sekolah.
"Jangan-jangan Nancy yang di maksud Bambang waktu itu yah, Jum?" tanyanya lagi karena masih penasaran.
Jumaida mengangguk meng'iya'kan, kemudian ia menjelaskan pada Luqman dihadapan Ali ...
"Waktu kalian sudah lulus, Nancy pernah cerita, bahwa dia dilamar sama Bambang, tapi kan masih kecil banget, yah di tolak dong! Bulu saja belum numbuh, mau nikah ... Sarap enggak tuh teman kalian? Nah, orang tua Bambang nanya, kapan Nancy siap? Nancy jawab tuh, dia enggak bisa menikah dengan pria yang tidak dicintai nya. Karena dia mencintai Aditya Atmaja. Nah, kalian udah pada kabur ... Jadi kami jomblo deh berdua. Judulnya cinta dalam hati saja. Jujur, aku lupa sama wajah Aditya yang dulu jelek, butek, kok bisa setampan sekarang. Apalagi sudah menikah dengan wanita terhormat kayak Nancy, beeegh ... Makin gila tuh Evi!" jelas Jumaida, tanpa memikirkan perasaan Ali, yang ternyata memang tidak peduli dengan celotehan Jumaida pada mereka berdua.
Luqman semakin yakin, dendam Bambang pada Aditya merupakan dari Nancy yang pernah menolak lamaran pria pengkhianat bangsa tersebut.
"Ternyata ... Wanita penghancur segalanya! Bagaimana aku mau melamar wanita, sementara wanitanya belum terlihat," rundung Luqman, disambut tawa oleh kedua orang yang tengah menghabiskan waktu bersama, di sela-sela istirahat siang mereka.
__ADS_1
"Wanita itu bukan penghancur, tapi temen lo saja yang enggak ngotak ngelamar anak kecil!" jawab Jumaida asal.