
Di benua yang berbeda, Aditya juga Nancy tengah berperang melawan batinnya. Batin dua insan suami istri ini kini tengah di landa kegundahan, namun kata-kata berpisah di hilangkan oleh mereka berdua, karena memikirkan perasaan Abdi sang putra kesayangan mereka serta perasaan cinta yang lebih besar di miliki Nancy.
Nancy tengah duduk di kursi restoran, bersama Emi juga Prisil, hanya sekedar berbincang ringan menikmati keindahan menara Eiffel.
Emi bertanya kepada kedua sahabatnya itu karena perasaan bahagia, "Bagaimana? Besok kita menggunakan pesawat atau kereta api menuju Netherland? Mungkin lusa para pria itu sudah tiba di sana. Kita belanja lagi atau bagaimana?"
Nancy mengangguk-angguk saja, namun pikirannya hanya kepada Aditya ...
Emi mencoba menghibur Nancy, "Oogh baby ... Jangan mikirin Mas Adit terus dong, kita kesini buat liburan. Bukan buat mikirin masalah, nangis atau apapun, beib ... Wait, aku hubungi Aa dulu, apakah mereka tengah bersama! Kita dengerin yah ..." Tawanya merogoh handphone dari dalam tasnya, dan langsung menghubungi suami tercinta Aldo, kemudian mengaktifkan speakernya.
[Ya sayang ...]
[Aa dimana ...]
[Di rumah Ibu, mau ke restoran, kenapa ...]
[Hmm ketemu sama Mas Adit ...]
[Enggak! Kenapa? Ada apa sayang ...]
Emi menggigit bibir bawahnya, karena bingung mau bicara apa lagi.
"Apa lagi nih ..." bisiknya tanpa suara, membulatkan kedua bola matanya ke arah Nancy dan Prisil.
[Neng Emi ...]
Terdengar suara Aldo memanggil nama Emi dengan sangat lembut.
__ADS_1
[Eeeh ... I-i-iya Aa. Neng pikir Aa mau ketemu Mas Adit. Nancy rindu katanya, nanti kalau Aa ketemu bilangin yah ...]
Entah apa yang ada di pikiran Aldo saat ini, yang pasti pria beranak satu itu, tampak kebingungan, kemudian membolak-balikkan handphone pipih itu untuk memastikan bahwa istrinya membicarakan tentang orang lain.
[Kamu kenapa? Kok aneh? Aa enggak ketemu Adit, dia lagi belanja sama Ibu dan Abdi. Jadi Aa enggak mau ganggu time dia. Lagian besok dia ada tamu, dari Jakarta ... Jadi kami ketemu di bandara saja, saat mau berangkat ...]
[Ooh ... Ya udah atuh. Aa hati-hati yah, salam buat Mister juga Mas Adit ...]
Tawa Emi mengakhiri panggilan telepon bersama sang suami.
Nancy yang mendengar kelucuan mereka tingkah sepupunya yang tidak suka bercanda hanya bisa berkata ... "Kalian lucu yah! Ternyata Aa Aldo itu kaku. Enggak ada bedanya sama Mas Adit. Bedanya, Mas Adit enggak bisa move on dari masa lalunya, sementara Aa Aldo sangat ikhlas menerima perjodohan kalian berdua."
Emi tersenyum tipis, sambil menjawab, "Hmm enggak ada bedanya Neng geulis. Aku karena santai saja. Sebenarnya Aa juga ada mantan di Netherland, siapa sih namanya hmm eee Sindi atau Sandy yah. Anak sekolah penabur juga, tapi janda beranak dua atau satu. Aku lupa deh. Kalau ketemu pasti kamu kenal, karena dia salah satu orang kepercayaan Bapak Aa Aldo. Tapi kalau aku nih, punya prinsip sejak dulu. Tidak mau tahu urusan apapun, karena di luar dia terserah, di rumah Aa suami ku! Jadi kami tidak pernah membahas mantan!"
Nancy menautkan kedua alisnya, mengingat nama Sindi yang di sebut oleh Emi. Perlahan ia mendekatkan wajahnya, untuk bertanya agar lebih yakin ...
"Mi ... Sebentar deh. Emangnya Sindi yang kamu sebutkan itu seangkatan dengan Mas Adit, yah? Hmm kayaknya aku kenal deh, karena kan satu jurusan kalau enggak salah sama Mas Adit sama-sama anak IPA. Ternyata Aa Aldo pernah pacaran sama Sindi?"
Nancy membulatkan bibirnya, menoleh kearah Prisil yang tengah sibuk melakukan video call dengan suami tercinta dan anak semata wayang mereka.
Dalam benak Nancy, "Ternyata nasib kita sama, tapi bedanya Aa Aldo bisa move on dari masa lalunya, sementara Aditya Atmaja masih teringat akan mantan hmm ..."
Nancy menyandarkan tubuhnya di kursi restoran, mengalihkan pandangannya kearah menara Eiffel. Menara yang indah, yang selalu menjadi tempat paling romantis bagi kedua insan yang saling mencintai.
Ini kali pertama Nancy menginjakkan kakinya di Eropa. Selama hidupnya, dia hanya berkutat pada pabrik, pendidikan juga berdiam diri di rumah. Hanya menantikan cinta seorang Aditya Atmaja, yang sedari dulu ia kagumi.
Kini semua doa-doanya terjawab sudah, walau sebenarnya Nancy masih meragukan hati seorang suami seperti Aditya Atmaja. Namun dihatinya selalu yakin, bahwa Adit selalu ada untuknya, walau cara yang masih belum bisa memberikan kenyamanan hati seratus persen.
__ADS_1
.
Hari berlalu begitu cepat. Aditya tengah bersiap-siap untuk menghadiri rapat di kesatuan, bersama para petinggi yang akan berkunjung ke kota kembang tersebut.
Tidak banyak yang Aditya persiapkan, karena kini dia sudah di berikan dua orang ajudan untuk dirinya, dan satu ajudan wanita untuk sang istri, jika Nancy kembali ke kota kembang.
Asep menghampiri Adit, hanya berkata, "Izin Ndan! Kita hari ini ada pertemuan, dan langsung menuju lapangan tembak. Beberapa prajurit sudah mempersiapkan beberapa strategi untuk pengawalan lusa untuk tamu kenegaraan."
"Baik. Kita pakai mobil dinas saja. Kamu bisa sarapan dulu!"
"Siap Ndan!" Asep beranjak menuju meja makan, yang tidak begitu jauh dari tempat komandan berdiri.
Aditya yang tengah di bantu oleh Ibu mertuanya untuk bersiap-siap berangkat ke kantor, hanya bisa mengangguk, atas jadwal yang di ucapkan Asep.
Sugondo yang tengah di sibukkan dengan beberapa pekerjaan, hanya melirik kearah Aditya yang masih di bantu Ningsih untuk merapikan pakaiannya.
"Hmm ternyata repot yah enggak ada istri Nak Adit," sindir Sugondo.
Ningsih tertawa kecil, mendengar sindiran sang suami kepada menantu mereka, "Repot banget Pak. Ini juga masih saja buat ulah, tapi untungnya kemaren malam Sulastri sudah menjelaskan sama Ibu. Kalau enggak tak pecat jadi menantu ku!" geramnya.
Aditya membalikkan badannya, dan langsung memeluk erat tubuh Ningsih, "Jangan gitu atuh Bu. Adit sudah baikkan sama Neng, Adit juga sudah minta maaf. Dan sekarang Neng malah ngejatah uang pegangan buat Adit. Anak Ibu ternyata kejam, dia meminta kepada pihak bank untuk tidak mencairkan dana jika tidak ada tandatangan Nancy. Kejam kan, Bu!" sungutnya.
Sugondo yang mendengar celotehan menantunya justru tertawa terbahak-bahak, "Syukurin! Makanya kalau jadi suami itu harus jujur, dan mementingkan kebutuhan anak juga istri terlebih dahulu. Jika ada lebih, baru deh kasih orang lain. Ingat Nak Adit ... Kepala sama hitam, otak kita-kita ini semua beda-beda. Ada yang baik, ada juga yang jahat. Termasuk Nancy! Ini masih syukur kamu di jatah, daripada kerja pakai angkot, dan tidak di kasih uang pegangan, bagaimana?"
Aditya hanya bisa tersenyum lirih, mendengar ledekan sang bapak mertua, yang sesungguhnya sangat peduli bahkan sangat baik padanya.
"Bu ... Makasih yah. Adit berangkat dulu," kecupnya pada punggung tangan Ningsih, begitu juga Sugondo.
__ADS_1
Ada setitik kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah Ningsih, namun masih belum bisa menerima sikap Aditya yang terlalu baik dengan Evi sang mantan kekasih.
"Hmm ... Walaupun sejujurnya Ibu sudah malas mendengar nama Evi. Semoga kamu bisa berubah untuk mencintai Nancy tanpa memikirkan Evi, Nak Adit ..."